Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Menjinakkan Kanker dengan Terapi ECVT

Warsito menemukan terapi sel kanker baru yang relatif lebih nyaman dengan biaya murah. Seorang penderita kanker stadium III mengaku sembuh. Tanpa obat kimia dan operasi. Sangat potensial untuk membasmi kanker.

Sakit kepala sudah menjadi penyakit rutin bagi Willy Saputra, 21 tahun. Sejak duduk di kelas II SMA hingga masuk perguruan tinggi, kepalanya sering nyut-nyutan. Tapi sakit yang menyerang pada Mei tahun lalu terasa lain. Biasanya, setelah minum obat, nyerinya mereda. ''Tapi ini timbul lagi,'' kata Willy.

Apalagi, sejak itu keseimbangan badannya mulai terganggu. Willy juga mulai merasa beberapa anggota badannya sulit dan kaku digerakkan. Akhirnya ia terpaksa menggunakan kursi roda. Willy terserang kelumpuhan mendadak. Kondisi ini terjadi selama tiga bulan. ''Menelan pun sulit,'' katanya.

Akhirnya dokter menyuruh Willy menjalani pemeriksaan CT-scan. Hasilnya sungguh mengejutkan Willy dan keluarganya. ''Saya terkena kanker otak sadium III lewat,'' kata anak ketiga dari empat bersaudara itu. Menurut dokter, di dalam rongga kepalanya juga terdapat cairan sehingga harus disedot. Setelah itu, kanker yang bersarang harus segera mendapat radioterapi dan kemoterapi. ''Dua terapi itu harus dilakukan setiap hari selama sebulan,'' ujar Willy.

Tapi Willy tak mau terkena ''penyakit'' lainnya: biaya terapi yang mencapai jutaan rupiah. Akhirnya Willy nekat menjinakkan kankernya dengan pengobatan alternatif. ''Saya pakai obat herbal saja,'' katanya. Selain itu, Willy juga giat mencari informasi pemberantasan kanker lainnya. Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah artikel tentang terapi kanker yang dilakukan Dr. Warsito P. Taruno.

Willy pun mengontak Warsito dan mengabarkan kondisi penyakitnya. Warsito rupanya tanggap dengan masalah ini dan berjanji membuat suatu alat yang khusus dibuat untuk Willy. Alat apa gerangan yang dipesan Willy?

***

Warsito Taruno selama ini dikenal sebagai pendiri di Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) di Tangerang, Banten. Namanya sebagai ahli teknologi pemindaian memang kondang di jagat internasional berkat karyanya yang dikenal sebagai Electrical Capacitance Volume Tomography empat dimensi (ECVT 4D).

ECVT 4D adalah peranti pemindai objek yang bekerja berdasarkan gelombang listrik statis sehingga menghasilkan citra empat dimensi secara seketika (realtime). ''Kata volume itu adalah untuk membedakan teknik ini dari tomografi konvensional yang hanya memproduksi citra dua dimensi,'' ujar Warsito. Jadi, ECVT tak hanya mampu mencitrakan bentuk secara tiga dimensi, melainkan juga menginformasikan volume benda tersebut.

''Pemindai ini bisa untuk segala macam. Mulai untuk keperluan riset nanoteknologi sampai urusan antariksa,'' kata Warsito ketika ditemui Gatra di CTECH Labs Edwar Technology di kawasan Modernland, Tangerang. Belakangan, sejak setahun silam, Warsito mengembangkan pemindainya itu untuk terapi kanker.

Warsito memang punya pengalaman tersendiri soal serangan kanker. Maklum saja, kakak perempuan ilmuwan kelahiran Solo, Jawa Tengah, 16 Mei 1967, itu terkena kanker payudara. ''Kankernya memang sudah diangkat, tetapi selnya telanjur menyebar ke mana-mana. Maka, dia tetap harus menjalani kemoterapi tiap hari,'' tutur Warsito. Siapa pun tahu bagaimana derita yang terjadi akibat efek samping kemoterapi. Itu pun belum tentu sembuh total. ''Akhirnya kami memutuskan tidak menjalani terapi kemo,'' katanya.

