spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
NASIONAL
spacer
 
Kematian Chandran Membuka Aib Twin Pack

Helikopter TNI AU Jenis S58 Twin Pack yang Jatuh di Riau (Antara/Evy Rsyamsir)Aroma tak sedap belum terhirup beberapa jam setelah jatuhnya sebuah helikopter milik TNI Angkatan Udara (AU) di Kabupaten Pelalawan, Riau, Senin pekan lalu. Bahkan, sehari setelah kecelakaan, kabar yang berembus di media massa hanya menyebutkan bahwa sebuah helikopter TNI-AU jenis F-58-T Twin Pack jatuh di sebuah kebun kelapa sawit di Desa Lubuk Agung. Helikopter berusia 32 tahun itu terempas ke tanah sekitar pukul 15.05 WIB.

Seorang saksi mata menyebutkan, kurang lebih 10 menit sebelum kecelakaan, helikopter itu sempat mendarat di sebuah perkebunan. Lalu tampak sejumlah orang sipil turun dari helikoper dan mengamati keadaan sekitar lokasi perkebunan. Bahkan salah satu penumpang beberapa kali sempat memotret pemandangan sekitarnya. Beberapa menit kemudian, helikopter mengudara dan melanjutkan perjalanan.

Selang beberapa menit berikutnya, penduduk melihat helikopter itu oleng, berputar-putar untuk sesaat, seolah mengambil ancang-ancang untuk melakukan pendaratan darurat. Dalam hitungan detik, gaya gravitasi bumi seakan menyedot helikopter turun dengan cepat. Terempaslah pesawat beserta penumpangnya ke bumi.

Data awal menyebutkan, penumpang pesawat nahas itu berjumlah sembilan orang. Terdiri dari empat anggota TNI-AU dan lima warga sipil. Dalam tempo kurang dari satu jam, semua penumpang yang terluka dievakuasi ke Pekanbaru. Kepala Kepolisian Resor Pelalawan, Ajun Komisaris Besar Gusti K. Gunawa, menyatakan bahwa setengah jam setelah kejadian, baru ada kontak. "Kami langsung ke lokasi dan mengevakuasi korban," katanya.

"Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini," kata Gusti. Hal itu juga dibenarkan Kepala Dinas Penerangan TNI-AU, Marsekal Pertama Daryatmo. "Tidak ada korban sipil," katanya. Kemungkinan awal, menurut Daryatmo, kecelakaan itu disebabkan kerusakan mesin. "Sebelum heli jatuh, engine warning light menyala," ujarnya.

Di samping itu, sempat ada kontak antara pilot heli dan menara terdekat yang berjarak 30 kilometer dari lokasi kejadian. Disebutkan pula, heli itu terbang dalam rangka latihan menuju Eria, tempat latihan milik TNI-AU. Sebelum terbang, pesawat pun dinyatakan dalam kondisi layak mengudara. Dengan adanya kecelakaan pesawat itu, untuk sementara helikopter jenis F-58-T Twin Pack yang dioperasionalkan TNI-AU dilarang terbang.

Cerita soal kecelakaan heli tersebut dalam sekejap berubah drastis, ketika salah satu korban sipil yang dievakuasi kemudian meninggal. Korban meninggal itu ternyata pengusaha asal Singapura bernama Robert Viswanthan Chandran. Embusan pemberitaan tidak sekencang ini jika korban tewas hanya seorang warga sipil biasa.

Robert Chandran, menurut versi majalah Forbes, adalah orang terkaya nomor 14 dari 40 milyuner Singapura. Ia pendiri dan pemilik Chemoil Corporation, perusahaan kelas dunia yang menekuni bidang penyaluran minyak untuk kapal. Candran memegang 37,5% saham di Chemoil. Pendapatan Chemoil, yang 50% sahamnya dimiliki Itochu Corporation, Tokyo, mencapai US$ 3,5 milyar per tahun.

Pengusaha kelahiran Mumbai, India, 31 Mei 1951, itu juga membawa Chemoil menjadi anggota 14 grup perusahaan yang tersebar di enam negara yang bergerak di bidang perangkat lunak. Namanya, California Software. Di perusahaan perangkat lunak itu, Chemoil memiliki saham 35%. Keesokan harinya, kabar buruk mengenai Chandran tersebut kontan membuat harga saham Chemoil di lantai bursa Singapura anjlok hingga 16%. Pelaku pasar khawatir atas masa depan perusahaan itu sepeninggal Chandran.

