Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

PERGURUAN DINIYYAH PUTERI
Era Baru di Tangan Generasi Keempat

Pesantren tertua khusus perempuan ini telah melahirkan tokoh-tokoh wanita di Malaysia. Modernisasi seluruh sistem pendidikannya berjalan enam tahun belakangan ini.

Udara terasa sejuk kendati waktu sudah menjelang tengah hari. Kabut masih menyelimuti puncak Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat, yang melatarbelakangi kompleks pesantren itu. Lokasi lembaga pendidikan ini hanya sekitar satu kilometer dari Terminal Bus Bukit Surungan, Padangpanjang. Di atas areal seluas empat hektare lebih, dibelah Jalan Abdul Hamid Hakim, pesantren khusus perempuan bernama Perguruan Diniyyah Puteri itu tampak cukup megah. Di sisi kiri jalan terdapat kawasan asrama para santriwati, sedangkan di sisi kanan berdiri kompleks gedung pendidikannya.

Lalu ada bangunan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, persis di seberang gedung utama pesantren. Semua temboknya dilabur dengan kombinasi warna putih dan hijau muda. ''Putih itu warna kesenangan Rasulullah, sedangkan hijau simbol surga,'' ujar Fauziah Fauzan.

Sudah tiga tahun ini Fauziah resmi memimpin perguruan itu. Di usianya yang sudah 86 tahun, banyak perubahan yang dialami lembaga pendidikan ini. Terutama setelah ia terjun menangani manajemennya sejak 2003. ''Kami bertekad menjadikan Diniyyah Puteri sebagai lembaga pendidikan Islam modern dan berkualitas berbasis Al-Quran, hadis, serta ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Kami ingin mencetak generasi Qurani yang siap menjawab tantangan di masa depan,'' katanya.

Fauziah mengaku, ketika ia mulai dilibatkan, perguruan yang didirikan nenek buyutnya itu dalam keadaan stagnan tanpa terobosan berarti. Kondisinya pun agak memprihatinkan dalam banyak hal, sehingga terkesan ketinggalan zaman. Bahkan terlihat kumuh, kurang displin, dengan sampah di sana-sini dan coreng-moreng di dindingnya. ''Saya melihat perlu perbaikan dan penataan kembali di semua bidang,'' ujarnya.

Karena itulah, sejak duduk sebagai wakil direktur perguruan ini pada 2003, Fauziah merancang program yang disebutnya re-engineering. Konsep perbaikan pendidikan berjangka 10 tahun itu boleh dibilang meliputi semua bidang. Mulai perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan mutu tenaga pendidik, hingga mengubah pola manajemen, budaya kerja, dan sistem pendidikannya.

Ia pun memperkenalkan dan menerapkan konsep manajemen modern di pesantren itu. Fauziah berusaha mengubah mindset dan budaya kerja lama, mulai penegakan disiplin dan aturan baru. Ia juga melakukan penataan ulang tenaga pendidik, kurikulum, serta pola baru dalam sistem penerimaan santriwati. Semua itu dilakukan cukup ketat. Hasilnya, sejak 2004, mutu tenaga pendidiknya mulai meningkat dan tidak sembarang siswi bisa mondok di pesantren ini.

Sebelumnya, menurut Fauziah, Diniyyah Puteri menerima begitu saja siswi yang mendaftar tanpa proses seleksi. Pada waktu itu, Diniyyah Puteri pun menjadi semacam tempat bagi banyak orangtua untuk menitipkan anaknya yang bermasalah. Walhasil, perguruan ini jadi tempat berbaur anak yang baik dengan yang bermasalah. ''Semua ini harus diubah. Itu sebabnya, saya mengadakan seleksi ulang siswi untuk tahun ajaran 2004/2005. Pola seleksi itu yang berlaku sampai sekarang,'' katanya.

Ada beberapa tahap seleksi yang diterapkan Diniyyah Puteri bagi para pendaftar. Seleksi pertama tentulah menyangkut kemampuan akademis. Untuk itu, Diniyyah Puteri tidak terlalu mementingkan nilai ujian nasional, melainkan lebih mempertimbangkan nilai rapor calon. Lalu mereka menjalani tes pengetahuan agama, ibadah salat, dan membaca Al-Quran. Setelah itu, ada tes psikologi dan wawancara.

Wawancara dengan calon siswi dan orangtuanya dilakukan secara terpisah, untuk mengetahui motivasi mereka masuk perguruan ini. ''Jangan sampai terjadi anak dipaksa masuk ke sini oleh orangtuanya, karena tidak baik bagi si anak dan juga iklim pendidikan di sini,'' ujar Fauziah.

