Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Mengecam Orientasi Baru Militer Amerika

Obama memperkenalkan orientasi baru militer Amerika Serikat. Lebih ramping, gesit, fokus ke Asia Pasifik dan perang digital. Manifestasi doktrin "memimpin dari belakang".

Berubah. Itulah yang harus dilakukan Pentagon pada saat ini. Setelah 10 tahun lebih terus menikmati keistimewaan sebagai departemen dengan anggaran terbanyak --tak peduli di era krisis-- masa untuk berhemat akhirnya datang juga.

Pengumuman itu disampaikan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dalam konferensi pers di Pentagon, Kamis pekan lalu. "Selama 10 tahun pasca-tragedi 11 September, anggaran militer kita terus naik secara luar biasa. Selama 10 tahun ke depan, anggaran itu akan turun," katanya.

Selain memangkas anggaran Pentagon, Obama juga mengubah orientasi militer Amerika Serikat. Sebelumnya, Pentagon memiliki kemampuan untuk melakukan perang di dua front sekaligus, seperti di Irak dan Afghanistan. Namun, ke depan, hal itu tidak akan berlaku lagi.

Pasalnya, karena anggaran dipotong, personel militer juga akan berkurang. Jumlah tentara, yang kini mencapai 1,5 juta prajurit, selama 10 tahun ke depan akan menyusut hingga menjadi 1 juta prajurit saja. "Militer kita akan lebih ramping," kata Obama lagi.

Berbagai detail perubahan doktrin militer itu tercantum dalam dokumen setebal 16 halaman berjudul "Mempertahankan Kepemimpinan Global Amerika: Prioritas Pertahanan Abad kr-21". Dokumen yang dirilis Pentagon pada saat konferensi pers itu berisi 10 poin strategi baru militer Amerika dan diproyeksikan untuk jadi blueprint kebijakan militer sampai 2022.

Ada dua hal baru dalam strategi militer tersebut. Pertama, proyeksi militer Amerika ke wilayah Asia Pasifik. Kedua, peningkatan prioritas pada perang digital. Walau kemampuan operasi militer besar-besaran tidak ditinggalkan, dokumen itu jelas menyebutkan bahwa militer Amerika tidak lagi didesain untuk melakukan operasi militer dalam jangka waktu lama. Misalnya operasi militer di Irak yang berlangsung sampai sembilan tahun.

Dalam konferensi pers itu, Obama menyebutkan tiga alasan mengapa orientasi militer Amerika harus berubah. Pertama, perang Irak dan Afghanistan akan berakhir. Pada saat ini, pasukan Amerika telah keluar dari Irak. Sedangkan untuk Afghanistan, penarikan pasukan dijadwalkan berlangsung pada 2014.

Kedua, krisis fiskal. Pasca-tragedi WTC, anggaran militer Amerika selalu naik hampir US$ 50 milyar setiap tahun. Pada 2011, misalnya, total anggaran pertahanan Amerika mencapai US$ 739 milyar. Bujet ini bahkan lebih besar dibandingkan dengan kombinasi anggaran militer 10 negara dengan anggaran militer terbesar setelah Amerika. Antara lain Cina, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Namun hal itu tidak bisa terus diterapkan. Kongres telah menetapkan pengurangan anggaran militer. Anggaran Pentagon pun harus berkembang lebih rasional, menyesuaikan dengan kondisi krisis. Tidak bisa lagi naik US$ 50 milyar per tahun.

Sedangkan alasan ketiga adalah makin kuatnya pengaruh Cina di Asia Pasifik. Selama ini, Amerika terlalu memproyeksikan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah. Padahal, Amerika tadinya adalah sebuah kekuatan di Pasifik. Amerika akan berisiko kehilangan kepentingan strategis di Asia Pasifik bila mendiamkan pengaruh Cina yang makin besar.

Perampingan militer ini jelas akan berdampak pada lapangan kerja di industri pertahanan. Boeing, misalnya, karena makin bekurangnya kontrak-kontrak militer, awal Januari lalu mengumumkan akan menutup salah satu pabrik divisi militer mereka di Wichita, Kansas, menjelang akhir 2013. Walau orientasi baru pada perang digital juga bisa dibilang membuka lapangan pekerjaan lain (lihat: Kue Baru Perang Digital).

