Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

RAGAM

Pangan Lokal: Terlupakan dan Terancam Punah

Ribuan varietas pangan lokal Indonesia terancam punah. Kebijakan pangan yang salah arah menjadi penyebabnya. Padahal, potensinya tak kalah oleh varietas hibrida dan varietas introduksi. Beberapa kelompok tani mulai bergerilya membudidayakan kembali potensi pangan lokal. Bisa menjadi solusi masalah rawan pangan.

"Alangkah menyedihkan menjadi bangsa yang hidup dan makan dari makanan yang tidak ditanamnya sendiri" (Khalil Gibran).

Hamparan ratusan hektare sawah di Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, tampak mulai menghijau. Ketika Gatra berkunjung ke sana, awal Desember lalu, musim tanam baru saja tiba. Para petani mulai menanami sawahnya pada pertengahan November lalu, seiring dengan mulai turunnya hujan. "Kami memang kemarin agak mundur setengah bulan karena kemarau," kata Kelik Purwanto, 40 tahun, Sekretaris Kelompok Tani Sumber Rejeki.

Normalnya, menurut Kelik, musim tanam ketiga jatuh pada bulan Oktober dan musim panen akan tiba pada awal Februari. Pada pertengahan hingga akhir Februari, setelah lewat masa panen, para petani biasanya mulai mengolah lahan lagi. Kemudian, pada awal Maret, musim tanam pertama tahun berikutnya pun dimulai. Dalam setahun, para petani di Desa Sumber biasanya menjalani tiga kali musim tanam dengan satu musim tanam berlangsung selama empat bulan.

Turunnya berkah dari langit itu disambut gembira oleh para petani dengan bekerja. Deru mesin bajak mengiringi setiap ayunan mata bajak yang tajam membalik jengkal demi jengkal tanah. Lapisan-lapisan tanah kering segera berganti dengan lapisan tanah subur di bawahnya. Setelah itu, benih-benih padi siap ditanam.

Pada awal Desember itu, ada sebagian petani yang baru mulai mengolah tanah. Sebagian lainnya sibuk menebar pupuk atau menyiangi rerumputan agar tak mengganggu pertumbuhan padi-padi muda. Di antara petak-petak sawah yang rata-rata basah tergenang air setinggi beberapa sentimeter itu, terselip beberapa petak sawah yang tampak kering.

Petak-petak sawah kering itu adalah milik Kelik dan Wardiyono, 45 tahun. "Yang kami tanam ini memang padi varietas lokal yang tidak memerlukan banyak air," kata Wardiyono, yang juga Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki. Ia menanam padi lokal menthik susu, sedangkan Kelik menanam padi merah mamberamo asal Papua. Selain dua varietas lokal itu, Kelik dan Wardiyono juga menanam varietas lokal lain, seperti padi hitam, padi merah saodah, dan menthik wangi.

Mendapatkan bibit-bibit padi lokal itu memang tak mudah. Mereka harus "bergerilya" ke desa-desa lain, bahkan sampai ke luar kabupaten, untuk mencari bibit-bibit tersebut. Sebagian bibit padi lokal itu mereka peroleh dari Mbah Suko, 70 tahun, petani asal Dusun Kenteng, Desa Mangunsari, Sawangan, Magelang.

Mbah Suko sudah lama terkenal sebagai pembudi daya padi-padi lokal dan menolak program pemerintah untuk menanam padi-padi hibrida. Mbah Suko juga sering bergerilya mencari benih-benih padi lokal untuk dibudidayakan di lahan sewaan seluas 0,3 hektare. Ia menanam padi-padi itu secara organik alias tak memakai pupuk kimia sama sekali.

Terampasnya Kedaulatan Petani
Wening Swasono, 46 tahun, Ketua Kelompok Tani Sri Widodo, Desa Towangsan, Klaten, mengatakan bahwa padi-padi lokal memang sudah lama ditinggalkan petani. "Kalau dari sejarahnya, ya, sejak revolusi hijau di era Soeharto tahun 1974," katanya. Revolusi hijau adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan perubahan mendasar dalam pemakaian teknologi pertanian.

Ketika itu, rezim Orde Baru memperkenalkan sistem irigasi, varietas-varietas hibrida, penggunaan pupuk kimia, dan pestisida. Sejak itulah, secara perlahan para petani "dipaksa" menerima berbagai paket bibit padi hibrida beserta paket-paket pupuk kimia seperti urea, juga insektisidanya. Pertanian pun mulai memasuki era industri. Sejak itulah, padi-padi lokal mulai menghilang.

