Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Kate Middleton: Pesta Sederhana

Putri bergelar Duchess of Cambridge itu menghilang dari sorotan publik untuk merayakan pesta ulang tahunnya; Bisnis Pemula; Negeri Inspirasi; Warisan Rumpon.

Mengenakan gaun brokat rancangan Alice Temperley, istri Pangeran William, Kate Middleton, meninggalkan Central London Cinema, London, Inggris, Ahad malam lalu. Ia baru saja menghadiri gala premier film karya Steven Spielberg, War House, yang digelar dalam rangka pengumpulan dana untuk Yayasan Pangeran William dan Pangeran Harry. Setelah itu, putri bergelar Duchess of Cambridge itu menghilang dari sorotan publik untuk merayakan pesta ulang tahunnya.

Senin lalu, Kate Middleton menginjak usia 30 tahun. Beberapa hari menjelang ulang tahunnya itu, beredar kabar bahwa adik iparnya, Pangeran Harry, telah menyiapkan pesta bertema tahun 1980-an untuknya. Sebagaimana kebiasaan Middleton sebelum menikah, pesta itu juga akan dilengkapi karaoke.

Namun penggemar Middleton harus menelan rasa kecewa. Soalnya, sebagaimana dikutip kantor berita AP, juru bicara istana buru-buru mengatakan bahwa pesta ulang tahun Middleton akan dirayakan secara sederhana dan pribadi. Pesta sederhana dianggap tepat untuk Putri Cambridge yang tidak saja memulai hidupnya memasuki dekade keempat, melainkan juga kariernya sebagai Ratu Inggris mendatang. Kate sekaligus mematahkan tradisi ratu monarki Inggris yang melahirkan pangeran pada usia sebelum 30 tahun.

Qory Sandioriva: Bisnis Pemula
Meski baru saja didaulat sebagai pemeran utama film Mother Keder, Qory Sandioriva, 21 tahun, menyadari bahwa keberadaannya di dunia hiburan tidak akan abadi. Karena itu, sembari menekuni dunia keartisan, Puteri Indonesia 2009 itu mulai mencoba menjalankan bisnis. "Saya lagi buka usaha kecil-kecilan, floris sama event organizer," ujarnya usai pemutaran film Mother Keder di FX Plaza, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Sebenarnya Qory mengaku tertarik pada dunia bisnis sejak dulu. "Saya harus bisa mengepakkan sayap ke kanan dan ke kiri, mencoba semua," katanya kepada Ageng Wuri R.A. dari Gatra. Pada saat ini, usaha yang ia anggap sesuai dengannya adalah floris dan event organizer itu. Tapi, karena masih pemula dan bermodal kecil, hingga kini ia belum mencari tempat untuk toko florisnya. "Saya tidak ingin gambling untuk tempat," ujarnya. Bagi dia, bisnisnya itu harus berproses dulu sebelum menjadi besar.

Sedangkan usaha event organizer ia terjuni bersama teman-temannya. "Kliennya sudah ada," tutur Qory. Belum lama ini, ia berkerja sama dengan sebuah media nasional berbahasa Inggris. "Istilahnya, sebagai publisher dan mengumpulkan teman-teman artis," katanya.

Sanaullah: Negeri Inspirasi
Di atas mimbar auditorium Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, Sanaullah mengambil secarik kertas dari saku jasnya. Duta Besar Pakistan itu lantas membaca sebuah puisi. "Bridge", puisi yang ia baca, diambil dari buku Vault of Dreams, yang diluncurkan Kamis malam pekan lalu. Buku itu memuat 123 puisi yang ditulis Sanaullah selama bertugas di Indonesia sejak 2009.

Antologi puisi itu ia persembahkan kepada ibunya, yang semasa ia kecil selalu membacakan syair-syair sufistik. Selain realitas sosial, diplomat kelahiran 13 September 1953 itu mengaku bahwa syair-syair sufistik banyak mempengaruhi karya-karyanya. Untuk itu, secara khusus Sanaullah menulis puisi berjudul "Mother" untuk mengenang ibunya.

Sebelum ditugaskan ke Indonesia, semasa menjadi duta besar untuk Rumania, pria yang mengawali karier sebagai jurnalis di The Pakistan Times itu juga melahirkan tiga antologi puisi. Buku yang ditulis sepanjang 2006-2009 itu adalah Rings Within Rings (2008), Mountan Fox (2008), dan Stairs to Nowhere (2009).

Bagi Sanaullah, Indonesia adalah negeri yang penuh inspirasi. "Indonesia ini negeri budaya dan keindahan. Tari, drama, dan film berkembang di sini," ujarnya, seperti dilaporkan Ade Faizal dari Gatra. Pria yang gemar melukis itu juga memuji penyair Indonesia. Sekalipun generasi muda Indonesia banyak terpengaruh tren Barat, menurut dia, para penyair itu masih menempa intuisinya untuk menulis puisi.

Panji Trihatmodjo: Warisan Rumpon
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, ribuan becak dibuang ke Teluk Jakarta untuk dijadikan rumah ikan alias rumpon. Rupanya, upaya Pak Harto membuat terumbu karang buatan itu kini menurun pada cucunya, Panji Adhikumoro Trihatmodjo. Bedanya, putra kedua pasangan Bambang Trihadmodjo dan Halimah Agustina Kamil itu menerapkan teknologi modern. "Kalau dari becak, ditaruh di dalam laut kan lama-lama kemakan. Hilang. Ini enggak! Ini bakal selama-lamanya," ujarnya di sela-sela acara peluncuran sebuah situs berita di Pejaten, Jakarta Selatan, Sabtu dua pekan lalu.

Proyek perdananya itu, menurut Panji, menggunakan teknologi geotextile bag asal Selandia Baru. Di Indonesia, dialah satu-satunya yang memiliki lisensi teknologi itu. "Komponennya mirip dengan saringan filter akuarium, tapi spec-nya beda," katanya kepada Edward Luhukay dari Gatra. Komponen itu juga tidak mengeluarkan bahan kimia di dalam laut. Terumbu karang buatan itu ditanam pada kedalaman 15 meter, dengan panjang 100 meter dan tinggi 7 meter. Sedangkan lokasi penanamannya berada di dekat Pantai Pecatu, Bali, atau sekitar 150 meter dari bibir pantai kawasan resor milik pamannya, Hutomo Mandala Putra.

Panji berharap, proyek percobaan yang menelan ongkos US$ 2 juta-US$ 3 juta itu rampung pada akhir tahun nanti. Meskipun mahal, menurut dia, proyek itu bisa menjadi langkah awal pembuatan terumbu karang buatan di sejumlah perairan Indonesia.

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com