Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Tumbangnya Kejayaan Raksasa Ekonomi

Negara-negara G-7 dihadang utang jatuh tempo pada tahun ini. Italia paling repot. Meski tak sebesar G-7, negara kekuatan ekonomi baru yang tergabung dalam BRIC menghadapi persoalan serupa.

Sejak dilantik sebagai Perdana Menteri Italia, pertengahan November silam, Mario Monti hafal betul tantangan berat yang bakal dihadapinya. Maklum, persoalan berat itu pulalah yang membuat pejabat sebelumnya, Silvio Berlusconi, harus terdepak dari kursinya. Ya, setumpuk utang menjadi pekerjaan rumah profesor ekonomi yang pernah menjadi Komisioner Uni Eropa ini. Tak salah jika pasca-pelantikannya, Monti berjanji bakal lebih fokus menangani masalah utang dalam roda pemerintahannya.

Dibantu 16 anggota kabinet baru yang terdiri dari para bankir, diplomat, dan praktisi bisnis, pria berusia 68 tahun itu diharapkan mampu bekerja dengan cepat dalam melawan utang negara. Harapan besar publik terhadap Monti tak berlebihan. Maklum, sebagai salah satu negara pengguna mata uang tunggal euro, terpuruknya Italia dikhawatirkan cepat berimbas ke semua negara Eropa anggota zona euro lainnya.

Tak berlebihan jika Kanselir Jerman, Angela Merkel, dan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, mewanti-wanti betul kepada Monti untuk membawa Italia keluar dari risiko gagal bayar atas utang-utangnya. Keduanya menyadari bahwa kolapsnya Italia bakal mendorong jatuhnya ekonomi seluruh Uni Eropa yang sedang berjuang menyelamatkan krisis utang yang tengah membelit negara-negara anggotanya.

Sayangnya, memasuki tahun 2012, kekhawatiran gagal bayar utang itu pun kembali membayangi Perdana Menteri Monti. Sepanjang tahun ini saja, salah satu negara maju yang masuk kelompok G-7 ini harus membayar surat utang yang jatuh tempo sebesar US$ 428 milyar atau lebih dari Rp 3.800 trilyun. Angka itu makin besar jika dihitung bunga yang harus dibayar, yakni mencapai US$ 70 milyar.

Situasi ini tentu saja menyulitkan. Apalagi, peringkat utang negeri yang dulu memakai mata uang lira itu sedang terpuruk. Oktober silam, lembaga pemeringkat internasional, Moody's, menurunkan peringkat surat utangnya. Tak tanggung-tanggung, peringkat surat utang negara terbesar ketiga di Eropa itu turun tiga tingkat. Dengan peringkat utang yang semula A2 menjadi Aa2, rating-nya setingkat dengan Malta, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan Estonia.

Sialnya lagi, tak hanya menurunkan peringkat surat utang, Moody's juga mengingatkan investor tentang kemungkinan penurunan rating yang bakal dialami Italia selanjutnya. Outlook negatif pun langsung disandangkan lembaga pemeringkat kepada Italia. Tentu penurunan peringkat utang plus status outlook negatif itu akan membuat Italia semakin tidak gampang menyelesaikan masalah.

Rupanya, tak hanya "negeri piza" itu yang sedang menghadapi utang yang jatuh tempo pada tahun ini. Negara-negara lainnya yang tergabung dalam G-7 pun menghadapi persoalan serupa. Sebut saja Jepang dan Amerika Serikat. Dua negara ini bahkan menempati posisi teratas, dengan nilai utang masing-masing US$ 3 trilyun dan US$ 2,8 trilyun. Empat negara lainnya, yakni Prancis, Jerman, Kanada, dan Inggris, sami mawon meski angkanya tidak sebesar tiga anggota G-7 lainnya.

Situasi ini tentu ironis bila dibandingkan dengan kondisi pada 1980-an. Ketika itu, tujuh negara maju dengan perekonomian tinggi tadi seakan menjadi palang pintu bagi kestabilan dan pertumbuhan ekonomi dunia yang pada saat itu dihantam krisis keuangan global akibat krisis minyak. Meski perekonomian ketujuh negara itu bukan yang terbesar di dunia secara berurutan, peran strategis kelompok negara yang pembentukannya dilatarbelakangi kesamaan kepentingan dalam menghadapi Perang Dingin melawan Rusia itu cukup meyakinkan negara-negara lainnya.