Kini para petani seperti Kelik, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Informasi Simpul Petani Klaten (FKISP), sengaja membudidayakan kembali padi-padi lokal itu. "Tujuannya, untuk menciptakan kemandirian pangan," tuturnya. Pada saat ini, ada 14-15 petani yang melakukan budi daya padi lokal di Klaten.

Kembalinya para petani menanam padi lokal itu, kata Kelik, dipicu terjadinya bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 2006. Ketika itu, semua harta benda kebanyakan petani nyaris ludes ditelan gempa. Untuk sekadar membeli bahan pangan, uang pun tak ada. "Kami petani yang pekerjaan sehari-harinya menanam padi, setelah gempa, tak punya makanan dan harus makan mi dari bantuan," ujarnya.

Bagi Kelik, hal itu sungguh ironis. Ia berpikir, semua ironi ini terjadi karena petani tidak lagi mandiri. Di era industri, petani secara tak sadar telah berubah status dari produsen menjadi konsumen. "Petani jadi konsumen benih, pupuk, pestisida. Kami menggantungkan semua itu dari pabrik," katanya. Industri pertanian pula yang membuat petani tak berdaulat atas hasil panennya. "Semua mesti dijual. Pada saat petani butuh makan, mereka harus beli beras. Petani tidak berdaulat terhadap pangannya sendiri," Kelik menambahkan.

Padahal, di masa lalu, petani tidak hanya berfungsi sebagai pembudi daya, melainkan juga pemulia tanaman. "Petani itu bisa mengembangkan bibitnya sendiri. Begitu pula dengan pupuk dan pestisida," tutur Kelik. Pertanian pada saat itu dikelola secara organik menggunakan pupuk dan pestisida alami. Pola bertanam mandiri dan alami inilah yang sekarang coba dikembangkan kembali oleh para petani.

Bersama beberapa kawannya, Kelik mencoba membangun kesadaran itu lewat FKISP. Pada saat ini, anggota forum tersebut baru mencakup 15 desa dari total 391 desa yang ada di sembilan kecamatan di Klaten. "Jadi, yang kami lakukan sebenarnya masih kecil," katanya. Dengan difasilitasi Koalisi Rakyat untuk Ketahanan Pangan (KRKP), Kelik dan kawan-kawannya juga membangun jaringan pengembangan lumbung komunitas bersama kelompok tani dari wilayah lain di Indonesia.

Menurut Said S. Abdullah, Koordinator Program, Media, dan Advokasi KRKP, lumbung-lumbung komunitas itu adalah embrio untuk tujuan besar, yaitu kedaulatan pangan. Dengan sistem ini, petani tidak hanya berdaulat dalam memproduksi benih, pupuk, dan pestisida, melainkan juga pada hasil tanamnya. "Petani menyimpan sendiri hasil panennya untuk kebutuhan sehari-hari. Sisanya baru dilepas ke pasar," ujarnya.

Wening Swasono membuat perhitungan yang cukup sederhana. Dalam satu musim tanam dengan rata-rata jumlah anggota kelompok empat hingga lima orang, kebutuhan pangan untuk konsumsi sendiri mencapai 200 kilogram. Sedangkan satu petak sawah seluas 2.000-2.500 meter persegi bisa menghasilkan 700-800 kilogram beras. "Berarti kelebihannya 500-600 kilogram. Kelebihan inilah yang dipasarkan secara kolektif," katanya.

Sistem pemasaran kolektif itu membantu petani memotong rantai penjualan, sehingga keuntungan yang diperoleh cukup besar dan konsumen bisa mendapatkan beras dengan harga lebih murah. "Yang mestinya keuntungan diambil tengkulak kan bisa diperpendek rantainya. Jadi, insentif petani bertambah," tutur Wening.

Lumbung-lumbung komunitas itu bersifat fleksibel karena bisa dibangun dalam cakupan pedukuhan, dusun, desa, bahkan kecamatan dan kabupaten. "Seperti di Bantul, itu mulanya dari tingkat desa, sekarang sudah naik ke tingkat kabupaten," kata Said Abdullah, yang akrab disapa Ayip. Jaringan lumbung komunitas ini sekarang mencakup beberapa kabupaten di delapan provinsi. Antara lain Klaten, Boyolali, Bantul, Sleman, Flores, Sumba Timur, Mamasa, dan Landak.

Komoditas yang dikembangkan bukan sebatas padi-padian, melainkan juga jagung dan umbi-umbian. Untuk wilayah Flores dan Sumba di Nusa Tenggara Timur, misalnya, komoditas utama yang dikembangkan adalah jagung dan umbi-umbian. "Semuanya merupakan varietas lokal daerah setempat," kata Ayip.

