Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

FILM

Beda Juri Lain Pemenang

Ajang Festival Film Indonesia 2010 kembali diwarnai kemelut. Ada dua dewan juri dengan pilihan film berbeda. Mengapa?

Sebuah pesan singkat alias SMS yang beredar di kalangan wartawan film, Kamis pekan lalu, mengabarkan: Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) 2010 akan mengumumkan nomine penghargaan FFI pada Jumat 3 November, pukul sembilan pagi lewat acara "Dahsyat" yang ditayangkan RCTI. "Sorenya pukul 18.00, dewan juri lama akan menggelar konferensi pers mengumumkan kemenangan Sang Pencerah," begitu tutup pesan itu.

SMS itu terbukti benar. Jumat malam, empat anggota dewan juri yang dipecat Komite FFI: Jujur Prananto, Anto Hoed, Marselli Sumarno, dan Seno Gumira Ajidarma, ramai-ramai mendatangi Gedung Film di Jalan S. Parman, Jakarta Selatan. Mereka mengumumkan, film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo --yang tidak lolos seleksi awal-- meraih sembilan nomine dan dinobatkan sebagai film terbaik alias meraih Piala Citra FFI 2010 versi dewan juri lama.

Tapi kejutan belum berakhir. Di tengah berlangsungnya konferensi pers, tiba-tiba Ketua Komite FFI (KFFI), Niniek L. Karim, nyelonong masuk dan ikut bicara. Secara terbuka, Niniek menyatakan dukungannya pada dewan juri lama. Ia juga tidak membantah ketika ditanya apakah ketidakhadirannya pada saat pembacaan nominasi FFI dalam acara "Dahsyat" di RCTI pagi sebelumnya berarti ia tidak menyetujui langkah dewan juri baru itu. "Bisa dibilang begitu," katanya.

"Saya tidak meneken apa pun untuk membentuk dewan juri baru itu. Saya sangat menghargai kerja keras mereka. Bahwa saya tidak sepaham dengan penjurian itu, ya, sah-sah saja," kata Niniek lagi. Ia menjelaskan, Jumat sore itu, baru saja menghadap Menteri Kebudayaan, Jero Wacik, dan menyampaikan --secara lisan-- pengunduran dirinya dari jabatan Ketua KFFI.

Alasannya, ia merasa gagal. Menurut Niniek, dulu ia menerima jabatan Ketua KFFI dengan harapan bisa membenahi kekisruhan di lembaga itu dan menjadikannya payung bagi semua insan perfilman. Tapi sekarang ia sadar, kemampuannya masih belum cukup. "FFI masih belum independen," ujar Niniek, sembari menyebut adanya campur tangan pemerintah dan monopoli pemberitaan FFI oleh sebuah stasiun televisi.

Akhirnya, ibarat klimaks sebuah film, Niniek pun tidak menghadiri acara pengumuman pemenang FFI 2010, Senin 6 November, di Ballroom Central Park. "Saya ikut terlibat konser teman saya, Marusya Nainggolan. Sudah janjian sejak empat bulan lalu, jadi tidak bisa datang," katanya singkat.

***

Suasana kisruh pada Jumat malam itu memang tidak terasa pada malam pembacaan pemenang FFI 2010 yang berlangsung di Ballroom Central Park, 6 November lalu, dan disiarkan secara langsung oleh RCTI. Ada gebyar musik, deretan artis, pekik gembira, dan para pemenang yang mengucapkan kata sambutan dengan terharu.

Namun perjalanan FFI kali ini tidak semulus gebyar acara penuh meriah itu. FFI tahun ini tidak kalah parah dibandingkan dengan tahun 2006, ketika sederet sineas muda ramai-ramai mengembalikan Piala Citra sebagai bentuk protes atas terpilihnya film Ekskul (yang dituding menjiplak score music film The Gladiator dan Munich) sebagai film terbaik.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, FFI tahun ini diwarnai pemecatan dewan juri dan pembangkangan dewan juri yang telah dipecat dengan merilis hasil penilaian mereka ke publik. Silang pendapat itu terlihat sejak komite seleksi melakukan penyaringan awal terhadap 54 judul film panjang yang mendaftar ke FFI, November lalu.

