Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

SENI

Keliling Dunia dengan Sasando

Pernah bermain hanya mendapat sebatang cerutu. Berhasil menembus istana guna menghibur tamu negara. Setiap tahun ke luar negeri untuk mengisi acara di anjungan Indonesia

Jemari Jacko Hendrik Ayub Bullan, 39 tahun, lincah menari-nari memetik dawai sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Meskipun suhu 8 derajat celsius membekukan sendi, Jack --demikian Jacko H.A. Bullan biasa disapa-- tidak kehilangan kepiawaiannya. Vibrasi dawai petikannya menggetarkan udara arena Vakantiebeurs, Utrecht, Belanda, Selasa 10 Januari lalu, dan menyapa telinga pengunjung.

Penampilan Jack itu merupakan salah satu suguhan anjungan Indonesia dalam kegiatan pameran pariwisata tahunan di Belanda tersebut. Dengan bersemangat, Jack yang mengenakan pakaian tradisional Rote lengkap dengan topi tiilangga --topi anyaman daun gebang khas Nusa Tenggara Timur-- berusaha mengalahkan hiruk-pikuk anjungan negara lain. Upaya Jack berhasil. Pengunjung banyak terpikat oleh penampilannya.

Tepuk tangan terdengar setiap kali Jack selesai membawakan lagu. Mereka tampak menikmati musik yang disuguhkan Jack. Mereka kebanyakan warga Belanda yang tentu berkulit putih. Ya, Jack bermain dalam kerumunan ''bule''. Itu pula yang dia saksikan dahulu, ketika kakeknya dikunjungi turis-turis mancanegara di kampungnya di Nusa Tenggara Timur.

''Saya heran, orang rambutnya putih kok dikerumuni banyak bule,'' kata Jack yang lahir di Kupang, 29 Juli 1972. Turis-turis itu tertarik pada keterampilan kakeknya, Habel Hanas, memainkan sasando. Jack kecil --pada waktu itu kelas III sekolah dasar-- juga ingin menguasai permainan sasando. ''Agar bisa punya istri bule,'' katanya sambil terbahak. Dia pun mengutarakan keinginannya untuk belajar sasando kepada kakeknya.

Tapi sang kakek menolak keinginan Jack. ''Karena pada saat itu bermain sasando identik dengan orang malas dan tidak ada duitnya,'' ujarnya. Tidak berkecil hati, Jack nekat belajar sendiri. Saking semangatnya, tengah hari bolong, dia tang-ting-tung membetot dawai sasando sembarangan. Sandal pun kerap terbang menerpa tubuhnya dari kakek yang terganggu tidur siangnya.

''Kadang-kadang saya ambil sasando, mainkan di bawah pohon yang jauh dari rumah,'' ujar Jack. Melihat niat kuat cucunya, akhirnya hati sang kakek luluh juga dan mulai mengajari Jack bermain sasando yang baik. Hingga, pada 1990-an, dia sudah menjadi pemain sasando yang mahir. ''Ketika itu, saya menjadi satu-satunya pemain sasando yang masih muda,'' tuturnya.

Selain itu, keinginan mendapat istri bule hampir kesampaian ketika dia berpacaran dengan Rose, warga Australia. Hingga akhirnya Rose pulang kampung, meninggalkan selembar kertas berisi peta dan alamat rumahnya di Australia. Rose minta Jack menyusulnya. Jack frustrasi. ''Dia pikir, saya pakai duit dari mana untuk bisa ke Australia,'' katanya.

Memang pada saat itu Jack sudah bisa cari duit dari ngamen sasando. Tetapi bayarannya tidak besar, hanya Rp 150.000 sekali main. Dan itu tidak cukup untuk membeli tiket ke Australia. Peta dan buku-buku pemberian Rose pun dia buang.

Tanpa Rose, Jack semakin laris. Dia kerap mendapat undangan mengisi acara pemerintah daerah dan hotel-hotel di Kupang. Kadang-kadang, ketika dia sedang bekerja di kebun, mobil hotel menjemputnya untuk bermain. Hingga suatu hari, dia bermain di kantor gubernur untuk menghibur delapan duta besar yang berkunjung.