Tapi Obama juga mengingatkan bahwa orientasi baru itu tidak berarti militer Amerika akan makin lemah. Militer Amerika cuma berubah sedikit ramping, tapi makin gesit dan secara keseluruhan masih di atas kekuatan militer negara lain. "Dunia harus tahu bahwa Amerika akan tetap mempertahankan keunggulan militernya," kata Obama.

Perubahan orientasi militer Amerika ini, walau banyak menuai kecaman dari kubu Partai Republik, sebenarnya bukan lagi bersifat uji coba. Seperti diulas The New Yorker, Obama yakin akan keberhasilan konsep "memimpin dari belakang". Doktrin yang terbukti ampuh dalam revolusi Libya itu jugalah yang bisa dibilang mendasari orientasi baru militer Amerika ini.

Ketika itu, pada April 2011, usai resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberi mandat bagi penyelamatan warga sipil Libya (tapi dijadikan dalih untuk melakukan aksi militer), Obama tetap berkeras menolak kehadiran pasukan darat Amerika. Ia sepertinya belajar dari perang Irak dan Afghanistan yang menguras dana sampai US$ 1,3 trilyun dan membuat Amerika terjebak dalam perang berkepanjangan.

Alternatifnya, intervensi Libya hanya dilakukan NATO dengan bantuan serangan udara. Untuk pertempuran darat, gerilyawan Libya dipersilakan berjuang sendiri. Salah satu penasihat Obama menyebut strategi itu sebagai doktrin "memimpin dari belakang".

Doktrin Obama ini lahir karena dua alasan. Pertama, kekuatan Amerika, baik secara militer maupun ekonomi, relatif makin menurun. Kedua, invasi ke Afghanistan dan Irak membuat Amerika dibenci banyak pihak di berbagai belahan dunia.

Untuk mempertahankan kepentingan politik luar negerinya, Amerika tidak bisa lagi bersikap main koboi, menerjunkan pasukan darat seenaknya. Lagi pula, kebencian terhadap Amerika bisa kontraproduktif karena Cina, pesaing utamanya, justru sedang naik daun. The New Yorker menyebut doktrin Obama itu bersifat tidak menonjolkan diri, sekaligus relatif lebih sopan.

Awalnya, banyak kritik terhadap doktrin itu. Obama dinilai membuat Amerika jadi lembek. Apalagi, perang sipil Libya kemudian berlangsung sampai lima bulan lebih dan doktrin "memimpin dari belakang" itu mulai kelihatan tidak efektif. Mitt Romney, mantan Gubernur Massachussetts yang juga kandidat presiden dari Partai Republik, ketika itu bahkan menyebut Obama tidak mampu memformulasikan kebijakan luar negeri. "Amerika jadi terlihat lemah. Kita justru mengekor Prancis dalam soal Libya," katanya.

Namun keberhasilan gerilyawan menumbangkan kekuasaan Muammar Qaddafy, dengan pengorbanan minim dari Amerika, membuat para pengkritik itu bungkam. Doktrin "memimpin dari belakang" ternyata bisa mewujudkan kepentingan Amerika di Libya (minyak, tentu) tanpa Amerika harus tampil menonjol.

Namun tidak semuanya setuju ketika doktrin itu dijadikan blueprint kebijakan militer Amerika ke depan. Republikan Howard McKeon, Ketua Komite Senjata Kongres, termasuk yang pertama mengecam orientasi baru militer ini. "Ini strategi memimpin dari belakang untuk Amerika yang terbelakang," tuturnya seperti, dikutip USA Today.

Sebenarnya orientasi baru itu tidak benar-benar membuat Amerika jadi low profile. Terkait prioritas baru di Asia Pasifik, misalnya, angkatan laut Amerika kemungkinan justru akan tampil lebih mencolok, terutama untuk bersikap deterrent terhadap Cina yang makin agresif mengklaim wilayah Laut Cina Selatan.

Setelah Cina sukses meluncurkan kapal induk pertama ke laut, Agustus lalu, misalnya, angkatan laut Amerika langsung membalas dengan mengirim kapal induk USS George Washington merapat ke Vietnam.

Prioritas baru Amerika di Asia Pasifik juga berpotensi membuat wilayah Asia Tenggara jadi makin panas. Penempatan 2.500 pasukan marinir di Australia yang dilakukan dalam rangka prioritas baru ini membuat Indonesia mempercepat pemekaran divisi marinir di Sorong, Papua, dari batalyon menjadi divisi tersendiri. Pengamat militer dari Universitas Indonesia, Andi Wijayanto, kepada Gatra menilai bahwa adu gajah Amerika-Cina di Pasifik akan membuat negara-negara ASEAN terdorong melakukan perlombaan senjata.