Ayip berharap, selain kemandirian, keragaman pangan juga bisa ditumbuhkan. Sejak Orde Baru, kebijakan pangan nasional telanjur bertumpu pada beras. Sejak itu pula, sumber-sumber pangan lain terlupakan dan keragaman pangan menghilang.

Hilangnya Keragaman Pangan
Indonesia adalah lumbung keanekaragaman hayati dunia. Mengutip pernyataan Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, mantan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pada peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2010, pada setiap 10.000 kilometer persegi lahan di Jawa terdapat 2.000-3.000 spesies tumbuhan. Pada setiap 10.000 kilometer persegi lahan di Kalimantan dan Papua terdapat lebih dari 5.000 spesies tumbuhan.

Menurut pakar teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Prof. Dr. Murdijati Gardjito, dalam buku Pangan Nusantara: Manifest Boga Indonesia, kekayaan hayati itu lebih dari cukup untuk menjadi sumber makanan penduduk Indonesia, yang berjumlah 237 juta jiwa. Indonesia memiliki keragaman pangan, terutama makanan pokok seperti beras, jagung, ubi kayu, sagu, umbi-umbian, sukun, dan pisang (Tabel 1: Keanekaragaman Hayati Sumber Pangan di Indonesia).

Menurut Gardjito, beras banyak dikonsumsi penduduk Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Namun, di gugus daerah selatan Pulau Jawa dari Jawa Barat di Cirenduy, Sukabumi, sampai Gunungkidul, Malang Selatan, dan Lumajang di Jawa Timur, terdapat penduduk yang biasa makan nasi tiwul dari singkong.

Makanan pokok orang Madura adalah nasi dari jagung. Jagung dan umbi-umbian juga menjadi makanan pokok penduduk di gugus Nusa Tenggara. Di gugusan Kepulauan Riau dan Maluku, penduduknya makan sagu sebagai makanan pokok. Di Papua, masyarakat makan sagu dan ubi jalar. Pola keragaman makanan pokok ini telah menjadi bagian dari kearifan lokal secara turun-termurun.

Berdasarkan data tahun 1940, kata Presiden Soekarno, jumlah makanan di Indonesia, kalau dibagi rata-rata di antara penduduk, menjadi: 86 kg beras, 38 kg jagung, 162 kg ubi kayu, dan 30 kg ubi jalar per kapita per tahun. Dengan penduduk berjumlah 75 juta jiwa pada saat itu, jumlah kalori yang dimakan per orang mencapai 1.712 kalori.

Pada 1954, konsumsi beras mencapai 53,5%, ubi kayu 22,26%, dan jagung 18,9%. Namun, 33 tahun kemudian, keragaman ini bergeser secara luar biasa. Tahun 1987, konsumsi beras melonjak menjadi 81,1%, ubi kayu 10,02%, dan jagung 7,82%. Sejak saat itu, pola keragaman pangan pokok mulai menghilang, digantikan dengan beras. Tak mengherankan jika muncul kredo: ''Belum makan kalau belum ketemu nasi.''

Dominasi beras sebagai sumber pangan pokok ini makin tak tertandingi sejak Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Beberapa tahun kemudian, meski rezim berganti, kebijakan pangan yang "beras sentris" tak pernah berubah. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap menjadikan beras sebagai kebijakan pangan utama, dengan target cadangan 10 juta ton beras pada 2014.

Upaya melakukan diversifikasi pangan bukannya tak pernah dipikirkan. Data Badan Ketahanan Pangan tahun 2009 mencatat, berbagai upaya menggalakkan penganekaragaman pangan dilakukan sejak 1960. Hanya saja, program-program yang diluncurkan tidak pernah menyentuh permasalahan secara substansial (Tabel 2: Upaya Penganekaragaman Pangan di Indonesia).

Kebijakan beras sentris pada gilirannya malah membuat Indonesia menjadi negara pengimpor pangan. Kekurangan stok beras nasional selalu ditutupi dengan impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka konsumsi beras pada saat ini mencapai 139 kg/kapita/tahun. Sementara itu, nilai impor beras Indonesia hingga Juli 2011 mencapai US$ 829 juta atau sekitar Rp 7,04 trilyun.

Dominasi beras juga membuat pangsa pasar non-beras nyaris hilang. Celakanya, ceruk itu diisi oleh gandum. Kebijakan impor gandum untuk diproses menjadi terigu dimulai pada 1968-1969. Kebijakan ini dipicu keinginan rezim Orde Baru mencari pangan alternatif pengganti beras ketika harga beras tidak stabil. Pilihan pada gandum diambil dengan alasan harganya relatif stabil dan volume yang diperdagangkan besar.

