Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MUSIK

Bahasa Hati Kedua

Di album kedua, Letto menampilkan karya yang lebih variatif. Liriknya sangat bernas dan kontemplatif.

LETTO

----------------------
Letto
Don't Make Me Sad
Musica Studio's
----------------------

Dulu personel Letto hanya bisa mengatakan, ''Kami yang akan memberi makna ke dalamnya,'' ketika arti nama band mereka ditanyakan. Selama hampir dua tahun berkiprah di belantara musik, anak-anak Yogyakarta itu menepati janjinya. Letto adalah sebuah perjalanan penuh warna.

Letto kini bisa pula diartikan sebagai kejutan. Ia juga menjadi definisi bagi kumpulan syair bernas dan melodi yang tak biasa. Representasinya terbentang dari Sampai Nanti Sampai Mati, Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, hingga Ruang Rindu. Kehadiran Letto seperti memberi udara segar.

Ketika hanya segelintir band yang memberi perhatian lebih pada melodi dan lirik, Letto memiliki kemampuan untuk itu dalam jumlah melimpah. Kapan terakhir kita mendengar lirik ''... tetap semangat dan teguhkan hati...'' tanpa terkonotasi dengan lagu perjuangan? Atau, ''... aku dan napasku merindukanmu...'' tapi bukan dalam konteks percintaan? Lalu, ''... a smile that hides a pain, why should you be ashamed...'' untuk menggambarkan pedihnya percintaan yang kandas.

Noe seperti tidak pernah kehabisan kata-kata. Ketika banyak orang meragukan bakatnya, Noe menyuguhkan sesuatu yang jauh berbeda dari balik kupluk lusuh obat gantengnya itu. ''... mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu....'' Lirik lagu Ruang Rindu itu seakan menjadi anthem bagi penikmat sinetron yang tayang selepas magrib beberapa bulan lalu.

Pilihan melodi yang keluar dari jemari Patub pun mengalir begitu saja. Tanggul yang membatasinya hanyalah durasi lagu belaka. Pria berkacamata ini mencoba melangkahinya ketika tampil di depan penggemarnya. Di tiap konser yang mereka gelar, Patub selalu datang dengan melodi yang berbeda-beda, lebih mengalir.

Sedangkan Arian dan Dedi seperti memang sudah ditakdirkan kawin di rhytm section. Meski pasar kurang menyadari potensi itu, Letto seperti tidak terganggu. Empat kawan sedulur itu tetap santai menanggapinya, dan mengambil pelajaran dari kondisi tadi.

Bahkan, ketika Letto mulai diperhitungkan, mereka tetap bersahaja. ''Kami tidak pernah menetapkan target,'' kata Noe. Ketika akhirnya Letto membukukan penjualan hingga 400.000 keping, dan status mereka pun berubah menjadi ''band potensial'' di mata Musica Studio's, Noe datang dengan kalimat, ''Langkah kami tidak tergantung status,'' katanya.

Sang mastermind Letto itu tak sekadar melepas peluru retorika kosong. Album kedua Letto, yang rencananya dirilis pada 17 Agustus, diproduksi dengan tetap mengangkat ciri khas band itu: lagu dan syair bermutu. Satu lagi yang menjadi ciri mereka ialah anak band yang penuh kegembiraan dan saling menghormati satu sama lain.

Ucapan terima kasih dan ungkapan kekaguman antarpersonel bukan pemandangan asing bila berhadapan dengan Letto. Bedanya, kali ini mereka dibalut tenggat. Delapan bulan sesungguhnya waktu yang cukup mepet untuk memproduksi sebuah album. Apalagi, ini album kedua yang pasti banyak diganduli oleh prestasi album pertama.

Tapi, ''Obstacle is the mother of creativity,'' kata Noe. Mereka pun mencoba mengumpulkan materi sepanjang melakukan tur di pelbagai kota. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Letto sebelumnya. Ini yang membuat jumlah lagu yang disodorkan lebih sedikit dibandingkan dengan album pertama.

Bila di ''Truth, Cry and Lie'' Letto menyodorkan 29 komposisi, kali ini jumlahnya jauh di bawah itu. Begitupun, persentase keberhasilan mereka meyakinkan telinga Musica Studio's lebih besar di album kedua. Empat lagu pada pengiriman pertama semua diterima.

Demikian juga dengan pengiriman-pengiriman selanjutnya hingga terkumpul selusin lagu. Dua lagu lawas Letto, Ephemera dan Hantui Aku, juga ikut rombongan itu. Satu lagu yang benar-benar digarap dalam kondisi darurat ialah My Liberty, Goodbye. Lagu bertempo cepat ini dibuat dari nol selama 36 jam.

Atas cepatnya proses seleksi itu, Noe hanya bisa menduga bahwa mereka sudah mampu menganalisis lagu macam apa yang diinginkan pasar. ''Insting aja sih,'' katanya. Bukan berarti karya Letto seperti yang ada di pasar pada saat ini, yang mendayu-dayu atau menyayat-nyayat dalam menceritakan cerita cinta. Atau datang dengan harmoni akord sederhana.