Demi peningkatan mutu pendidikan itu pula, Fauziah mengajak 90 guru dan tenaga pendukung di Diniyyah Puteri untuk mengadakan studi banding ke beberapa lembaga pendidikan modern. Kunjungan ke sekolah Insan Cendekia Al-Kausar binaan B.J. Habibie, Sekolah Global Jaya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tazkia, hingga Pesantren Modern Al-Zaytun di Indramayu benar-benar membuka cakrawala mereka. Malah mereka menjalani training di Daarut Tauhiid, Bandung. Mereka inilah yang kemudian menjadi agen-agen yang mempercepat perubahan di perguruan itu.

Langkah perubahan itu memang sempat menuai protes keras, terutama dari kalangan orangtua santriwati. Sebab, dengan proses seleksi ketat itu, separuh santriwati terpaksa keluar dari pesantren, sehingga yang tersisa sekitar 1.000 siswi pada semua tingkatan. ''Ini perlu saya lakukan agar proses pendidikan di sini berjalan lebih efektif. Bukan saja di ruang kelas, melainkan juga di asrama,'' tuturnya.

Fauziah melukiskan, banyak hal yang dicapainya dengan penerapan sistem baru untuk peningkatan mutu itu. Di kelas, para guru jadi lebih mudah memantau perkembangan anak didik mereka. Kalau tadinya jumlah siswi di kelas rata-rata 35 orang, kini menjadi 20-25 orang. Apalagi, ia menerapkan standar yang tinggi untuk tenaga pendidik.

Di asrama, para pengawas tiap ruangan pun lebih mudah membimbing adik-adik asuhan mereka. Kini jumlah siswi mondok di tiap kamar asrama tidak lebih dari 20-30 orang, sehingga masih tersedia ruangan untuk tempat mereka belajar bersama. Dulu, tiap kamar bisa dihuni sampai 50 santriwati.

Di kompleks asrama yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari dua hektare itu dibangun juga beberapa ruangan audio-visual. Di situ, para santriwati berdiskusi tentang masalah yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Tidak sekadar itu. Demi efektivitas pendidikan di pesantren ini, Fauziah membentuk lima divisi pendukung pendidikan. Ada divisi bernama Diniyyah Training Center (DTC) yang berfungsi sebagai lembaga pelatihan bagi para santriwati. Di sini, mereka mendapat gemblengan lahir-batin dan motivasi lewat pendidikan outdoor. Divisi ini juga melayani jasa pelatihan bagi para karyawan perusahaan. ''Tahun lalu, DTC mengadakan pelatihan untuk karyawan PT Semen Padang,'' kata Fauziah.

Ada juga Diniyyah Information Technology Center, Diniyyah Research Center, Diniyyah Tahfidzul Quran, dan Diniyyah Counceling Center (DCC). Divisi yang disebut terakhir itu berfungsi besar membantu para santriwati selama menjalani pendidikan di sini, terutama untuk tingkat aliyah. Di tingkat ini, ada tiga jurusan yang tersedia bagi para santriwati: jurusan keagamaan, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial. Dibantu lima psikolog, lembaga ini membimbing para santriwati menentukan arah pendidikan yang sesuai dengan kompetensi mereka.

''Lembaga ini juga jadi tempat 'curhat' para santriwati bila mereka punya masalah pribadi,'' kata Fauziah lagi. Di dalam bangunan DCC memang tampak beberapa ruang untuk konsultasi. Di dindingnya tertempel foto beberapa belas siswa yang telah lulus, dengan coretan moto hidup dan cita-cita mereka di bawahnya. Terbaca di situ, ada yang ingin jadi duta besar, ada yang mau menjadi ustadzah, ada pula yang hendak menjadi pakar sains dan rektor sebuah perguruan tinggi terkenal.

Selain itu, di kompleks gedung sekolah tersedia berbagai laboratorium. Mulai laboratorium ilmu pengetahuan alam, bahasa, komputer, hingga laboratorium tata busana dan tata boga. Dua laboratorium terakhir itu berfungsi sebagai tempat pendidikan keterampilan para santriwati.

Di luar jam belajar, Diniyyah Puteri juga tak kering dari kegiatan ekstrakulikuler. Di sana ada kegiatan rutin, mulai kesenian, kepanduan, marching band, hingga latihan kepemimpinan, di bawah naungan Persatuan Kulliyatul Mualimat. Salah satu yang patut diacungi jempol adalah kegiatan yang digelar pada Januari silam. Organisasi intrasekolah para santriwati ini mengadakan lomba matematika tingkat sekolah menengah pertama se-Kabupaten Tanah Datar, Agam, Padangpanjang, dan Bukittinggi.

