Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Manuver Gus Dur Menggoyang Muhaimin

PKB kembali dilanda konflik. Abdurrahman Wahid mengancam akan menggulingkan Ketua Umum Muhaimin Iskandar. Babak baru serial kisah partai yang kaya cerita konflik.

PARTAI KEBANGKITAN BANGSA

''PKB dapet salam dari Echa, simpatisan muda.'' Seorang pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membaca penggalan SMS itu, Selasa lalu. ''Echa yang mana?'' Ia membalas dengan penasaran. ''Eee... chapek deh! Konflik mulu!'' Pengurus PKB asal Jawa Tengah itu kontan tertawa lepas. Ia menimpali, ''Kalau yang nglihat aja capek, apalagi kami yang terlibat, pusiing!''

Perbincangan seluler itu mewarnai ingar-bingar PKB yang pekan lalu kembali menabuh genderang konflik internal. Ketua Umum Dewan Syuro Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Minggu lalu, mengancam akan melengserkan Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB. Padahal, Muhaimin dan timnya selama ini dikenal sebagai garda depan PKB kubu Gus Dur ketika berseteru dengan PKB faksi Alwi Shihab dan kaukus Kiai Langitan.

Setelah konflik dengan Alwi redup, seiring dengan kekalahan di pengadilan dan pilihan mereka mendirikan partai baru (PKNU), kini giliran Muhaimin sendiri yang disatroni Gus Dur. Presiden keempat RI ini tiba-tiba mengungkapkan adanya konspirasi yang mencoba menggulingkannya sebagai Ketua Umum Dewan Syuro PKB. Dalam skenario itu, ia menyebut Muhaimin melakukan standar ganda untuk menjatuhkannya.

"Bila Muhaimin masih bersikap mendua, muktamar akan kami gelar pertengahan September," kata Gus Dur kepada pers di ruang VVIP Bandara Juanda, Surabaya, Minggu lalu. Konspirasi ''kudeta'' yang dituduhkan Gus Dur itu kian panas, karena juga menyenggol nama-nama kondang di luar PKB. Sehingga area ketegangan diperluas ke luar partai.

Gus Dur menyebut Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, sebagai figur yang bakal dipasang sebagai penggantinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga dikait-kaitkan dan dituding berperan memperalat orang-orang dalam PKB untuk menggusur Gus Dur. Disebut pula nama sekretaris pribadi SBY, Brigjen Kurdi Mustofa, yang berusaha menggalang dana Rp 5 milyar untuk agenda penggulingan itu.

Dasar kaitan SBY dengan agenda penggulingan Gus Dur itu disebutnya pertemuan di Hotel Le Meridien Jakarta yang membincangkan skenario itu. Muhaimin dikatakan hadir dalam pertemuan itu. Ditemani para politisi muda PKB yang dikenal dekat dengan Muhaimin, seperti Hanif Dhakiri (wasekjen), Eman Hermawan (wasekjen), Niam Salim (ketua DPP), Marwan Dja'far (ketua DPP), dan Imam Nachrowi (Ketua PKB Jawa Timur).

Kurdi Mustofa, ketika dihubungi Gatra, menyangkal tuduhan Gus Dur. ''Itu tuduhan ngarang,'' kata Kurdi. Tuduhan itu ia nilai tidak memiliki korelasi dengan tugasnya di bidang administratif. ''Ketemu pirang perkoro (Dari mana juntrungannya) saya tiba-tiba ngurusi PKB,'' katanya. ''Kalau mau konflik internal terserah, tapi tak usahlah nyeret-nyeret orang luar partai. Kalau saya bisa mengumpulkan duit Rp 5 milyar, buat apa dikasih ke PKB?''

Ketika menerima bombandir tuduhan itu, Muhaimin dan pengurus DPP PKB sedang ziarah Wali Songo dalam rangka ulang tahun PKB. Muhaimin cenderung hemat pernyataan. Ia menjanjikan segera bertemu dan tabayyun (klarifikasi) kepada Gus Dur. ''Masak saya mau melawan Gus Dur, memangnya saya ini siapa?'' kata Muhaimin kepada pers di sela-sela ziarah ke makam Sunan Ampel, Surabaya.

