Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Darah Beku dalam Perjalanan Jauh

Melakukan perjalanan jauh dengan duduk di tempat duduk sempit dapat menimbulkan pembekuan darah. Bisa menyebabkan komplikasi dan mengakibatkan kematian.

Sejak dua bulan belakangan ini, Alex Santoso merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali menempuh perjalanan jauh dengan menumpang pesawat terbang, pinggangnya sering sakit. "Mungkin karena kaki saya sulit direntangkan dan kelamaan duduk," ujar Alex.

Lelaki 41 tahun itu mengaku badannya pegal-pegal. Kakinya sering kram. Karena itu, beberapa saat setelah mendarat di bandara, Alex melakukan pijat refleksi. Si ahli pijat bilang, Alex kram lantaran kakinya lama ditekuk pada saat menempuh perjalanan udara.

Ia ditengarai kena trombosis vena dalam (DVT). Yakni, sejenis penyakit pembekuan darah di pembuluh darah balik (vena), biasanya terjadi di kaki dan panggul. Warga Ciputat, Jakarta Selatan, itu sering bepergian jauh dengan pesawat terbang. Paling tidak sepekan sekali ia terbang di kelas ekonomi.

Lantaran terlalu lama duduk di tempat duduk yang sempit itu, Alex sering mengeluh kesakitan setelah mendarat. Apa yang dirasakan Alex mungkin juga dialami banyak orang. Kenyataan itu diakui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Karena itulah, lembaga kesehatan dunia di bawah naungan PBB itu mengeluarkan pernyataan soal bahaya venous thromboembolism (VTE) alias gumpalan pembekuan darah vena. Dua pekan silam, WHO menerbitkan siaran pers tentang bahaya VTE berdasarkan hasil studi Research Into Global Hazards of Travel.

Studi tersebut dilakukan lewat riset perpustakaan terhadap beberapa penelitian yang dilakukan para peneliti yang mendalami persoalan sindroma terbang di kelas ekonomi. Salah satunya adalah studi peneliti Inggris, T. Schwarz, yang meneliti 864 penumpang pesawat terbang kelas ekonomi setelah menempuh perjalanan lebih dari delapan jam.

Schwarz membandingkan dengan 1.213 orang yang tidak melakukan penerbangan. Dari 864 orang yang melakukan penerbangan jauh diketahui, 27 mengalami gumpalan pembekuan darah vena alias menderita VTE. Sementara itu, dari 1.213 orang yang tidak melakukan penerbangan, yang terkena VTE cuma 12 orang.

Dari jumlah penumpang pesawat terbang yang kena VTE itu, 19 orang mengalami penyakit itu tanpa gejala. Selain itu, ditemukan pula 19 kasus penumpang meninggal setelah melakukan penerbangan cukup lama. Dari hasil studi tersebut, WHO menyimpulkan, risiko terserang VTE dua kali lebih besar pada penumpang pesawat yang menempuh perjalanan di atas empat jam.

"Satu dari 6.000 orang yang menempuh perjalanan akan kena risiko itu," begitu menurut penelitian WHO. Sebanyak 1%-5% di antara mereka akan meninggal karena komplikasi penyakit itu. Menurut situs wikipedia.org, komplikasi itu antara lain berupa emboli di paru-paru. Emboli adalah gumpalan darah beku yang menghambat aliran darah.

Dokter Catherine Le Gales-Camus, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Urusan Kesehatan Jiwa dan Penyakit Tidak Menular, mengungkapkan bahwa VTE tidak hanya terjadi pada penumpang pesawat terbang. Ia juga bisa menimpa penumpang kereta api, bus, dan mobil pribadi yang melakukan perjalanan jauh.

"Meski masih rendah, penyakit ini perlu diwaspadai," kata Gales-Camus. Karena itu, ia menganjurkan agar penumpang kerap berdiri atau berjalan-jalan ketika berada di dalam kendaraan. Atau tidak menggunakan pakaian yang ketat, seperti stocking dan jins. Celana jins ketat dan stocking dapat mengganggu aliran darah.

Kasus sindrom kelas ekonomi pernah menghebohkan, enam tahun silam. Para penumpang pewasat terbang kelas ekonomi yang terkena DVT menggugat lima maskapai penerbangan internasional. Yakni British Airways, Air New Zealand, Emirates Airlines, Qantas, dan Air France. Mereka menuntut ganti rugi US$ 33.000 atau sekitar Rp 307 juta.

