Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Mengubah Dunia

Bukti sejarah juga mencatat bagaimana tokoh-tokoh besar dunia yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik awalnya bukanlah siapa-siapa.

Beliau dilahirkan pada 28 Juni 1940 di Chittagong, kota terbesar kedua Bangladesh bagian tenggara. Masa kecil pria ini tidak ada yang spesial, hari-harinya dilalui seperti anak-anak Bangladesh pada umumnya. Di usia remaja, ia bersekolah di Perak University dan melanjutkan ke jenjang PhD di bidang ekonomi pada 1969.

Selesai kuliah, ia bekerja di Universitas Kuranji sebagai dosen. Tidak berapa lama setelah itu, pada 1974, Bangladesh mengalami bencana kelaparan yang cukup parah. Kehidupan sosial bangsanya juga memprihatinkan ketika itu. Sistem sosial yang berkembang adalah para ibu yang pergi mencari nafkah. Mereka juga dibebani tanggung jawab membesarkan anak-anak, ditambah kewajiban pokok untuk menjadi pelayan bagi suami, yang sebagian besar adalah pengangguran.

Di tengah kondisi yang serba-sulit tersebut, para ibu sangat rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian sepihak yang angkanya sangat tinggi. Bayangkan, betapa sulitnya menjadi wanita Bangladesh ketika itu, sudah harus kerja keras banting tulang untuk menafkahi keluarga, menjaga anak, dan melayani suami, tetap harus menghadapi kekerasan dan risiko diceraikan secara sepihak.

Sampai suatu ketika, ia berjumpa dengan seorang ibu penganyam bambu yang hanya bisa membawa pulang uang 25 sen setiap hari untuk menghidupi anak-anak dan suaminya. Sebagai ilustrasi, jika dikurskan dengan nilai tukar rupiah saat ini, uang itu hanya cukup untuk biaya parkir satu jam di Jakarta. Bagaimana uang tersebut cukup untuk kebutuhan sehari-hari sebuah keluarga seperti membeli susu, beras, lauk-pauk, sarana kesehatan, pakaian, transportasi ke tempat kerja, membayar listrik, dan air bersih.

Kasus ini sangat berbekas di hati kecil pemuda itu. Cukup baginya melihat penderitaan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ia lelah menunggu perubahan yang tidak kunjung tiba. Ia tahu bahwa ia harus berbuat sesuatu. Ia tidak lagi menuntut pemerintah untuk membuat program-program terobosan, tapi dirinyalah yang harus membuat terobosan. Ia tidak lagi menunggu orang lain untuk memulai dan bertindak, tetapi dirinya terlebih dululah yang harus memulai dan bertindak. Ia ikut mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki situasi tersebut.

Ia melakukan riset dan mengkaji lebih dalam akar kemiskinan bangsanya dan akhirnya menggagas sebuah konsep sederhana dengan memberikan bantuan modal dari kantong pribadinya sebesar US$ 17 untuk dijadikan modal kerja bagi sekelompok warga miskin yang beranggota 42 orang. Modal yang tidak seberapa ini, di luar dugaan, mampu melipatgandakan usaha para anggota tersebut.

Ia pun mulai mengembangkan konsep serupa ke beberapa kelompok lainnya. Hasilnya sekali lagi sangat memuaskan. Ia pun lalu melembagakan konsep kredit mikronya tadi menjadi sebuah bank sederhana yang mengkhususkan diri dalam memberikan kredit bagi kaum miskin, yaitu pinjaman skala kecil, khususnya untuk para ibu dalam memulai usaha sendiri yang biasanya tidak mungkin mendapatkan pinjaman dari bank umum.

Perjuangan pria itu mencapai puncaknya ketika konsep yang diperjuangkan selama lebih-kurang 30 tahun ini berkembang dengan memiliki 1.175 cabang, yang melayani 41.000 desa dengan jumlah anggota lebih-kurang 2 juta orang. Total kredit yang telah disalurkannya mencapai lebih-kurang US$ 2 milyar. Pada 2006, pria itu pun dianugerahi Nobel Perdamaian, penghargaan paling bergengsi di muka bumi ini. Iya, pria ini tidak lain adalah Prof. Muhammad Yunus.

Seluruh dunia dibuat kagum oleh idealisme, perjuangan, dan karyanya. Padahal, dia bukanlah ''siapa-siapa'' sebelum memulai ini semua. Sama halnya dengan diri kita hari ini yang mungkin bukan siapa-siapa, tetapi kita pun mampu mengubah dunia jika benar-benar mau. Bukti sejarah juga mencatat bagaimana tokoh-tokoh besar dunia yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik awalnya bukanlah siapa-siapa.

Muhammad Yunus dan tokoh-tokoh pengubah dunia memiliki sebuah kesamaan, yakni pribadi-pribadi yang mengambil tanggung jawab. Mereka berhenti menyalahkan situasi dan kondisi. Mereka aktif memperjuangkan keyakinannya hingga tercapai. Mereka mengambil peran untuk menjadi bagian dari perubahan, bukan duduk berpangku tangan menunggu perubahan. Bahkan merekalah pembawa perubahan itu sendiri.

Mungkin beberapa dari kita saat ini berada di dalam kondisi yang sulit dalam hidup. Sama seperti bangsa ini, yang beberapa tahun terakhir menghadapi banyak masalah dan minim prestasi. Sebagai individu hebat, kita ikut bertanggung jawab atas kondisi ini. Jangan terjebak oleh lakon-lakon kerdil yang hanya bisa menyalahkan dan mencari kambing hitam.

Bagaimanapun sulitnya Anda hari ini, di mana pun dasar yang Anda pijak hari ini, Anda bisa mengubah hidup. Bahkan Anda bisa menggeser bumi dari porosnya... jika ikut mengambil tanggung jawab. Semoga tahun 2012 ini menjadi tahun keberhasilan Anda!
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com