Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Ikhtiar Memperkuat Otot TNI

Anggaran belanja pertahanan Kementerian Pertahanan dinaikkan menjadi Rp 150 trilyun untuk tahun anggaran 2010-2014. Masih jauh dari cukup untuk mencapai target kekuatan dasar minimum yang ditargetkan tercapai pada 2024. Pengembangan kekuatan udara dan maritim sangat penting untuk mengantisipasi tren konflik di kawasan Asia.

Akhir Januari lalu, Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya menyetujui penambahan anggaran belanja pertahanan menjadi Rp 150 trilyun. Persetujuan itu disambut gembira oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro. "Militer Indonesia dijamin kian kuat pada akhir masa kerja Kabinet Indonesia Bersatu II," kata Purnomo, beberapa waktu lalu. Pemenuhan anggaran pertahanan itu merupakan langkah awal program revitalisasi pertahanan nasional.

Program itu merupakan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional. Hingga tahun 2025, Indonesia ditargetkan mampu memiliki kekuatan militer yang optimal guna menangkal berbagai ancaman dari dalam dan luar negeri. Untuk itu, setidaknya Indonesia harus bisa memenuhi kekuatan dasar minimum atau minimum essential force (MEF).

Konsep MEF ini telah dibahas pihak Kementerian Pertahanan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, 30 Januari lalu, Kepala Bappenas, Armida Salsiah Alisjahbana, memaparkan bahwa konsep MEF akan diwujudkan dalam tiga tahap. Tahap pertama dilaksanakan sejak 2010 hingga 2014, MEF II pada 2015-2020, dan MEF III dari tahun 2020 hingga 2025.

Secara keseluruhan, dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan rencana itu, berdasarkan kajian Bappenas, mencapai Rp 471,3 trilyun. Rinciannya, Rp 332 trilyun untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista), sedangkan sisanya, Rp 139,3 trilyun, untuk pemeliharaan dan perawatan. Untuk MEF tahap I sendiri, menurut kajian Bappenas, diperlukan anggaran Rp 156 trilyun. Sementara itu, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menyebut angka Rp 165 trilyun.

DPR akhirnya mengetukkan palu di angka Rp 150 trilyun untuk mewujudkan konsep MEF tahap I. Wakil Ketua Komisi I DPR, Tb. Hasanuddin, mengatakan bahwa rencana belanja pertahanan sebesar itu sudah cukup realistis. Anggaran tersebut mencapai 28% dari kebutuhan total rancangan MEF. "Karena selama 30 tahun terakhir, senjata-senjata TNI terbilang cukup terbelakang," katanya kepada Gatra.

Laksamana Agus Suhartono menyatakan, sejak tahun 1998, Indonesia hampir tidak pernah memperbarui alutsistanya. Padahal, menurut Agus, negara memerlukan alutsista yang andal untuk menangkal berbagai ancaman dan menciptakan rasa aman. "Masyarakat kita memang butuh rasa aman, dan itu tercipta manakala yang melindungi (TNI --Red.) memiliki peralatan yang cukup," kata Agus di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Untuk tahun 2012, pemerintah memberi anggaran belanja kepada TNI sebesar Rp 64,4 trilyun. Dari jumlah itu, sebesar 40,1% atau Rp 25,84 trilyun akan dipakai untuk belanja alutsista. Sisanya, Rp 27,18 trilyun, untuk belanja pegawai dan Rp 11,41 trilyun untuk belanja barang. Pada saat ini, kata Panglima TNI, setiap angkatan di TNI --Angkatan Darat (AD), Laut (AL), dan Udara (AU)-- telah membuat daftar belanja dalam pemenuhan kebutuhan alutsista itu (lihat: Daftar Belanja Alutsista TNI 2012).

TNI-AD, misalnya, merencanakan pengadaan tank berat satu batalyon. Rencana ini sempat mengundang kontroversi ketika TNI-AD berencana membeli tank Leopard eks Belanda sebanyak 100 unit yang tidak disetujui DPR. Pihak parlemen Belanda pun menolak menjual tank-tank itu, dengan alasan hak-hak asasi manusia (HAM), hingga akhirnya rencana ini ditunda. Selain itu, TNI-AD juga berencana membeli satu batalyon multiple-launcher rocket system (MLRS) berjarak tembak 7 kilometer, heli serang, Howitzer kaliber 155 mm berjarak tembak 40 kilometer, serta memodernisasi rudal dan artileri antipesawat.