Dari seluruh film itu, yang dinyatakan lolos hanya delapan film. Yakni 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, Alangkah Lucunya Negeri Ini, Cinta 2 Hati - Dilema, HeartBreak.com, Hari untuk Amanda, I Know What You Did on Facebook, dan Minggu Pagi di Victoria Park. Komite seleksi ini diketuai Viva Vesti, dengan anggota Abduh Aziz, German G. Mitapradja, Totot Indarto, dan Dedi Setiadi.

Ketika itu, sejumlah wartawan mempertanyakan, mengapa film Sang Pencerah yang dianggap bagus tidak masuk nominasi. Film karya Hanung yang berkisah tentang pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, itu memang mendapat respons positif dari penonton. Keputusan komite seleksi yang meloloskan delapan film itu diprotes Persatuan Produser Film Indonesia.

Sebab, berdasakan Buku Pedoman FFI 2010, komite seleksi harus menetapkan minimal 10 judul film dan sebanyak-banyaknya 15 judul. Deddy Mizwar selaku Koordinator Pengarah FFI pun minta maaf, dan komite seleksi pun merivisi hasil penyaringannya.

Dua film lain yang tadinya tidak termasuk, yakni Red Cobex dan Sehidup (Tak) Semati, akhirnya ikut dimasukkan. Sepuluh film ini kemudian diserahkan ke dewan juri untuk dinilai. Dewan juri terdiri dari Jujur Prananto (ketua) serta anggota Anto Hoed, Marselli Sumarno, Nur Hidayat, Rima Melati, Salim Said, dan Seno Gumira Ajidarma.

Ternyata dua anggota dewan juri pernah menonton Sang Pencerah dan berpendapat film itu layak masuk nominasi. Anggota dewan juri yang belum menonton akhirnya ikut menonton, dan pendapat mereka ternyata sama. Sang Pencerah harus masuk nominasi, meski film itu tidak lolos seleksi awal.

Pembacaan nominasi FFI yang berlangsung di Batam, 28 November lalu, berubah jadi ajang adu urat leher. "Perang surat" dewan juri dengan Komite FFI pun terjadi. Dewan juri merasa berhak memasukkan Sang Pencerah karena memandang hal itu juga tidak melanggar aturan di Buku Pedoman FFI 2010.

"Tidak ada satu pasal pun yang menyebutkan bahwa kami tidak boleh memilih film di luar yang sudah diputuskan komite seleksi," kata Jujur Prananto, selaku ketua dewan juri. Sebaliknya, komite seleksi bersikukuh, hanya 10 film yang telah mereka seleksi yang seharusnya dinilai.

Deddy Mizwar menyatakan, ada kesalahan dalam buku pedoman itu yang menyebabkan terjadinya multitafsir tersebut. "Dewan juri merasa boleh lebih memilih dari 10 film. Tapi sebenarnya mereka hanya memilih dari 10 film yang sudah ditetapkan," katanya.

Negosiasi di Batam menemui jalan buntu, dan pembacaan nominasi pun diundur hingga Jumat 3 November. Tapi, sehari sebelum pembacaan nominasi dalam acara "Dahsyat" di RCTI, dewan juri yang diketuai Jujur Prananto dipecat oleh KFFI. Surat pemecatan itu ditandatangani Labes Widar selaku Ketua Koordinator Bidang Umum FFI dan Alex Sihar selaku Wakil Ketua KFFI.

Selanjutnya Komite FFI membentuk dewan juri baru, yang terdiri dari semua orang yang tadinya anggota komite seleksi, ditambah dua juri baru, yakni Alex Komang dan Areng Widodo. Tujuh juri baru itulah yang kemudian mengambil alih tugas dewan juri lama dan mengumumkan nominasi FFI versi mereka. Film Sang Pencerah tidak termasuk dalam nomine.

Jujur mengatakan bahwa Sang Pencerah layak masuk nominasi. Sementara itu, alasan penolakan komite seleksi terhadap film Sang Pencerah, seperti pernah disampaikan Viva Vesti, adalah adanya muatan fakta-fakta historis yang tidak akurat. Namun, menurut Jujur, ketidakakuratan fakta itu tidak otomatis mengurangi kualitas artistik film tersebut. "Muhammadiyah saja tidak protes. Padahal, itu kan film tentang pendirinya," kata Jujur.

Langkah pemublikasian hasil kerja dewan juri lama, baik nominasi maupun pemenang itu, menurut Jujur, adalah upaya untuk menyampaikan pertanggungjawaban mereka ke publik. Selain itu, langkah tersebut juga dilakukan untuk memberi masukan mengenai penyempurnaan FFI. Sebab yang dipertaruhkan adalah kewibawaan FFI itu sendiri, sekarang dan di masa yang akan datang.

