Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Niteni, Nirokke, Nambahi

Dengan konsep amati, tiru, dan modifikasi, pelajar SMK sukses memproduksi mobil layak pakai. Wacana proyek mobil nasional pun kembali mencuat. Jika diseriusi, proyek ini bisa menggairahkan industri otomotif lokal dan menciptakan lapangan kerja.

Boleh jadi Kiat Esemka tidak akan setenar ini jika Joko Widodo tidak memilihnya sebagai kendaraan dinas. Promosi jitu Kiat Esemka ala Jokowi, sebutan akrab untuk Wali Kota Solo, itu membuat mobil rakitan pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) itu naik daun. Bombardir pemberitaan di media massa pun dalam sekejap melahirkan euforia mobil nasional (mobnas).

Tak kurang sejumlah menteri, politisi Senayan, kepala daerah, dan beberapa artis tidak hanya riuh berkomentar, melainkan juga ikut-ikutan memesan mobil jenis SUV (sport utility vehicle) itu. "Sudah ada ratusan pesanan masuk," ungkap Sukiat, pemilik bengkel Kiat Motor, tempat Kiat Esemka dibuat.

Cerita berawal dari modifikasi Toyota Crown menjadi Toyota Land Cruiser yang dilakukan para siswa Jurusan Otomotif SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Para siswa melakukan modifikasi itu pada saat praktek di bengkel Sukiat, yang kebetulan juga ketua komite sekolah. Mobil karya anak SMK itu pada 2007 diusung ke berbagai pameran. Kini mobil modifikasi itu ditempatkan di SMKN 1 Trucuk sebagai percontohan.

Sejak saat itulah, banyak SMK di berbagai kota di Jawa yang mengirim siswanya mengikuti kerja praktek di Kiat Motor, yang terletak di Jalan Yogya-Solo, tepatnya di Ngaran, Mlese, Ceper, Klaten. Dari bengkel seluas 6.500 meter persegi itu, kemudian lahirlah Kiat Esemka.

Sulit dimungkiri, kelahiran Kiat Esemka terpicu juga oleh niat Jokowi dan Wakil Wali Kota Solo, Hadi Rudyatmo, memesan dua mobil untuk dipakai sebagai mobil dinas. Untuk mewujudkan pesanan itu, Sukiat mengundang 15 SMK untuk mengirim dua siswa pilihan dan untuk SMKN 1 Trucuk empat siswa.

Keterlibatan pelajar SMK makin terjalin karena kreativitas di Kiat Motor sejak 2008 mendapat apresiasi yang besar dari Joko Sutrisno, Direktur Pendidikan SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). "Kemudian dengan adanya pesanan itu, Pak Joko Sutrisno makin antusias dan mengajak kerja sama merakit mobil yang dikerjakan siswa SMK," kata Sukiat.

Biaya pembuatan dua unit mobil itu berasal dari masing-masing SMK yang mendapat dana dari Kemendiknas. Menurut Wardani Sugiyarto, Kepala SMKN 1 Trucuk, ada 14 SMK yang menjalin kerja sama merancang Kiat Esemka, seperti SMKN 2 Solo, SMKN 5 Solo, SMK Warga Solo, SMKN 2 Wonogiri, SMKN 1 Jakarta, juga SMK dari Ponorogo, Magelang, dan Madiun. "Ada pembagian kerja sesuai dengan keahlian di masing-masing SMK," ujar Wardani.

Contohnya, cetak blok mesin menjadi jatah SMKN 1 Jakarta. Selanjutnya dilakukan pengecoran di pabrik pengecoran logam di Batur, Ceper, Klaten. Khusus pembubutan mesin dilakukan di SMK Warga Solo. Perakitan mesin dilakukan di SMK Muhammadiyah Magelang. Sedangkan pembuatan bodi mobil, baik interior maupun eksterior, dilakukan siswa SMKN 1 Trucuk, SMKN 2 Solo, dan SMKN 5 Solo. Kerja bareng itu menghasilkan dua mobil jenis SUV. "Pengerjaan mobil itu selesai sekitar tiga bulan," kata Wardani.

Sukiat mengklaim, komponen lokal Kiat Esemka mencapai 80%. Komponen luar yang masih belum dibuat, antara lain, injektor bahan bakar (produk Cina) dan beberapa bagian mesin. Sisanya, mulai blok mesin, rumah kopling, exhaust, hingga intake manipol, dipesan di pengecoran logam di Desa Batur, Ceper, Klaten.

