Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Manajamen Syariah Bisnis Titipan

Ketika konsep waralaba belum jadi pembicaraan, 30 tahun silam TIKI sudah menerapkannya. Kiat jitu melawan serbuan pesaing asing.

Satu unit sepeda motor, satu mesin tik, dan kios berukuran 2 x 3 meter di daerah Roxy, Jakarta, itulah modal Soeprapto dan istri memulai bisnis pengiriman barang. Pada 1970 itu, Soeprapto menaungi bisnisnya di bawah bendera PT Citra Van Titipan Kilat, disingkat TIKI.

Pada waktu itu, mereka hanya melayani pengiriman dalam kota Jakarta. Baru dua tahun kemudian, TIKI melayani pengiriman ke Pangkal Pinang, Sumatera Selatan. Itu pun karena sang istri, Nuraini Suprapto, yang asal Pangkal Pinang, masih punya banyak kerabat di sana.

Pada 1972 juga terjadi perubahan manajemen dengan masuknya tiga pemegang saham, yakni Irawan Saputra, Gideon Wiraseputra, dan Raphael Rusmadi. Komposisi pemegang saham itu bertahan sampai sekarang.

Setelah 37 tahun, TIKI berkembang menjadi salah satu pemain besar di bisnis pengiriman barang. Mereka memiliki 62 kantor cabang dan lebih dari 800 gerai waralaba yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah karyawan di kantor pusat, Jakarta, saja mencapai 590 orang. Sedangkan jumlah pekerja yang terserap di waralaba sekitar 5.000 orang. Armada yang tadinya cuma satu sepeda motor itu pun berkembang menjadi 90 mini van, 150 motor, dan 10 truk.

Suprapto, kini 72 tahun, sudah pensiun dari bisnis. Pengelolaan TIKI diserahkan kepada anak-anaknya. "Aktivitas Bapak sekarang sosial. Bapak punya panti asuhan anak yatim dan lebih banyak mengurusi itu," kata Ahmad Ferwito, salah satu putra Soeprapto, yang menjadi Direktur Operasi TIKI.

Keberhasilan TIKI bertahan hampir 40 tahun tidak muncul begitu saja. Salah satu kunci sukses TIKI, karena Soeprapto sangat menghargai karyawan. Sebelum mendirikan TIKI, Soeprapto pernah merasakan susahnya hidup sebagai wong cilik. "Bapak dulu orang susah. Dagang macem-macem. Pernah dagang cabe," tutur Ferwito. Karena pengalaman pribadi itulah, dia ingin karyawannya sejahtera.

Niat itu diwujudkan dalam konsep profit sharing. Setiap bulan, laba bersih TIKI tidak seluruhnya masuk kas perusahaan. Di luar gaji tetap, ada porsi laba bersih yang dibagi rata ke seluruh karyawan, disebut bonus. Dari bonus inilah karyawan bisa mengetahui keuangan perusahaan. "Jadi, kalau bonusnya gede, karyawan tahu kondisi perusahaan lagi baik," ujarnya.

Niat mulia itu berdampak serius pada kinerja perusahaan. Kepercayaan pelanggan tumbuh, dan perlahan TIKI berhasil membangun jaringan sampai ke tingkat kecamatan. Pengembangan jaringan ini pun jadi salah satu kunci sukses.

Menurut Ferwito, jauh sebelum konsep waralaba populer, ayahnya sudah menerapkan strategi itu pada 1974. Ketika itu disebut kemitraan. Syarat untuk menjadi mitra pun tidak sulit. Selain menyertakan modal jaminan, mitra cukup punya tempat, mesin tik, dan satu sepeda motor. "Kalau sekarang syaratnya ditambah harus punya telepon. Sedangkan modal jaminannya sekarang Rp 25 juta," kata Ferwito.

Selain itu, TIKI juga menerapkan prinsip desentralisasi. Menurut Direktur IT dan Penjualan TIKI, Rocky Nagoya, untuk mendapatkan hak waralaba, peminat tidak perlu berurusan dengan kantor pusat. "Pengurusan waralaba cukup dilakukan dengan kantor cabang TIKI di daerah," katanya.

