Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

Awas, Pemangsa Bocah

Pembantaian ala Robot Gedek terulang lagi, menelan korban dua bocah jalanan. Pelakunya masih misterius. Polisi harus mampu mengungkapnya.

Bocah itu berpamitan dengan riang pada orangtuanya. "Asep mau ke rumah Bibi," ujarnya. Bapak tirinya, Kamaludin, mengizinkan. Ibu kandung, Nawangsih, juga merestui. Tak ada rasa khawatir. Soalnya, Asep memang sering mengunjungi bibinya. Malah kadang menginap beberapa hari.

Lagi pula, rumah si bibi tak terlalu jauh. Si bibi tinggal di Sukasari, Margahayu, Bandung. Kamaludin dan keluarganya menetap di Jalan Kebongedang, Kiaracondong, masih di kota yang sama. Sebagai anak jalanan yang doyan kelayapan, bolak-balik ke rumah sang bibi bagi Asep bukan perkara sulit.

Sepeninggal Asep, Kamaludin dan Nawangsih masih tenang-tenang berdagang air minum dalam kemasan di pinggir jalan. Sepekan kemudian, barulah mereka ditikam kecemasan amat sangat. Pasalnya, Asep yang kerap main di Stasiun Kiaracondong itu tidak juga pulang. Tak pula ada kabar. Dicari di Sukasari, nihil.

Ditelusuri sampai ke Padalarang --Kamaludin sempat mendapat info, ada yang melihat Asep di sana-- juga negatif. Foto-foto Asep yang disebarkannya juga tak membantu. Murid kelas III Madrasyah Ibtidaiyah Al-Hikmah di Kiaracondong itu seperti ditelan hantu. "Kami khawatir terjadi sesuatu," tutur Kamaludin.

Benarlah. Ternyata bocah 11 tahun bernama lengkap Asep Ridwan Saefulloh itu ditemukan sudah menjadi mayat, Senin pekan lalu. Lokasinya nun jauh di kota lain, persisnya di dekat Pasar Klender, Jakarta Timur. Kondisi korban mengenaskan, terbungkus dalam kantong plastik hitam.

Tubuhnya terpotong menjadi dua persis di bagian pinggang. Kedua tangan dalam posisi memegangi tengkuk, terikat tali rafia. Kedua kaki juga tertekuk dan diikat dengan rafia. Yang lebih mengejutkan, sebagian isi perutnya hilang disayat benda tajam. Mayat itu dalam keadaan telanjang, hanya dibungkus kain sarung bermotif kotak-kotak warna biru.

Mayat korban pertama kali ditemukan oleh Halimah, 40 tahun. Pagi itu, sekitar pukul 06.30, Halimah seperti biasa menyiram bunga di depan pekarangan rumah. Ia melihat seonggok plastik hitam ukuran besar. Pada saat itu, Tohali, tetangganya yang kuli panggul di pasar, melintas.

Mengira bungkusan tadi cuma sampah, Halimah minta bantuan Tohali menyingkirkannya. "Menghalangi jalan," kata Halimah. Tohali mengangkatnya. Eh, berat. Lelaki 40 tahun itu cuma bisa menyeretnya satu meter, dan meletakkannya di dekat pot kembang di samping toko furnitur.

Penasaran, bungkusan itu pun dibuka. Bau busuk menyengat. Dan mereka pun terpekik kengerian. Warga kemudian berkerumun. Kawasan itu pun jadi geger. Seorang warga berinisiatif melapor ke Kepolisian Sektor (Polsek) Cakung, Jakarta Timur.

Satu jam berselang, polisi datang. Setelah melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara), polisi membawa jenazah korban ke polsek, kemudian diusung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Hasil otopsi, kata Mun'im Idries, dokter forensik RSCM, korban diperkirakan dibunuh beberapa jam sebelumnya. Di leher korban terdapat bekas jeratan. Menilik luka lama di anus, korban diperkirakan pernah pula mengalami kekerasan seks anal.

Kasus menggegerkan yang mirip dengan pembunuhan ala Robot Gedek lebih dari satu dasawarsa silam ini menyita perhatian polisi. Penyelidikan oleh Polsek Cakung mendapat dukungan penuh dari Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Timur.

Sejumlah warga dimintai keterangan dalam rangka menggali identitas korban. Selain itu, "Kami juga menyebarkan foto korban," ujar Kepala Polres Jakarta Timur, Komisaris Besar Robinson Manurung. Bagusnya pula, wajah korban relatif masih bisa dikenali.

Media cetak dan elektronik turut memajang foto korban. Hasilnya cukup jitu. Usep Bachtiar, paman korban, kebetulan menonton berita tentang temuan bocah korban mutilasi tersebut. Melihat foto korban, ia terkesiap. "Kami yakin itu Asep," ujarnya.