Pelan tapi pasti, kejayaan tujuh negara itu mulai pudar. Kedigdayaannya di sektor ekonomi pun mulai terusik dengan kehadiran tujuh negara berkembang yang disebut E-7, yang terdiri dari Cina, Brasil, India, Indonesia, Rusia, Turki, dan Meksiko. Sayangnya, empat anggota E-7, yakni negara ekonomi berkembang yang kerap disingkat BRIC --Brasil, Rusia, India, dan Cina-- juga sedang menghadapi jatuh tempo utang.

Bahkan, seperti ditulis Bloomberg, jika utang negara G-7 dan BRIC yang jatuh tempo tahun ini digabung, totalnya lebih dari US$ 7,6 trilyun. Beban utang dua kelompok negara ini pun semakin besar jika ditambah dengan besarnya bunga atawa kupon yang harus dibayar, yang angkanya mencapai lebih dari US$ 8 trilyun.

Ekonom Rabobank Nederland Utrecht, Elwin de Groot, menyatakan bahwa persoalan ini bakal menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi negara-negara tersebut. "Angka itu sangat besar dan pastinya akan membuat pemerintah mana pun menghadapi situasi defisit ketika utang terus berjalan dan terakumulasi,'' ujar De Groot.

Seperti Italia, besarnya utang jatuh tempo yang harus dibayar pada tahun ini menjadi fokus perhatian negara-negara yang terancam pemangkasan peringkat. Meski memiliki keunggulan sebagai negara dengan pemilik mata uang dunia, peringkat utang Amerika Serikat, yang oleh lembaga pemeringkat Standard Poors telah dipangkas dari AAA menjadi AA+, bisa menjadi batu sandungan.

Meski terlihat masih cukup kuat dengan kemampuan ekonomi negaranya, bukan berarti Jepang bisa leyeh-leyeh menghadapi utangya yang jatuh tempo pada tahun ini. Koreksi estimasi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini yang dikeluarkan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memangkas dari 4,5% menjadi 4% tetap bisa menjadi hantu ekonomi bagi negara mana pun. Kuatnya ekonomi Cina juga bisa saja terusik dengan lesunya pasar properti "negeri tirai bambu" itu.

Tak mengherankan jika situasi ini membuat para investor bakal menuntut kompensasi lebih tinggi atas investasi mereka di negara-negara yang terlilit utang tersebut. "Beban pasokan kemungkinan besar menjadi perhatian. Perlambatan ekonomi global telah berdampak besar," kata Stuart Thomson, manajer keuangan pada Ignis Asset Management Ltd, Glasgow.

Hatim Ilwan

Nasib Yunani di Tangan Troika
Utang masih saja menjadi masalah besar bagi Yunani. Maklum, "negeri dewa-dewi" itu kembali terancam gagal membayar utang yang jatuh tempo pada tahun ini. Sebagian besar utang yang berasal dari investor sektor swasta ini jatuh tempo pada Maret nanti. Memang utang itu berpeluang diselesaikan, lantaran Yunani sedang melakukan negosiasi dengan bank sentral Eropa mengenai dana talangan sekitar 130 milyar euro, yang dijanjikan pada Oktober 2011.

Namun, bukan tidak mungkin, jumlah dana talangan yang secara prinsip telah disetujui itu meleset. Maklum, dana itu bisa digelontorkan dengan syarat Yunani menjalankan kebijakan mengurangi defisit dan restrukturisasi ekonomi. Salah satu aksi yang masih menjadi tarik ulur adalah rencana pemotongan gaji para pekerja di sana. Kebijakan pemerintah untuk memotong defisit dengan pemotongan gaji inilah yang ditentang serikat buruh. Padahal, Perdana Menteri Yunani, Lucas Papademos, mengatakan bahwa pemotongan gaji itu dibutuhkan agar negerinya tidak terdepak dari zona euro.

Pertengahan Januari ini, Yunani akan kedatangan troika atau tiga serangkai: Komisi Eropa, IMF, dan pemantau bank sentral Eropa, untuk menilai perkembangan pemotongan defisit yang dilakukan negeri itu. Mereka bakal memutuskan jadi-tidaknya dana talangan utang dikucurkan. "Tanpa kesepakatan dengan troika dan dana tambahan pada Maret nanti, Yunani akan menghadapi risiko gagal bayar," ujar Papademos.

Hatim Ilwan
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com