Deddy Mizwar menganggap langkah dewan juri lama yang membeberkan hasil kerja mereka itu aneh. "Mereka itu di festival film apa? Dewan juri festival film apa? Coba kasih saya jawaban. Jadi, ngapain dibahas," kata Deddy kepada wartawan dalam acara pembacaan pemenang FFI, Senin malam lalu.

Namun, menurut Seno Gumira Ajidarma, pilihan dewan juri lama itu sangat bisa dipertanggungjawabkan. "Bandingkan saja hasil penilaian kami dengan mereka (dewan juri baru). Lihat saja, mana yang lebih bermutu," katanya. Sedangkan Alex Komang, anggota juri yang dipilih belakangan, memilih tidak ikut terlibat dalam perdebatan dewan juri lama versus baru itu. "Semua (penilaian) bisa dipertanggungjawabkan. Kalau memang tidak kredibel, akan kelihatan, kok," tutur Alex.

Yang jelas, tidak semua film ikut dalam FFI 2010. Misalnya, film Sang Pemimpi karya Riri Riza --yang merupakan sekuel Laskar Pelangi-- sengaja tidak diikutsertakan. Ini sudah tahun keempat (sejak 2006) bagi Riri Riza dan Mira Lesmana sengaja tidak mengikutsertakan filmnya di ajang FFI. Alasannya sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya: sebagai bentuk protes karena masih belum independennya FFI.

Padahal, walau tidak ikut FFI, Sang Pemimpi justru mampu berjaya di ajang internasional. November lalu, Sang Pemimpi mendapat penghargaan film terbaik kategori remaja dalam Festival Film Anak dan Remaja yang diadakan di Madrid, Spanyol. Lalu menyusul penghargaan "The 3 Castles Award" di Castellinaria International Film Festival, yang diselenggarakan di Swiss, yang diterima masih pada November lalu.

Itu penghargaan keempat yang diterima Sang Pemimpi setelah sebelumnya meraih penghargaan di Singapore Internasional Film Festival dan Udine Far East International Film Festival di Italia. Dari sini saja, wajar kalau orang bertanya: ada apa dengan FFI?

Basfin Siregar dan Edward Luhukay



Pemenang FFI 2010 Versi Dewan Juri Baru
- Film Cerita Panjang: 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

- Penyutradaan: Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Pemeran Utama Wanita: Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Pemeran Utama Pria: Reza Rahardian (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

- Pemeran Pendukung Pria: Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Pemeran Pendukung Wanita: Happy Salma (7 Hati 7 Cinta 7 Wanita)

- Skenario Cerita Asli dan Adaptasi: Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta --cerita adaptasi) Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini --cerita asli)

- Tata Sinematografi: Roby Herby (I Know What You Did on Facebook)

- Tata Artistik: Oscart Firdaus (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Penyuntingan: Aline Jusria (Minggu Pagi di Victoria Park)

- Tata Suara: Adiatyawan Susanto dan Novi Dwi R. Nugroho (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

- Tata Musik: Ian Antono dan Thoersi Argeswara (Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Pemenang FFI 2010 Versi Dewan Juri Lama

- Film Cerita Panjang: Sang Pencerah
- Penyutradaan: Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)

- Pemeran Utama Wanita: Laura Basuki (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Pemeran Utama Pria: Lukman Sardi (Sang Pencerah)

- Pemeran Pendukung Pria: Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

- Pemeran Pendukung Wanita: Kimmy Jayanti (I Know What You Did on Facebook)

- Skenario Cerita Asli dan Adaptasi: Hanung Bramatyo (Sang Pencerah --cerita asli) Benni Setiawan (3 hati 2 Dunia 1 Cinta --adaptasi)

- Tata Sinematografi: Faozan Rizal (Sang Pencerah)

- Tata Artistik: Alan Sebastian (Sang Pencerah)

- Penyuntingan: Wawan I Wibowo (Sang Pencerah)

- Tata Suara: Satrio Budiono dan Trisno (Sang Pencerah)

- Tata Musik: Tya Soebiakto (Sang Pencerah)


Cover Majalah GATRA 5 / XVII 22 Des 2010 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Iklan
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Seni
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com