Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HIBURAN

Tak Sekadar Menjadi DJ

Ajang kompetisi DJ Heineken Thirst Studio tahun ini mengemban misi khusus: melahirkan para DJ cum produser. Visi dan orisinalitas menjadi kunci penentu.

Jika Anda seorang clubber sejati, apa yang Anda harapkan dari seorang DJ (disc jockey)? Pilihan lagu yang tidak membosankan, racikan musik yang bisa mendidihkan adrenalin crowd (massa), stage act yang komunikatif dan atraktif, atau orisinalitas yang meretas mainstream?

Ya, mungkin kombinasi keempatnya sekaligus. Dan itulah yang dilakukan DJ Innerlight, 35 tahun, dalam ajang final kompetisi DJ yang diselenggarakan Heineken Thirst Studio 2006 di Kelab Embassy, Jakarta, Jumat pekan lalu. Heineken International adalah perusahaan bir yang berpusat di Amsterdam, Belanda.

Tampil pada urutan ketiga setelah DJ Lawrence dan DJ Altuna, DJ Innerlight muncul dengan senyum yang selalu terkembang. Pemilik nama lengkap Edhie Triana ini menyajikan musik trance (kombinasi antara musik house dan techno) dengan campuran musik-musik lokal yang unik.

Tiba-tiba, di tengah beat musik yang cepat dan memekakkan telinga, muncul suara seruling bambu yang syahdu. Tidak terlalu keras memang, tapi tetap bisa didengar. Gambar di layar-layar TV Embassy cukup membantu kesadaran akan kehadiran suara seruling itu. Hamparan sawah yang hijau, kerbau yang membajak sawah, Pak Tani yang sedang menanam padi, semuanya seakan membawa para clubber pada capaian sensasi yang aneh.

Bukan hanya itu. Pada kesempatan lain, tak lama setelah ia memakai gitar thunder-nya, tiba-tiba DJ Innerlight memasukkan suara gamelan Jawa yang khas. Gambar wayang pun muncul di layar TV. Kembali crowd berteriak histeris.

"Maut, ya!" gumam seorang clubber di samping Gatra. "I love you, Mas Edhie," teriak clubber lain.

Ketika musik-musik Barat jadi hal biasa, musik-musik lokal (Timur) justru menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. DJ Innerlight dengan cerdas menangkap kebutuhan ini. Ia mencampurkan musik-musik Barat dan Timur.

Dan itu bukan tidak sengaja. Nama Innerlight, misalnya, menurut Edhie, diambil dari lagu kelompok The Beatles yang pertama kali menggabungkan musik Barat dan Timur. Edhie ingin mengatakan satu hal penting di sini: "Musik itu universal!"

Tak mengherankan jika akhirnya crowd menobatkan Edhie sebagai juara I. Tidak saja tampil atraktif dan komunikatif, Edhie juga berhasil merebut hati dengan visi dan orisinalitas musiknya.

Ada peristiwa menarik di sini. Penobatan pemenang Heineken Thrist Studio 2006 tidak dilakukan oleh tim juri, tapi oleh crowd. Berdasarkan penilaian tim juri, yang terdiri dari DJ Riri, DJ Romy, dan Dicky Sudargo, nilai DJ Innerlight dan DJ Lawrence sama: 62. Sedangkan DJ Altuna dan DJ Purple masing-masing menerima nilai 51 dan 55.

Akibatnya, panitia pun sempat bingung. "Ini sesuatu yang tidak kami planning. Kami nggak kepikiran sebelumnya," kata Uchi Sabirin, Public Relations Heineken Thirst Studio 2006.

Solusi pun diambil: keputusan diserahkan ke pengunjung! Dan karena mereka sudah kepincut oleh atraksi DJ Innerlight, maka DJ Innerlight-lah yang didaulat sebagai juara I.

Padahal, penampilan DJ Lawrence tidak kalah yahud. Mendapat giliran tampil pertama, DJ asal Jakarta ini memang sedikit canggung memulai aksinya. Maklum, suasana clubbing malam itu belum sepenuhnya terbentuk. Sekitar 1.000 orang yang memadati Embassy terlihat masih "dingin". Tapi, dengan perlahan dan menyakinkan, DJ Lawrence berhasil mencairkan kebekuan para clubber dengan musik electro clash-nya.

Berkali-kali ia berusaha membakar emosi dengan mengangkat tangan sembari ngoceh di ujung mikrofon. Aplaus pun mulai terdengar dan suasana makin panas. Bisa dibilang, aksi panggung DJ Lawrence paling komunikatif dibandingkan dengan tiga finalis lain (DJ Altuna, DJ Innerlight, dan DJ Purple).

Tapi, apa mau dikata, crowd seperti menyimpan harapan tersendiri pada sosok DJ malam itu. Yakni visi dan orisinalitas musik yang meretas mainstream. Harapan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Edhie Triana. Lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini berhasil membuat sensasi musik yang lain daripada yang lain.

Atas keberhasilannya itu, DJ Innerlight mendapatkan hadiah berupa uang tunai Rp 10 juta, peralatan dari Pioneer seharga 2.500 euro termasuk software-nya, carrier back dari UDG, dan kesempatan masuk studio session dengan salah satu DJ internasional. Sedangkan finalis lainnya masing-masing menerima uang Rp 3 juta, headphone dari Pioneer, software dari UDG, dan digital audio simple dari OG.

Yang menarik dari kompetisi DJ Heineken Thrist Studio tahun ini adalah format kompetisinya yang berbeda dengan tahun lalu. Seorang DJ tidak saja diminta membuktikan talentanya sebagai DJ, melainkan juga sebagai produser. Ia diharuskan memainkan karya musik sendiri. Itulah mengapa nama Heineken Thrist 2005 diganti menjadi Heineken Thrist Studio 2006.

Namun, tidak seperti tahun lalu, untuk kompetisi tingkat global, DJ Innerlight tak akan langsung diberangkatkan ke luar negeri seperti DJ Adhe, pemenang Heineken Thrist 2005. DJ Innerlight diberi hak memanfaatkan studio session guna menciptakan satu lagu yang hasilnya akan di-upload ke www.thirststudio.com. Pemenangnya, menurut Uchi, akan ditentukan melalui voting pencinta musik dunia.

Baru setelah itu, juara I sampai III akan diundang untuk main di event global. Tempatnya direncanakan di Argentina pada Januari 2007. Harapannya, tentu DJ Innerlight bisa melebihi DJ Adhe, yang tahun lalu meraih juara II tingkat internasional.

Luqman Hakim Arifin

Cover GATRA Edisi 41/2006 (GATRA/Enggar Yuwono)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Hiburan
Hukum
Internasional
Intrik & Angka
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lensa
Media
Musik
Nasional
Olahraga
Pendidikan
Perjalanan
Perspektif
Prayojana
Rona Niaga
Serambi
Surat & Komentar
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com