Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Di Tubir Jurang Resesi

Inggris diperkirakan memasuki periode stagnan sepanjang tahun 2012. Fokus pengusaha bakal tertuju pada pemangkasan biaya dan peningkatan arus kas. Satu-dua negara anggota zona euro akan meninggalkan mata uang euro.

Tahun baru, semangat baru. Begitu yang biasa tertulis dalam kartu ucapan tiap kali tahun berganti. Tahun ini, ucapan macam itu bakal menguap begitu saja di belahan Benua Biru. Sebab kemungkinan besar, tahun 2012 ini bakal menyurutkan semangat negara-negara anggota zona euro.

Paling tidak, hal ini terungkap lewat sebuah survei yang digelar Deloitte, firma akuntansi ternama dunia. Hasil survei yang dirilis pekan lalu itu patut dicermati karena dibuat dengan sangat hati-hati dan melibatkan orang-orang penting di sektor ekonomi, yang bakal banyak memberi peran dalam mewarnai hari-hari sepanjang 2012.

Responden survei itu adalah para pemimpin keuangan perusahaan (CFO --chief financial officer) ternama Eropa. Sebanyak 64 CFO dari berbagai perusahaan yang masuk dalam kelompok Financial Times dan London Stock Exchange (FTSE) 100 dan FTSE 250, perusahaan-perusahaan yang sahamnya mempengaruhi perekonomian, dijadikan responden oleh Deloitte.

Meski terkesan pesimistis, faktanya, sepertiga CFO tadi memiliki pandangan serupa tentang perekonomian Eropa secara umum, dan perekonomian Inggris secara khusus, sepanjang tahun 2012. Lebih dari setengah (56%) responden menyatakan bahwa bakal ada ketidakpastian dari sisi ekonomi makro pada tahun ini. Persentase ini meningkat dua kali lipat dari pertengahan 2011.

Ketidakpastian itu membuat hampir sembilan dari 10 CFO (87%) berpendapat bahwa tahun 2012 bukanlah saat yang tepat untuk menambah risiko dalam laporan keuangan perusahaan yang mereka pimpin. Menurut Ian Stewart, Chief Economist Deloitte, apa yang disampaikan tadi adalah kebalikan dari yang muncul setahun sebelumnya.

Menurut Stewart, bila pada 2011 banyak perusahaan memusatkan perhatian pada pengembangan pasar baru dan meningkatkan belanja modal, pada tahun ini semuanya berubah. ''Perusahaan akan fokus pada upaya memangkas pengeluaran dan meningkatkan cashflow,'' kata Stewart, seperti dikutip The Guardian.

Karena kondisi tersebut, 54% responden sepakat bahwa Inggris bakal merasakan resesi ekonomi berikutnya. Pada tahun lalu, kans itu hanya diperkirakan 27%. Lebih jauh, 64% dari responden berpendapat bahwa periode saat ini akan berlangsung hingga setahun.

Ditarik ke konteks yang lebih luas, para responden juga mengutarakan keprihatinannya terhadap kawasan zona euro. Mereka menyebut 37% kemungkinan satu atau lebih negara anggota zona euro akan meninggalkan mata uang bersama tersebut.

Gambaran suram tadi tidak hanya disuguhkan Deloitte. Survei yang dilakukan Lloyd Banking Group pun memberi gambaran yang lebih-kurang serupa. Satu hal yang utama dari survei Lloyd adalah pendapat yang mengatakan bahwa krisis zona euro merusak rasa percaya diri pebisnis Inggris.

Akibat rendahnya rasa percaya diri itu, 50% perusahaan yang disurvei menyampaikan sikap pesimistis terhadap prospek ekonomi 2012. ''Pada saat ini, perusahaan Inggris sedang bersiap menghadapi periode stagnasi atau bahkan pertumbuhan ekonomi negatif,'' kata Trevor Williams, Chief Economist Lloyd Banking Group.

Terhadap kemungkinan timbulnya resesi itu, responden Lloyd lebih banyak yang berpendapat bahwa Inggris bakal terseret ke jurang itu. Mereka sepakat, kans terjerembap ke jurang resesi itu mencapai 75%. Kekhawatiran ini terekam pada perusahaan swasta di kawasan Midland dan Wales.

Studi yang dilakukan Center for Economics and Business Research (CEBR), sebuah lembaga riset yang berbasis di Inggris, memperlihatkan sinyal serupa. ''Inggris akan berhadapan dengan keterpurukan berikutnya,'' kata Douglas McWilliams, pimpinan CEBR.

CEBR juga lebih tinggi memperkirakan banyaknya negara anggota zona euro yang bakal mundur dibandingkan dengan Deloitte. ''Ada kemungkinan 60% satu atau lebih negara zona euro yang akan meninggalkan euro,'' demikian disampaikan McWilliams. Lebih jauh McWilliams memperkirakan, keluarnya anggota zona euro itu bakal terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Semua hasil survei tersebut bakal memberi dampak buruk bagi kebijakan yang diambil pemerintah negara-negara anggota zona euro. Salah satu rencana pemerintah negara anggota zona euro untuk keluar dari krisis ekonomi, selain pengetatan anggaran, adalah imbauan agar sektor swasta lebih menggiatkan kegiatan investasinya. Pengeluaran macam ini diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian yang lesu.

Sayangnya, para CFO itu tidak memiliki rasa percaya yang tinggi akan atmosfer perekonomian pada tahun ini. ''Semua menunggu hal buruk yang bakal timbul,'' kata seorang CFO dalam survei Deloitte tadi. Seiring dengan antisipasi macam itu, imbauan untuk memperbesar investasi dan belanja pun akhirnya hanya tinggal imbauan.

Bila perusahaan-perusahaan tersebut tidak memperbesar investasi mereka, apa yang diinginkan pemerintah bakal tinggal isapan jempol belaka. Ini tidak lain karena program pemerintah anggota zona euro, berupa upaya mendongkrak penciptaan lapangan pekerjaan dan investasi, tidak akan tercapai.

Dengan adanya sinyal dari perusahaan-perusahaan tadi untuk mengurangi pengeluaran, bisa dipastikan keinginan pemerintah untuk secepatnya keluar dari krisis akan tersendat. ''Ini efek korosif dari ketidakpastian pengeluaran perusahaan,'' kata Ian Stewart dari Deloitte.

George Osborne, Menteri Keuangan Inggris, sesungguhnya juga memberi peringatan akan kondisi perekonomian negara itu pada 2012. Osborne banyak mengaitkan kondisi perekonomian Inggris dengan krisis yang melanda negara-negara anggota zona euroz. ''Krisis di sana bakal memberi efek buruk bagi Inggris,'' katanya.

IHS Global Insight memperkirakan, Inggris bakal gagal mencapai target defisit anggaran pada 2012. Menurut Howard Archer, pimpinan IHS, ada kekhawatiran net borrowing sektor publik --indikator yang mengukur selisih pendapatan dan pengeluaran pemerintah serta perusahaan publik-- yang bakal melebihi 130 milyar poundsterling selama tahun 2012-13, yang lebih tinggi dari perkiraan pemerintah sebesar 120 milyar poundsterling.

Carry Nadeak
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com