Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

TARI

Komposisi Hantu Jawa-Eropa

Paduan gerakan tari tradisi Jawa dan Eropa. Tanpa narasi, tapi menyentil xenophobia yang belakangan marak di Eropa.

Tiga penari perempuan itu menjelma menjadi kesatria-kesatria perkasa. Dengan ritme cepat, tangan dan kaki mereka bergerak penuh tenaga. Sikap tubuh mereka gagah dan kaki-kaki mereka kadang mengambil posisi kuda-kuda. Sementara itu, di samping mereka, seorang penari pria dengan dada bidang, perut kotak-kotak, dan tangan berotot justru melenggak-lenggok gemulai. Gerakannya lembut dan ekspresi wajahnya kemayu. Benar-benar kontras yang tak normal.

Dengan iringan gamelan, juga gerakan yang kebanyakan diambil dari tari tradisi Jawa, komposisi itu makin tampak tak biasa. Pasalnya, empat penari yang memperagakan semua gerak itu berasal dari Eropa. Perbenturan antara tubuh Eropa dan tata gerak Jawa --juga sebaliknya-- itulah yang membuat pertunjukan tari berjudul Ghost Track ini menjadi menarik. Rabu-Kamis pekan lalu, komposisi ini dimainkan grup tari LeineRoebana di Teater Salihara, Jakarta Selatan.

Setelah mempertontonkan petikan dari Ghost Track di Teater Salihara, akhir tahun lalu, LeineRoebana akhirnya mempertunjukkan versi lengkap komposisi ini, yang berdurasi sekitar 90 menit. LeinaRoebana merupakan kelompok tari asal Belanda yang didirikan koreografer Andrea Leine dan Harijono Roebana. Sejak 1990-an, kelompok ini diperhitungkan dalam peta tari kontemporer Belanda.

Ghost Track melibatkan lima penari Eropa dan tiga penari Indonesia. Untuk iringan musik, LeinaRoebana memilih gamelan dengan komposer Iwan Gunawan. Sejak mulai mengerjakan karya ini pada 2009, Harijono memang tertarik memadukan tradisi tari Jawa dengan Eropa. Ketertarikan ini tak lepas dari latar belakang Harjono, yang ayahnya berasal dari Indonesia dan ibunya dari Eropa. ''Saya punya keterikatan yang kuat dengan Indonesia,'' kata warga negara Belanda itu kepada Gatra.

Melalui Ghost Track, Harijono dan rekan-rekannya ingin mempertanyakan apakah tradisi yang membentuk tubuh penari akan bisa terlacak dalam gerakan-gerakan mereka. Dari pertanyaan itu, Harijono mulai menyusun koreografi yang memadukan tari Jawa, terutama yang berasal dari tradisi Solo, dengan tari kontemporer Eropa.

Harijono mempelajari dasar-dasar gerakan dari tari Jawa, mencatat karakteristiknya, lalu mulai menggabungkannya dengan gerakan-gerakan yang berasal dari Eropa. Salah satu yang menarik Harijono adalah keberadaan orang-orang transgender dalam tradisi kesenian Jawa, yakni lelaki yang memerankan perempuan atau sebaliknya.

Hal lain yang dicatat Harijono, misalnya, dalam tari Jawa, gerakan tangan penari sangat sering berfokus pada telapak tangan. Setidaknya ada empat posisi telapak tangan dalam tradisi tari Jawa dengan nama berbeda, yakni nyekiting, nyempurit, ngrayung, dan baya mangap. Empat variasi ini hanya dibedakan oleh posisi telapak tangan, bukan bagian tangan lain.

Mengetahui karakter semacam ini, Harijono lalu mencoba menggabungkan gerakan tangan ala tari Eropa, yang banyak melibatkan lengan, siku, bahkan pundak. Hasilnya, seperti tampak dalam Ghost Track, lumayan menarik.

Menurut Harijono, dalam koreografi, saat komposisi Jawa digabungkan dengan Eropa, secara tidak langsung sebenarnya tercipta satu komposisi baru yang tak kelihatan. ''Komposisi yang tak kelihatan inilah yang saya sebut sebagai ghost track,'' tuturnya.

Harijono juga menantang para penari dari dua tradisi berbeda itu untuk saling belajar. Para penari dari Solo diminta mempelajari gerakan Eropa, demikian sebaliknya. Dan, kata Harijono, pertukaran gerak macam itu tak terlalu sulit dilakukan.

Dilihat dari sisi tampilan, Ghost Track pada akhirnya menjadi olah gerak saja, tanpa narasi. Sejak awal, Harijono memang berfokus pada eksplorasi gerak, bukan menciptakan kisah lewat gerak. Maka, bila dalam beberapa bagian ada iringan tembang Jawa dan Sunda yang mengisahkan satu cerita, hal itu sesungguhnya tak berhubungan langsung dengan gerak para penari.

Meski begitu, bukan berarti Ghost Track jadi sekadar paduan gerakan yang melulu harus dipandang dari sisi teknis koreografi. Melalui komposisi ini, Harijono ternyata juga ingin menyampaikan sesuatu. ''Di Eropa sekarang sedang marak xenophobia, ketakutan pada yang asing. Dengan tari ini, saya ingin menyatakan kepada publik Eropa bahwa pertemuan dengan yang asing itu bukan berarti meniadakan identitas asli kita,'' katanya.

Haris Firdaus

Cover Majalah GATRA edisi No 15 / XVIII 16-22 Februari 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com