Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Tiga Kaki Menggoyang Beringin

Letupan wacana munaslub mencuatkan gesekan antar-faksi di tubuh Partai Golkar. Cermin adu pengaruh kubu Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Agung Laksono. Akbar Tandjung tetap menjalin komunikasi dengan orang-orangnya di Golkar.

Gairah kemesraan antara Partai Golkar dan PDI Perjuangan tak terlihat menggebu lagi. Kencan kedua yang sedianya berlangsung di Palembang, Selasa lalu, pun harus diundur sepekan. Mereka juga tak bernafsu lagi janjian ''ngedate'' di beberapa kota di Pulau Jawa. ''Cukuplah dulu setelah pertemuan Palembang,'' kata Jusuf Kalla, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

Kencan pertama dua partai besar ini berlangsung di Medan, 20 Juni lalu. Ketika itu, Surya Paloh, selaku Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, M. Taufiq Kiemas, Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI Perjuangan, diiringi sejumlah pengurus dan massa dari keduanya memerah-kuningkan Medan. Mereka larut dalam acara bertajuk ''Silaturahmi Nasional''. Bak sedang dimabuk cinta, janji untuk terus merajut hubungan pun bergulir.

Namun kemesraan Golkar-PDI Perjuangan ini ternyata menuai reaksi beragam. Baik dari dalam rumah kedua partai maupun dari partai tetangga. Ada yang merestui, ada pula yang gerah dan ''cemburu''. Beberapa elite dari delapan partai politik, seperti Demokrat dan Partai Amanat Nasional, tak mau kalah. Mereka langsung saling merapat, menjalin serangkaian pertemuan ''tandingan''.

Reaksi tak kalah keras muncul dari dalam Golkar sendiri. Kubu Agung Laksono, Wakil Ketua DPP Partai Golkar, paling lantang bersuara. Agung malah menganggap pertemuan di Medan berlangsung di luar mekanisme organisasi, karena sebelumnya tidak dibicarakan lewat rapat pleno. Yuddy Chrisnandy, politikus muda Golkar yang pro-Agung, malah sempat mendesak DPP menjatuhkan sanksi kepada para otak pertemuan.

Di lain pihak, situasi di kubu PDI Perjuangan relatif adem-ayem. Kegaduhan di ''kandang banteng'', yang kabarnya sempat muncul, tak sampai mencuat ke permukaan. Kuatnya figur Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan yang juga istri Taufiq Kiemas, mampu meredam para ''banteng'' yang tak mau kemesraan itu terjalin.

Kegaduhan politik internal inilah yang membuat Jusuf Kalla (JK) menurunkan tensi gairah partainya. Ia merasa, suhu politik yang meninggi telah mengganggu. Terutama pada kinerja presiden, wakil presiden, para menteri, dan DPR. ''Repot negeri ini,'' katanya. Padahal, kata JK, masih banyak pekerjaan yang harus dirampungkan di negeri ini ketimbang asyik-masyuk mengurusi gesekan politik.

JK layak paling merasa kegerahan. Sebab, di antara para elite politik, dialah yang paling merasakan dampak kegaduhan ini. Silaturahmi di Medan --yang kemudian berlanjut ke Palembang-- setidaknya telah membuat ''pohon beringin'' bergoyang kencang. Kubu-kubu yang berseberangan seakan menemukan panggung untuk menampakkan diri. Hal ini membuat JK harus menyisihkan energi dan perhatian --di tengah kesibukannya sebagai wakil presiden-- untuk meredakannya.

Lebih dari itu, penolakan terhadap acara silaturahmi itu telah mencuatkan letupan-letupan yang mengarah pada upaya penggoyangan kursi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Goyangan paling serius muncul dari Kaukus Muda Partai Golkar (KMPG). Dalam diskusi yang berlangsung di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, 2 Juli lalu, mereka menggelindingkan wacana untuk mengevaluasi kepemimpinan JK.

''Saya ingin segera digelar munaslub (musyawarah nasional luar biasa),'' kata Zainal Bintang, Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi DPP Golkar, satu dari sederet politikus muda Golkar yang geram atas situasi partainya pada saat ini.

Keinginan serupa disuarakan Kamarussamad, Ketua KMPG. Samad --demikian ia biasa disapa-- bahkan terus menggelora untuk menggelindingkan munaslub. Satu agenda di antaranya adalah menyiapkan acara rembuk nasional pada Agustus mendatang. ''Output-nya untuk mengetahui berapa jauh wacana munaslub itu perlu dilakukan,'' kata Samad, yang juga Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Namun, untuk sementara, tampaknya keinginan segelintir anak muda Golkar ini dapat diredam. Isu yang mereka ''jual'' pun seakan membentur tembok. Tak laku, terutama di kalangan senior Partai Golkar. Mereka menganggap tak ada alasan kuat untuk terus menggelindingkan munaslub. ''Mereka hanya mencoba melemparkan wacana,'' kata Theo L. Sambuaga, salah satu Ketua DPP Partai Golkar. Soemarsono, Sekjen Golkar, malah melihat gerakan itu dengan sebelah mata. "Mereka itu kan nggak ada di struktur. Mau ngomong apa saja, ya, tidak ada pengaruhnya," ujarnya.

