Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Mendongkrak Kontribusi Biar Optimal

Bank Indonesia menilai, perbankan nasional belum memberi kontribusi optimal pada pembangunan. Sumber dana dari bank untuk modal kerja dan investasi perusahaan masih minim. Pertumbuhan perbankan pada 2012 tetap positif seiring dengan tumbuhnya perekonomian.

Rapor perbankan nasional pada 2011 dipenuhi warna biru. Indikator kesehatan bank secara umum sangat bagus. Misalnya, dari sisi permodalan ataupun likuiditas jauh di atas ambang aman. Kemampuan bank, baik bank swasta maupun milik pemerintah, dalam mencetak keuntungan juga mengagumkan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Desember tahun lalu, laba bersih perbankan nasional selama 10 bulan pertama lebih dari Rp 63 trilyun.

Kemampuan perbankan nasional mencetak laba memang yang paling tinggi di antara negara Asia Tenggara. Ini bila dilihat dari tingkat return on asset (ROA) yang besarnya 3,1%. Adapun rata-rata di Asia Tenggara, ROA perbankannya 1,14%. Perbankan nasional pun saling pamer di media massa atas keuntungan yang mereka raup selama 2011.

Bagi jajaran manajemen, prestasi gemilang mendongkrak angka keuntungan itu jelas akan membuat mereka makin dipercaya pemegang saham. Namun, bagi masyarakat, khususnya peminjam duit atau debitur, ada perasaan pilu yang merasuki hati mereka. "Bagaimana nggak untung banyak, wong bunga kredit sangat tinggi," kata Agung Riyadi, seorang debitur di sebuah bank BUMN.

Di antara negara ASEAN, bunga kredit perbankan Indonesia memang paling tinggi. Rata-rata suku bunga kredit di Indonesia per November 2011 adalah 12,40%. Bandingkan dengan Malaysia yang 6,54%, Thailand 7,25%, dan Filipina 5,71%. Selain mengais untung dari penyaluran kredit, perbankan juga mendapat penghasilan dari layanan yang disediakan untuk nasabah (fee-based income) serta penempatan di surat berharga negara (SBN) dan instrumen moneter.

Penempatan dana perbankan di SBN mencapai Rp 245,97 trilyun dan di instrumen moneter Rp 415, 48 trilyun per Oktober 2011. Itu sekitar 31,4% dari total kredit yang disalurkan perbankan, yang besarnya Rp 2.106,2 trilyun. Sekitar 60% instrumen moneter BI dikuasai 10 bank besar. "Porsi penempatan dana bank di SBN maupun instrumen moneter yang sangat besar itu menunjukkan adanya bagian dari aset perbankan yang tidak produktif bagi perekonomian," kata Gubernur BI, Darmin Nasution.

Secara umum, Darmin menyatakan bahwa kontribusi perbankan dalam pembangunan nasional belum optimal. Ini bila dilihat dari rasio aset perbankan Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB), yaitu 47%. Terlebih, rasio kredit terhadap PDB hanya 29%. "Jauh sekali dibandingkan dengan negara emerging market lainnya," ujar Darmin Nasution. Misalnya, rasio kredit perbankan Malaysia terhadap PDB mencapai 114,9% (lihat: Rasio Kredit Terhadap PDB).

Minimnya rasio kredit terhadap PDB itu, antara lain, disebabkan masih minimnya sumber dana dari perbankan untuk membiayai perusahaan, baik berupa modal kerja maupun investasi. "Untuk modal kerja hanya 25% dan investasi hanya 21%. Sisanya perusahaan pakai dana internal mereka," kata Darmin.

***

Dari hasil survei pemetaan sektor ekonomi dan survei kegiatan dunia usaha yang dilakukan BI, masih minimnya penggunaan dana dari bank itu disebabkan tiga hal: tingginya suku bunga kredit, ketersediaan jaminan, dan persyaratan kredit yang terlalu rumit. "Dari hasil survei tersebut, kita harus retrospeksi bagaimana seharusnya fungsi dan peran industri perbankan ke depan kita tempatkan," katanya. Darmin menambahkan, terciptanya perbankan yang sehat dan kuat di satu sisi dan yang dapat menjalankan fungsi intermediasi efektif di sisi lainnya bukanlah dua hal yang dapat dipisahkan.

Tingkat suku bunga kredit bersumber dari beberapa komponen. Yakni biaya operasional, biaya dana, margin keuntungan, dan premi risiko. Biaya operasional, antara lain, bersumber dari overhead (gaji pegawai, biaya kantor, dan IT). Biaya dana bergantung pada besarnya bunga simpanan nasabah, terutama deposito. Margin keuntungan adalah tingkat keuntungan yang diinginkan bank. Sedangkan premi risiko bergantung pada jenis usaha dan kualitas debitur.

Semakin efisien sebuah bank, maka ia bisa menekan bunga kredit kepada nasabah. Celakanya, perbankan di Indonesia sangat tidak efisien sehingga membuat bunga kredit terkerek. Ketidakefisienan itu, kata Darmin, bisa dilihat dari masih tingginya angka BOPO (beban operasional terhadap pendapatan operasional) dan NIM (net interest margin).

