Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

Ramai-ramai Membantah Rosa

Di tengah ancaman pembunuhan, Mindo Rosalina Manulang mengungkap sejumlah nama yang menerima aliran dana dari perusahaan Nazaruddin. Termasuk untuk tim sukses Andi Mallarangeng dalam Kongres Partai Demokrat.

"Lebih baik maen sama Keanu daripada denger yang aneh2 "ajaib" banget gitu," tulis Angelina "Angie" Sondakh dalam akun Twitter-nya, @SondakhAngelina, Selasa malam lalu. Anggota Fraksi Partai Demokrat DPR itu memang panen berita miring sejak Mindo Rosalina "Rosa" Manulang menyebut namanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin lalu. Di sidang itu, Rosa bersaksi untuk terdakwa kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games, Palembang, Muhammad Nazaruddin.

Dalam kesaksiannya, Direktur Marketing PT Anak Negeri itu mengaku pernah berkomunikasi dengan Angie soal jatah uang untuk pimpinan di Badan Anggaran (Banggar) DPR. Pada waktu itu, kata dia, Angie butuh uang untuk kegiatan di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Duit yang diminta sebesar Rp 6 milyar-Rp 8 milyar. "Itu diminta kalau ada rapat," ujar Rosa.

''Pada waktu itu dia bilang, 'Tolonglah, Bu, saya dikejar-kejar, nih. Kan, kalau ketua besar sudah kenyang, kita enak'," tutur Rosa menirukan Angie. Permintaan Angie itu disampaikan lewat kode "apel malang", "apel washington", "pelumas", maupun "semangka", yang semuanya berarti uang. ''Itu datangnya dari Angie agar tidak terlalu vulgar,'' kata Rosa tentang kode itu.

Rosa melaporkan permintaan itu kepada Nazaruddin. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu menjawab, "Coba tanya berapa?" Rosa lalu menghubungi Angie lagi lewat BlackBerry Messenger. Angie kemudian mengatakan, ''Kalau tidak dikasih, tidak akan turun anggaran ini.'' Maka, mengalirlah uang Rp 5 milyar kepada Angie.

Uang itu dicairkan melalui kas keuangan yang diketahui Yulianis, mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, kelompok perusahaan milik Nazaruddin. Uang itu diserahkan dua kali, masing-masing Rp 3 milyar dan Rp 2 milyar. Penerimanya adalah Jefry, orang suruhan Angie. Rosa yakin, Angie menerima uang itu. "Ibu Angie tidak contact saya lagi karena kalau belum, didesak meminta terus," ujarnya.

Duit Rp 5 milyar itu, kata Rosa, adalah separuh dari duit yang digelontorkan Nazaruddin kepada sejumlah pejabat untuk proyek Wisma Atlet yang ditangani PT Anak Negeri. Soalnya, meskipun tidak lolos tender, perusahaan itu diperbolehkan ikut menangani proyek. Sedangkan sisa uang dari total Rp 10 milyar yang dikeluarkan itu hanya diketahui Nazaruddin.

Rosa juga mengungkapkan banyak pihak yang menerima aliran dana dari fee yang didapat Permai Group atas pelaksanaan pembangunan Wisma Atlet. Manajer Pemasaran Duta Graha Indah, Mohamad El Idris, kata Rosa, pernah memberitahu permintaan dari Gubernur Sumatera Selatan sebesar 2,5% dan Komite Pembangunan Wisma Atlet Palembang sebesar 3%. Sedangkan jatah untuk DPR 5%. Karena itu, El Idris mengaku tidak bisa membayar fee 15% untuk Permai Group. ''Kalau tidak dikasih, mereka akan mempersulit pekerjaan kita, akan dicuekin," kata Rosa menirukan El Idris.