Bahkan beberapa acara penting perusahaan dibatalkan guna menghormati kepergian Chandran. "Peresmian Terminal Helios ditunda untuk menghormati Robert V. Chandran," demikian pernyataan Chemoil. Meski ada penundaan peresmian, menurut pihak Chemoil, aktivitas di terminal yang memiliki kapasitas 448.000 meter kubik itu akan mulai berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan, yakni pada Januari ini.

Kemudian, pada hari Rabu, koran terbitan Singapura, The Straits Times, menulis obituari Cahndran sepanjang dua halaman. Ini tampak sebagai pertanda berkabungnya Singapura atas meninggalnya pengusaha yang memiliki reputasi global itu. "Kematiannya adalah kehilangan besar bagi keluarga, Chemoil, dan Singapura," kata Hsieh Fu Hua, Chief Executive Singapore Exchange, seperti dikutip The Straits Times.

Koran itu mengisahkan bagaimana 70 pegawai di kantor pusat Chemoil di Millennia Tower, Singapura, tampak murung dan terguncang. Kepergian Chandran begitu mendadak dan mengagetkan. "Saya mengira, itu kecelakaan biasa. Kami berharap, pagi ini sudah melihat dia masuk kantor seperti biasa. Saya sangat terkejut ketika mendapat kabar dari rumah sakit bahwa dia meninggal," kata Winnie Gonsalves, asisten pribadi Cahndran.

Kematian Chandran otomatis menyingkap rahasia yang seolah ditutupi mengenai jumlah korban jatuhnya helikopter Twin Pack di Pelalawan itu. Ternyata warga negara asing yang naik heli nahas itu tak hanya Chandran. Dia ditemani Vice President of Business Development Chemoil Energy Ltd, Terrence Michael Gidlow. Beruntung, meskipun mengalami luka-luka, Gidlow masih bisa selamat dari tragedi tersebut.

Begitu kondisi tubuhnya stabil. Gidlow langsung dievakuasi dari Rumah Sakit Awal Bros, Pekanbaru, menuju Singapura. Sedangkan proses perawatan atas jasad Chandran sebelum dimasukkan ke peti mati dilakukan di Rumah Sakit Awal Bros dengan pengawalan ketat petugas keamanan. Konsul Singapura di Pekanbaru, Raj Khumar Singh, dan rombongan tampak melihat dari dekat jenazah korban.

Dengan kematian Chandran, terungkap pula bahwa jumlah total korban sipil bertambah menjadi tujuh. Bukan lima orang sebagaimana versi aparat sebelumnya. Ketujuh orang itu adalah dua petinggi Chemoil warga negara Singapura dan lima orang sipil lainnya, yakni: Harino, Hendri, Alexander Thaslim, Andre Handhika, dan Heri Kuncoro. Keberadaan beberapa orang sipil di helikopter yang merupakan bagian dari alat utama sistem kesenjataan (alutsista) milik TNI-AU pun itu pun memicu kontroversi.

Apalagi sampai ada warga negara asing yang dapat menumpang helikopter milik TNI-AU. Pasalnya, naik helikopter milik TNI bukan perkara mudah. Butuh prosedur tertentu hingga ada izin dari Mabes TNI. Untuk urusan kemanusiaan pun, penggunaannya tidak semudah yang dibayangkan. Hal ini menimpa mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Ahad, 23 September tahun lalu.

Pada waktu itu, Megawati dan rombongan yang akan menyerahkan bantuan untuk korban gempa di Kepulauan Mentawai batal berangkat. Sebab ada larangan penggunaan helikopter milik TNI-AU dan TNI-AD yang berada di bawah Kodam I Bukit Barisan di Padang, Sumatera Barat. Menanggapi halangan itu, Megawati hanya menyatakan cukup prihatin. "Masyarakat yang akan menilai. Katanya mau berdemokrasi, ya, silakan nilai sendiri," katanya.

Kini, begitu tragedi jatuhnya heli yang makan korban warga negara Singapura, pelarangan terhadap Megawati memakai heli TNI itu diungkit anggota Fraksi PDIP DPRD Riau, Hotman Manurung. "Kenapa giliran orang asing diperbolehkan meminjam, justru mantan presiden kita sendiri ditolak," ujarnya. Terlepas dari diskriminasi tersebut, soal penggunaan alat tempur milik negara oleh warga sipil dan orang asing itu memicu tuduhan kemungkinan adanya bisnis alat tempur milik negara.