Sementara Muhaimin irit bicara, dua anak buahnya, Hanif Dhakiri dan Eman Hermawan, blak-blakan. Di press room DPR, Selasa sore lalu, Hanif memilih bicara karena mengaku sudah capek dan lelah mendiamkan berbagai tudingan yang bernuansa pembunuhan karakter. ''Kasihan kader partai yang betul-betul bekerja untuk partai, lalu dibunuh karakternya,'' katanya.

Namun sasaran tembak keduanya bukan Gus Dur. Mereka menyebut Gus Dur telah jadi korban disinformasi para calo politik di sekitarnya. ''Gus Dur dikelilingi orang-orang yang memanfaatkan dan memanipulasi kekuasaan beliau untuk memecah belah PKB,'' kata Eman. ''Calo politik di PKB itu kerjaannya hanya tiga: tukang fitnah, tukang kompor, dan tukang palak.''

Dari kritik calo politik, Hanif menyorot peran Yenny Wahid, putri Gus Dur yang kini jadi Sekjen DPP PKB. ''Yenny Wahid gagal menjaga bapaknya dari anasir-anasir jahat di sekelilingnya,'' tutur Hanif. Tudingan soal pertemuan Le Meridien dinilai hanya fitnah yang dipompakan para calo politik tadi. ''Kami bersumpah demi Allah tidak tahu-menahu pertemuan itu,'' katanya.

Ketika menanggapi tudingan Muhaimin sebagai antek SBY, Hanif dan Eman justru membandingkan kesetiaan Muhaimin dan Yenny. Muhaimin mereka sebut memiliki rekam jejak kesetiaan panjang pada Gus Dur. Jangankan diperalat SBY, Soeharto yang kuat pun tak bisa mengendalikan Muhaimin ketika jadi Ketua PB PMII. ''Seluruh perjalanan politik Muhaimin adalah sebagai anak ideologis Gus Dur,'' ujar Hanif. ''Berbeda dengan Yenny Wahid yang notabene hanya anak biologis Gus Dur.''

Berbeloknya sorotan dari calo politik ke Yenny itu tampaknya karena ada korelasi khusus antara pihak yang dilabeli calo politik itu dan Yenny. Namun Hanif tak mau menyebut siapa calo politik yang dia maksud. ''Nanti akan terbuka sendiri. Semua orang PKB juga tahu,'' kata Hanif. Ia hanya memberi isyarat untuk membaca headline koran Suara Merdeka terbitan Semarang, edisi Selasa, dan mencermati nama anggota caretaker PKB Jawa Timur.

Dari perbincangan Gatra dengan berbagai kalangan di PKB, sosok yang sedang bikin geram sejumlah politisi PKB itu bernama Sigid Haryo Wibisono, 41 tahun. Bekas politisi Golkar Jawa Tengah yang baru diangkat jadi anggota Dewan Syuro PKB ini, Selasa itu, profilnya memang diulas Suara Merdeka. Sigid juga tercatat sebagai anggota caretaker PKB Jawa Timur. Pada saat Gus Dur jumpa pers di Bandara Juanda, ia turut menyambut.

Sigid dikenal memiliki kedekatan khusus dengan Yenny. Ketika PKB bersengketa dengan kubu Alwi, Sigid banyak membantu di persidangan. Pada waktu musim reshuffle, Sigid difavoritkan oleh Yenny menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Namun SBY mengangkat Lukman Edy, mantan Sekjen PKB, atas rekomendasi Muhaimin. Yenny pun angkat suara, menyatakan bahwa Gus Dur marah, dan Muhaimin dianggap jalan sendiri.

Seiring dengan itu, orang-orang yang dikenal dekat dengan Muhaimin pelan-pelan dicopoti. Mulai pemberhentian Ketua PKB Jawa Tengah Abdul Kadir Karding, pemecatan Hanif dan Eman, pencopotan Ketua PKB Jawa Timur Imam Nachrowi, dan puncaknya ancaman pelengseran Muhaimin, Ahad lalu. Sejumlah pengurus PKB tingkat cabang (kabupaten/kota) juga mengalami pembekuan.

Sigid, oleh para loyalis Muhaimin, dinilai memainkan peran penting di balik semua proses ini. Bahkan berbagai negosiasi pencalonan pilkada di berbagai daerah, termasuk kegagalan pencalonan di DKI, juga akibat ulah Sigid. Kok, dia bisa sekuat itu? ''Karena dia sudah pegang Yenny,'' kata sumber Gatra di PKB.

