Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Si Unggul Mulai Ditinggalkan Petani

Areal penanaman padi hibrida pada tahun ini diperkirakan terus merosot. Sebagian petani menolak menanam benih unggul bantuan pemerintah itu. Kapok karena benih itu rentan hama wereng dan rasa nasinya rata-rata kurang enak.

Pamor benih padi hibrida, yang getol dikampanyekan pemerintah guna mendukung program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), sepertinya kian memudar saja. Benih unggul yang kebanyakan didatangkan langsung dari Cina atau dikembangkan di sini menggunakan teknologi dari ''negeri panda'' itu tidak dianggap lagi oleh sebagian petani di Tanah Air. Gerakan penolakan pun digalang, meski masih sebatas lingkungan kecil kelompok tani.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera, misalnya, memutuskan menampik penggunaan benih padi hibrida bantuan pemerintah pada musim tanam mendatang. Mereka masih trauma dengan kualitas benih yang ternyata tidak menggembirakan. ''Ini sudah masuk kotak,'' kata Purnomo Singgih, Koordinator Gapoktan Makmur Sejahtera, seraya menunjuk sekantong benih hibrida ukuran sekilogram yang tak terpakai. ''Kalaupun ada bantuan, sebaiknya benih lokal saja,'' ia menambahkan.

Gapoktan, yang menaungi 264 petani dari 11 desa, bermarkas di rumah Purnomo di Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Para anggotanya berkumpul setiap tanggal 5. Belakangan ini, bahasan utamanya adalah kabar bakal turunnya bantuan benih hibrida untuk lahan 50 hektare di desa itu. Nah, pembahasan Kamis pekan lalu, yang diwarnai sikap sinis, telah menghasilkan tekad penolakan.

Menurut Purnomo, para petani yang sebelumnya menggunakan varietas lokal, seperti Logawa, Ciherang, atau IR, sudah kapok menggunakan benih padi hibrida karena banyak kelemahannya. ''Pertama, rentan hama penyakit seperti wereng dan blas. Kedua, gabuk mingkem atau kopong nggak ada isinya. Ketiga, nilai jualnya rendah karena rendemen rendah. Keempat, biayanya mahal. Harga benih hibrida Rp 50.000 sekilo, benih lokal cuma Rp 7.000,'' Purnomo menguraikan.

Pengalaman mengecewakan anggota Gapoktan Makmur Sejahtera itu diawali dengan turunnya bantuan benih hibrida, dua tahun silam. Para petani di Desa Panjatan dengan luas lahan 69 hektare tersebut sukacita. Apalagi, benih hibrida itu digembar-gemborkan banyak keunggulannya, seperti produktivitas tinggi dan rasanya enak.

Apa lacur, hasilnya tidak sehebat yang digembar-gemborkan. Menurut Purnomo, produksi per hektare padi hibrida nyaris sama dengan produksi padi lokal, yakni sekitar 7 ton. Jumlah bulir padi setiap malainya pun sama, rata-rata 200-300 bulir. Harga jualnya tak jauh beda, di kisaran Rp 7.000 per kilogram.

Namun, kalau ditotal, gabuk mingkem pada padi hibrida mencapai 20%-30%, sedangkan gabuk mingkem padi lokal hanya 10%. Rendemen padi hibrida rendah dan patah. ''Nasinya kayak makanan kuda. Masyarakat komplain, sego opo iki. Sampai beras pun dikembalikan,'' kata Purnomo dengan logat Banyumas yang kental.

Kelemahan lain padi hibrida, menurut pengalaman Purnomo dan kelompok taninya, adalah butuh perawatan ekstra. Jauh merepotkan dibandingkan jika menanam padi lokal. Akibatnya, wajar saja jika banyak petani yang kemudian enggan menanam padi hibrida. Dalam bahasa setempat disebut bebeh atau malas. ''Jadi, tetap untung (menanam) padi lokal,'' tutur Purnomo. Ia mengaku memiliki stok contoh 46 varietas bibit padi lokal hasil eksperimennya menyilangkan.

Tetangga Purnomo, Nur Kodri, Ketua Kelompok Tani Krida Sari Laras, yang beranggota 30 petani, menuturkan bahwa cukup banyak petani yang menghabiskan sisa benih bantuan itu sebagai campuran pakan ayam atau dibuang begitu saja. Ada pula yang dipendam di dalam tanah.

Benih hibrida itu tak baik dikonsumsi manusia, karena dikhawatirkan mengandung bahan kimia, sedangkan kalau ditanam kurang menguntungkan. Petani Panjatan terakhir kali menanam padi hibrida pada musim tanam tahun lalu, yang dipanen pada Juli-Agusuts 2011.

***

Pengalaman buruk dengan padi hibrida juga dialami Yudi Prasetyo, anggota kelompok tani di Desa Jambu Kidul, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Ceritanya, pada Maret 2010, ia menanam satu varietas padi hibrida di lahan 1.700 meter persegi miliknya. Yudi tergiur mendengar keunggulan padi itu dari petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) Dinas Pertanian setempat.

''Promosinya pada waktu itu, hasilnya bisa berlipat-lipat dari padi biasa,'' kata Yudi kepada Gatra yang mengunjunginya, Sabtu pekan lalu. Lelaki 36 tahun yang tinggal di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten, itu juga tertarik karena pemerintah memberikan subsidi. Benih hibrida seharga Rp 50.000 per kilogram itu cukup ditebus Rp 10.000. Di Kecamatan Ceper, ada delapan desa yang mendapatkan benih unggul tersebut dengan harga murah.