Sajian Letto di album ''Don't Make Me Sad'' (begitu judul album tersebut, yang diambil dari salah satu lagu di dalamnya) selangkah lebih maju dibandingkan dengan karya sebelumnya. Yang paling mudah terdengar ialah dari sisi produksi. Noe yang mengambil tugas mixing datang dengan hasil memuaskan. Bunyi bas yang menjadi penuntun lagu terdengar tegas.

Tahu bahwa lagu Bunga di Malam Itu memiliki kecenderungan lurus-lurus saja, Noe datang dengan ide panning kanan ketika giliran Patub mengisi melodi. Bunyi gitar Patub dibuat seakan berjalan dari kiri ke tengah lalu ke kanan, dan kembali lagi dari arah sebaliknya. Terus terang, sebelum saya melihat data di sampul album, sempat timbul dugaan bahwa proses mixing ini dilakukan operator yang lebih senior dan berpengalaman.

Patub terdengar lebih berani menjelajah leher gitarnya dan menghasilkan melodi lebih segar. Ia juga makin menyadari pentingnya membangun emosi dan nuansa. Di Permintaan Hati, misalnya, Patub tidak memaksakan penggunaan power chord yang berlebihan. Namun ia membalasnya di bagian lead.

Patub membangun sebuah struktur melodi sendiri, yang renyah, maskulin, tidak meleleh-leleh. Melodi itu makin terdengar enak berkat penggunaan efek delay yang tepat. Kesadaran membangun emosi dan nuansa juga terasa di bagian Arian dan Dedi.

Tak ada penonjolan teknis yang berlebihan di seksi ritem ini seperti pada album pertama. ''Kami belajar menahan diri,'' kata Arian. Dedi pun demikian. Ia harus menanggalkan pengaruh musik progresif ketika menggarap album ini. Perubahan yang paling mudah terdengar ialah makin berkurangnya bebunyian splash.

Di atas semua itu, dua jempol harus diberikan pada Noe, yang menulis selusin lirik pada album ini (dua lebih banyak dibandingkan dengan album pertama). Ide penulisan lirik, seperti diakui Noe, bisa datang dari mana saja. Pada lagu Memiliki Kehilangan, misalnya, lirik ''... rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya...'' dibuat berdasarkan pengalamannya kehilangan handphone.

Bagi Noe, setiap kejadian adalah informasi yang harus diolah. Kehilangan barang fana tadi dikembangkan ke dalam analogi kehidupan, yang kemudian bisa dikaitkan dengan satu fragmen saja darinya, seperti percintaan atau persahabatan.

Pengalaman yang diperoleh Letto setelah beken, yang mengharuskan band ini banyak menghabiskan waktu di Jakarta, juga direnungi oleh Noe. Kota yang menyediakan apa saja itu rupanya malah meniadakan satu hal esensial bagi Noe. Yaitu waktu untuk dirinya sendiri.

''Hampir tak ada waktu sejenak bagi otak untuk mengendapkan apa yang didapat,'' kata Noe. Ketika ''kemewahan'' tadi diperoleh, Noe mengungkapkan dalam kalimat, ''... indahnya membisu pandangi yang berlalu/bahasa tubuhmu mengartikan rindu...'' ketika ia menulis lirik untuk Sejenak.

Sesungguhnya Sejenak juga bisa digunakan untuk menggambarkan hubungan vertikal antara manusia dan penciptanya. Sama halnya seperti Bunga di Malam Itu. Noe menggambarkan kerinduannya pada keinginan untuk bertemu dengan Nabi Muhammad. Pesona yang dikeluarkan bunga dijadikan gambaran betapa indahnya pertemuan itu, meski sesungguhnya Noe yakin, ''... ku tak pantas memandangi wajahmu...''.

Di Ephemera, Noe mencoba menghubungkan kata itu (ephemera adalah sesuatu yang hidupnya singkat) dengan kenyataan hidup sehari-hari. Banyak kejadian tidak menyenangkan dihadapi manusia, tapi sesungguhnya itu hanya sementara.

Ada sebuah rencana besar dari Yang Mahakuasa bagi tiap orang. Jadi, seperti kesimpulan yang coba dibangun Noe, ''... everytime I glow, everytime I burn, I should not mind to mourne sometimes, it's just ephemera...''.

Letto seakan mengatakan bahwa lagu tentang hubungan vertikal macam itu tak harus dilepas menjelang momen tertentu (di album pertama pun Letto telah melakukannya lewat Sandaran Hati). Ia bisa dilakukan kapan saja sebagai bahan perenungan.

Yang disajikan Letto adalah rangkaian bahasa hati, bisa dilafalkan kapan saja.

Carry Nadeak


Cover GATRA Edisi Khusus 17 Agustus 2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Internasional
Kolom
Lingkungan
Medela
Mukadimah
Musik
Nasional
Serambi
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com