TNI-AL berencana membeli sejumlah kapal selam, kapal cepat rudal, kapal perusak kawal rudal (PKR), dan kapal cepat. Untuk pesawat, TNI-AL dipastikan bakal membeli pesawat patroli maritim, heli antikapal selam, pesawat angkut, dan pesawat antikapal permukaan. TNI-AL juga akan menambah komando wilayah laut RI dari dua (Armabar dan Armatim) menjadi tiga armada serta mengadakan beberapa pos Angkatan Laut (posal). Sedangkan untuk marinir, akan ada penambahan satu divisi marinir, penambahan tank amfibi BMP-3F, amunisi roket, dan meriam.

TNI-AU mengalokasikan anggaran yang disediakan untuk memenuhi empat hal pokok. Pertama, air superiority dengan menambah enam unit jet tempur Sukhoi dan menerima hibah 30 jet tempur F-16 eks AU Amerika Serikat. TNI-AU juga akan mendapatkan 16 unit jet latih multifungsi KAI T-50 buatan Korea Selatan. Armada pesawat serang darat pun akan dimodernisasi, yakni mengganti OV-10 Bronco dengan Super Tucano buatan Brasil.

Kedua, air mobility. TNI-AU akan menambah sembilan unit pesawat angkut Hercules, empat di antaranya merupakan hibah dan lima pesawat dibeli dari negara lain. Dari dalam negeri, TNI-AU juga akan membeli sembilan pesawat C-295 hasil kolaborasi PTDI dengan Airbus Military. Ketiga, air search and rescue serta reconaissance. TNI-AU berencana meng-upgrade tiga unit pesawat Boeing 737-400, membeli CN-235 versi patroli maritim, dan helikopter EC 275 Cougar. Keempat, untuk pertahanan udara, TNI-AU akan membeli sistem rudal pertahanan udara Oerlikon dan rudal udara ke udara jarak menengah (ASRAAM).

Di luar itu, TNI-AU berencana membeli sejumlah helikopter tempur Apache dari Amerika Serikat. "Kalau tidak salah, sebanyak delapan unit," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin. Namun, hingga kini, belum ada kesepakatan antara Pemerintah RI dan Amerika Serikat menyangkut pembelian helikopter tempur itu.

TNI-AU juga berencana membentuk satu skuadron pesawat intai tanpa awak yang akan ditempatkan di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada saat ini, menurut Sekjen Kementerian Pertahanan, Marsdya Eris Herryanto, rencana yang dicanangkan sejak tahun 2006 itu telah memasuki tahap realisasi. "Prosesnya tinggal bayar uang muka, terus barang itu diproduksi, lalu datang ke kita," kata Eris.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia, Andi Widjajanto, menilai anggaran Rp 64,4 trilyun yang dikucurkan untuk pertahanan itu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun alutsista TNI. "Tetapi angka itu masih jauh dari cukup untuk mengejar kekuatan pokok minimum yang ditargetkan hingga 2024," katanya kepada Gatra.

Jika angka itu terus dipertahankan setiap tahun, Andi tak yakin MEF akan tercapai sesuai dengan target. Mengacu pada target tahun 2024, seharusnya pada 2012 tersedia dana Rp 80 trilyun. "Bahkan, kalau bisa, mencapai Rp 90 trilyun agar pada 2014 bisa tercapai Rp 120 trilyun," ujarnya. Dana itu, menurut Andi, bisa dipakai untuk membuang alutsista tua dan menggantinya dengan yang baru. Apalagi, beban perbaikan alutsista usang cukup berat. "Sayang, kondisi sekarang belum memungkinkan," ia menambahkan.