Setelah dikurangi fee untuk gubernur, panitia penganggaran, dan DPR itu, Permai Group hanya mendapat fee 5,5% dari nilai proyek Wisma Atlet. Fee itu, menurut Rosa, baru diberikan sebagian, yakni berupa cek senilai Rp 4,3 milyar. Cek itu diterima Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis.

Rosa juga menceritakan bahwa PT Anak Negeri, salah satu perusahaan yang dikendalikan Nazaruddin, pernah menggelontorkan uang Rp 20 milyar pada 2010. Uang itu dikucurkan untuk memperlicin urusan pembebasan tanah dan lain-lain, agar proyek tersebut berjalan lancar.

Nah, pada suatu ketika, Rosa pernah diminta Nazaruddin untuk menanyakan uang itu ke Sesmenpora, Wafid Muharam. Rosa menanyakan uang pelicin tersebut dialirkan ke mana saja. Wafid mengatakan, uang Rp 20 milyar itu digunakan untuk mengurus prosedur di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Ada juga peruntukan dana bagi Choel Mallarangeng. Namun Rosa tidak menjelaskan secara rinci besaran uang itu. "Pak Wafid bilang, itu untuk mengurus BPN untuk Hambalang. Juga ada ke saudaranya Pak Andi, Choel. Itu sudah dikasih ke Choel Mallarangeng. Sudah dikembalikan Rp 10 milyar ke sini," ujar Rosa.

Bahkan, menurut dia, uang Rp 500 juta terkait proyek Wisma Atlet SEA Games disebut mengalir ke Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010 untuk pemenangan calon Ketua Umum Demokrat ketika itu, Andi Mallarangeng. "Kami berikan langsung untuk tim sukses pemenangan Pak Andi Mallarangeng di Bandung," kata Rosa.

Rosa mengaku mengetahui ihwal pemberian uang ke Andi itu ketika melihat catatan pengeluaran Permai Group yang dibuat Yulianis. Soal adanya uang yang mengalir untuk pemenangan Andi ini belum pernah diungkap Nazaruddin. Selama ini, Nazaruddin hanya mengatakan adanya dana Rp 50 milyar ke Kongres Partai Demokrat 2010 untuk pemenangan Anas Urbaningrum.

Di tengah sidang, pengacara Nazaruddin, Elza Syarif, menanyai Rosa soal keterlibatan Ketua Umur Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Sekitar tahun 2007, kata Rosa, ketika Permai Group masih berkantor di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan, di lantai IV ada ruangan Anas dengan Nazaruddin. Ketika kantornya pindah ke kawasan Warung Buncit, Rosa tidak pernah lagi melihat mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam itu. Namun, sekali waktu, ia pernah melihat mobil dengan pelat nomor polisi berkode ''AU'' di belakangnya.

Salah satu anak perusahaan Permai Group, menurut Rosa, adalah PT Berkah Alam Berlimpah. Di perusahaan itu, ada Athiyyah Laila, istri Anas Urbaningrum, yang menjadi salah satu pemegang saham sekaligus komisaris perusahaan.

"Big boss itu siapa?" tanya Elza. Istilah big boss muncul dalam percakapan BBM Rosa dengan Angie. ''Ketua besar itu semuanya berhubungan dengan jatah Fraksi Partai Demokrat dengan pimpinan di Banggar, dan pada waktu itu dia bilang Bang Mirwan," tutur Rosa, menyebut Mirwan Amir, salah satu pimpinan Banggar. Sedangkan yang dimaksud ketua adalah Ketua Komisi X DPR, Mahyuddin. Adapun inisial AU, menurut Rosa, ditujukan pada Anas Urbaningrum.

Namun Nazaruddin keberatan atas kesaksian Rosa itu. "Setelah 2009, saya tidak ada urusan dan tidak mengerti substansi perusahaan sebagaimana diungkapkan saksi," ujarnya. Sejak menjadi anggota DPR, menurut Nazaruddin, ia tidak lagi menangani PT Anugerah Nusantara.