Sebagai gantinya, Warsito mencoba mengembangkan pemindainya tadi menjadi peranti terapi kanker. Ia mendesain potongan pakaian khusus yang telah dialiri dengan gelombang listrik statis itu untuk ditempatkan pada bagian tubuh yang diserang kanker. Sang kakak kemudian memakainya selama sebulan.

Ajaib, lewat tes laboratorium, sel kanker sang kakak telah hilang. ''Hasil tesnya negatif, dokter yang memeriksa sampai kaget,'' kata Warsito. Agar lebih afdol, terapi ini diulang dan dites sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Sejauh ini, kesehatan sang kakak sudah normal kembali. ''Kankernya dapat sembuh tanpa menggunakan obat sama sekali,'' ujarnya.

***

Selanjutnya, Warsito ingin mengembangkan terapinya untuk bagian tubuh yang lain. Pilihannya jatuh pada terapi kanker otak. ''Bagi saya, otak adalah yang paling fenomenal di alam semesta,'' katanya. Warsito segera menciptakan perantinya, pemindai kanker otak, dalam waktu setahun.

Komponen utama peranti ini terdiri dari helm yang terhubung dengan kotak pengolah data. Informasi dari kotak itu kemudian diolah oleh sistem algoritmanya di komputer. ''Jadi, cara kerja helm itu adalah mengirim aliran listrik statis, ditangkap oleh sensor, kemudian dikirim ke software untuk dijadikan image yang realtime,'' kata lulusan Universitas Shizuoka, Jepang, itu.

Warsito mengingatkan, tidak ada listrik yang menempel di kepala pasien karena sensornya berada di luar helm. Jadi, bagaimana pemindai ini dapat menjadi peranti terapi kanker? ''Pancaran medan listrik ini, kalau diubah frekuensinya, akan menghancurkan sel kanker yang sedang membelah,'' kata Warsito.

Ciri utama sel kanker adalah sifatnya yang ingin terus-menerus berkembang biak dengan membelah diri. ''Pada saat membelah, kromosomnya juga ikut terpisah-pisah,'' tutur Warsito. Yang memisahkan kromosom adalah benang-benang yang disebut spindel mikrotobula. Mikrotobula ini memiliki sifat listrik yang bermuatan positif-negatif.

''Nah, kalau kena medan listrik yang memadai, dia akan mengikuti medan magnet itu,'' ujar Warsito. Jadi, sifatnya seperti pasir besi yang akan mengikuti pola medan magnet. Ketika listrik diarahkan pada sel-sel ganas itu, ''Dia seperti bingung dan kacau,'' katanya. Soalnya, sel tak bisa memisahkan kromosom karena daya tarik listrik, padahal ia selalu ingin membelah diri. Akibatnya, sel gagal membelah dan pecah. Sel yang mati ini kemudian secara alami dikeluarkan oleh tubuh.

Menurut Warsito, sejauh ini terapi pemindai itu dapat diterapkan pada semua tingkat perkembangan kanker. Frekuensi yang digunakan untuk terapi disamakan untuk semua jenis kanker, yakni 50-500 kilohertz. ''Tidak masalah. Yang penting harus terindentifikasi dengan benar di mana posisi sel kanker tersebut,'' ungkapnya.

Soal posisi ini cukup penting karena pada bagian tubuh itulah akan dibuatkan pakaian khsusus yang dilengkapi dengan sensor pemindai. ''Jadi, bagian yang mana yang mau diterapi harus tertutup pemindai,'' katanya. Khusus untuk kanker otak, dapat dibuatkan penutup kepala khusus yang harus digunakan selama 24 jam untuk dua pekan hingga sebulan pertama. ''Makanya, pakaian harus dibuat senyaman mungkin karena harus digunakan seharian,'' ia menambahkan.

***

Nah, pakaian khusus itulah yang dipesan Willy. Desainnya berupa tutup kepala dengan banyak kabel yang menancap. ''Ada staf saya yang tiap hari mengontrol dia,'' kata Warsito. Willy memang menjadi ''pasien'' istimewa Warsito karena dialah yang pertama kali mendapat terapi kanker otak.

Biasanya, Warsito melanjutkan, setelah digunakan selama tiga hari, timbul rasa panas, terutama pada bagian yang terkena kanker. Setelah itu, tubuh akan mengeluarkan lendir, keringat, urine, atau feses yang berbau tak sedap. Kemungkinan besar itu adalah sel yang mati.