Andi memprediksi, dalam lima tahun ke depan tidak akan pecah konflik militer di regional dan dunia seiring adanya ancaman resesi ekonomi. Sementara itu, secara geopolitik, pada 2024, idealnya Indonesia memiliki tiga divisi Kostrad, brigade perbatasan, 10 unit kapal selam, 10 skuadron pesawat tempur, dan 6 skuadron pesawat angkut. "Itu tidak peduli ancamannya apa, tetapi itu kekuatan yang kita butuhkan untuk wilayah seluas Indonesia," katanya.

Di antara sekian alutsista yang diperlukan, menurut Andi, kapal selam menjadi yang terpenting. Sebelum tahun 2006, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki kapal selam. Namun, setelah 2006, negara-negara Asia Tenggara lainnya mulai memiliki armada kapal selam. "Kapal selam menjadi senjata utama baru di kawasan Asia Tenggara yang konfliknya diramalkan memang konflik laut, misalnya Laut Cina Selatan," ungkapnya.

Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen Puguh Santoso, menyebutkan bahwa MEF adalah salah satu usaha menuju postur pertahanan yang ideal. "Ideal itu maksudnya memiliki daya tangkal dalam konteks dalam dan luar negeri," katanya kepada Gatra. Karena itu, dalam konsep MEF, revitalisasi tidak hanya mencakup alutsista, melainkan juga revitalisasi industri pertahanan, relokasi pasukan, dan restrukturisasi TNI.

Dalam hal revitalisasi industri pertahanan dan pengadaan alutsista, menurut Puguh, ada kewajiban perjanjian transfer of technology (TOT) setiap kali ada pembelian alutista dari luar negeri. Untuk hal ini, Indonesia memang sedikit diuntungkan dengan terjadinya krisis ekonomi Eropa, yang notabene adalah produsen alutsista. Krisis ekonomi ini membuat negara-negara itu bersedia menjual produk beserta teknologinya. "Kalau lagi kuat, jarang ada yang mau TOT. Soalnya, nggak ada kan yang mau obral teknologi," ujar Puguh.

Sementara itu, dalam konteks relokasi pasukan, yang dimaksud Puguh adalah memindahkan pasukan dengan pertimbangan perubahan ancaman kontemporer. "Misalnya, pasukan tidak hanya dipusatkan di Jawa," kata Puguh. Ke depan, Kementerian Pertahanan juga berencana mengubah konsep TNI-AD dari padat manusia menjadi padat tekonologi. "Jadi, nggak lagi manusia yang dipersenjatai, tapi senjata yang diawaki," ia menjelaskan.

Tahap resizing atau reorganisasi, menurut Puguh, adalah menentukan jumlah ideal pasukan TNI. Pada saat ini, Kementerian Pertahanan telah menetapkan kebijakan zero growth, sehingga ke depan belanja pegawai tidak bertambah dan jumlah belanja modal bisa makin naik. Selain itu, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan, lanjut Puguh, mengharuskan adanya penataan alutsista-alutsista yang tidak sama antara bagian barat, tengah, dan timur.

Secara garis besar, Indonesia membutuhkan lebih banyak kapal besar, kapal cepat, peluru kendali, dan pengindraan di ujung-ujung negara. "Intinya, bukan pendekatan kontinental, di mana darat yang diperkuat," katanya. Sebagai contoh, wilayah timur membutuhkan kapal-kapal besar lantaran gelombang lautnya besar dan tersebarnya pulau di wilayah itu.

Wilayah barat akan lebih fokus pada penguatan persenjataan artileri pertahanan udara (arhanud) atau artileri medan (armed). Sedangkan untuk wilayah tengah, menurut Puguh, dibutuhkan pengindraan atau sistem deteksi yang didukung dengan peluru kendali antarpulau yang siap meluncur.

Jika MEF ini bisa terpenuhi, bukan tak mungkin peringkat kekuatan militer Indonesia di dunia bakal melonjak. Pada saat ini, menurut versi Global Fire Power, kekuatan militer Indonesia menempati peringkat ke-18 dunia. Tulang punggung kekuatan militer Indonesia memang masih berada di tangan TNI-AD. Tercatat, pada saat ini Indonesia memiliki 60 batalyon infanteri, delapan batalyon kavaleri, dan lima batalyon pasukan para.

