Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Simfoni Religi Lewat Gamelan

Gamelan salawat pertama kali diusung Komunitas Kiai Kanjeng. Dakwah yang diselingi lagu-lagu bersyair keagamaan. Dari Majalengka muncul Ki Buyut.

Dengan gamis dan serban putih-putih, Kiai Maman tampil bersahaja. Sembilan personel lain yang mengenakan busana Sunda kelir biru-biru ikut mengiringi. Dua orang pegang gitar listrik, seorang pegang keyboard, satu kendang, dan satu lagi mendampingi Kiai Maman melantunkan syair salawat. Sisanya sambil lesehan memainkan bonang, kenong, dan kendang.

Itulah grup gamelan salawat Ki Buyut. Kiai Maman menyandang status pimpinan. Ahad medio Agustus lalu, Ki Buyut tampil di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, dalam acara ''Kilau Ramadhan'', gelaran sebuah harian nasional.

Konsep tampilan Kiai Maman menjumbuhkan dakwah dan pentas musik salawat. Dakwah Kiai Maman enteng tapi sarat pesan. Suaranya empuk penuh wibawa.

Kiai Maman selalu menyisipkan kejadian sehari-hari dalam dakwahnya. Misalnya, masalah ketakwaan dan keimanan seseorang yang tak bisa diukur dari busana. "Ada yang pake jilbab gede dan cadar tapi kalau duduk di angkutan enggak mau ngalah," katanya.

Tak sedikit banyolan ia selipkan dalam ceramah. Antara lain pengalaman Kiai Maman bersama Gus Dur.

Pada saat tampil, Kiai Maman tidak jarang mengobrol dengan satu personel Ki Buyut, Darto namanya. Darto menjadi representasi wong cilik dalam setting dakwah Kiai Maman.

Di jeda dakwah itu, Ki Buyut memainkan musik perpaduan gamelan dan musik modern. Ia juga melantunkan sejumlah versi salawat dari berbagai daerah. Mulai gaya Aceh, Jawa Tengah, Yogyakarta, pesisiran utara, Jawa Timuran, dan terutama Sunda.

Kiai Maman tidak ragu memasukkan salawat dalam komposisi lagu daerah populer macam Es Lilin. Kadang rancak, kadang lirih dan liris khas Sunda.

Karena instrumen yang minimalis, musik yang diusung Ki Buyut juga simpel. Berbeda dari Kiai Kanjeng yang menghadirkan alat musik lebih komplet. Perbedaan itu diakui Kiai Maman.

Menurut dia, ketika ditemui usai pentas, musik Ki Buyut bagian dari dakwah. "Dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul. Berargumen, bukan sentimen," katanya.

***

Kiai Maman merintis gamelan salawat setelah melihat dakwah di daerahnya yang monoton. "Masjid pun jadi sering kosong," ujarnya.

Kelompok ini dibentuknya sembilan tahun silam. Nama Ki Buyut diambil dari Al-Quran: "qi" berarti penjaga, dan "buyut" artinya rumah. "Makna Ki Buyut bisa menjadi penjaga rumah, bisa rumah hati, hingga negara ini."

Personel Ki Buyut adalah anak jalanan. Mereka tak mengandalkan bayaran dari Ki Buyut. Karena itu, beberapa orang mengais rezeki dari usaha lain, seperti buka bengkel. Beberapa adalah pelajar dan mahasiswa. Kiai Maman mengungkapkan bahwa satu-dua juga masih ada yang hidup di jalanan.

Ki Buyut bagian dari Pondok Pesantren Al-Mizan di Majalengka, yang khusus bagi anak jalanan, menaungi 80 anak. Selain itu, juga ada komunitas Sapu, "Sahabat Perempuan".

Ki Buyut tampil keliling sering tanpa undangan. Ia bisa pentas di publik langsung seperti di kampung nelayan, pinggir jalan, atau di tengah korban gempa Priangan. "Main begitu saja. Nanti orang-orang ngumpul sendiri," kata Kiai Maman. Baru setelah orang-orang ngeriung, Kiai Maman beraksi.

Di sana mereka mendapat saweran. Atau kalau ada undangan acara, perolehan pendapatan dibagi rata kepada personel. Bahkan akomodasi hotel sering mereka minta tukar dengan penginapan lebih murah agar sisanya bisa masuk kas.

Personel Ki Buyut berlatih sendiri. Musik apa saja bebas. Kiai Maman sendiri mengaku tidak bisa main musik. Bahkan ia menoleransi kesenian lain, macam tari topeng dan debus, disisipkan di pentas.

Sudah lama Ki Buyut juga kerap diundang kalangan non-Islam; dari gereja, kelenteng, hingga vihara. Di sana mereka pun salawatan seperti biasa. Tentang aksi-aksi Ki Buyut itu, Kiai Maman bilang, ada saja yang tak sepakat. Toh, ia punya argumen.