Masalahnya, gandum tidak bisa ditanam di Indonesia, sehingga kebutuhan itu seluruhnya dipenuhi lewat impor. Amerika Serikat berperan sangat besar dalam kebijakan ini, dengan memberikan bantuan dan pinjaman lunak. Sejak itu, mengalirlah gandum impor ke Indonesia. Dalam kurun waktu 1969-1973, impor gandum mencapai 3,3 juta ton atau 61% pangsa pasar Indonesia.

Selain membuka keran impor, pemerintahan Orde Baru juga memberikan subsidi impor yang besar. Pada 1976-1977, tercatat pemerintah mengucurkan subsidi Rp 3 milyar. Pada 1978-1979, nilai subsidinya naik menjadi Rp 17 milyar. Memasuki tahun 1990-an, rezim Soeharto juga memberikan subsidi kepada produsen mi instan sebesar Rp 760 milyar setiap tahun.

Konsumsi gandum pun meningkat pesat. Jika pada 2005 konsumsi gandum mencapai 8,4 kg per kapita per tahun, pada 2009 melonjak menjadi 10,3 kg. Nilai impor gandum ikut melonjak. Pada 2010, nilai impor gandum mencapai 7,2 juta ton, dengan nilai Rp 15 trilyun.

Tanaman Pangan Lokal Menuju Kepunahan
Dominasi beras dan gandum telah menghilangkan keragaman pangan, sekaligus mematikan potensi pangan non-beras seperti jagung, umbi-umbian, pisang, dan sagu. Komoditas-komoditas ini makin kehilangan nilai ekonomisnya. Akibatnya, petani malas membudidayakannya. Kini varietas-varietas pangan lokal sedang berjalan menuju kepunahan.

Ahli taksonomi tumbuhan dari Universitas Gadjah Mada, Purnomo, menyebut contoh ubi jebubuk (Dioscorea numularis) dan uwi ulo (Dioscorea alata) yang semakin sulit ditemukan. "Padahal, dahulu tanaman ini banyak ditemukan di kebun penduduk di Jawa," katanya kepada Arif Koes Hernawan dari Gatra.

Dua jenis umbi-umbian itu sebenarnya sangat potensial dijadikan tepung. Menurut Purnomo, selain potensi kandungan karbohidratnya, dua umbi itu juga tahan terhadap perubahan cuaca. Umbi-umbian itu dapat bertahan hidup di daerah kering dan tandus dengan hasil panen tinggi. "Umbi-umbian itu sangat cocok dikembangkan untuk ketahanan pangan," ujar Purnomo.

Menghilangnya jebubuk dan uwi ulo memang terasa ketika Gatra berkunjung ke wilayah Bantul, awal Desember lalu. Dulu di Bantul, dua umbi itu banyak ditanam petani, tapi kini sulit ditemukan. Gatra beruntung masih bisa menemukan uwi ulo tumbuh di pekarangan rumah milik Heri Astono, 40 tahun. Petani asal Desa Dowaluh, Bantul, ini memang berniat mengembangkan kembali umbi-umbian itu.

Tak hanya uwi ulo, pria yang akrab disapa Yaiz itu juga membudidayakan jenis umbi langka lainnya, seperti suweg. Suweg adalah tanaman penghasil umbi batang yang masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanium). Menurut Yaiz, suweg memiliki potensi ekonomi yang besar. "Suweg bisa diolah menjadi tepung dan sangat laku di Jepang," katanya.

Menurut Yaiz, nasib suweg masih lebih baik karena di daerah pegunungan di sekitar Bantul banyak yang mulai menanamnya lagi. Demikian pula di daerah sekitar Ngawi, Jawa Timur. "Suweg sudah cukup berkembang, tetapi ubi, gembili-gembolo, yang kayak-kayak gitu, masih kurang," tuturnya. Padahal, potensi umbi-umbian itu tak kalah dibandingkan dengan suweg.

Data yang dihimpun Balai Besar Biogenetika dan Sumber Daya Genetik (BB Biogen), Bogor, menyebutkan bahwa pada saat ini ada 11.250 varietas tanaman pangan lokal yang terancam punah. Varietas itu mencakup 4.111 varietas padi, 800 varietas jagung, 226 varietas sorgum, 988 varietas kedelai, 1.194 varietas kacang tanah, 1.024 varietas kacang hijau, dan 148 varietas kacang-kacangan potensial (Tabel 3: Koleksi Plasma Nutfah dan Tanaman Pangan yang Terancam Punah).