Pedoman yang dianut dalam membuat mobil itu adalah: niteni (memperhatikan), nirokke (meniru), dan nambahi (menambahkan) alias 3N. "Sering pula disingkat ATM, kependekan dari amati, tiru, dan modifikasi," tutur Sukiat, yang pernah mengikuti pelatihan otomotif di Jepang dan Jerman atas biaya Departemen Sosial. Pedoman itu diamatinya dari pekerja Jepang, Korea, dan Cina ketika dulu mereka memulai industri mobnasnya.

"Kalau di Cina ada model home industry, maka di sini bisa dikerjakan siswa SMK yang keterampilannya memang sudah bisa diandalkan," kata pria yang pada 2012 ini berencana mendirikan bengkel di kawasan Manahan, Solo, untuk pusat pelatihan bagi penyandang cacat. Karena itu, ia mengharapkan tumbuhnya sentra-sentra industri mobil, yang ribuan komponennya disediakan dan dibuat berbagai sekolah kejuruan.

Soal masih banyaknya pejabat, pengamat, dan masyarakat yang meragukan mobil Esemka dan memandangnya sekadar mobil rakitan, Sukiat mempersilakan untuk datang langsung melihat. "Ini bukan mobil yang sudah jadi lalu diubah dan dilabeli nama Esemka karena ada proses dan benar-benar dibuat dari nol," katanya.

Priyangga, siswa kelas XI SMKN 1 Trucuk, mengungkapkan bahwa siswa dari berbagai SMK bekerja dengan didampingi karyawan Kiat Motor. "Ada juga guru pembimbing yang menjadi tangan kanan Sukiat, yakni Weni Prasetyo," kata Priyangga.

Menurut Weni, instruksi awal, desain gambar, dan pengukuran ditangani Sukiat langsung. Semua dilakukan secara bersamaan dan simultan dari pembuatan mesin, pemasangan ke sasis dan bodi, sampai ke perlengkapan kelistrikannya. Meski dengan peralatan sederhana, tambah Weni, hasil pembuatan sasis, rangka, dan lambung mobil bisa simetris dan presisi.

Tahap selanjutnya adalah penanganan kelistrikan dan pembuatan interior mobil. Barulah pada tahap akhir, pemasangan perlengkapan mobil dan finishing. Untuk mengukur kekurangan dan ketahanan mobil, dilakukan pula uji coba.

Ketika ditanya soal purnajual, Sukiat menyatakan bahwa hal itu otomatis ada. Meski fokus utama pada membuatan mobil, purnajual juga dipikirkan dari servis hingga suku cadangnya. "Intinya, bisa membuat, ya, tentu bisa menangani purnajual," ujarnya.

Selain Kiat Esemka Rajawali 1 dan Rajawali 2, buatan siswa dari 15 SMK yang bergabung di Kiat Motor, produksi mobil Esemka yang lain juga dilakukan di Malang, Jawa Timur. Kerja keras siswa dari lima SMK yang terpusat di SMK Negeri 1 Singosari pun sukses melahirkan Esemka Digdaya 1, Digdaya 2, dan Digdaya 3.

Harga Digdaya ada di kisaran Rp 150 juta-Rp 170 juta, karena masih dikerjakan secara manual dan komponen mobilnya belum dibuat secara massal. Dari hasil penjajakan ke sejumlah negara, ternyata ada produsen mobil di "negeri panda" yang tertarik membantu pembuatan produk Esemka Digdaya secara massal.

Digdaya 1 yang lahir pada Mei 2009 memiliki kapasitas mesin 1.500 cc, menggunakan mesin jenis Esemka 1.5i hasil produksi pelajar SMK Cibinong. Mesin DOHC multi-point injection menjadikan Digdaya 1 hemat bahan bakar, bertenaga, dan ramah lingkungan. Muatan lokal Digdaya 1 dan Digdaya 2 mencapai 60%. Sisanya 30% hasil modifikasi dan 10% hasil rekayasa.

Meski masih banyak orang yang membandingkan mobil Esemka dengan mobil merek lain, apresiasi banyak kalangan memicu siswa SMK untuk terus berkarya. Para pengkritik tidak pernah berpikir bahwa negara mana pun pasti akan jatuh-bangun ketika merintis industri otomotif dalam negerinya. Bahkan pemerintahan di sejumlah negara melakukan proteksi, dukungan finansial, dan memberikan kemudahan agar proyek mobnasnya eksis.

Ide mobil Esemka sederhana saja, yakni membuat karya bangsa yang fenomenal. Peluang untuk lahirnya mobnas ada karena Indonesia merupakan salah satu negara pengguna mobil terbesar. "Di sisi lain, sumber daya manusia yang ahli dalam pembuatan mobil sangat banyak," katanya.