Gugatan itu diajukan setelah Emma Christoffersen meninggal. Wanita asal Newport, New South Wales, Australia, itu terbang dari Melbourne ke London, Oktober 2000. Ia meninggal beberapa menit setelah mendarat di Bandara Heathrow, London.

Sebelum meninggal, Christoffersen mengeluh kakinya kram setelah perjalanan 19.200 kilometer. Selama 20 jam penerbangan, ia duduk di kelas ekonomi, yang tempat duduknya relatif sempit. Akibatnya, ia terserang DVT. Lalu darah beku menghambat aliran darah ke jantung.

Dokter Harry Suryapranata, kardiolog pada Rumah Sakit Puri Cinere, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa DVT dapat terjadi apabila sirkulasi darah yang mengalir terhambat. "Apabila darah yang menggumpal tersebut ikut aliran darah yang kembali ke paru-paru, gumpalannya dapat menutup pembuluh darah paru-paru sehingga dapat menyebabkan kematian," Dokter Harry menegaskan.

Selain duduk sangat lama dalam perjalanan jauh, DVT juga bisa disebabkan adanya tumor di perut yang dapat menekan vena besar di kaki sehingga terhambat. Selain itu, kondisi istirahat yang sangat lama, baik karena sakit maupun dalam perjalanan, jauh juga dapat menghambat kembalinya darah ke jantung.

Dibandingkan dengan bus atau kereta yang sering dipakai orang untuk berpergian jauh dalam waktu lama, rendahnya tekanan udara dalam pesawat lebih berisiko. "Rendahnya suhu dalam pesawat membuat tubuh lebih banyak kehilangan cairan," ujar Harry.

Penderita diabetes dan tekanan darah tinggi lebih berisiko terkena DTV, karena pembuluh darahnya tidak sebagus pada orang normal. Salah satu terapinya adalah memberikan obat-obatan anti-koagulan. Obat ini mengencerkan darah sehingga aliran darah menjadi lancar.

Adapun pencegahannya bisa dilakukan dengan berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dan mempertahankan berat badan normal. Jangan duduk atau berbaring dalam waktu lama tanpa menggerakkan kaki.

Aries Kelana, Anthony, dan Elmy Diah Larasati



Ketika Emboli Mengalir ke Jantung dan Paru

Kasus venous thromboembolism (VTE) yang dialami penumpang pesawat terbang kali pertama dilaporkan peneliti J. Homans di jurnal kesehatan New England Journal of Medicine, tahun 1954. Ia menemukan lima kasus VTE pada penumpang pesawat terbang setelah menempuh perjalanan cukup lama.

Sejak itu, para ahli mencermati sejumlah kasus VTE pada penumpang pesawat terbang. Atas temuan Homans, namanya diabadikan untuk alat pemindai penderita trombosis vena dalam (DVT).

Beberapa studi yang dilakukan lima tahun terakhir mengungkapkan berbagai macam gangguan aliran darah pada penumpang jarak jauh. Antara lain penyakit trombosis (pembekuan darah) di pembuluh darah di dada, trombosis di pembuluh darah balik di otak, penyakit jantung koroner, dan stroke akibat emboli.

VTE merupakan salah satu gangguan pembuluh darah utama yang kerap menyebabkan kematian di sejumlah negara di Amerika dan Eropa. Ditaksir 2 juta orang di dunia meninggal karena penyakit ini. Hanya saja, tak semuanya karena menempuh perjalanan jauh.

VTE juga bisa disebabkan antara lain oleh tumor, faktor gen, atau ibu hamil. Pada wanita hamil, 90% kasus DVT ditemukan pada tungkai kiri. DVT ditandai dengan penggumpalan darah atau trombus yang terjadi di pembuluh darah di lutut. Gejala-gejalanya antara lain nyeri, kram, dan kaki bengkak berwarna kemerah-merahan di betis.

DVT bisa didiagnosis dan disembuhkan. Tetapi, bila ada emboli (gumpalan darah beku) yang mengalir ke jantung atau paru-paru, bisa berbahaya. Ia bisa mengakibatkan kematian.

Aries Kelana

Cover GATRA Edisi 36/2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Advetorial
Angka
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Medela
Media
Nasional
Nusantara
Olahraga
Perspektif
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com