BOPO perbankan Indonesia mencapai 86,44%. Artinya, untuk menghasilkan 100, perlu biaya 86,44%. Bandingkan dengan rata-rata BOPO perbankan di ASEAN yang 40%-60%. Adapun NIM perbankan Indonesia sebesar 6%. Dalam bahasa sederhana, NIM adalah selisih atau spread antara bunga kredit dan bunga simpanan. Bandingkan dengan rata-rata NIM perbankan ASEAN yang hanya 3%-4%.

Ketidakefisienan operasional perbankan Indonesia itu, menurut Darmin, melahirkan ongkos pembiayaan yang mahal. "Sehingga perekonomian menjadi kurang memiliki daya saing," katanya. Karena itulah, ke depan, Darmin meminta perbankan membenahi diri untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi tantangan nyata di depan, yaitu perwujudan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Meskipun Eropa terjangkit krisis, BI optimistis, ekonomi Indonesia pada 2012 akan tumbuh 6,3%-6,7%. Dengan angka pertumbuhan sebesar itu, butuh pembiayaan minimal Rp 598 trilyun atau setara dengan laju pertumbuhan kredit 26%. Darmin yakin, perbankan nasional akan menyalurkan dana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi itu.

Pada 2012, BI akan terus berupaya meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan konstribusinya pada perekonomian. "Juga memperkuat ketahanan perbankan," ujar Darmin. Yang juga penting adalah memperluas akses perbankan kepada masyarakat.

***

Direktur Utama Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja, optimistis bahwa perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik pada 2012. Dengan pertumbuhan ekonomi 6%-7%, kredit perbankan bisa tumbuh tiga kali lipatnya. Yaitu di kisaran 22%. Pada tahun lalu, misalnya, kredit perbankan tumbuh 27%. Artinya, sudah di atas kisaran yang berlaku umum di dunia perbankan selama ini.

Rasio penyaluran kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) 81,4%. Angka ini, kata Jahja, sudah bagus karena bank mesti menyediakan dana (likuiditas) cadangan yang sewaktu-waktu bisa diambil nasabah. Karena itulah, ia tak setuju bila perbankan nasional dinilai belum berperan optimal dalam perekonomian nasional.

Dengan pertumbuhan kredit yang bagus dan angka LDR yang tinggi, bank tak bisa dipaksa untuk lebih banyak menyalurkan dana ke kredit. "Saya selalu ingatkan ke teman-teman perbankan soal likuiditas yang harus dijaga kecukupannya," katanya. Sebab bank adalah bisnis kepercayaan. Ketika nasabah mau mengambil uang tapi dana tak tersedia, maka runtuhlah bank itu.

Terkait masih tingginya bunga kredit, perbankan terus berusaha menurunkannya. "Tingkat suku bunga dasar kredit kami sudah satu digit seperti yang diminta BI," ujarnya. Besaran bunga kredit yang dikaitkan dengan biaya operasional memang benar. Biaya operasional itu berkaitan pula dengan efisiensi perbankan. Namun, membandingkan efisiensi perbankan di Indonesia dengan di negara Asia Tenggara, kata Jahja, tidaklah pas.

Kondisi geografis Indonesia yang merupakan kepulauan membuat adanya biaya lebih yang harus dikeluarkan. Jahja mencontohkan, di Indonesia, untuk mengirim seorang auditor ke kantor cabang di Papua, Kalimantan, atau Sulawesi, dibutuhkan dana yang besar. Ia membandingkan dengan Malaysia atau Singapura, yang bukan negara kepulauan, sehingga biaya operasionalnya lebih murah.

Ongkos operasional lainnya adalah biaya training sumber daya manusia. Perbankan nasional harus mengirim trainer ke berbagai cabang di seluruh Nusantara yang biayanya tidak murah. Ada lagi cash society, misalnya pada saat hari raya atau liburan, yang mengharuskan bank menyediakan dana tunai di ATM. "Size kami aja, tiap bulan Rp 10 trilyun harus sedia kas terus. Ini kan uang nganggur untuk menyediakan jasa ke masyarakat," katanya. Termasuk biaya operasional ATM, seperti sewa listrik, keamanan, dan asuransi.

Jahja juga tak sepaham bila keuntungan perbankan Indonesia yang tinggi dipersoalkan. Perbankan di Indonesia, kata Jahja, memang harus meraih keuntungan yang besar. Sebagian besar laba itu dikembalikan kepada bank dalam bentuk modal. "Mana mungkin setiap tahun pemegang saham tambah modal," ujarnya.

Selama ini, bagian dividen untuk pemegang saham lebih kecil dibandingkan dengan bagian laba yang dimasukkan sebagai modal bank. Dulu porsinya 50% ke modal dan 50% untuk pemegang saham. Sekarang ini rata-rata 70% laba untuk modal dan 30% ke pemegang saham. "Saya kira, sampai level 20% untuk pemegang saham sudah cukup," katanya.

Penambahan modal itu penting karena bank harus tumbuh dan berkembang. Untuk meningkatkan besaran kredit, modal bank juga harus diperkuat agar tidak menggerus rasio kecukupan modal (CAR). "Kalau tidak, ya, bank tidak akan tumbuh dan berkembang," tuturnya. Jahja optimistis, perbankan nasional akan tumbuh baik pada 2012, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang juga baik. "Kami harapkan perbankan tetap positif," ia menambahkan.

Irwan Andri Atmanto dan Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 10 / XVIII 18 Jan 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Fotografi
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Ronce
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com