JK sendiri mengaku telah memanggil Zainal dan Samad, sekaligus memberi teguran keras. ''Mereka (berjanji) tak akan seperti itu lagi,'' kata JK, sembari mengatakan bahwa Zainal telah menarik ucapannya. JK juga membantah anggapan bahwa keinginan munaslub keluar dari sekelompok kader muda Golkar. ''Hanya dua orang,'' katanya.

Bisa saja wacana munaslub lambat laun melempem. Namun letupan kalangan muda Golkar itu setidaknya telah mencuatkan berbagai masalah di tubuh Golkar, yang selama ini mengendap di bawah permukaan. Dari suara-suara yang kecewa atas kepemimpinan JK hingga pergulatan antar-kubu, yang selama ini mengendap di bawah kerimbunan ''beringin''. Kalaupun suara itu sempat lamat-lamat terdengar, paling sebatas gosip politik.

Zainal, misalnya, kepada Gatra sempat membuka unek-unek. Di mata Zainal, Golkar di bawah kepemimpinan JK kerap melakukan langkah yang melabrak anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Satu di antaranya, Zainal menunjuk silaturahmi di Medan, yang pelaksanaannya tanpa lewat mekanisme partai.

Surya Paloh, sebagai penggagas acara itu, hanya sebatas memberitahukan rencana tersebut secara lisan kepada JK. ''Tapi JK itu siapa. Dia bukan representasi partai,'' kata Zainal. Walau posisi JK sebagai ketua umum, menurut Zainal, langkah semacam menjalin pertemuan dengan partai politik lain mestinya lebih dulu dibahas secara resmi di dalam rapat pleno DPP.

Karena kesibukannya sebagai wakil presiden, JK juga dinilai Zainal kurang waktu untuk mengopeni partai. Program konsolidasi ke daerah-daerah, misalnya, kerap terganjal protokoler. ''Banyak daerah mengeluh, tidak gampang ketemu wapres,'' kata politikus yang sedaerah dengan JK, Sulawesi Selatan, itu. Akhirnya komunikasi dengan daerah dilakukan oleh Agung Laksono.

Ada juga sumber Gatra yang mengutarakan bahwa di tangan JK, mesin uang partai macet. Politisi Golkar, baik yang menjadi pengusaha maupun duduk di eksekutif, yang sebelumnya jadi lumbung keuangan partai, kini kurang peduli lagi. Sampai-sampai, bila akan berlangsung sebuah acara, barulah dilakukan penggalangan dana. Itu pun terbatas pada orang-orang yang berduit.

Mereka terpaksa menyumbang, sekalipun tak merasakan imbas politik secara langsung. Sampai-sampai, terakhir Golkar mengutip iuran Rp 1,2 juta dari setiap kader yang ikut orientasi fungsionaris di tingkat pusat. ''Hidup-mati organisasi harus dipikul anggotanya,'' kata Bobby Suhardiman, Bendahara DPP Partai Golkar. Situasi kurang kontrol ini pula yang kemudian dimanfaatkan beberapa faksi untuk unjuk diri dan menebar pengaruh.

Kembali ke silaturahmi di Medan, Zainal melihat hajatan politik itu tak lebih dari panggung Surya Paloh. Kubu Surya-lah, kata Zainal, yang mengklaim mendapat dukungan 17 dewan pimpinan daerah (DPD) Golkar. Kebanyakan DPD yang berada di Sumatera, daerah asal Surya. ''Kalau memang mengklaim punya 17 DPD, kenapa nggak melakukan munaslub?'' tutur Zainal. Sayang, Surya tak bisa dikonfirmasi. Ketika Gatra berusaha menemuinya, menurut Mukhlis Hasyim yang dekat dengan Surya, yang bersangkutan sedang berobat ke Singapura.

Surya adalah elite Partai Golkar yang dipetakan Zainal satu dari tiga faksi yang ada di Golkar. Faksi lainnya adalah JK dan Agung Laksono. Di luar ketiga tokoh ini, masih ada kaki keempat, yakni Akbar Tandjung, bekas Ketua Umum Golkar yang menyisakan banyak pengikut di Golkar. Hanya saja, kebanyakan orang Akbar kini berada di luar struktur kepengurusan partai. Mereka hanya jadi anggota DPR atau masuk ke pemerintahan.

Akbar sendiri mengaku mendengar bahwa faksinya dimasukkan dalam ''percaturan'' Golkar pada saat ini. Hanya saja, tokoh yang sedang menyelesaikan disertasi doktornya ini menjamin bahwa faksinya tidak bermain. Walau begitu, Akbar tak menutupi bahwa selama ini tak putus menjalin komunikasi dengan orang-orang Golkar (pendukungnya) di DPR.