Prestasi lain diukir pula oleh seorang santriwatinya pada tahun lalu. Siswi kelas XI Diniyyah Puteri bernama Nadiatul Hasanah terpilih menjadi duta pelajar Indonesia ke Jepang. Ia lolos seleksi untuk ikut program kegiatan pertukaran pelajar Jepang dan Asia Timur. Ia menjadi satu-satunya utusan dari pesantren se-Sumatera Barat dalam program yang digelar Japan Foundation itu.

Walau demikian, Fauziah mengakui, banyak hal yang masih harus dibenahi di perguruan ini. Salah satu prioritasnya sekarang adalah membiasakan penggunaan bahasa Inggris dan Arab di semua lini. ''Semua. Mulai pesuruh kantor hingga petugas dapur kami beri kursus bahasa. Paling tidak, agar mereka bisa berdialog dalam bahasa asing dengan para siswi di sini,'' tuturnya.

Sejalan dengan itu, perguruan ini juga tengah mengembangkan divisi usahanya. Untuk sementara ini, ada beberapa usaha yang telah berjalan, seperti tempat fotokopi, minimarket, penginapan, laundry, dan rumah makan. ''Lumayan. Pemasukannya untuk menambah biaya penunjang pengembangan pendidikan kami,'' katanya.

Harus diakui, Diniyyah Puteri kini memasuki era baru di tangan generasi keempatnya. Itu pun boleh dibilang karena Fauziah punya latar belakang kuat untuk pengembangannya. Sebelum menangani Diniyyah Puteri, sarjana ekonomi lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung, dan master ilmu sosial dari Universitas Indonesia ini punya banyak pengalaman menangani pendidikan di LP3I.

Erwin Y. Salim

Sang Perintis: Doktor Perempuan Pertama

Berada di dalam kompleks bangunan itu, suasananya terasa khidmat, hening, dan damai. Mungkin banyak yang tak tahu, perguruan ini boleh dibilang pesantren tertua khusus perempuan di Tanah Air. Sejak berdiri pada 1 November 1923, lebih dari 19.000 lulusannya tersebar di Indonesia dan mancanegara. Di antara para alumninya pun tercatat sejumlah nama beken.

Di Indonesia, Diniyyah Puteri setidaknya telah melahirkan dua politikus perempuan ternama: Rasuna Said dan Aisyah Aminy. Di Malaysia, tercatat nama mantan Menteri Sosial Tan Sri Datin Aisyah Gani, dua mantan Ketua Dewan Muslimat Partai Islam se-Malaysia (PAS), Siti Zubaidah dan Datin Sakinah, serta mantan Direktur Bank Rakyat Malaysia, Salmah Husain.

Andaikan hayat masih dikandung badan, sang pendiri bernama Rahmah El Yunusiyyah itu niscaya bangga. Hasil jerih payahnya sejak 1 November 1923 itu bermula dari sebuah madrasah tsanawiyah, lalu semakin berkembang serta dikelola secara modern dan profesional. Kini Perguruan Diniyyah Puteri memiliki lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi Ilmu Tarbiyah.

Lahir di Bukit Surungan, Padangpanjang, Jumat pagi 20 Desember 1900 (1 Rajab 1318 H), Rahmah adalah anak bungsu pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafiah. Ia dibesarkan dalam tradisi Islam yang kuat karena ayahnya seorang ulama terkenal pada masanya. Dari awal, ia banyak mengenyam pendidikan agama dari dua kakaknya, Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad, yang juga masuk jajaran ulama ternama di Sumatera Barat. Ia pun banyak mengenyam ilmu dari ulama-ulama besar lainnya, seperti Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Jamil Jambek, dan Syekh Daud Rasyid.

Tak puas hanya ilmu agama, Rahmah juga mengikuti kursus kebidanan di Rumah Sakit Umum Kayutanam. Ia memperdalam bidang itu dari beberapa dokter, sampai memperoleh sertifikat praktek kebidanan. Bahkan ia mempelajari ilmu olahraga dari seorang guru Belanda di Guguk Malintang.

Rahmah menikah di usia belum genap 16 tahun pada 15 Mei 1916. Tapi usia perkawinan itu tak berumur panjang karena perbedaan paham dengan sang suami. Mereka bercerai pada 1922. Hal ini juga memicu Rahmah untuk mengembangkan sayapnya di dunia pendidikan khusus perempuan. Ia bertekad mengangkat derajat perempuan lewat pendidikan.

Pada 1 November 1923, dengan dukungan Zainuddin Labay yang telah mendirikan Diniyyah School pada 1915, Rahmah mendirikan sekolah khusus perempuan. Ia melekatkan nama Almadrasatul Diniyyah untuk sekolahnya itu. Sebagai tenaga pengajar, ia dibantu kawan-kawannya dari Diniyyah School milik sang kakak. Tak kurang dari 71 remaja dan ibu rumah tangga tercatat sebagai siswi pertama sekolah ini.