Dengan demikian, lucunya, dua kelompok yang bersitegang di PKB sama-sama menuding kisruh internal partai mereka akibat campur tangan unsur luar. Tertuduhnya saja yang beda. Gus Dur menuding SBY campur tangan. Sementara faksi lain menuding Sigid sebagai simbol campur tangannya kekuatan politik luar mengaduk-aduk internal PKB. Sigid sendiri mengaku dekat dengan Jusuf Kalla.

Namun Sigid menyangkal berbagai tuduhan itu. ''Semua itu mengada-ada. Naif sekali saya bisa mengendalikan Gus Dur,'' katanya. Begitu pula Yenny. ''Gus Dur orang yang membuka informasi seluas-luasnya. Saya tidak punya monopoli atas info yang masuk ke Gus Dur,'' tulis pesan pendek Yenny kepada Gatra. Yenny balik menuding Hanif dan Eman.

Selasa pagi lalu, kata Yenny, Muhaimin melapor ke Gus Dur bahwa biang kerok selama ini di DPP PKB dan yang melakukan perlawanan terhadap Gus Dur adalah Eman dan Hanif. Menurut Yenny, sejak jadi sekjen, ia menemukan penyimpangan dan keganjilan di sekretariat PKB, yang tadinya dipimpin Hanif. ''Termasuk adanya rekening liar yang penggunaannya tidak pernah dilaporkan ke DPP,'' Yenny memaparkan.

Akhir perjalanan goyangan kursi Muhaimin masih sulit ditebak. Yang pasti, dua Ketua Umum PKB sebelumnya, Matori Abdul Djalil dan Alwi Shihab, berujung kisruh. Keduanya diberhentikan bahkan tak sampai tiga tahun setelah terpilih di muktamar.

Matori yang diangkat dalam Muktamar Surabaya, Juli 2000, diberhentikan setahun kemudian, Juli 2001. Alwi diangkat pada Muktamar Luar Biasa Yogyakarta, Januari 2002, diberhentikan dua setangah tahun kemudian, Oktober 2004. Muhaimin kini juga sedang memasuki tahun kedua sejak terpilih di Semarang, April 2005. Goyangan mulai menyambut. Kursi Ketua Umum PKB memang panas.

Asrori S. Karni

(Box 1 halaman)
---------------------

Sigid Haryo Wibisono:
Sangat Naif Saya Bisa Kendalikan Gus Dur

Nama Sigid Haryo Wibisono, 41 tahun, belakangan kondang jadi bahan perbincangan di kalangan internal politisi PKB. Namanya mencuat sejak musim reshuffle kabinet, Mei lalu. Ia disebut-sebut dinominasikan oleh Yenny Wahid (pada saat itu Wasekjen DPP PKB) dan Gus Dur sebagai calon Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, menggantikan Saifullah Yusuf, mantan unsur PKB di kabinet yang sudah hijrah ke PPP.

Namun pencalonan Sigid kandas. Muhaimin Iskandar, Ketua PKB, memasukkan Lukman Edy, ketika itu Sekjen DPP PKB. Yenny dan Gus Dur marah-marah pada Muhaimin yang dinilai jalan sendiri. Ketegangan pun berlanjut pada pemberhentian Lukman Edy sebagai sekjen, lantas digantikan Yenny. Mei itu juga, berkembang kabar bahwa Sigid, yang sehari-hari menjadi Wakil Ketua Golkar Jawa Tengah dan staf khusus Menteri Sosial, akan diangkat sebagai anggota Dewan Syuro PKB. Skenario berikutnya, Muhaimin diberhentikan, digantikan Yenny.

Rumor itu seolah mendapat pembenaran, akhir pekan lalu, ketika Gus Dur mengancam melengserkan Muhaimin. Sebelum itu, ada serangkaian pemecatan orang-orang yang dikenal dekat dengan Muhaimin, misalnya Imam Nachrowi (Ketua PKB Jawa Timur), Hanif Dhakiri, dan Eman Hermawan. Dua nama terakhri adalah Wasekjen DPP PKB. Nama Sigid pun kembali santer digunjingkan dan dituding sebagai biang semua kekisruhan itu.