Cina sendiri telah menyatakan sikap atas orientasi baru Amerika di Asia Pasifik ini. Kantor berita Xinhua, Jumat pekan lalu, menulis bahwa Amerika harus "sangat hati-hati" ketika menjadikan Asia Pasifik sebagai fokus baru proyeksi kekuatan militer.

Walau juga menyambut kehadiran Amerika di Pasifik, Xinhua mengingatkan agar Amerika tidak berperilaku seperti "sapi liar di toko Cina". Sebuah imbauan sekaligus ancaman, agar Amerika tidak macam-macam dengan klaim Cina terhadap perairan Laut Cina Selatan.

Selain itu, doktrin "memimpin dari belakang" juga tidak bisa menjamin berkurangnya sentimen anti-Amerika. Pasalnya, ketidakhadiran pasukan darat Amerika oleh Obama sering dikompensasi dengan pesawat militer tak berawak (drones).

Dalam kasus di Waziristan, perbatasan Afghanistan-Pakistan, para drones pengebom itu kerap menewaskan korban sipil tak berdosa. Padahal, frekuensi pengeboman drones ini tak sedikit. Stasiun TV BBC melaporkan, sepanjang 2011, tercatat lebih dari 60 kali pengeboman oleh drones di Waziristan dan menewaskan ratusan orang. Tapi justru mesin yang disebut BBC sebagai pembunuh remote control inilah yang akan menjadi andalan Obama dengan doktrin baru itu.

Basfin Siregar

Kue Baru Perang Digital
Pengumuman Boeing yang akan menutup pabrik mereka di Kansas pada akhir 2013 disambut khawatir oleh para pekerjanya. Pasalnya, sebanyak 2.000 karyawan mencari nafkah di pabrik itu.

Wakil Presiden Boeing Bidang Perawatan, Mark Bass, mengatakan bahwa dengan pengurangan anggaran militer itu, keberadaan pabrik yang khusus membangun mesin perang ini tidak lagi cost-effective. "Kami tidak bisa lagi kompetitif. Karena itulah, kami menutup instalasi itu. Tapi kami memberi masa transisi dua tahun kepada karyawan," katanya.

Ketika pekerja pabrik terancam kehilangan pekerjaan, para profesional, terutama dari kalangan teknologi informasi (IT), justru makin mendapat banyak lowongan. Akhir November lalu, Boeing malah membangun satu instalasi baru khusus divisi cyber di Maryland. Instalasi ini dibangun setelah Boeing mengakuisisi dua perusahaan software, eXMeritus dan Kestrel.

Menutup pabrik pesawat militer, lalu menggantinya dengan instalasi cyber, memang merupakan konsekuensi logis beralihnya prirotitas ke perang digital. Dan Boeing bukan satu-satunya yang berbuat demikian. Kontraktor pertahanan lain macam Northrop Grumman bahkan lebih dulu bergerak meraup kue baru perang digital ini.

Februari 2010, Northrop Grumman menjalin kerja sama dengan perusahaan software seperti Cisco, McAfee, dan Symantec serta membangun instalasi baru khusus cyber. Sebelumnya, Northrop Grumman juga mengakuisisi Essex Corp, perusahaan software yang khusus bergerak di teknologi enkripsi data.

Kur baru perang digital ini memang besar, apalagi setelah orientasi baru militer Amerika resmi menyasar bidang ini. Perusahaan analisis data Vision memperkirakan, kontrak militer untuk perang digital pada 2012 akan bernilai US$ 15 milyar. Tinggal para kontraktor bersaing memperebutkan bagian kue terbesar.

Hal itu diakui pula oleh James Mulvenon, Direktur Riset dan Analisis Intelijen Defense Group, perusahaan kontraktor militer. "Tidak ada lagi yang bikin kapal induk. Sekarang semua uang sepertinya berasal dari dunia digital," katanya.

Penyusutan Militer Amerika
2012
Jumlah prajurit: 1.569.000
Staf militer: 570.000
Kapal induk: 11
Kapal selam nuklir: 12

Proyeksi 2022
Jumlah prajurit: 1.079.000
Staf militer: 485.000
Kapal induk: 11
Kapal selam nuklir: 8

Sumber: The Independent

ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com