Jumlah itu masih diperkuat oleh 10 batalyon artileri medan, tujuh batalyon zeni, tujuh batalyon pertahanan udara, plus satu skuadron helikopter dan satu skuadron penerbang Angkatan Darat. Indonesia juga memiliki tiga grup komando pasukan khusus dan sembilan batalyon Kostrad yang diperkuat tiga brigade pasukan para, enam batalyon artileri medan, dua batalyon artileri pertahanan udara, dua batalyon zeni, dan dua batalyon lapis baja.

Di seluruh kawasan Asia, Indonesia hanya kalah dari Cina (peringkat ke-3), India (ke-4), Korea Selatan (ke-7), Jepang (ke-9), Taiwan (ke-14), dan Pakistan (ke-15). Bahkan, untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi yang terkuat, disusul oleh Thailand (peringkat ke-19), Filipina (ke-23), Malaysia (ke-27), dan Singapura (ke-41).

Wajar jika Kementerian Pertahanan berharap program itu terus berjalan, agar pembentukan postur pertahanan yang ideal bisa benar-benar terwujud di masa depan. "Kami berharap, siapa pun yang memegang kekuasaan sampai 2024 bisa memenuhi MEF," kata Puguh.

M. Agung Riyadi, Cavin R. Manuputty, dan Deni Muliya Barus

***

Profil Kekuatan Militer Indonesia
Anggaran Pertahanan: (2012) US$ 6,5 milyar Peringkat Dunia (2011): Ke-18 Militer Aktif: 438.000 personel Militer Cadangan: 400.000 personel

Kekuatan:

Angkatan Darat: - Personel: 233.000 - Tank: 335 unit - Senjata darat lainnya (meriam, rudal, mortir, dll): 1.577 unit

Angkatan Laut: - Personel: 45.000 - Kapal perang: 136 unit - Kapal selam: 2 unit

Angkatan Udara: - Personel: 24.000 (termasuk marinir dan penerbang AL) - Pesawat tempur: 510 unit - helikopter: 168 unit

Sumber: Global Fire Power

***

Rencana Belanja Alutsista TNI 2012
Angkatan Darat - Satu batalyon tank berat (main battle tank) - Satu batalyon multiple-launcher rocket system (MLRS) berjarak tembak 7 kilometer. - Helikopter serang - Meriam kaliber 155 mm dengan jarak tembak 40 kilometer - Modernisasi roket penangkal serangan udara

Angkatan Laut - Tiga unit kapal selam dari Korea Selatan, 4 unit kapal cepat berudal (KCR) buatan PT Palindo, Batam, 1 unit kapal perusak kawal rudal buatan PT PAL, 1 unit kapal latih sekelas KRI Dewa Rutji. - Pesawat patroli maritim, pesawat antikapal selam, pesawat angkut, pesawat antikapal permukaan - Menambah pembentukan armada menjadi tiga armada dan pos-pos Angkatan Laut. - Menambah 1 divisi marinir, satu batalyon tank amfibi BMP3F - Amunisi roket dan meriam

Angkatan Udara - Menambah 6 pesawat tempur Sukhoi, menerima hibah 30 unit pesawat tempur F-16, upgarde 24 pesawat, dan 6 pesawat cadangan - Membeli 16 unit pesawat latih supersonik T50 dari Korea Selatan, 9 unit pesawat Hercules, 4 pesawat merupakan hibah dan 5 pesawat akan dibeli dari negara lain, 9 unit pesawat C-295 - Mengganti pesawat OV-10 Bronco dengan EMB 314/A-29 Super-Tucano dari Brasil. - Upgrade 3 unit Boeing 737-400 - Membeli 9 unit CN-235 versi patroli maritim, 9 unit helikopter coast guard atau 10 unit atau EC 275 - Membeli 24 unit pesawat latih LOB dari Jerman, 24 unit pesawat aerobatik KT-1 - Membeli sistem rudal antiserangan udara Oerlicon dan ASRAAM (Andvance Shor Range Air to Air Missile)

Sumber: Kementerian Pertahanan RI
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 15 / XVIII 16-22 Februari 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com