Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Sanksi Atas Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia

Sanksi internasional atas Iran bakal menyebabkan harga minyak dunia meroket. Arab Saudi siap mengatrol produksi minyaknya guna menutupi kekurangan produksi Iran. Penutupan Selat Hormuz menjadi andalan Iran.

Sikap diam Cina akhirnya berakhir. Selepas kunjungan Timothy Geithner, Menteri Keuangan Amerika Serikat, ke Beijing, pekan lalu, Perdana Menteri Cina Wen Jiabao langsung mengambil langkah preventif. Geithner mengunjungi Cina dengan sebuah misi, yakni meyakinkan Beijing untuk ikut ambil bagian dalam rencana penjatuhan sanksi ekonomi bagi Iran.

Tidak ada komentar apa pun dari Jiabao pada saat itu. Tetapi kunjungan Jiabao ke sejumlah negara Teluk memberi jawaban lain. Secara resmi, Jiabao bakal tampil dalam World Future Energy Summit di Abu Dhabi untuk menjelaskan kebijakan energi Cina. Lalu ada seremoni penandatanganan joint venture antara Sinopec dan Aramco di Riyadh. Tetapi ada satu misi lain, yakni mencari sumber pembelian minyak lain di luar Iran, yang selama ini menjadi andalan Cina untuk memenuhi 11% kebutuhan dalam negerinya.

Makin mengentalnya keinginan Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran cukup membuat Wen Jiabao khawatir soal kesinambungan suplai minyak ke negerinya. Uni Eropa (UE) memberi sinyal keinginan menerapkan sanksi serupa kepada Iran.

Dalam pertemuan para pemimpin UE pada 23 Januari ini, sikap itu kemungkinan besar disetujui. Paling tidak, jaminan ke arah itu telah dilontarkan William Hague, Menteri Luar Negeri Inggris. Tetapi Hague tidak memastikan apakah opsi operasi militer ada di atas meja.

UE sendiri adalah pasar potensial bagi Iran. Secara keseluruhan, 18% kebutuhan minyak UE dipenuhi lewat impor dari Iran. Dari persentase tadi, Spanyol dan Italia menjadi dua negara terbesar pengimpor minyak dari Iran, masing-masing 6% dan 7%. Inggris dan Jerman masing-masing memenuhi 1% kebutuhan minyak dalam negerinya dari Iran.

Karena itu, Jiabao mulai melakukan sejumlah pendekatan untuk mendapat kepastian pemasok kebutuhannya, yang mencapai lebih dari 500.000 barel per hari (bph). Meski sebenarnya menolak pemberian sanksi bagi Iran, Cina mulai mengurangi setengah dari impornya untuk dua bulan pertama tahun ini.

Jiabao tidak sendirian. Pemimpin Korea Selatan dan Jepang juga beranjang sana ke Timur Tengah. Sejak Jumat pekan lalu, Perdana Menteri Korea Selatan, Kim Hwang-sik, mengunjungi Oman dan Uni Emirat Arab (UEA), untuk tujuan yang sama. Selama ini, UEA memenuhi 10% kebutuhan minyak Korea Selatan, sedangkan Oman sebesar 2%. Oman dan UEA kemudian sepakat memprioritaskan ekspor minyaknya ke "negeri ginseng" itu.

Koichiro Gemba, Menteri Luar Negeri Jepang, juga melakukan kunjungan ke Timur Tengah, pekan lalu. Di sana, Gemba meminta para penghasil minyak itu meningkatkan produksinya. Pada saat yang sama, Gemba mendesak Iran untuk menarik ancamannya menutup Selat Hormuz. Permintaan Gemba ini berkaitan dengan kebijakan Jepang untuk ikut ambil bagian dalam pemberian sanksi ekonomi bagi Iran.

Ancaman penutupan Selat Hormuz memang menjadi momok bagi Barat dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Iran terlihat serius dalam mewujudkan ancaman itu dengan menggelar latihan militer di perairan tersebut, lengkap dengan uji coba rudal jarak menengah terbarunya. Bila Iran benar-benar melaksanakan ancamannya, bisa dipastikan harga minyak dunia bakal membubung tinggi. Pada saat ini saja, harga minyak di sejumlah bursa dunia mulai bergerak ke level US$ 100 per barel.

Selat Hormuz adalah perairan yang memegang peran penting bagi perdagangan minyak Timur Tengah. Dari sini, 20% kebutuhan minyak dunia disalurkan. Bila sanksi atas Iran jadi dijatuhkan dan selat itu ditutup, sebanyak 17 juta barel minyak per hari akan sulit sampai ke tempat tujuan. Para importir pun akan kewalahan memenuhi kebutuhannya.

Baru India yang memperlihatkan sikap menolak pemberian sanksi itu. New Delhi tegas menyatakan bahwa jalinan pembelian minyak dengan Iran, yang memenuhi 11% kebutuhan domestiknya, akan terus berjalan. ''Kami akan terus membeli dari Iran,'' kata Ranjan Mathai, Menteri Luar Negeri India, seperti dikutip Reuters.

Tetapi, untuk sampai pada skim pembayaran yang tidak melanggar sanksi, baik India maupun Iran belum menemukan bank yang tepat. Selama ini, India melakukan pembayaran transaksi senilai US$ 12 milyar lewat Halkbank di Turki. Kini, Turki mengikuti imbauan Amerika dan menyisakan kebingungan bagi New Delhi. Pada saat ini, India sedang menjajaki pembayaran melalui OAO Gazprombank milik Rusia.

Bila Iran benar-benar mendapat sanksi, lantas dari mana kekurangan minyak Timur Tengah bakal dipenuhi? Ali al-Naimi, Menteri Perminyakan Arab Saudi, mengatakan bahwa negaranya siap menambah produksi minyak hingga 2,7 juta barel per hari (bph) untuk menutupi produksi Iran. Pada saat ini, Arab Saudi memproduksi 10 juta bph (kapasitas produksinya mencapai 12,5 juta bph).

Pernyataan Al-Naimi tadi langsung mendapat reaksi dari Teheran. Ali Akbar Salehi, Menteri Perminyakan Iran, menyebut pernyataan itu sebagai ''manuver yang tidak bersahabat''. ''Mungkin itu hanya pendapat pribadi dan Pemerintah Arab Saudi tidak akan menyetujuinya,'' kata Salehi.

Di luar Arab Saudi, pasar minyak internasional juga bisa berharap dari Libya. Produksi minyal Libya belakangan ini mengalami pemulihan dan bisa memproduksi hingga 1 juta bph. Selain itu, minyak Libya memiliki kualitas yang sama dengan minyak Iran, yakni light sweet.

Jenis ini banyak digunakan perusahaan refinery dunia. Bila minyak dari Arab Saudi yang dipakai, mereka harus memperbarui mesin penyulingnya karena minyak ini berjenis heavy sour. Substitusi ini bukan pilihan utama, terutama karena banyak perusahaan refinery mulai mengurangi pembeliannya dari Iran.

Carry Nadeak
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 11 / XVIII 25 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Seni
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com