Menurut peneliti dari BB Biogen, Dr. Sutoro, MS, di lapangan, varietas-varietas itu kemungkinan sulit ditemukan. "Atau bahkan sudah ada yang punah sama sekali," katanya. Hilangnya varietas-varietas tanaman pangan lokal itu, kata Sutoro, kebanyakan terjadi akibat terdesak oleh varietas-varietas baru yang dianggap lebih unggul dan makin berkurangnya lahan pertanian.

BB Biogen mencatat, untuk umbi-umbian potensial, setidaknya ada delapan jenis yang kini makin langka. Dari keluarga uwi ulo (Dioscorea alata), ada 34 varietas, antara lain gembolo, uwi bogor, uwi ketan, uwi ndoro, dan uwi tanah. Dari keluarga gembili (Dioscorea esculata), ada 42, antara lain gembili kamuna, gembili kapur, gembili lokal NTB, dan gembili lokal Tanatoraja.

Dari keluarga ganyong (Canna edulis [Ker.]), tercatat ada 67 varietas, antara lain ganyong abang, bodas, lokal Kota Waringin, dan lokal Trucuk. Sedangkan dari keluarga talas (Colocasia esculenta [L.] Schott), terdapat 220 varietas yang terancam punah, seperti talas Bogor 1, talas Bogor 2, bentoel biru, talas Bogor Surade, dan talas Cibadak.

Untuk jagung, dari 800-an varietas langka, beberapa berasal dari kawasan sentra jagung, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. NTT nyaris kehilangan varietas jagung bunga, heret gete, contoh, kuning, dan merah blutuk. Di Jawa Barat, ada varietas bima, arkani kuning, dan antasena. Jawa Tengah hampir kehilangan varietas seperti butuh, kertas, kodok, kunyit, melati, dan spokal. Di Sulawesi Selatan, ada varietas seperti blombongan I, gowa, dan matta alo yang nyaris punah.

Untuk padi-padian, dari sekitar 4.000 varietas yang terancam punah, selain padi lokal Jawa seperti padi hitam, pandan wangi, gandamana, dan mentik, terdapat pula varietas lokal Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Antara lain abadi, ade, ado (Aceh), ampera (Sumatera Utara), abang pancor (Riau), agai putih, agai abang (Sumatera Selatan), adil, padari (Kalimantan Selatan), buyung, abung timah, adam (Kalimantan Timur), bayun, asongan (Kalimatan Tengah), Nurdin, Areh (Sulawesi Utara), nippong, ndangan cantik I & II (Sulawesi Selatan), dan akayeli (Maluku).

Ribuan varietas pangan lokal yang sudah langka itu kini dikoleksi BB Biogen untuk mencegah terjadinya erosi genetik yang lebih parah. ''Kami menyimpannya untuk konservasi demi melestarikan tanaman pangan lokal,'' kata Sutoro. Di luar varietas-varietas itu, meski tak ada dalam daftar koleksi BB Biogen, ada sagu dan pisang yang juga mulai terancam.

Purnomo mengatakan, beberapa varietas pisang seperti pisang biji gunung (Musa acuminata) juga terancam punah. Pada saat ini, pisang berbiji banyak itu hanya dapat dijumpai dalam jumlah kecil di daerah Yogyakarta, Nusa Kambangan, dan pegunungan di Bali. Padahal, pisang ini merupakan indukan yang telah menghasilkan puluhan varietas pisang yang dikenal pada saat ini. ''Kalau sampai hilang, akan sayang sekali. Kita kehilangan indukan yang tidak bisa ditemukan lagi,'' katanya.

Di Sumatera Utara, menurut Kepala Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Sumatera Utara, Sugeng Prasetyo, beberapa varietas pisang lokal pun terancam punah. Misalnya pisang barangan merah dan pisang kepok varietas bangun sari. Secara umum, ada 28 varietas buah unggulan Sumatera Utara yang terancam punah. "Kepunahan itu bukan berarti hilang secara keseluruhan, melainkan berkurangnya kualitas asli dari tanaman karena tidak adanya kepedulian dari masyarakat," kata Sugeng kepada Reza Perdana dari Gatra.

Nasib sagu juga tak kalah mengenaskan. Pada saat ini, di Provinsi Papua diperkirakan terdapat 980.000 hektare hutan sagu dan 14.000 hektare kebun sagu, yang tersebar di beberapa daerah, yaitu Salawati, Teminabuan, Bintuni, Mimika, Merauke, Wasior, Serui, Waropen, Membramo, Sarmi, dan Sentani. Masalah yang dialami sagu adalah semakin terdesaknya lahan akibat konversi dan masih minimnya budi daya.