Merujuk pada kitab Ihya Ullumuddin karya Al-Ghazali, menurut dia, barang siapa yang tak tergetar hatinya ketika mendengar gemerisik daun-daun yang berjatuhan dan suara alam, dipertanyakan kewarasannya. Karena itu, orang yang tak suka musik bisa juga dipertanyakan akan hal yang sama.

Dan yang lebih penting, Kiai Maman yakin, asas manfaat format dakwah ini lebih tinggi. Dengan Ki Buyut, ia hendak menunjukkan tiga hal. Bahwa ada kreativitas dalam dakwah, silaturahmi budaya, dan Islam menjadi agama rahmatan lil alamin. "Islam itu energi perubahan," katanya.

***

Selain Ki Buyut, pada awal 1990-an model syiar serupa lebih dulu diusung gamelan Kiai Kanjeng. Pencetusnya adalah budayawan tersohor Emha Ainun Nadjib. Gamelan dimainkan oleh kelompok pekerja seni yang menamakan diri Komunitas Kiai Kanjeng. Yang disuguhkan adalah bunyi-bunyian perkusi dan perangkat alat musik gamelan, terutama Jawa.

Gamelan ini jauh dari kesan kontemplatif yang dibawa gamelan keraton. Hadirin yang datang akan bisa menikmati lentikan-lentikan irama yang dihasilkan grup musik kawakan itu. Yang ditonjolkan Kiai Kanjeng adalah nilai-nilai religius yang selalu hadir dalam syair-syairnya. Hal ini bisa disimak dari album Kiai Kanjeng, "Kado Muhammad", dengan hit lagunya, Tombo Ati.

Lagu lain yang juga mengena di hati umat adalah Lir Ilir, sebuah lagu religi berlirik satiris karya Sunan Kalijaga. Lagu ini digubah oleh Kiai Kanjeng ke dalam format musik modern tanpa meninggalkan notasi tradisionalnya. Demikian pula lagu tradisional anak Gundul-gundul Pacul. Nuansa musiknya menjadi lain dan diikuti kupasan syair lagi yang sarat nilai filosofis oleh Cak Nun, panggilan akrab Emha.

Kelompok ini sukses mengusung genre musik paduan tangga nada pentatonik dan diatonik. Namun sesungguhnya Kiai Kanjeng pada mulanya secara musikal adalah nama konsep nada gamelan yang dipakai Novi Budianto dan kawan-kawan dalam komunitas itu yang bersifat tidak pentatonis dan tidak pula diatonis. Hal ini memungkinkan eksplorasi musikalnya merambah ke berbagai aliran musik dan beradaptasi dengan keperluan kultural Kiai Kanjeng dalam menyapa, menjamu, dan mengapresiasi beragam segmen audiens.

Dalam setiap penampilan, selain syair yang bernapaskan ketauhidan, tak ketinggalan selalu diselipkan wejangan keagamaan yang dibawakan langsung oleh Emha. Ceramah yang berjalan santai, penuh sindiran, humor tapi dipenuhi nilai filosofis hidup manusia dan ketuhanan itu adalah khas Cak Nun.

Selain tampil di kalangan umat, Kiai Kanjeng juga pernah tampil di kompleks Gereja Pugeran, Yogyakarta. Gamelan ini tampil bareng umat Katolik dan menciptakan kolaborasi musikal, tapi tetap saling menjaga koridor akidah masing-masing. Di sana, Cak Nun menyampaikan konsep dasar jihad dan makna filosofis serta regilius ungkapan assalamualaikum.

Sebagai grup kawakan, Kiai Kanjeng di mancanegara juga begitu disegani. Mereka pernah tampil di berbagai negara dan menerima penghargaan serta apresiasi. Antara lain manggung di Napoli (Italia) dan London (Inggris). Kiai Kanjeng mampu menjadi duta bangsa, sekaligus ikut menaikkan citra positif Islam di tengah kecenderungan negara-negara Barat yang mendiskreditkan Islam.

Bisa dikata, Kiai Kanjeng yang lahir di Yogyakarta itu merupakan pionir bagi beberapa kelompok musik kontemporer yang menggabungkan alat musik diatonis dan pentatonis. Beberapa di antaranya adalah Ki Ageng Ganjur dan musik salawatan Kanjeng Anom. Grup yang disebut terakhir ini bahkan telah menelurkan dua album religi, yakni "Mencari Ridhomu" pada 2007 dan "Kebesaran Tuhan" pada 2009.

Kanjeng Anom yang bermarkas di Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta, memadukan banyak alat musik. Antara lain saron, seruling, biola, rebana, gitar, bas, sampai keyboard. Nama grup ini diberikan Emha. Musababnya, sebelum membentuk kelompok musik, banyak anggotanya yang semula ikut dalam Komunitas Kiai Kanjeng.

G.A. Guritno, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)



ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA 46/ XVI 29 Sep 2010 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Pariwara
Perspektif
Surat & Komentar
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com