Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Buatan Lokal Siap Unjuk Gigi

Industri dalam negeri memiliki kemampuan membuat converter kit. Mereka tinggal menunggu keputusan pemerintah soal skema penjualannya.

Nissan President kelir hitam terparkir di depan lobi utama PT Dirgantara Indonesia, Bandung. Kap mesinnya sengaja dibiarkan terbuka. "Ini mobil Pak Habibie yang sudah dipasangi converter kit," kata Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN, kepada para wartawan. Persis di depan mobil berkapasitas 2.500 cc itu, ada Kijang Innova yang bagasinya dibiarkan terbuka, memperlihatkan tabung besar di jok belakang.

Dua unit mobil itu sengaja dipajang sebagai purwarupa penggunaan alat konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG), yang dikembangkan Pindad bersama Cantech Indonesia, rekanan swasta yang sejak tahun 2009 membuat tabung gas 3 kilogram "Alat ini masih buatan Korea," kata Direktur Utama PT Pindad, Adik Aviantono.

Kamis pekan lalu, purwarupa itu ditunjukkan kepada Dahlan sebagai respons bahwa sejumlah BUMN siap memproduksi converter kit lokal. Hari itu pula, sejumlah BUMN seperti PT DI, PT Boma Bisma Indra, PT INTI, PT Pindad, Krakatau Steel, bersama delapan perusahaan swasta, melakukan rapat koordinasi pertama yang dipimpin Dahlan.

"Rapat ini membicarakan kesiapan membuat tangki dan kit untuk konversi BBM," kata Dahlan. Kesimpulan rapat itu? Industri dalam negeri mampu menyediakan converter kit 100%. Artinya, tidak perlu impor. Rencananya, jika keputusan konversi BBM itu digolkan pemerintah, tahun ini disiapkan 300.000 unit tabung. "Untuk tahun depan 1 juta unit, terserah pemerintah berapa ordernya," tutur Dahlan. Sedangkan alat mekaniknya, seperti electronic control unit dan RFId (radio frequency identification), siap dalam enam bulan ke depan. "Untuk chip, kami impor dulu," ia melanjutkan.

Meski sudah siap, kepastian pemerintah apakah akan mengonversi BBM ke CNG (compressed natural gas), LGV (liquid gas for vehicle), atau LPG masih ditunggu. CNG adalah gas yang dipadatkan hingga 200 bar dan dimasukkan ke tabung. Mobil yang memiliki CNG juga masih bisa menenggak premium karena dapat di-switch ke premium. Sedangkan LGV alias LPG berasal dari minyak mentah yang diolah, sehingga harganya sesuai dengan harga minyak mentah. CNG, menurut Dahlan, lebih prospektif karena cadangan BBM makin menipis. "Saya cenderung memilih CNG, seperti pengalaman India yang sudah saya lihat," katanya.

Dibandingkan dengan produk impor, harga lokal hanya berselisih tipis, yakni sekitar Rp 12 juta. Meski BUMN dan swasta siap, lagi-lagi pihaknya harus menunggu keputusan pemerintah soal skema jual converter kit ini. "Apakah pemerintah yang beli atau kami harus jual sendiri ke pasar bebas," kata Dahlan.

PT DI, sebagai pemimpin proyek pengadaan converter kit lokal, bertugas membuat rancangan desain teknologinya. Sejak April 2011, PT DI diminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM) membuat rancangan tabung berbahan komposit. Menurut Direktur Aerostructure PT DI, Andi Alisjahbana, model converter kit lokal bukan hal baru. "Jujur saja, ini sudah menjadi best practice di dunia," katanya.

Begitupun, "Teknologi kit ini kompleks. Ada komponen elektronik, mekanik, dan tangki," kata Andi. Peran PT DI merancang converter kit adalah dari desain hingga standar keselamatan alatnya. Jika sudah jadi, nantinya menjadi public domain bagi industri converter kit. Teknologi menyesuaikan dengan mobilnya, apakah memakai karburator, injeksi, atau diesel.

Rencana itu disambut kesiapan sejumlah BUMN. Direktur Utama PT Pindad, Adik Aviantono, mengatakan bahwa pihaknya telah memproduksi beberapa unit dan sudah diuji coba di kendaraan premium. Untuk converter kit-nya, Adik yakin, Pindad mampu membuat hingga 1 juta dalam setahun. Pindad berpengalaman sejak 2009 bersama Cantech Indonesia memproduksi tabung gas tiga kilogram. "Tinggal kami modifikasi," ujarnya. Pindad juga menanti keputusan pemerintah soal akan jalan atau tidaknya proyek lokal ini.