Karena kemudahan inilah, ekspansi gerai TIKI bisa sangat cepat. Sebagai gambaran, untuk wilayah Jakarta saja, jumlah gerai TIKI mencapai 172 buah. Lalu di Bandung ada 58 gerai.

TIKI juga mengikuti perkembangan zaman dengan membangun jaringan teknologi informasi guna mewujudkan layanan online tracking. Dengan sistem ini, konsumen bisa mengecek status barangnya dengan memasukkan nomor registrasi di website TIKI.

Terus-menerus mengikuti perkembangan zaman itulah yang membuat TIKI bisa eksis sampai sekarang. Padahal, kini persaingan bisnis pengiriman barang terbilang keras. Menurut data Asperindo (Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia), jumlah perusahaan pengiriman yang terdaftar sebagai anggota mencapai 122 perusahaan. Empat di antaranya adalah perusahaan asing dengan reputasi internasional, yakni DHL, FedEx, TNT, dan UPS Cardig.

Toh, TIKI mampu bersaing dengan raksasa-raksasa asing maupun pemain lokal yang jumlahnya ratusan. Keunggulan TIKI, menurut Rocky, adalah pengiriman hingga ke pelosok. "Jaringan TIKI itu nomor dua setelah kantor pos," katanya.

TIKI, menurut Rocky, pada saat ini masih bisa mempertahankan market share di kisaran 20%. Itu cukup bagus. "Tidak ada pemain yang menguasai pasar sampai 50%," ujarnya. Berapa omset TIKI? Untuk wilayah DKI, kata Rocky, berkisar Rp 9 milyar per bulan, dengan jumlah pengiriman 17.000 paket per hari. Kalau sedang ramai, misalnya ketika Lebaran, jumlah titik pengiriman bisa meningkat sampai dua kali lipat. "Secara keseluruhan, puluhan milyar per bulan," katanya.

Tapi TIKI tidak sekadar bertahan. Mereka juga ikut merebut market share layanan pengiriman barang internasional yang didominasi para pemain asing itu. Pada 2004, TIKI bekerja sama dengan Nationwide Express, salah satu perusahaan kurir terbesar di Malaysia. Lalu, di Singapura, TIKI menjalin kerja sama dengan Prime Express.

Ekspansi di bidang lain yang erat kaitannya dengan jasa pengantaran juga dikembangkan. Pada 2001 didirikan PT Tikindo, yang melayani jasa kargo dan distribusi. Lalu, tahun 2002, didirikan TIKI Wisata Tour & Travel, yang melayani pemberangkatan ibadah haji dan umrah.

Kiat lain bisa bertahan 37 tahun, kembali ke manajemen TIKI --dalam istilah Rocky-- yang bersifat "religius". Selain pola profit sharing yang mirip sistem bagi hasil ala syariah, setiap tahun TIKI mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari pendapatan perusahaan.

TIKI juga menghajikan pegawainya yang telah bekerja 25 tahun. "Di sini nggak ada karyawan yang digaji Rp 300.000. Office boy saja pendapatannya lebih dari Rp 1 juta. Selain itu, karyawan mendapat jatah beras 25 kilogram per bulan, kayak pegawai negeri, he, he, he...," katanya.

Konsep manajemen religius ini rupanya membawa berkah. Tahun 1998, ketika banyak perusahaan ambruk karena krisis moneter, omset TIKI justru melonjak. Menurut Rocky, pada saat krisis moneter, faktor kepercayaan perusahaan jadi pertimbangan utama pelanggan. Perusahaan kurir yang bisa dipercaya itulah yang dapat dipenuhi oleh TIKI lewat para karyawannya.

Ibarat ganti persneling, krisis moneter 1997 justru menjadikan TIKI pindah ke jalur cepat. Pertumbuhan perusahaan meningkat 20%. "Aneh, ya. Tapi Yang Mahakuasa kasih rezekinya begitu," ujarnya.

Manajemen religius itu, kata Rocky, datang dari para pendiri. "Di kantor ini, integrasi nilai-nilai agama adalah hal yang sangat diyakini oleh para pendiri. Kita percaya saja bahwa rezeki itu datang dari Tuhan," katanya.

Basfin Siregar
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi Khusus 17 Agustus 2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Internasional
Kolom
Lingkungan
Medela
Mukadimah
Musik
Nasional
Serambi
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com