Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Saatnya Berpaling ke Mobil Irit

Logikanya, populasi mobil ber-cc kecil akan naik ketika pembatasan BBM bersubsidi diberlakukan. Namun, untuk pasar Indonesia, faktor daya beli, kebutuhan, dan kebanggaan lebih dominan.

Akankah pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau premium pada mobil pribadi bakal menaikkan pamor mobil-mobil ber-cc kecil? Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Jongkie Sugiarto, pembatasan BBM belum tentu signifikan meningkatkan penjualan mobil ber-cc kecil. "Sampai kini, faktor yang paling menentukan adalah harga mobil karena terkait daya beli," katanya.

Selama ini, Jongkie menambahkan, harga mobil yang paling laku sekitar Rp 150 juta, dengan volume mesin 1.000 cc-1.500 cc. "Ini terjadi di semua merek dan tipe," ujarnya. Fenomena ini terjadi karena daya beli masyarakat masih dalam kisaran harga itu. Jika daya beli nanti meningkat pada harga Rp 200 juta-Rp 250 juta, mobil yang dibeli pun pada kisaran 1.600, 1.800, dan 2.000 cc.

Karena kemajuan teknologi, jumlah cc bukanlah patokan untuk menentukan kuat-tidaknya mesin mobil dan boros-tidaknya mobil. Mobil ber-cc kecil bisa memiliki tenaga lebih kuat daripada mobil dengan cc lebih besar. "Lalu mobil dengan cc besar bisa lebih irit daripada mobil dengan cc kecil," kata Jongkie yang juga Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia.

Ketika ditanya tentang pro dan kontra pembatasan BBM bersubsidi, Jongkie menyatakan bahwa dirinya tidak mau larut dalam kontroversi itu. Ia mengingatkan, sejak 2005, pemerintah telah menetapkan standar emisi Euro II melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kendaraan Bermotor yang Sedang Diproduksi.

Dengan belied itu, menurut Jongkie, semua mobil yang diproduksi sejak 2005 sebenarnya mengacu pada standar emisi Euro II. Dan mobil itu hanya benar-benar cocok bila menggunakan BBM dengan kadar oktan 91 ke atas. "Jika orang punya mobil keluaran setelah 2005 masih memakai premium beroktan 88, itu salah. Harusnya pertamax yang beroktan lebih dari 91," ia menegaskan.

Menurut Jongkie, dalam sosialisasi lebih baik dikatakan bahwa mobil Anda berstandar Euro II, maka harus pakai pertamax. "Jika dipaksa dengan premium, akan berakibat buruk," katanya. Pertama, mobil jadi lebih boros. Kedua, mesin cepat panas. Ketiga, proses pembakaran tidak sempurna. Keempat, tingkat polusi gas buang menjadi lebih tinggi.

Meski mendukung kebijakan pemerintah itu, Jongkie mengakui, industri mobil khawatir langkah itu akan menurunkan penjualan mobil. "Karena itu, kami hati-hati dalam memprediksi pasar mobil pada tahun ini," tutur dia.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Toyota Astra Motor, Joko Trisunyoto, menyatakan bahwa pembatasan BBM bersubsidi bisa saja meningkatkan pembelian mobil dengan cc kecil karena dipandang lebih irit. "Secara logika, ini masuk akal," ujarnya. Namun, ia mengingatkan, dalam membeli mobil, pertimbangan kebutuhan menjadi faktor yang juga menentukan.

Mereka yang perlu mini van tidak akan beralih ke sedan hanya karena lebih irit. "Ada banyak faktor lain, seperti kebutuhan praktis dan kebanggaan," kata Joko. Karena itu, menurut dia, tidak semua pembeli akan beralih ke cc yang lebih kecil. Fenomena larisnya MPV seperti Avanza ketimbang Innova, menurut Joko, lebih karena faktor harga.

Nah, penjualan mobil baru, menurut Joko, bisa terpengaruh bila pembatasan BBM itu berimbas pada perekonomian secara umum. Bila tidak, industri mobil paling hanya akan mengalami gejolak di masa-masa awal. Joko mencontohkan kejadian pada 2005, ketika harga BBM naik tinggi, otomatis pasar mobil tahun 2006 turun drastis. "Hal itu terkait dengan turunnya daya beli," ungkapnya.

Sedangkan Teddy Irawan, Vice President Director PT Nissan Motor Indonesia, tidak terlalu khawatir atas rencana pembatasan BBM bersubsidi itu. Menurut dia, alat transportasi sudah menjadi kebutuhan primer. "Tidak mungkin karena harga BBM naik, terus di rumah saja," katanya kepada Ade Faizal Alami dari Gatra.

Teddy juga menepis anggapan bahwa tipe mobil kecil paling diminati konsumen karena irit. Ia lantas membandingkan angka penjualan Nissan March yang 1.200 cc dengan Grand Livina yang 1.500 cc. Tipe March yang diluncurkan pada 3 Desember 2010, terhitung sejak November 2010 hingga Desember 2012, terjual 14.260 unit. "Ternyata masih kalah dengan tipe MPV Grand Livina yang terjual 88.216 unit dalam kurun empat tahun," paparnya.

Soal rencana pembatasan BBM bersubsidi sekaligus mendorong konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) yang harganya lebih murah itu, Teddy berharap agar langkah itu diikuti dengan infrastruktur yang memadai. Sebab efisiensi bagi konsumen tidak hanya soal harga bahan bakar. "Misalnya ada alternatif bahan bakar gas yang murah, tapi belinya harus menunggu hingga 30 menit sekali ngisi, itu juga jadi kendala," katanya. Jika BBG dan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) tersedia banyak, masyarakat pasti akan beralih ke BBG.

Sampai kini, menurut Teddy, PT Nissan Motor belum melansir mobil khusus yang mengonsumsi BBG atau bahan bakar alternatif lainnya. Tetapi, jika pemerintah menerapkan konversi BBM ke BBG di sektor transportasi, PT Nissan Motor Indonesia sudah siap. "Prinsipnya sudah ada, tergantung market," tuturnya. Bahkan di Amerika, Jepang, dan sejumlah negara Eropa, mobil elektrik diproduksi, meskipun sangat terbatas.

Namun, melihat minimnya SPBG di Jabodetabek, menurut Teddy, kebijakan konversi BBM ke BBG di sektor transportasi dalam waktu cepat tidak mungkin. "Penerapan pada angkutan umum juga tidak masuk akal. Kalau tetap dipaksain, tempat pengisian bahan bakar bisa macet," ujarnya. Untuk itu, menurut Teddy, pembatasan penggunaan BBM tidak perlu dipaksakan.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales, Endro Nugroho, justru menilai teknis aturan pembatasan BBM subsidi itu masih belum jelas. Wacana yang dilempar masih belum kongkret. "Kami masih menunggu pemerintah inginnya apa," katanya. Endro melihat, yang sebenarnya dikhawatikan bukan masalah pembatasan BBM bersubsidinya, melainkan sosialisasi kebijakan itu.

"Yang penting, jangan membuat masyarakat kaget dan bingung karena bisa mengurangi kepercayaan publik," kata Endro. Menghadapi makin langka dan mahalnya BBM, menurut Endro, sejak awal Suzuki selalu berorientasi agar produknya hemat BBM. Sebagai jawabannya, mesin berjenis K (K-Series Engine) yang irit BBM dipasangkan pada Karimun Estilo dan Splash. Ternyata produk itu direspons cukup baik seiring dengan makin bervariasinya kebutuhan konsumen.

G.A. Guritno, Haris Firdaus, Arif Koes Hernawan, dan Sandika Prihatnala
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com