PT Inti yang ditugasi memproduksi ECU dan RFId mengaku tertarik. RFId yang merupakan otak converter kit berfungsi mengontrol dan mengatur penggunaan gas dan BBM. "Yang kami minta tinggal contoh RFId atau mendatangkan teknisinya supaya mengajarkannya daripada impor," kata Direktur Utama PT INTI, Irfan Setiaputra. Mereka menunggu political statement soal ini. "Kalau pemerintah serius, baru kami kerjain," katanya.

Menurut Wakil Menteri ESDM, Widjajono Partowidagdo, kini PT DI belum bisa sepenuhnya memproduksi converter kit untuk BBG. "Cuma ada komponen inti yang masih impor," katanya kepada Gatra. Nantinya, tabung converter kit dibuat dari bahan komposit sehingga lebih aman karena tahan ledakan. Sedangkan komponen yang masih impor akan didatangkan dari Italia. "Jumlahnya sekitar 250.000," ujarnya.

Dari jumlah itu, sekitar 200.000 di antaranya merupakan converter kit untuk LGV, sementara sisanya untuk CNG. Selama ini, memang ada dua jenis BBG yang dikenal, yakni LGV dan CNG. LGV digunakan untuk mobil pribadi, sedangkan CNG untuk kendaraan umum. Converter kit CNG untuk kendaraan umum rencananya diberikan secara gratis.

Soal kapan tibanya komponen converter kit impor, Widjajono belum tahu. Meski begitu, ia memaparkan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan pihak lainnya ihwal impor komponen itu. Untuk pendanaan impor, Widjajono menyatakan, dananya dari hasil penjualan untuk umum.

Ia menambahkan, bisa saja PT DI nanti di awal mengimpor sebagian komponen converter kit itu, lalu merakitnya sendiri. Pemerintah tinggal membeli dari PT DI. "Tapi semua ini harus dibicarakan dengan Kementerian Perindustrian. Bisa saja kami nalangin dananya dulu," katanya.

Kelak, menurut Widjajono, PT DI bisa membuat converter kit secara mandiri. "Mereka bisa pakai lisensi internasional. Itu nggak susah," tuturnya. Bila PT DI sudah bisa membuat converter kit secara keseluruhan, maka bisa menghemat banyak dana. Pada saat ini, converter kit punya pasar yang bagus. Sebanyak 22 juta mobil di dunia memakai LGV.

Menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi, converter kit setidaknya terdiri dari tujuh bagian alat. Masing-masing alat bisa dibuat oleh pabrik/produsen yang berbeda-beda. Dan ada beberapa bagian yang bisa dibuat di dalam negeri untuk waktu dekat.

"Antara lain adalah switcher (untuk mengubah dari BBM ke BBG atau sebaliknya), housing ECU, dan regulator, pipa dan katup (valve)," tuturnya. Yang lain juga bisa dibuat oleh produsen lokal, tapi dengan catatan permintaannya harus besar. Sampai kini selalu impor karena dalam 10 tahun ini, permintaannya sedikit.

Pembuatan converter kit seperti sebuah industri otomotif atau komponen, Budi melanjutkan, semuanya menggunakan sistem vendor. "Si A buat ini, si B buat itu, lalu digabungkan menjadi satu," katanya.

Pada saat ini, total kebutuhan converter kit di Indonesia belum pasti. Dari 8 juta mobil, sekitar 6 juta menggunakan bensin, sisanya diesel. Untuk mobil mewah, Budi sangsi mereka mau menggunakan BBG. Budi mengasumsikan penggunanya mungkin 20% dari 6 juta tersebut. "Itu pun harus diikuti dengan infrastruktur yang banyak," ujarnya.

Untuk wilayah DKI Jakarta yang kemungkinan akan diujicobakan berjumlah 30.000 mobil, terdiri dari 20.000 taksi dan 10.000 angkutan umum. "Untuk mobil pribadi, tidak bisa dipaksa, meskipun kami bilang BBG lebih murah daripada pertamax," katanya. Apalagi, harga converter dan biaya pemasangannya mencapai Rp 14 juta-Rp 15 juta.

Impor, apalagi di bidang otomotif, untuk saat pertama wajar saja. Dari hasil pembicaraan dengan pelaku industri, Budi mengatakan, bila ada pesanan 4.000 unit per bulan per produsen, hal itu bisa disebut ekonomis dan produsen mau mengerjakannya.

Budi memastikan bahwa akan lebih banyak digunakan produk lokal daripada impor. "Di awal, jika butuh produk dalam jumlah besar dan cepat, maka harus mengiimpor dulu," katanya. Sedangkan pangsa pasar, menurut Budi, bisa diciptakan. Jika infrastruktur seperti SPBG banyak, maka permintaan akan naik. Apalagi, BBG pada angkutan umum bisa menghemat hingga Rp 800.000 per bulan. "Diharapkan, angkutan umum memilih BBG ketimbang premium," katanya.

G.A. Guritno, Bernadetta Febriana, Haris Firdaus, dan Wisnu Wage Pamungkas
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com