Pertanyaan yang harus dijawab: mengapa orang sipil dan warga negara asing bisa menumpang helikopter nahas itu? Dan apakah mungkin mereka naik begitu saja dengan gratis? Pasalnya, untuk mengoperasikan helikopter keluar dari sebuah pangkalan, dibutuhkan biaya tidak sedikit. Apakah ada kemungkinan heli itu disewakan oknum aparat?

Tabrani Rab, guru besar Fakultas Perikanan Universitas Riau, kepada detik.com mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali menyewa heli milik TNI-AU Pekanbaru. Terakhir, ia menyewa heli TNI sekitar dua tahun lalu. Soal harga sewanya, tokoh politik Riau itu mengungkapkan, tidak ada patokan, tergantung negosiasi saja. Angka pastinya dia lupa, tapi sekitar belasan juta per jamnya.

Mengenai dugaan adanya heli yang disewakan ke warga sipil, sudah ada bantahan beberapa kali dari Komandan Lanud (Danlanud) Pekanbaru, Kolonel (P) Gandara Olivenca, kepada wartawan. Dalam kesempatan di Rumah Sakit Awal Bros ketika heli itu terjatuh, kepada pers Gandara menyatakan, tidak pernah ada penyewaan heli pada siapa pun.

Bantahan serupa dinyatakan Kepala Staf TNI-AU (KSAU), Marsekal Madya Subandrio, usai upacara serah-terima jabatan Panglima TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa pekan lalu. "Kalau soal ada kabar disewa, tidak ada itu," katanya. KSAU Subandrio menambahkan bahwa pihaknya tengah menyelidiki keberadaan tujuh penumpang sipil dalam helikopter itu. "Nanti, selain penyebab kecelakaan, kami juga akan mengecek kenapa sampai ada penumpang di situ," ujarnya.

Selang tiga hari kemudian, tepatnya Jumat pekan lalu, di Gedung Persada Halim Perdanakusuma, Jakarta, KSAU Subandrio menggelar jumpa pers menyangkut kecelakaan heli di Pelalawan tersebut. Dia tegas membantah dugaan bahwa heli itu disewakan untuk bisnis. "Saya tegaskan bahwa tidak ada pesawat militer yang dibisniskan," katanya.

KSAU juga mengambil langkah tegas pada bawahannya yang dinilai harus bertanggung jawab. "Saya akan ambil tindakan tegas. Saya copot dari jabatannya," ujar KSAU. Penerbangan itu, menurut Subandrio, adalah tanggung jawab Danlanud Pekanbaru. Setiap pergerakan pesawat di wilayah itu menjadi tanggung jawab Danlanud.

Di samping itu, kata Subandrio, keberadaan orang sipil dan warga negara asing dalam heli tersebut telah melanggar prosedur. Seluruh penumpang sipil di heli itu tidak memiliki security clearance. Memang bukan perkara mudah untuk mendapatkan security clearance itu. Harus ada keputusan langsung dari Panglima TNI dan pusat.

Tidak dilaluinya prosedur itu membuat pusat sama sekali tidak tahu bahwa heli tersebut membawa warga sipil dan warga negara asing. Insiden itu membuat KSAU kecewa. "Baru seminggu saya jadi KSAU, belum seminggu saya ngomong tentang kedisiplinan ini, tapi sudah ada pelanggaran disiplin seperti itu," kata Subandrio.

Menyangkut dugaan bahwa heli itu sempat mampir ke kilang minyak PT Kalila, Subandrio tidak bisa memastikan karena tidak ada laporan yang masuk kepadanya. "Kalau turun di ladang minyak, saya tidak tahu. Tidak ada laporan itu," katanya. Yang pasti, heli itu jatuh pada jarak 20-40 kilometer dari Lanud Pekanbaru, tempat keberangkatan.

Melihat posisi jatuhnya, kemungkinan heli itu menyimpang arah sangat kecil. Dugaan bahwa para penumpang sipil memakai heli milik TNI-AU dalam rangka peninjauan perkebunan kelapa sawit untuk maksud pengembangan bisnis bahan bakar nabati, biofuel, juga tidak bisa dipastikan. Untuk menjelaskan tragedi itu, memang harus menunggu hasil penyelidikan hingga tuntas.

KSAU menyatakan, diperlukan waktu kurang lebih satu bulan untuk mendapatkan hasil akhir penyelidikan. Subandrio berjanji, jika penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan dan keberadaan warga sipil di heli tuntas, hal itu akan disampaikan pada media massa. Transparansi yang coba diupayakan KSAU yang baru ini diharapkan dapat membuka lembaran baru pertanggungjawaban tentang peralatan negara kepada rakyat.