Nazaruddin juga mengingatkan Rosa dengan pertanyaan, "Saksi tahu saya tidak di PT Anak Negeri setelah saya jadi DPR tahun 2009?" Rosa mengiyakan. "Tahu saya keluar karena istri saya ribut sama istri Anas dan akhirnya Yulianis keluar?" tanya Nazaruddin lagi. "Benar, Pak," Rosa menjawab.

Kepada Rosa, Nazaruddin juga mengatakan bahwa pemimpin PT Anugerah Nusantara yang beralamat di Casablanca itu adalah Anas Urbaningrum. "Saya mendapat perintah dari Anas dan mendelegasikan kepada Anda," kata Nazaruddin.

***

Sejumlah nama yang disebut Rosa itu ramai-ramai membantah keterangannya. Ketika inisial namanya disebut Nazaruddin, Mirwan Amir, Wakil Ketua Banggar dari Fraksi Partai Demokrat, mengaku heran namanya disebut-sebut sebagai ketua besar. Malah, mulanya, ia mendengar istilah itu ditujukan pada Melkianus Markus Mekeng, Ketua Banggar DPR. ''Itu kan baru katanya," ujar Mirwan kepada Sandika Prihatnala dari Gatra. Namun, setelah namanya terlontar dalam kesaksian Rosa, ia tak lagi bisa dihubungi. Bahkan, sejak Senin lalu, ia tidak terlihat berkantor di Senayan.

Ketua Komisi X DPR yang membidangi pemuda dan olahraga, Mahyuddin, juga menepis tudingan sebangai sosok di balik sebutan ''ketua'' dalam proyek pembangunan Wisma Atlet itu. ''Mungkin karena saya Ketua Komisi X, ya, jadi disebut seperti itu,'' katanya kepada wartawan. Ia malah mengaku tidak terlibat dalam proyek Wisma Atlet, apalagi sampai mengikuti sejumlah pertemuan dengan Angie dan Nazaruddin di luar Senayan. Karena itu, ia mengaku siap dimintai keterangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, juga membantah tudingan itu. Ia tak percaya tim suksesnya menerima aliran duit dari perusahaan Nazaruddin. "Lebih baik dijelaskan siapa dari tim sukses saya yang menerima serta kapan dan di mana menerimanya. Juga buktinya apa," tutur Andi. Ia pun tak segan meminta KPK membuktikan kebenaran kesaksian Rosa itu.

Choel Mallarangeng, tim sukses Andi, juga pernah membantah tuduhan Rosa. Bagi Direktur PT Fox Indonesia itu, tuduhan tersebut aneh karena ketika kongres, ia berada di kubu yang berbeda dari Nazaruddin. Ketika itu, Nazaruddin menjadi tim sukses Anas.

Jawaban serupa dilontarkan Angelina Sondakh. ''Yang dikaitkan dengan saya semua tidak benar,'' katanya usai sidang Rosa melalui pesan singkat kepada Gatra. Mantan Wakil Bendahara Umum Partai Demokrat itu membantah pernah terlibat secara personal dengan Rosa maupun Nazaruddin terkait proyek Wisma Atlet. "Saya bicara saja tidak pernah, apalagi minta, apalagi menerima? Ajaib banget gitu," tulis Puteri Indonesia 2001 itu.

Kalau memang Angie benar, lalu dengan siapakah Rosa melakukan percakapan BBM selama ini? Berdasarkan dokumen yang diperoleh Gatra, pemilik PIN BlackBerry 25E342D9 itu pernah mengirim undangan tedak siti putranya, Keanu Massaid, Sabtu 15 Mei 2010. Bahkan, suatu ketika, di antara percakapan soal apel malang dan apel washington itu, dari PIN itu sempat terkirim pesan, "Bagi yang suka Twitter, please follow my account @SondakhAngelina."