Kurun waktu 1924-1926 merupakan masa ujian berat bagi Rahmah dan sekolah itu. Pada 1924, Zainuddin Labay yang menjadi pengayom Diniyyah Puteri wafat. Banyak orang menyangka sekolah itu bakal bubar sepeninggal sang kakak. Ternyata Rahmah bertahan dan bahkan bisa mengembangkan sekolah itu.

Sangkaan tadi menguat lagi setelah bencana gempa besar pada 28 Juni 1926 merobohkan bangunan sekolah itu. Dengan bantuan banyak pihak, Rahmah kembali bertahan dan mengembangkan sekolah berasrama Diniyyah Puteri pada 1928, dengan metode pendidikan mutakhir pada masanya. Delapan tahun kemudian, ia membuka tiga cabang Sekolah Diniyyah Puteri di Jakarta.

Perhatiannya bagi kemajuan kaum perempuan tidak pernah padam sampai akhir hayatnya. Rahmah wafat pada 26 Februari 1969. Sebelum wafat, ia sempat mewujudkan cita-citanya mendirikan lembaga pendidikan tinggi khusus perempuan. Pada 22 November 1967, berdirilah Perguruan Tinggi Diniyyah Puteri, yang memiliki fakultas tarbiyah dan dakwah.

Sejak awal mendirikan sekolah khusus perempuan, Rahmah mengembangkan konsep pendidikan terpadu. Ia tidak saja mengembangkan pendidikan agama, melainkan juga pendidikan praktis, seperti menenun, menyulam, bahkan kesehatan dan kebidanan. Para santriwatinya pun tidak cuma diajari menulis dan membaca bahasa Arab, melainkan juga bahasa Belanda. Para siswinya pun dididik piawai berpidato. Sampai-sampai, sekolah ini sempat mendapat gelar sebagai "tempat ayam betina berkokok".

Berkat kegigihannya di dunia pendidikan wanita, Rahmah dianugerahi gelar Syaikhah oleh Senat Guru Besar Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1957. Gelar yang setara dengan doktor ini baru pertama kali diberikan kepada perempuan Indonesia. Malah semua upayanya mengembangkan Diniyyah Puteri memberi inspirasi kepada universitas Islam terkenal itu untuk mendirikan Kulliyatul Lil Banat alias perguruan tinggi khusus untuk perempuan.

Lia Murni: Ingin Seperti Ibu Fauziah

Gadis manis ini punya hobi persis ayahnya: bulu tangkis alias badminton. Prestasinya pun lumayan. Tahun lalu, ia menjadi juara dalam ajang turnamen bulu tangkis antarpesantren putri se-Indonesia di Banjarmasin. Jangan salah. Dia bukanlah warga Indonesia. Ayahnya pemain bulu tangkis andalan Malaysia tahun 1980-an: Misbun Sidek. Namanya, Lia Murni binti Misbun Sidek. Lia adalah satu dari sekian banyak warga negeri jiran yang tercatat menuntut ilmu di Perguruan Diniyyah Puteri.

Sudah tiga tahun Lia mondok di pesantren yang cukup terkenal di kalangan warga Malaysia itu. Ayahnya yang mengantar Lia ke perguruan ini. Kini gadis kelahiran Kuala Lumpur, 16 Maret 1991, itu duduk di kelas XI madrasah aliyah. ''Selain pelajaran agama, saya senang sekali pelajaran bahasa Arab dan Inggris,'' katanya.

Walau hanya setahun sekali dijenguk sang ayah, Lia mengaku tetap kerasan berada di lingkungan sekolah ini. Ia merasa mendapat banyak sahabat dari berbagai daerah di Indonesia. Di perguruan inilah ia meletakkan harapan meraih cita-citanya. ''Saya ingin jadi seperti Ibu Fauziah,'' ujarnya malu-malu.

Putri kedua dari empat anak Misbun itu memang bercita-cita jadi guru. Lain dari saudara kembarnya. ''Kembaran saya, Ramdan, jadi pemain bulu tangkis remaja di Malaysia,'' katanya. Ia juga mengaku kerap berkomunikasi lewat telepon dengan ayah-bundanya manakala kerinduan menyergap dirinya.

Apalagi, dia tengah dirundung kesedihan. Sang ayah batal menyambanginya karena mendampingi ibundanya, Latifah Sidek. Latifah menderita gagal ginjal dan baru saja menjalani perawatan di Cina. ''Doakan, ya, agar Mama cepat pulih,'' katanya sendu.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah Gatra Edisi 45-46/2009 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Advetorial
Edisi Khusus
Iklan
Kolom
Laporan Utama
Perspektif
Serambi
Surat & Komentar
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com