Langkah pertama yang dilakukan pada 2007 adalah dengan membuat alat untuk mencetak mesin mobil. Untuk memproduksi mesin, SMK diberi pinjaman oleh Kemendiknas. "Pada 2008, SMK sudah dapat membuat mesin mobil dengan rasio 55:45," ungkap Joko. Pembagiannya, 55% buatan Indonesia, 45% buatan Cina. "Pada tahun berikutnya, kami bisa menaikkan ke lebih dari 70% lokal bahan baku untuk pembuatan mesin," katanya.

Awalnya, menurut Joko, ada 23 SMK yang terlibat, tapi kini berkembang menjadi 33. Ini menunjukkan adanya dukungan positif dari masyarakat terhadap mobil SMK. "Siapa tahu ini akan menjadi mobnas," ujarnya. Untuk menggalang dukungan, pada saat ini SMK bekerja sama dengan PT Solo Manufaktur Kreatif dalam memproduksi mobil SMK. Pembagiannya, HAKI (hak kekayaan atas intelektual) menjadi milik SMK. "Karena ide awal pembuatan mobil ini berasal dari pihak SMK," katanya.

SMK, papar Joko, tidak sekadar ikut-ikutan. Yang bertindak sebagai prinsipal adalah PT Solo Manufaktur. Industri itulah yang bertugas mengurus berbagai hal, seperti perizinan.

Kini mobil Esemka telah mengantongi vehicle identification number (VIN) dari Kementerian Perindustrian, surat tanda pendaftaran dari Kementerian Perindustrian, dan sertifikat uji tipe dari Kementerian Perhubungan. "Yang masih ditunggu adalah sertifikasi registrasi uji tipe Kementerian Perhubungan," tuturnya.

Ada dua jenis mobil yang diproduksi SMK. Pertama, mobil SMK Rajawali. Mobil ini adalah jenis kendaraan penumpang 4x2 yang mampu menampung 5-7 orang. Mobil ini juga dilengkapi dengan AC, power window, dan central door lock. Gardan penggeraknya berada di belakang. "Ini mobil keluarga kelas menengah ke bawah," katanya. Mobil ini dibanderol sekitar Rp 140 juta. Mobil kedua yang diproduksi adalah mobil pedesaan yang sejak awal dikhususkan untuk daerah perkebunan.

Untuk Esemka, Joko mengungkapkan, pendekatan yang dilakukan beda dari mobil Timor, yang sempat beredar pada era Soeharto. Kelak tidak akan dibuat pabrik khusus untuk memproduksi mobil. "Kami akan memanfaatkan infrastruktur yang ada. Salah satunya, bermitra dengan PT Solo Manufaktur Kreatif," ungkapnya.

Karena pesanan melonjak, Joko mengaku sedang menyusun langkah percepatan untuk membuat mobil sesuai dengan pesanan. "Ini tantangan yang harus diambil," katanya. Modalnya berasal dari uang muka para pemesan mobil. "Kementerian tidak ada investasi khusus untuk ini," ia menambahkan.

Hal itu akan membawa keuntungan bagi banyak pihak. Bagi SMK, hal ini akan menjadi pembuktian sebelum memasuki dunia kerja. "Ada kebanggaan ketika memiliki karya," katanya. Selain itu, proyek ini juga akan membuka lowongan pekerjaan. Ditaksir, sebanyak 7.000 tenaga kerja bakal terlibat dalam pembuatan mobil SMK ini. "Kami tak menggunakan robot, tapi tenaga orang," tuturnya.

Joko tidak memungkiri masih adanya kekurangan dalam pembuatan Esemka. "Namun secara bertahap akan diperbaiki," katanya. Untuk after sales, misalnya, ia mengaku bisa dilakukan di hampir semua SMK. Menurut dia, di setiap kecamatan ada SMK sehingga bila perlu perbaikan, tinggal menghubungi SMK itu. "Mereka bisa tangani kapan saja," ujarnya. Pada saat ini, ia mengaku telah memproduksi 20 mobil SMK Rajawali dan 40 mini-truck.

Sementara itu, menurut Dewa Yuniardi, Ketua Bidang Pemasaran/Komunikasi Asianusa (Asosiasi Industri Automotif Nusantara), euforia nasionalisme mobil Esemka memang dibutuhkan. Kreativitas yang ada jangan sampai dihentikan oleh konflik kepentingan yang mungkin muncul dari dalam. Menurut Dewa, mobnas adalah mobil yang dibuat di Indonesia dan dibuat oleh orang Indonesia. "Jadi, yang bertindak sebagai prinsipal atau pemegang merek adalah orang Indonesia," katanya.