Rita Triana Budiarti, Mukhlison S. Widodo, dan Anthony M. Djafar

Ancaman Sang Pembesar
Setiba di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta, Senin lalu, Mindo Rosalina "Rosa" Manulang langsung disambut kawalan ketat polisi. Terpidana kasus suap Wisma Atlet SEA Games, Palembang, itu lantas bergegas menuju ruang jaksa penuntut umum. Berbalut jas panjang krem, tubuh Direktur Marketing PT Anak Negeri itu terlihat lebih gemuk. Belakangan diketahui, long coat itu berfungsi menutupi rompi antipeluru biru yang melekat di balik kaus hitam bergaris yang ia kenakan.

Setelah dua kali ditunda, akhirnya Rosa bersaksi untuk terdakwa Muhammad Nazaruddin, bosnya di PT Anak Negeri. Tapi pengamanan sidang pada hari itu tidak biasa. Setiap pengunjung harus melewati gerbang detektor metal. Di sana, dua polisi memeriksa pengunjung dan barang bawaannya. Polisi juga berjaga-jaga sepanjang sidang yang berlangsung selama hampir lima jam itu.

Pengamanan istimewa itu menyusul ancaman pembunuhan yang dilaporkan Rosa kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ancaman itu cukup serius, sehingga KPK merespons laporan itu dengan menjemput Rosa dari Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, Rabu malam pekan lalu. Pada malam itu, ia diinapkan di sebuah ruangan di KPK. Ia tidak ditempatkan di dalam sel karena KPK belum punya ruang tahanan sendiri.

Ancaman itu, menurut kuasa hukum Rosa, Muhammad Iskandar, datang tiga kali. "Sejak 26 Desember, 30 Desember, dan 3 Januari lalu," ujar Iskandar. Mulanya, ia bercerita, pada 26 Desember malam, dua kerabat Nazaruddin menemui Rosa di penjara. Bagi Iskandar, kunjungan di luar jam besuk itu tidak wajar. "Berarti ada niat yang tidak baik. Kenapa tidak datang siang?" katanya.

Pada pertemuan pertama itu, Iskandar melanjutkan, kliennya memang tidak menerima ancaman ataupun intimidasi. Ketika itu, Rosa menerima mereka karena tamunya itu adalah koleganya di Permai Group. Pada pertemuan kali itu, mereka membincangkan hal-hal kecil dan sesekali menyinggung kasus yang menjerat Rosa.

Namun, pada pertemuan kedua, mulai ada bujukan. Rosa diminta mengurungkan niatnya bersaksi atau setidaknya memberikan kesaksian yang memberatkan Nazaruddin. Bahkan janji Rosa itu minta dituangkan di atas kertas bermeterai. ''Isinya semacam surat pernyataan pencabutan BAP,'' kata Iskandar.

Iskandar menyebutkan, ada tiga hal yang ditekankan para pengancam Rosa. Pertama, meminta Rosa mencabut kesaksiannya atas Nazaruddin dalam berita acara pemeriksaan di persidangan. Kedua, tidak menyampaikan kedudukan Nazaruddin di PT Permai Group serta PT Anugerah Nusantara dan bahwa Nazaruddin bukan atasannya. Ketiga, meminta Rosa menyampaikan bahwa PT Permai dan PT Anugerah adalah milik Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat.

Rosa memenuhi permintaan itu dengan menandatangani surat perjanjian tersebut. Tapi ia mengelabui para pengancamnya dengan membubuhkan tanda tangan palsu. "Rosa merasa kecewa karena mereka mengancam, padahal dulu akrab banget,'' ujar Iskandar menirukan pengakuan Rosa. Ketika bertemu dengan dua kerabat Nazaruddin di ruangan keamanan lapas itu, menurut Iskandar, tiga orang lain dari kerabat Nazaruddin juga berteriak-teriak meminta Rosa mengikuti kemauan mereka.