Yudi mengakui, dari sisi efisiensi benih, benih hibrida itu sangat efisien. Untuk lahan seluas 1.700 meter persegi, hanya dibutuhkan dua kilogram benih. Kalau menggunakan benih biasa, lahan seluas itu bisa menghabiskan 10 kilogram benih. Tapi, dalam perjalanannya, Yudi justru merasa rugi besar. Pasalnya, menurut Yudi, padi hibrida itu ternyata rentan serangan hama wereng.

Ia menuturkan, pada saat usia padi itu baru dua bulan, ketika malainya baru tumbuh, wereng mulai menyerang. Dalam sekejap, serangan wereng menghebat. ''Dalam 10 hari sudah habis,'' ujar Yudi. Hasil yang didapatnya ketika itu hanya 20% dari panen yang biasa dia peroleh jika menggunakan benih lokal. ''Biasanya saya bisa mendapatkan 1 ton. Ini habis, tinggal di pinggir-pinggir saja,'' katanya.

Yudi menambahkan, kawan-kawannya sesama petani yang menanam padi hibrida tersebut ketika itu mengalami nasib yang sama. Bahkan ada yang gagal total. Pada saat itu, hampir di semua wilayah Klaten terkena serangan wereng hebat. Pemerintah menganjurkan memakai pestisida --juga disubsidi, dari harga Rp 40.000 menjadi Rp 10.000-- untuk membasmi wereng. Kenyataannya, setelah pestisida disemprotkan, serangan wereng justru makin hebat. Rupanya musuh alami wereng ikut mati.

Yudi mengatakan, dibandingkan dengan padi hibrida, padi organik lebih tahan wereng. Ia memaparkan, ketika itu ia juga menanam padi organik di lahan lain miliknya. Luasnya juga 1.700 meter persegi. Padi organik ini pun diserang wereng, tapi daya tahannya lebih baik. Yudi masih bisa panen sekitar 60%.

Belajar dari pengalaman itu, Yudi tak mau lagi menanam padi hibrida. Lebih-lebih, padi tersebut tak bisa diolah menjadi benih karena produktivitasnya akan jeblok. ''Saya pernah nyoba mengolah lagi untuk ditanam, hasilnya jelek,'' papar Yudi.

Kini sebagian besar petani di Klaten emoh menanam padi hibrida. Tak ketinggalan pula para petani dalam Kelompok Tani Sumber Rejeki di Dukuh Sumber Kulon, Desa Sumber, Kecamatan Trucuk. ''Benih hibrida dan transgenik itu ancaman bagi petani,'' ucap Wardiono, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki.

Wardiono menilai, promosi pemerintah perihal bibit hibrida unggul itu hanya berkaitan dengan bisnis atau proyek. Petugas PPL pun dinilainya kurang memahami persoalan riil petani, sekadar membawa kebijakan pemerintah dan pesan sponsor dari pabrikan. Termasuk dalam penggunaan pestisida untuk menanggulangi hama wereng, yang terbukti justru membuat serangan wereng makin hebat. Serangan wereng ini cepat menyebar pula ke sawah-sawah lain. ''Akibatnya, malah makin rusak,'' kata Wardiono.

Menilik kondisi ini, diperkirakan penanaman padi hibrida pada 2012 akan melorot lebih tajam. Pada tahun lalu, areal padi hibrida menyusut menjadi 298.000 hektare dari tahun sebelumnya yang mencapai 300.000 hektare. Namun Kementerian Pertanian bertekad menggenjot penanaman benih padi unggul itu, guna turut andil mencapai surplus beras pada 2014. Caranya, tetap menyalurkan bantuan langsung atau subsidi harga. ''Kami ingin petani betul-betul bisa menerima benih unggul,'' kata Menteri Pertanian, Suswono, kepada Gatra.

Suswono mengakui, ada padi hibrida impor yang hasilnya tidak menggembirakan. Menurut dia, di samping kemungkinan benihnya tidak bagus, juga lantaran kurang pengawalan. ''Kuncinya di pengawalan ketika harus mengadopsi tekonologi benih impor. Di beberapa daerah yang pengawalannya intens, ternyata benih impor disukai petani. Contohnya di Sidoarjo (Jawa Timur),'' ujar Suswono.

Soal rentan serangan wereng? Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian, Haryono, mengatakan bahwa penyebabnya banyak. Misalnya perubahan iklim, terutama pada saat basah. Ia menegaskan bahwa serangan wereng pada padi hibrida masih wajar karena memang tidak tahan wereng. Namun bukan berarti penanamannya harus distop.

''Menurut saya, (penanaman padi hibrida) jalankan saja, tidak perlu dihentikan. Memang harus ada perbaikan penggunaan tekonolgi. Pengawalan juga penting,'' kata Haryono. Untuk mengantisipasi serangan wereng, Balitbang Kementerian Pertanian telah mengembangkan padi hibrida tahan wereng, antara lain HIPA Jatim 1 dan HIPA Jatim 2, dengan potensi produksi 12 ton per hektare. Rencananya, benih unggul hasil kerja sama dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur itu dilepas pada tahun ini.

Fadhil Hasan, ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance, mendukung semangat program P2BN itu. Ia mengingatkan soal tantangan yang sangat berat. Terlebih, peningkatan produktivitas beras di Indonesia masih sangat rendah. Tantangan itu, antara lain, persoalan konversi lahan dan pencetakan lahan baru di Pulau Jawa.

Belum lagi persoalan infrastruktur yang ikut menjadi hambatan. Penanganan persoalan irigasi dan penyediaan bibit unggul, menurut Fadhil, masih belum seperti yang diharapkan. Karena itu, untuk mencapai surplus beras pada 2014, harus dilakukan kerja ekstra keras. ''Perlu komitmen yang lebih besar dari pemerintah,'' kata Fadhil.

Taufik Alwie, Sandika Prihatnala, Arif Koes Hernawan, dan Haris Firdaus (Yogyakarta)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com