Di samping kemunculan friksi yang mulai tampak pasca-acara siraturahmi itu, sebetulnya wacana munaslub sendiri berindikasi kuat sebagai pencuatan friksi yang ada. Semacam reaksi atas manuver Surya yang mencuri poin lewat silaturahmi. Tokoh Golkar sekaliber Hajriyanto Y. Thohari yang relatif netral tak menampik adanya kekuatan lain yang bermain di balik wacana ini.

Siapa tokoh di balik gerakan Zainal dan kawan-kawan? Hajri mengaku belum tahu terang-menderang siapa yang sedang ''bekerja'' kali ini. Hanya saja, kata Hajri kepada Mujib Rahman dari Gatra, ''Di Golkar ini banyak faksi, dan semuanya main.''

Zainal tak menampik bahwa ide munaslub itu dipicu oleh aksi tarik-menarik tiga kekuatan di Golkar, yang berpotensi menimbulkan perpecahan partai. Maka, daripada meresahkan anggota, Zainal menantang ketiga tokoh itu untuk ''bertarung'' lewat munaslub. Sehingga bisa ketahuan, tokoh mana yang sebetulnya paling diterima. ''Jadi, jangan diartikan munaslub sebagai upaya menggusur JK, karena JK bisa saja terpilih kembali,'' katanya.

Walau mengaku tak punya tokoh yang dijagokan, Zainal punya gambaran figur yang cocok memimpin Golkar. ''Figur yang selama ini menghayati Golkar dan komitmennya berkesinambungan. Silakan saja lihat dari ketiga figur itu,'' kata pendiri Hasta Karya, delapan organisasi pembentuk Golkar, itu ketika ditemui di ruang kerjanya. Tampak sebuah foto Zainal bersama Agung terpampang di satu sisi dinding kantornya.

Menurut kalangan orang-orang Golkar, arah politik Zainal memang condong ke Agung. Kabarnya, ia menganggap Agung-lah tokoh Golkar yang masih rajin turun ke bawah melakukan konsolidasi. Agung juga dinilai Zainal memiliki pengalaman panjang di Golkar, terutama lewat Kosgoro, satu dari tiga sokoguru Golkar selain MKGR dan SOKSI.

Apakah Zainal sedang menjalankan agenda Agung? Tentu, yang namanya permainan politik, jangan harap mendapat jawaban terang-benderang. Hanya saja, setidaknya beberapa politikus Golkar yang dekat dengan Agung cenderung bisa mengerti wacana munaslub yang digelindingkan Zainal. Yuddy, misalnya, melihatnya sebagai hal yang positif guna meningkatkan kinerja partai.

Selain punya sejarah pengaruh yang panjang di Kosgoro, Agung juga dipetakan memiliki cukup kekuatan di struktur DPP Partai Golkar. Beberapa pengurus teras partai dikabarkan berdiri di balik Ketua DPR itu. Agung juga mendapat dukungan dari beberapa politikus muda. Yuddy, misalnya, mengaku menjadi orangnya Agung setelah Pemilu 2004.

Di mata Yuddy, figur Agung sangat wajar bila berharap memimpin Golkar. Selama ini, Agung-lah yang paling aktif di DPP dan menjalin komunikasi dengan pengurus-pengurus daerah. Posisi Ketua Umum DPP Partai Golkar pun menjadi target Agung berikutnya. ''Ini memang kepuasan batin,'' ujar anggota Fraksi Partai Golkar di DPR itu kepada Rach Alida Bahaweres dari Gatra.

Manuver politik Agung tak sebatas di dalam tubuh Golkar. Beberapa kali ia tampak menjalin lobi dengan elite di luar Golkar. Satu di antaranya, ia kerap dikabarkan bertemu secara informal dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Agung sendiri tak mengelak. Ia menganggap lobi-lobi semacam ini wajar-wajar saja. Karena dia juga mengaku kerap bertemu dengan pimpinan lembaga tinggi negara lainnya, misalnya Ketua BPK Anwar Nasution, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, bahkan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. ''Jadi, kalau saya bertemu dengan SBY, ya, biasa-biasa saja,'' kata Agung.

Hidayat Gunadi, Anthony, dan Mukhlison S. Widodo



- Karena dibatasi urusan protokoler, Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai tak leluasa mengopeni Partai Golkar yang dipimpinnya.

- ''Silaturahmi Nasional'' Golkar-PDI Perjuangan dinilai sebagai panggung Surya Paloh untuk unjuk pengaruh.

-- Kaukus Muda Partai Golkar menggelindingkan wacana munaslub, yang kemudian semakin memunculkan tarik-menarik antar-kubu di tubuh Golkar.

- Rajin menggarap daerah dan menjalin lobi dengan elite politik di luar Golkar, Agung Laksono berambisi jadi Ketua Umum Partai Golkar.
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 36/2007 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Advetorial
Angka
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Medela
Media
Nasional
Nusantara
Olahraga
Perspektif
Seni
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com