Sejak awal, Asianusa memiliki semangat untuk menggembangkan mobnas. Kini ada delapan produk mobil yang telah dibuat Asianusa, yakni Fin Komodo, GEA, Tawon, Kancil, Arina/Merapi, Borneo, Wakaba, dan mesin ITM. Fin Komodo telah dijual 50 unit. "GEA siap produksi, tapi belum ada penjualan," ungkapnya. Sedangkan Tawon telah siap jual dan sudah laku. "Penjualan pertama kami di Banten, harganya Rp 40 juta-Rp 70 juta," tuturnya.

Dari pengalaman, menurut Dewa, hambatan utama membuat mobnas adalah modal kerja dan modal investasi. "Kami membuat mobnas dengan dana kurang dari Rp 100 milyar," katanya. Dalam penjualan, masalahnya ada di kredit kepemilikan kendaraan. Harga secondary market-nya tidak diketahui. "Ada juga keraguan after sales-nya," ia melanjutkan.

Asianusa mengaku tidak mudah memperkenalkan produknya ke pasar. "Tawon sudah banyak yang mau beli, tapi kami hati-hati menjualnnya karena harus menyiapkan segala sesuatunya," kata Dewa. Maka, tak mengherankan, Dewa mengaku kerap mendapat cemooh karena dianggap lebih banyak bicara tapi produknya belum juga keluar.

Asosiasi industri otomotif yang beranggota produsen kendaraan roda empat asli Indonesia itu merasa tidak akan bersaing dengan perusahaan besar yang sudah ada. "Kalau bersaing, kami sudah terpental," katanya. Karena itu, mereka mengambil segmentasi yang berbeda. Esensi mobil di benak orang adalah sesuai dengan kebutuhan, mudah dijalankan, aman, dan nyaman. "Oleh sebab itu, kami optimistis bisa membuat mobnas," ia menegaskan.

Meskipun optimistis, perlu diperhatikan juga kemampuan produksi mobil merek-merek asing. Bisa jadi, mereka tidak akan tinggal diam dan melahirkan mobil murah dengan kualitas yang bisa dipercaya. Karena itu, penentuan segmentasi pasar, tipe kendaraan, harga mobil, kualitas, dan purnajualnya harus tepat.

Kebutuhan akan mobil irit, murah, aman, kaya fitur, dapat memuat tujuh penumpang, dan bisa melaju kencang adalah prasyarat yang tak bisa ditepis begitu saja dari benak konsumen di Tanah Air. Ingat pula tipe dan merek mobil apa yang paling laris. Mampukah mobnas bermain di pangsa pasar seperti itu atau menghindar dan lebih memilih mengisi segmen yang masih kosong dan belum banyak digarap?

G.A. Guritno, Rach Alida Bahaweres, dan Syamsul Hidayat

Obsesi Mobnas Ditelan Zaman
Gagasan menasionalisasi industri otomotif tercetus sejak zaman Orde Lama. Kebijakan pertama pasca-kemerdekaan adalah pemberian lisensi mobil yang diarahkan pada pribumisasi pemilikan. Maka, didirikanlah NV Indonesia Service Company, sebuah perusahaan milik negara, pada 1950.

Baru pada 1959 Presiden Soekarno memberikan mandat untuk pengembangan industri otomotif kepada suatu komite khusus guna mereorganisasi industri, yakni Biro Industrialisasi pada Kementerian Perindustrian Dasar dan Pertambangan. Proyeknya adalah memproduksi kendaraan buatan Indonesia di bawah bimbingan negara.

Proyek itu berakhir karena imbas kebijakan Orde Baru yang merestrukturisasi ekonomi guna menarik investasi asing. Selama Orde Baru, aturan yang keluar adalah seputar kebijakan industri substitusi impor agar komponen buatan dalam negeri berkembang. Selain itu, juga kebijakan larangan impor mobil CBU. Namun, hingga 1996, obsesi pembangunan industri otomotif yang mampu memproduksi mobnas tak pernah terwujud.

Dua masalah pokok dalam industri otomotif untuk lahirnya mobnas tidak pernah terpecahkan oleh pemerintah. Pertama, manufacturing otomotif secara penuh oleh pihak prinsipal dari dalam negeri tidak muncul. Kedua, rekayasa dan rancang bangun industri otomotif yang berbasis pada teknologi masih lemah, sehingga tidak mampu menghasilkan produk yang bisa bersaing.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com