Dikhawatirkan, ketika luasan hutan sagu hilang, sagu-sagu alam ikut punah karena tidak adanya perhatian pemerintah terhadap budi daya sagu. Padahal, beberapa varietas sagu seperti osoghulu, ebesung, dan yebha layak dibudidayakan karena mampu menghasilkan banyak tepung. Per pohon, sagu-sagu itu masing-masing mampu menghasilkan 207,5 kg, 207,5 kg, dan 191,5 kg tepung setelah berumur tujuh hingga 10 tahun.

Tanpa perhatian yang memadai, bukan tak mungkin beberapa jenis pisang dan sagu juga bakal masuk daftar koleksi plasma nutfah yang terancam punah. "Semakin intensifnya penggunaan varietas-varietas baru tanpa diimbangi dengan upaya mempertahankan varietas-varietas lokal akan semakin mempercepat terjadinya erosi genetik," kata Sutoro.

Produktif dan Tahan Cuaca Ekstrem
Perubahan cuaca adalah salah satu ancaman besar atas keamanan pangan. Cuaca ekstrem, seperti musim penghujan atau musim kemarau yang berkepanjangan, kerap mengakibatkan gagal panen dan mengancam produksi pangan. Cuaca yang semakin tak pasti juga membawa ekses semakin banyaknya penyakit dan hama tanaman.

Dalam situasi seperti itu, ternyata tanaman-tanaman pangan lokal menyimpan potensi bertahan hidup dan mempertahankan tingkat produksinya dalam cuaca ekstrem. "Perubahan iklim tidak mempengaruhi jenis-jenis tumbuhan lokal dalam berkembang biak, sebab memiliki sifat menyesuaikan diri terhadap iklim," ujar Sugeng Prasetyo.

Beberapa varietas lokal yang disimpan di BB Biogen pun, menurut Sutoro, telah menjalani uji ketahanan terhadap kekeringan ekstrem. "Beberapa terbukti memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang baik," tuturnya. Pihak BB Biogen telah memetakan beberapa keunggulan dari masing-masing varietas tersebut.

Beberapa varietas padi lokal, misalnya varietas mujar, siak simpor, arai pinang, langari, sirung amis, dan pare sereh, diketahui memiliki produktivitas tinggi dengan malai panjang, biji besar, dan banyak. Sementara itu, varietas seperti kencana, mujair, si jongkong, si pendek, ampera, dan sikaro-karo terkenal tahan kering.

Untuk varietas jagung, ada varietas jagung merah dan kuning yang terkenal memiliki biji besar dan banyak. Selain itu, ada pula varietas masiga, sudi, sitepu, wisanggeni, dan bisma yang terkenal tahan kering. Varietas bisma dan arjuna juga terkenal tahan air.

Di lapangan, para petani yang tergabung dalam FKISP pun membuktikan hal itu. Kelik menuturkan, pada saat menanam padi varietas lokal, ia dan rekan-rekannya tak pernah mengalami kegagalan panen dalam kondisi cuaca apa pun. "Pada waktu kekeringan, malainya tetap bisa terisi penuh. Pada waktu banyak hujan pun, batang padi yang terendam air tak membusuk sehingga bisa tetap tumbuh," katanya.

Dengan potensi demikian, Sutoro yakin, suatu saat tanaman pangan lokal bisa kembali dibudidayakan masyarakat. "Untuk saat ini memang belum, tetapi suatu saat nanti siapa tahu?" ujarnya.

M. Agung Riyadi

Ketika Lahan Semakin Sempit
Lahan pertanian yang semakin sempit adalah salah satu ancaman terhadap ketahanan pangan. Pada saat ini, di Indonesia, lahan pertanian produktif diperkirakan hanya tinggal 6,3 juta hektare. Alih fungsi lahan memang menjadi penyebab utama semakin sempitnya lahan pertanian. Selain itu, pertanian kimia, yang mengakibatkan terjadinya penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, tutur berperan dalam mengurangi jumlah lahan produktif.

Menyempitnya lahan akibat sistem pembagian warisan kepada keluarga petani juga tak kalah peliknya. ''Memang undang-undang pewarisan kita masih mengacu pada undang-undang Islam,'' kata Kelik. Ketika orangtua meninggal dunia, biasanya harta benda, termasuk lahan sawah, diwariskan kepada anak-anaknya.