Hal serupa terulang pada 3 Januari lalu. "Kabarnya, kerabat Nazaruddin ingin membawa notaris dan pastor untuk melegalisasikan pengakuannya," kata Iskandar. Tapi proses legalisasi itu tidak pernah terwujud. Kali itu, Rosa menolak bertemu. Pengacaranya juga sudah berjaga di sekitar rumah tahanan (rutan).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, Taswem Tarib, mengaku bahwa anak buahnya mengizinkan seorang pembesar mengunjungi Rosa di luar jam besuk. Tapi, kata dia, sang sipir tak berdaya menolak keinginan pembesar itu. Sang pembesar bertemu Rosa di dekat portir, pintu gerbang rutan. Mereka berpelukan dan beradu pipi. Pertemuan itu juga dilaporkan berlangsung akrab. Taswem kaget karena tiba-tiba Rosa mengaku diancam.

Tapi Lili Pintauli Siregar, Penanggung Jawab Bidang Bantuan, Kompensasi, dan Restitusi LPSK, justru menyebut ancaman itu datang sejak Oktober tahun lalu. Namun, belakangan, aksi mereka lebih gencar. Biasanya, kata Lili, pengancam yang disebut sangat dekat dengan Rosa itu langsung datang ke rutan pada malam hari. Mereka berjumlah enam sampai tujuh orang. Tapi yang masuk ke rutan hanya empat atau dua orang.

Rabu malam pekan lalu, sekitar pukul 22.00, Rosa akhirnya dievakuasi ke KPK. Ia hanya beberapa jam berada di rutan. Sebab siang harinya ia diperiksa penyidik KPK perihal kasus korupsi pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pemindahan itu, kata Iskandar, dilakukan atas kerja sama KPK dengan LPSK.

Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., membenarkan adanya intimidasi kepada Rosa itu. "Pada saat ini, yang bersangkutan dalam pengawasan LPSK," katanya.

Siapakah pembesar yang mengancam Rosa? Baik Taswem, Lili, maupun Iskandar menolak menyebut namanya. Namun Iskandar pernah menyebut inisial mereka NSR dan HSY. Inisial itu dekat dengan nama sepupu Nazaruddin, Muhammad Nasir, yang dikenal sebagai anggota Fraksi Partai Demokrat DPR. Bersama Nazaruddin, Nasir pernah tercatat sebagai komisaris dan pemegang saham mayoritas PT Anak Negeri.

Sedangkan HSY diduga Muhajidin Nur Hasyim, yang juga saudara Nazaruddin. Di PT Anak Negeri, Hasyim pernah menjabat sebagai direktur utama. Namun, berdasarkan akta perubahan pada 2009, kedudukannya digeser oleh Edi Agus Mulyadi. Sebagaimana Nazaruddin, Hasyim tercatat pernah menjadi pemilik saham PT Mega Niaga, perusahaan yang bernaung di bawah Permai Group milik Nazaruddin.

Di internal Permai Group, Nasir punya kode Mr. D, sedangkan Hasyim adalah Mr. G. Sandi itu, kata Rosa dalam persidangan Senin lalu, dibuat Nazaruddin sejak menjadi anggota DPR pada 2009. Nazaruddin sendiri punya sandi Mr. A. Pada 18 Juli tahun lalu, Direktorat Jenderal Imigrasi mencegah Nasir dan Hasyim bepergian ke luar negeri atas permintaan KPK.

Tapi pengacara Nazaruddin, Elza Syarief, membantah tuduhan bahwa kliennya menyuruh kerabatnya untuk mengancam Rosa. Ia menganggap tuduhan itu tidak masuk akal, karena Rosa adalah saksi yang akan meringankan kliennya. Rosa adalah saksi kunci yang bisa mengungkap misteri orang besar di balik istilah "ketua" dan "ketua besar" yang doyan "apel malang" dan "apel washington".

Rita Triana Budiarti dan Mukhlison S. Widodo



ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com