Jumpa pers Hanif Dhakiri dan Eman Hermawan, Selasa siang lalu, mengisyaratkan hal itu, meski tidak eksplisit menuding Sigid. Ketika ditanya pers, siapa calo politik yang dia tuduh sebagai pemecah belah PKB, Hanif hanya menjawab, ''Baca Suara Merdeka hari ini dan lihat anggota karateker PKB Jawa Timur.'' Koran itu tengah memuat profil Sigid. Ia juga tercatat sebagai anggota caretaker PKB Jawa Timur.

Apa tanggapan Sigid atas berbagai tudingan itu? Berikut petikan wawancara Asrori S. Karni dari Gatra dengan pria beranak empat yang pernah tercatat sebagai anggota DPRD Jawa Tengah termuda dari Golkar itu:

Bagaimana perjalanan politik Anda hingga bisa terpilih sebagai anggota Dewan Syuro PKB?

Saya mengenal Gus Dur sudah cukup lama. Tahun 1999, saya sudah mengenal beliau. Pada waktu saya ke Jakarta, sering bertemu. Komunikasi saya dengan beliau cukup intens. Saya berguru pada beliau untuk membangun bangsa ini. Kami banyak bertemu pada tingkat visi dan gagasan. Mungkin dalam perjalanan, kami merasa cocok, hingga akhirnya dipercaya menjadi anggota Dewan Syuro.

Apa yang membuat Anda masuk PKB?

Saya cocok dengan Bapak (Gus Dur) dalam konteks gagasan. Bapak punya gagasan besar untuk bangsa dan memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil. Saya bertekad memperjuangkan itu di PKB.

Anda pada saat ini sudah keluar dari Golkar?

Saya mengundurkan diri dari Wakil Ketua DPD I Golkar Jawa Tengah pada 26 Januari 2007. Kemudian, 29 Januari-nya, pengunduran diri saya sudah dijawab. Pada waktu saya membantu pertemuan Gus Dur dengan Pak Jusuf Kalla di Hotel Four Season, beberapa waktu lalu, Pak Kalla juga tahu, sekarang saya membantu Gus Dur.

Sikap Gus Dur terbaru yang mengancam akan memberhentikan Muhaimin disebut-sebut sebagai akibat disinformasi yang Anda pasok. Anda dituding sebagai calo politik yang hanya akan memecah belah PKB. Tanggapan Anda?

Sangat naif kalau ada orang yang bisa mengintervensi pemikiran Gus Dur. Seolah-olah Gus Dur dapat dikendalikan orang lain. Itu justru meremehkan beliau. Apalagi sosok seperti saya, sangat naif untuk bisa mengintervensi Gus Dur. Tudingan itu sangatlah mengada-ada. Hanya mencari kambing hitam. Tidak ada untungnya saya tanggapi.

Bulan-bulan terakhir ini, Anda selalu mendampingi Gus Dur. Seberapa akurat tudingan adanya upaya menggulingkan Gus Dur itu?

Saya patuh pada apa yang dinyatakan Gus Dur. Beliau pasti tahu apa yang terbaik. Kalau soal akurasi, saya tidak bisa menilai. Tapi, sebagai anggota Dewan Syuro, saya akan mengamankan dan mendukung beliau sebaik mungkin. Saya akan mengonsolidasi semuanya, melakukan verifikasi, dan akan berusaha sebaik mungkin.

Sejumlah kalangan menyayangkan ketegangan baru di internal PKB. Apakah semestinya Muhaimin diberi sanksi tegas ataukah ditempuh solusi damai seperti usulan Mahfud MD?

Saya mendukung saran Pak Mahfud. Itu bagus. Saya hanya menekankan kepatuhan pada Gus Dur. Sebagai anggota Dewan Syuro, saya akan berusaha sebaik mungkin membantu proses itu. Sebaiknya semua pihak di PKB introspeksi dan mengedepankan tabayyun dan silaturahmi. Proses saling menuding seperti ini (jumpa pers Hanif dan Eman) tidak sehat dan sebaiknya tidak dilanjutkan.



- Gus Dur menilai Muhaimin melakukan standar ganda.

- Orang dekat SBY dituduh ikut bermain dengan menyediakan dana Rp 5 milyar.

- Teman dekat Yenny Wahid, Sigid Haryo Wibisono, dianggap sebagai unsur eksternal yang mengobok-obok PKB.



ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 36/2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Advetorial
Angka
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Medela
Media
Nasional
Nusantara
Olahraga
Perspektif
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com