Nah, ketika lahan tersebut sudah dalam penguasaan masing-masing ahli waris itulah, biasanya alih fungsi atau pelepasan lahan pertanian terjadi. ''Seringkali tanah warisan dijadikan rebutan sehingga akhirnya dijual dan hasilnya dibagi-bagi,'' tutur Kelik. Pola waris seperti ini, menurut Kelik, sangat menyulitkan petani seperti dirinya untuk mempertahankan lahan.

Ia pun memberi ilustrasi. Jika generasi pertama petani memiliki 10 hektare lahan dan memiliki lima anak, maka kelak tanah itu dipecah menjadi masing-masing 2 hektare untuk kelima anaknya. Jika dari kelima anak itu hanya satu yang menjadi petani, bisa dipastikan lahan sawah yang tadinya 10 hektare menyusut menjadi 2 hektare saja.

Padahal, kata Kelik, kalau meniru sistem pewarisan di beberapa negara maju, problem itu sangat mungkin dapat dipecahkan. ''Dalam satu keluaga petani seharusnya ada satu anak yang dipersiapkan menjadi petani. Kelak dialah yang melanjutkan usaha mengelola lahan pertanian itu. Hasil pertanian itulah yang kemudian dibagikan,'' katanya. Dengan begitu, menurut Kelik, keberlangsungan lahan bisa dipertahankan.

Model inilah yang sekarang coba diterapkan Wening Swasono. ''Kebetulan kami sepakat, keluarga saya yang menggarap lahan. Nanti hasilnya saya setor ke saudara-saudara,'' tuturnya. "Alhamdulillah, lahan warisan ayah saya seluas 10 hektare itu hingga kini masih terjaga keutuhannya," kata Wening.

Sayang, belum semua keluarga petani memiliki pemahaman seperti yang dimiliki Wening dan Kelik. Sistem collective farm yang tidak mengenal istilah waris, seperti dikembangkan petani di Australia, Jepang, dan Thailand, ini disadari Kelik masih sangat sulit diterima masyarakat Indonesia. ''Ini memang menjadi pekerjaan rumah kita semua, khususnya para petani,'' ucap Kelik.

M. Agung Riyadi

Mengubah Ubi Jadi Bergengsi
Eni Harmayani mengeluarkan beberapa kantong plastik kecil. Di dalamnya ada biskuit warna cokelat berbentuk seperti bunga. Ketika dicicipi, rasanya enak, renyah, empuk, dan sedikit manis. Tak ada yang menduga bahwa biskuit itu dibuat dari ubi jalar. Campuran ubinya ada yang 25%, 50%, dan 75%. ''Sisanya dicampur terigu. Ini makanan alternatif,'' kata dosen Jurusan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, itu.

Maya, begitu ia biasa dipanggil, bersama timnya telah melakukan pemetaan potensi pangan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2010. Hasil pemetaan ini memang masih belum bisa dipublikasikan. Namun inti temuannya, kata Maya, di beberapa lokasi DIY masih kaya potensi pangan, terutama umbi-umbian lokal. Selain ubi jalar, ubi kayu, ada juga garut, ganyong, dan gembili.

Meski tanaman itu makin jarang dibudidayakan, beberapa petani ternyata masih mau menanamnya. ''Selain untuk diversifikasi, umbi-umbian itu potensial sebagai bahan pangan darurat,'' katanya. Untuk kandungan gizinya, umbi seperti gembili dan ubi jalar memiliki kandungan frukto-oligosakarida. ''Ini bahan prebiotik karena dapat meningkatkan jumlah mikroflora di pencernaan. Bagus untuk kekebalan tubuh,'' Maya menambahkan. Selain itu, menurut Maya, umbi mengandung serat yang tinggi, vitamin, dan mineral yang komplit.

Kandungan karbohidrat umbi seperti garut juga terhitung ramah gula. Jika mengonsumsi nasi dan terigu, indeks glikemik (indeks kenaikan kadar gula darah) seseorang bisa mencapai 100 level. ''Tetapi, kalau garut, kenaikan indeks glikemiknya hanya 14 level,'' ujar Maya. Karena itu, Maya dan rekan-rekannya di UGM mencoba mengangkat gengsi umbi-umbian ini dengan mengolahnya menjadi berbagai produk biskuit, cake, bahkan piza.

Ia berharap, upaya ini mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait agar pangan lokal bisa terselamatan. ''Pangan lokal bisa menjadi jawaban atas problem pangan. Ini dapat digunakan untuk mengantisipasi ledakan penduduk dan menjaga kedaulatan pangan kita,'' katanya.