Naluri keibuan Nawangsih juga membisikkan bahwa korban di tayangan televisi itu adalah anak bungsunya (dari dua bersaudara) yang hilang. Bergegas Nawangsih meluncur ke RSCM guna memastikan sosok bocah malang itu.

Betul saja, sang ibu kandung itu masih mengenali wajah korban sebagai Asep. Tangis pun meledak. Ciri lain yang menguatkan, ada tanda bekas jahitan di pergelangan kaki kanan korban. "Itu bekas jatuh dari sepeda," tutur Kamaludin.

Meski identitas korban telah diketahui, toh tetap saja tidak mudah bagi polisi untuk mengungkap kasus pembunuhan sadistis tersebut. Maklum, belum diketahui saksi mata yang melihat korban pergi dengan siapa menjelang akhir hayatnya. Para bocah rekan korban di Bandung juga tak melihat korban.

Adapun TKP di Klender tak meninggalkan jejak berarti selain onggokan mayat dan selembar kain sarung. Sampai Senin lalu, polisi masih berkutat melakukan penyelidikan. Kain sarung itu diharapkan memberi petunjuk. Atau, kalau sudah ada tersangka, kain tersebut dapat menjadi bukti yang menguatkan.

Sejauh ini, polisi baru dapat menduga-duga pelakunya orang yang cukup kuat secara ekonomi. Pasalnya, korban diperkirakan dibunuh di tempat lain, lalu dibuang di Klender menggunakan mobil.

Dugaan ini diperkuat kesaksian seorang warga Klender yang mengaku melihat seorang pria turun dari sebuah mobil putih, lalu meletakkan bungkusan hitam berisi mayat tersebut. Sayang, warga ini tak paham jenis dan merek mobil itu, apalagi sempat mencatat nomor polisinya.

Diperkirakan pula, mayat diletakkan di situ pada pukul 06.00-06.30. Soalnya, seperti dituturkan Ibrahim, suami Halimah yang juga ketua RW setempat, pada pukul 06.00 kerabatnya melintas di situ dan bungkusan plastik hitam tersebut belum ada.

Cukup mengherankan, pelakunya begitu nekat membuang mayat di daerah keramaian, tidak di malam hari pula. Hendak mencari sensasi tambahan di luar sensasinya membunuh?

***

Peristiwa pembunuhan anak model ini sudah acap terjadi. Tahun ini saja terdapat dua kasus. Sebelum temuan mayat bocah korban mutilasi di Klender yang menggegerkan itu, masyarakat lebih dulu dikejutkan dengan temuan mayat bocah di kawasan Pegangsaan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, akhir April silam.

Korban teridentifikasi sebagai Yusuf Maulana, 9 tahun, anak pengojek bernama Kardja. Mayatnya ditemukan dalam kardus, teronggok di depan sebuah bengkel. Korban mengalami luka di wajah dan sekujur tubuh. Sebelum dibunuh dengan cara lehernya dijerat, korban diduga dianiaya dan diperlakukan tidak senonoh terlebih dulu.

Diduga, korban dikerjai dan dihabisi di tempat lain, baru dibuang di Pegangsaan. Korban sendiri tinggal di Setia Mekar, Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Siang hari sebelum ditemukan tewas, murid kelas II sekolah dasar di Tambun ini minta uang jajan sekalian pamit hendak bermain.

Tapi sampai malam Yusuf tak pulang-pulang. Pas ditemukan sudah menjadi mayat dengan kondisi cukup mengenaskan. Seorang saksi mata mengaku melihat seorang lelaki turun dari sedan warna biru dan menaruh kardus tersebut di depan bengkel. Si lelaki kemudian bergegas cabut dengan mobilnya.

Menurut teman-teman sekolahnya, setiap pulang sekolah, Yusuf sering bermain di Stasiun Kereta Api Tambun. Kardja menduga, pelaku sudah lama mengincar anaknya, dan hari nahas itu pelaku berhasil menculik korban dan melampiaskan kekejiannya.

Seperti halnya pembunuhan terhadap Asep, petaka yang menimpa Yusuf itu pun hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Memang tak mudah menguak kasus ini. Apalagi, kuat dugaan, pelakunya orang cerdik dan secara ekonomi cukup mapan.

Terhadap serangkaian aksi serupa yang dilakukan Robot Gedek saja, yang notabene hanyalah gelandangan berkaki timpang, polisi tidak serta-merta dapat mengungkapnya. Butuh waktu beberapa tahun dan "mengorbankan" sedikitnya delapan bocah jalanan. Robot akhirnya diringkus dan dijatuhi hukuman mati.

Sosok Robot Gedek memang sungguh di luar dugaan banyak orang ketika itu. Lelaki bernama Siswanto itu berpostur pendek, tidak pula kekar. Badannya agak bungkuk, kalau berjalan pincang. Kepalanya suka teleng alias menggeleng tanpa sebab, sehingga ia dipanggil Robot Gedek.