Selesai manggung, ketika menagih honor, bukannya duit yang didapat, dia malah dipingpong. ''Pada saat itu, selesai bermain, ada satu duta besar yang memberikan tips sebatang cerutu,'' kata Jack. Justru di daerah kelahirannya, dia merasa tidak dihargai. ''Sesak dada saya,'' katanya. Tamatan SMP ini lantas memutuskan hijrah ke Jakarta berbekal keterampilan bermain sasando.

Menaklukkan Jakarta dengan sasando ternyata tidak mudah. Jack bergabung dengan komunitas daerahnya menjadi penjual jasa keamanan, kalau tidak mau disebut centeng. ''Duitnya memang banyak, tapi hati tidak tenang karena bertaruh nyawa,'' tuturnya. Dia pun memutuskan berhenti dan menjadi petugas kebersihan di Gereja Abbalove Ministries di kawasan Gunung Sahari. ''Pada saat itu, gaji saya Rp 235.000,'' tuturnya mengenang.

Di sela-sela pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, dia kembali memainkan sasando. Sesekali dia bermain untuk gereja dengan sukarela. Jack sempat diangkat menjadi petugas satuan keamanan. Namun ia lebih dikenal sebagai pemain sasando. Dia pun mulai mengisi acara perkawinan dan pesta. Kariernya semakin meroket ketika Jack mengisi acara rutin di Pondok Putri Duyung, Ancol. ''Tampil tiap Sabtu. Sebulan saya dibayar Rp 2 juta lebih,'' katanya.

Karena aktivitas ngamen-nya itu, Jack tercatat sebagai satu di antara --mungkin-- tidak banyak satpam yang memiliki kartu nama, kartu yang ia bagikan kepada para pengunjung saban ngamen. Hal ini memancing olok-olok iseng dari rekan-rekannya. Tapi Jack tidak ambil peduli. Menurut dia, komentar-komentar itu muncul karena ketidaktahuan atas apa yang dilakukannya di luar pekerjaan sebagai satpam.

Pada 2008, Jack meninggalkan dunia kesatpaman. Padahal, ketika itu, gaji menjadi satpam boleh dikatakan lumayan. Per bulan dia mendapat Rp 1 juta, dengan uang makan Rp 23.500 per hari. Dia juga tinggal di kamar ber-AC yang disediakan pihak gereja. Keruan saja, keputusan itu ditanggapi sinis oleh rekan-rekannya. "Ini Jakarta. Kamu nanti jadi gembel ngamen di bus kota,'' kata Jack, menirukan omongan teman-temannya ketika itu.

Yang terjadi justru sebaliknya. Nama Jack makin sohor sebagai seniman sasando. Order pun mulai meningkat pada kalangan atas. Bahkan Presiden Megawati pernah mengundangnya untuk bermain di Istana Negara. ''Bagi saya, bermain di istana itu merupakan puncak ngamen saya,'' ujarnya. ketika itu, dia dibayar Rp 10 juta.

Kini order pentas makin padat hingga dia kewalahan mengatur jadwal. ''Paling sedikit dalam sebulan tiga kali tampil,'' katanya. Tarif Jack sekarang Rp 3,5 hingga Rp 5 juta sekali tampil. Dia juga tidak hanya memainkan sasando, melainkan juga membuatnya. Harga sasando bikinannya mulai Rp 2 juta hingga Rp 10 juta. ''Yang mahal jika bahannya kayu cendana,'' ujarnya.

Dengan sasando pula, Jack dapat keliling dunia. Undangan dari berbagai lembaga pemerintah dan kementerian telah membawanya mengunjungi Spanyol, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Jepang, Belanda, Kanada, dan Ekuador. ''Saya bisa melihat air terjun Niagara yang selama ini hanya bisa saya lihat dari televisi,'' ungkapnya.

Karena sering ngamen di luar negeri, sulung dari delapan bersaudara --semua laki-laki-- itu mengader dua adiknya. Keduanya sering mewakili Jack bermain di Jakarta dan sekitarnya ketika dalam waktu berbarengan dia mendapat undangan main di luar negeri.

Rohmat Haryadi (Utrecht)

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com