M. Agung Riyadi, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

Tabel 1: Keanekaragaman Hayati Sumber Pangan di Indonesia
No. Sumber Nutrisi Jenis/Varietas/Nabati/Hewani
1. Karbohidrat Padi-padian: padi dan jagung Umbi-umbian: singkong, umbi jalar, garut, ganyong, talas, kimpul, gembili, dan sebagainya Buah: sukun, labu kuning, pisang
2 Protein Hewani: ikan air tawar dan laut; ternak sapi, kerbau, dan kambing; unggas ayam, itik, dan bebek Nabati: kacang-kacangan
3 Vitamin & mineral Buah-buahan, pepaya, mangga, pisang, jambu, manggis, nanas, dan sebagainya Sayur-sayuran, palawija, dan kacang-kacangan
Sumber: Gardjito, Murdijati dan Djuwardi, Anton. 2011.
Pangan Nusantara: Manifest Boga Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM

Tabel 2: Upaya Penganekaragaman Pangan di Indonesia
Tahun Kebijakan/Program Realisasi
1960 Perbaikan mutu makanan rakyat (Applied Nutrition Program) Hanya berlangsung di Jabar, Jateng, Jatim, Sumsel, Sumut, Bali, Nusa Tenggara & DIY
1974 Pencanangan Kebijakan Diversifikasi Pangan & Program Usaha Perbaikan Mutu Makanan Rakyat: Inpres Nomor 14/1974 Beras Tekad: telo, kacang, dan jagung, tersendat/tidak jalan
1979-1980 Inpres Nomor 20/1979 tentang Diversifikasi Pangan, penekanan pada pendayagunaan tanaman sagu di Kawasan Timur Indonesia (KTI)

Pemerintah memopulerkan slogan ''Pangan Bukan Hanya Beras'', untuk memanfaatkan bahan pangan lokal

Dikeluarkan banpres untuk penelitian pendayagunaan tanaman dan industri sagu, khususnya di KTI Pembangunan industri makanan berbasis sagu

Dikumandangkan lagi Beras Tekad untuk menggantikan beras

Hasil penelitian, tepung sagu bisa menggantikan terigu 30%
1989 Dibentuk Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. Diluncurkan "Aku Cinta Makanan Indonesia" serta Pusat Kajian Makanan Tradisional di enam perguruan tinggi negeri di Indonesia Upaya menyediakan makanan berbasis bahan baku lokal non-beras. Terhalang tren fast food, makanan impor dengan pola waralaba 1993-1998 Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG) oleh Deptan Pengembangan usaha, diversifikasi penyuluhan gizi masyarakat
1996 Lahir Undang-Undang Nomor 7 tentang Pangan Upaya swasembada Gema Palagung (padi, kedelai, dan jagung). Beras masih primadona andalan, peningkatan IP (indeks pertanaman)
2000 UU Nomor 25 Propenas (2000-2004)
2001 Dewan Ketahanan Pangan (DKP) didirikan dan langsung dipimpin oleh presiden Rencana aksi diversifikasi, Festival Jagung di Bogor, 2002
2002 PP Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan

2009 Perpres Nomor 22 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal (P2KP)

Permentan Nomor 43 Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal

Sumber: Badan Ketahanan Pangan, 2009 (data diolah) dalam Pangan Nusantara: Manifest Boga Indonesia, 2011. Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM

Tabel 3: Koleksi Plasma Nutfah dan Tanaman Pangan yang Terancam Punah
Komoditas Jumlah Aksesi Dalam Bank Gen Dalam Database
1. Padi (Oryza sativa) 4.111 4.054
2. Jagung (Zea mays) 800 741
3. Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.) 226 226
4. Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) 988 988
5. Kacang tanah (Arachis hypogea) 1.194 795
6. Kacang hijau (Vigna radiata) 1.025 1.025
7. Ubi kayu (Mannihot esculenta [L.] Crantz) 600 452
8. Ubi jalar (Ipomoea batatas [L.] Lamb.) 1.506 1.358
9. Kacang-kacangan potensial: Kacang tunggak (Vigna unguiculata) Kacang gude (Cajanus cajan) Kacang koro benguk Kacang koro pedang Kacang Bogor (Vigna subterranea)
10. Ubi-ubian potensial:
a. Talas (Colocasia esculenta [L.] Schott.)
b. Belitung (Xanthossoma sp.)
c. Ubi kelapa (Dioscorea alata [L.])
d. Gembili (Dioscorea esculenta [L.])
e. Gadung (Dioscorea hispida [Dent.])
f. Garut (patat) (Maranta arundinacea [L.])
g. Ganyong (Canna edulis [Ker.])
h. Suweg (Amorphophalus campanulatus)

Total 11.250 10.388
Sumber: Bank Gen Balai Besar Penelitian dan Pengebangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB-Biogen), 2010

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com