Dan, ini yang sangat mencengangkan, Robot hanyalah gelandangan yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Tadinya polisi tidak percaya begitu saja. Setelah diperiksa berulang-ulang dan dicek silang dengan temuan di lapangan, barulah polisi yakin Robot tersangka pelakunya.

Robot pun dengan lancar menunjukkan lokasi pembuangan mayat di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia bahkan menunjukkan dua lokasi lain di situ, di luar empat lokasi yang diketahui polisi. Menurut catatan polisi, selama kurun waktu Juli 1994 sampai Juli 1996, tersangka sedikitnya mencabuli dan membunuh delapan bocah jalanan di Jakarta.

Empat mayat korban ditemukan di Kemayoran, sisanya ditemukan di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kondisi korban umumnya seragam. Di leher terdapat bekas jeratan, dinding perut disayat. Sedangkan pada anusnya terdapat bekas luka terkena benda tumpul.

Selama hampir dua tahun, polisi seperti menemui jalan buntu. Baru setelah jatuh korban kedelapan bernama Kasikin, polisi mendapat titik terang. Mulanya polisi menangkap sejumlah lelaki yang diduga kerap melakukan pencabulan terhadap bocah jalanan.

Dari seorang tersangka bernama Babe, petugas mendapat info bahwa malam hari sebelum ditemukan tewas, korban terlihat bersama Robot, pemulung yang punya gubuk di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Ketika dilacak, Robot sudah raib.

Diperoleh keterangan, Robot pulang ke kampungnya, di Desa Ketendan, Batang, Jawa Tengah. Setelah berhari-hari melakukan penyisiran, petugas Polres Jakarta Pusat akhirnya mencokok Robot yang sedang mengemis di stasiun kereta api di Tegal.

Dalam pemeriksaan, Robot bahkan mengakui selama kurun waktu dua tahun itu telah membunuh dua bocah lagi di Pekalongan dan Kroya, Jawa Tengah. Di luar semua itu, Robot juga mengaku membunuh seorang bocah anak tetangganya di Senen, bernama Abdul Rasyid.

Robot mengaku berbuat cabul dan membunuh bocah karena merasakan sensasi tersendiri. "Setelah itu, wis, pokoknya lega saja. Terus kepingin lagi," ujar Robot kepada Gatra ketika itu.

Setelah Robot Gedek ditangkap, pembunuhan terhadap bocah jalanan memang reda. Tapi hanya untuk sementara. Tahun 1997, terjadi lagi kasus serupa. Korban dibuang di Jalan Gusti Ngurah Rai, Klender. Kondisinya malah lebih menyeramkan.

Pola perlakuannya terhadap korban sama persis dengan gaya Robot Gedek. Tapi "Robot Gedek" satu ini seakan ingin mengungguli "seniornya". Ia melengkapi kekejiannya itu dengan memenggal kepala korban. Hingga kini, "Robot Gedek gadungan" itu masih misterius.

Lama tak terdengar, tahu-tahu tahun ini kasus ala Robot Gedek terulang lagi. Korbannya juga sama, yakni para bocah jalanan. Belum jelas, apakah pelakunya orang yang sama. Mungkinkah pelaku terinspirasi gaya "seniornya" yang terekspose secara luas di media massa?

Ketua Program Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, tak menampik kemungkinan itu. Ia menyebut efek media yang memberikan fasiltas sosial dan model sosial menjadi salah satu sebabnya.

Adapun korban yang dipilih adalah para bocah jalanan karena merupakan sasaran empuk. "Kemampuan anak-anak melakukan perlawanan, kecil," kata Erlangga kepada Stephanie A. Mamonto dari Gatra. Ia berharap, polisi dapat segera mengungkap kasus tersebut.

Mudah-mudahan polisi tak perlu menunggu jatuh korban bocah lebih banyak lagi untuk dapat menangkap pelakunya.

Taufik Alwie, Anthony, Elmy Diah Larasati, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)



Waspada Pemangsa

- Bukan mustahil "Robot Gedek" juga akan memangsa bocah dari kalangan mana saja. Karena itu, para orangtua dituntut selalu awas.

- Jangan biarkan anak keluyuran sendirian, apalagi dalam waktu cukup lama.

- Jangan biasakan anak bermain di tempat-tempat rawan seperti stasiun dan terminal.

- Selalu caritahu siapa saja teman-teman bermain si anak.

- Tanamkan pada si anak agar jangan mau diajak orang dewasa, kenal atau tidak, ke suatu tempat, lebih-lebih tanpa teman lain.

- Bila anak tak pulang dari bermain lebih dari satu jam, segera cari.

- Segera lapor polisi bila si anak tak juga ditemukan.

- Simpan koleksi foto anak karena sewaktu-waktu akan dibutuhkan.
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 36/2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Advetorial
Angka
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Medela
Media
Nasional
Nusantara
Olahraga
Perspektif
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com