Awalnya, Warsito mengaku bingung dan khawatir juga dengan kondisi tersebut. Namun, setelah diamati, gejala itu menghilang bersamaan dengan hilangnya rasa sakit pada tubuh pasien. Willy sendiri mengaku kepalanya memang terasa panas sekali, tetapi tidak terasa sakit. Saking panasnya, Willy sampai memasang AC di kamarnya. Setelah itu, tubuhnya mengeluarkan lendir, urine, dan feses yang bau.

Namun Warsito mewanti-wanti bahwa ia dan timnya sama sekali tidak buka praktek kesehatan. ''Izin yang saya miliki adalah izin untuk riset, bukan untuk buka praktek,'' katanya. Karena itulah, mereka yang menjalani terapi ini adalah para sukarelawan untuk proyek riset. Para sukarelawan ini harus meneken pernyataan hitam di atas putih bahwa mereka melakukan terapi ini atas kemauan sendiri.

Selain itu, mereka juga harus kooperatif untuk diambil data perkembangannya. ''Ini kan untuk keperluan riset. Kalau mereka sembuh atau tidak sembuh, kemudian kami tidak mendapat data, maka riset ini akan sia-sia,'' ujarnya. Singkat kata, para sukarelawan itu harus rela dijadikan kelinci percobaan.

Untuk sebagian penderita kanker, terapi baru itu tentu menjadi pilihan yang sangat layak dicoba. Apalagi, efek samping yang terjadi --hingga sejauh ini-- belum terlihat membahayakan. Juga tanpa menggunakan obat-obatan kimia dan tanpa operasi.

Apalagi, biayanya jauh lebih murah. Soalnya, para sukarelawan hanya dibebani ongkos membuat pakaian khusus tadi. ''Ya, kayak beli baju biasalah, murah dan terjangkau,'' Warsito melanjutkan. Alat ini jelas tidak akan membawa ''efek samping'' seperti biaya kemoterapi yang membuat pasien bangkrut. ''Kalau sakit kanker otak itu bisa jual mobil, jual sawah, jual rumah,'' kata Warsito.

Bahkan, Warsito mengaku, pembuatan alat pemindai otak itu tidak memerlukan biaya yang mencekik leher. ''Soalnya, seluruh rangkaian elektronik dan programming dari scanner ini semuanya konten lokal,'' katanya. Oleh sebab itu, biaya pembuatannya tidak sampai Rp 100 juta. ''Kami juga mendapat bantuan dana dari King Abdul Aziz University di Arab Saudi,'' ujarnya.

Warsito menyebut rangkaian peranti pemindai otak itu sebagai 4D ECVT Brain Activity Scanner. Ia telah mengurus permohonan hak patennya. Sebelumnya, Warsito mendaftarkan program algoritma pada 2003 untuk hak paten dan teknologi pemindai 4D ke lembaga paten internasional pada 2006.

Kelak, jika telah direstui secara resmi menjadi alat terapi, pelaksanananya tetap harus di bawah pengawasan dokter. Petugas yang melakukan terapi, kata Warsito, juga harus punya sertifikasi, misalnya dari bidang fisika medis.

Warsito berharap, pemindai dan terapi kanker otak itu dapat mulai diproduksi pada tahun-tahun mendatang. Namun, sementara ini, Warsito dan timnya terus bekerja menyempurnakan peranti itu. Melihat perkembangan sejauh ini, upaya ini tentu harus mendapat dukungan yang optimal untuk memberantas penyakit kanker.

Apalagi, hasil yang terlihat lumayan optimistis. Itulah yang terjadi pada Willy. Pemuda itu mulai merasakan ada perubahan pada hari ketiga setelah terapi. ''Leher mulai bisa bergerak. Kaki juga mulai lemas bisa digerakkan,'' ujarnya. Pada pekan pertama, Willy bahkan bisa bangkit dari tempat tidur, berjalan, dan mandi sendiri. Setelah pemakaian "helm" itu selama dua bulan, Willy melakukan CT-scan. ''Hasilnya negatif,'' katanya, riang.

Nur Hidayat dan Bernadetta Febriana

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com