Sebab demi rakyatlah semua peralatan militer dan keamanan negara dioperasionalkan.

G.A. Guritno
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 10 Beredar Kamis, 17 Januari 2008]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  numpang mimpi (kyi_demang2000@ya..., 28/01/2008 22:52)
sepertinya kita perlu reformasi lagi,ganti semua pejabat,kalo perlu ganti presiden n para menteri,habis SBY gak bisa ngapa2in ,ternyata selain polri, TNI pun suka korupsi, diam diam bisnis apapun juga dibuat bisnis paman saya tinggal di pulau Natuna,dia kalo mau ke jakarta harus ke riau naik hercules punya TNI, tuh bukti kalo TNI tukang bisnis,,kapan ya indonesiaku bisa bebas dari korupsi???mimpi kali ya , eh iya saya memang lagi mimpi.
 
 
spacer
  
  tentara ber-bisnis abracadabra (lexus3mine@ya..., 25/01/2008 16:58)
Semakin transparan bisnis para jenderal dengan pengusaha singapura atau malaysia.

Bisnis APA itu? Yah apalagi kalau tidak jual kekayaan alam Indonesia , antara lain......................................
(kayu, minyak, kelapa sawit, pembakaran hutan menjadi charcoal, yang dijual ke ............. kita tau deng kemana itu dijual charcoal ton/bulan).

Saya kasihan rakyat Indonesia tidak pernah jadi pintar dibodohin terus. Seharusnya rakyat Indonesia itu tidak perlu miskin, susah makan dan bers... <105 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  siap siap untuk kecewa (Rayyas@ya..., 25/01/2008 14:27)
Ah..paling paling ini cerita nggak sampai sebulan dah hilang..jadi kalo kita rakyat ingin tahu gimana cerita sebenarnya kita tunggu aja nanti di padang masyar tempat kita semua bakal diadili dengan maha adil..jadi kita jadi tahu siapa yang bohong!! kalo sekarang nggak bakalan deh sampai lebaran monyet pun nggak bakalan..so bagus kita lihat sepak bola liga indonesia yang ada plus plusnya ada karate,pencak silat bakar bakaran..seru euy!!
 
 
spacer
  
  Hercules juga (room786091@ya..., 25/01/2008 11:13)
Saya juga pernah mendengar langsung dari salah satu penumpangnya (teman saya) bahwa psawat hercules TNI juga membawa orang sipil (komersial) Balikpapan - Surabaya
 
 
spacer
  
  demokrasi di republik mimpi (kyi_demang2000@ya..., 25/01/2008 11:07)
semua juga udah tahu kalo helikopter itu buat bisnis ,gak mungkin orang asing itu naik gratis ,dan duitnya kemana ???? ya ke oknum2 itulah..
kapan ya indonesia bisa maju dan gak ada korupsi,kkn, nepotisme ,aduh kalo liat indo semakin susah aja sepertinya ,harga kedelei yg melangit,minyak tanah udah mahal jarang lagi, menteri2 itu kemana ???????mimpi,mimpi,mimpi,,,,
 
 
spacer
  
  TNI memang pinter bisnis (andi_malabingung, 25/01/2008 07:53)
Kalau Megawati yang naik heli, yah udah pasti gratis. Makanya ditolak dengan berbagai dalih.
Sekarang orang terkaya 14 di Singapura, masa sich naik heli TNI gratis. Itu mah nggak usah dipikir pakai otak juga udah ketau-an.
 
 
spacer
  
  HELI GRATIS.? (yogi.obeng@ya..., 25/01/2008 05:25)
Mana ada orang percaya naik heli AURI gratis apa lagi yang naiknya pengusaha kaya...ngga usah berbelit dah..malu..! korban sipil ada. kalau bukan di sewakan dalam status apa korban naik di heli T.N.I AU..???..
 
 
spacer
  
  siapa pun bisa disewa di indonesia (kanguyut123@ya..., 25/01/2008 02:09)
diindonesia jangankan helikopter, jenderalnya pun kalau anda punya uang pasti anda bisa sewa...itulah negeri yang kita cintai..INDONESIA
 
 
spacer
  
  demokasi ternyata jadi crezy (daryadisby@ya..., 25/01/2008 00:50)
Ayoo kuat kuatan siapa yang akan dihukum dan dicopot??? sudah pasti jawabanya adalah gigi bukan kepala.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 25 January 2008 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer