Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

MASJID WAPAUWE
Buah Kerukunan Islam-Kristen

Sudah dipindahkan dari tempat pembangunan awal. Dipugar berkali-kali tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya.

SEBUAH masjid tua berdiri tegak di tengah Pulau Ambon, Maluku. Tepatnya di Kaitetu, sebuah desa di Pegunungan Wawane. Masjid tertua di Maluku itu bukan cuma saksi sejarah masuknya agama Islam di tanah Maluku. Juga sebagai buah kerukunan hidup di antara umat-umat berlainan agama selama ratusan tahun.

Masjid itu berdiri di antara masyarakat Islam dan Kristen. Dan warga masyarakat dari dua keyakinan itu selalu bahu-membahu merawatnya. Hingga kini, tempat ibadah yang dibangun pada awal abad ke-15 itu dibiarkan dengan ciri khasnya yang kuno. Konstruksi bangunannya terbuat dari kayu-kayu yang disambung tanpa menggunakan paku, melainkan diikat dengan tali ijuk, yang sudah ratusan tahun umurnya.

Masjid berukuran sekitar 10 x 10 meter dengan serambi tambahan 40 meter persegi itu memiliki sebuah pintu besar dengan daun pintu berukir kura-kura bertuliskan Allah dan Muhammad. Pada sudut-sudutnya terdapat ornamen kayu berukir dengan bentuk mata tombak, juga bertuliskan Allah dan Muhammad. Masjid bersejarah yang sudah ditetapkan sebagai benda purbakala itu tak memiliki menara. Atapnya berbentuk lancip dengan ujung kayu dipasang tegak lurus di puncaknya.

Masjid Wapauwe memiliki kekayaan sejarah. Di sana tersimpan mushaf Al-Quran tua yang ditulis pada abad ke-16 oleh Nurcaya, cucu imam pertama masjid itu, juga murid Kiai Pati, pendiri masjid. Di masjid itu juga tersimpan kitab barzanji riwayat Nabi Muhammad SAW, yang biasa ditembangkan masyarakat, terutama pada acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Kini, selain sebagai tempat ibadah rutin, Masjid Wapauwe juga dikunjungi banyak wisatawan mancanegara.

Semula, Masjid Wapauwe didirikan di Kampung Wawane, sekitar 6 kilometer dari tempatnya yang sekarang, pada 1414. Pendirinya, Maulana Kiai Pati, adalah seorang penyebar Islam dari Pantai Nukuhaly, Pulau Seram. Awalnya hanya berupa masjid kecil beratap daun rumbia, dengan dinding pelepah sagu.

Kiai Pati berhasil mengislamkan lima kampung di Pegunungan Wawane, yakni Kampung Essen, Wawane, Atetu, Nukuhaly, dan Tehala. Pada 1464, datang lagi rombongan pendakwah Islam dari Jailolo, Maluku Utara, dipimpin Kiai Jamilu.

Jamilu kemudian meneruskan Kiai Pati mengelola Masjid Wawane selama melaksanakan dakwah Islamnya. Bersama masyarakat, Jamilu kemudian mengembangkan bangunan masjid itu menjadi lebih besar. Jamilu disukai masyarakat karena kearifannya. Belakangan, nama Jamilu ditabalkan sebagai nama masjid itu.

Pertengahan abad ke-17, Belanda menguasai Wawane. Masyarakat kemudian memindahkan masjid berkonstruksi kayu itu ke Tehalla, di timur Wawane. Masjid pindahan itu ditegakkan kembali di bawah sebuah pohon mangga hutan. Karena dibangun di bawah pohon mangga, masyarakat kemudian menamainya Masjid Wapauwe. Wapa artinya mangga, dan uwe berarti bawah.

Tempat ibadah ini dinamakan juga Masjid Hena Lua karena dimiliki oleh masyarakat dua kampung, yakni Kampung Tehala dan Nuhukaly. Pada 1700, masyarakat dua kampung itu melakukan perbaikan masjid secara menyeluruh. Mereka memasang kubah berupa tonggak di puncak atap yang terbuat dari kayu kanjoli atau disebut juga bintanggur (Callophylum soelarti), yang banyak tumbuh di kawasan pesisir Tanah Hitu.

Perbaikan terus dilakukan. Pada 1895, dinding bagian bawah yang semula terbuat dari kayu mulai diperkeras dengan beton kapur. Selanjutnya, lantai yang masih berlapis kerikil karang diganti dengan semen pada 1895 oleh seorang tokoh masyarakat bernama Hamid Iha.

Pada awal masa kemerdekaan, Masjid Wapauwe belum mendapat perhatian semestinya sebagai peninggalan sejarah bernilai tinggi. Pemugaran terus dilakukan oleh masyarakat. Setelah masyarakat mengganti kubah kayu masjid, pada 1977 Komando Daerah Militer Pattimura membangun pagar di sekeliling halamannya.

Baru pada 1982, masjid ini ditetapkan sebagai benda purbakala dengan dibuatkan prasasti yang diresmikan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Profesor Dr. Bachtiar Rifai. Sejak itu, setiap upaya perbaikan harus mendapat izin dari Dinas Purbakala, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Maluku.

Tahun 1990-an, masyarakat Desa Kaitetu kembali melakukan pemugaran tanpa merusak arsitektur dan ciri khasnya. Antara lain melakukan penggantian atap. Perombakan itu melibatkan seluruh masyarakat Desa Kaitetu dari dua dusunnya, yaitu Dusun Hila Kristen, yang mayoritas warganya beragama Kristen, dan Dusun Kalauli. Perbaikan dipimpin Ketua Adat Ir. H. Abdullah Lumaela.

Pada akhir 1993, bakti sosial Batalyon Lintas Udara 733 melakukan pembangunan sarana tambahan, berupa serambi, sumur pompa, dan kolam taman. Sejak 1995, masjid ini dilengkapi alat pengeras suara hadiah dari sebuah bank pemerintah.

Meski berkali-kali dipugar, keaslian arsitektur dan ciri khas Masjid Wapauwe tetap dipertahankan. Masjid ini memiliki empat tiang utama dari kayu kanjoli dan empat penyangga dari kayu kani. Ciri khas lainnya adalah punya dua tongkat khatib, masing-masing terbuat dari logam dan kayu.

Ada juga dua tempat lampu minyak terbuat dari kayu dan logam kuningan, serta timbangan kuno terbuat dari kayu, yang dulu digunakan menakar jumlah zakat. Beduknya terbuat dari kayu linggua berukir dengan garis tengah satu meter dan panjang dua meter.

Koleksi sejarah yang tersimpan di Masjid Wapauwe itu tadi, Al-Quran mushaf kuno tulisan tangan yang dibuat pada 1590 oleh Nurcahya, cucu perempuan imam pertama, Ariskupalessy. Kini mushaf kuno itu disimpan Abdurrachiem, salah satu keturunan Ariskupalessy. Ada juga satu mushaf kuno Al-Quran yang belum jelas siapa penulisnya.

Abdul Majid, seorang penjaga benda purbakala di Desa Kaitetu, mengatakan bahwa setiap perbaikan masjid ini harus didahului upacara selamatan. "Ini tradisi turun-temurun," kata Abdul Majid. Hingga kini, masjid itu biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti salat lima waktu dan sembahyang Jumat, salat tarawih, salat Idul Fitri dan Idul Kurban, termasuk pemotongan hewan kurbannya.

Masjid kuno itu sekaligus menjadi simbol kerukunan beragama yang indah. Hampir tiap perbaikan masjid melibatklan umat Kristen yang umumnya mendiami Dusun Hila Kristen, satu dari dua dusun di Desa Kaitetu. Sebaliknya, umat Islam yang mendiami Desa Kaitetu sering ikut dalam acara non-keagamaan di Gereja Imanuel.

Gereja Imanuel, seperti juga Benteng Amsterdam, termasuk benda purbakala lain di Desa Kaitetu. Gereja Imanuel dengan luas 18 x 9 meter itu didirikan Jacob Willem Beth pada 1780, untuk tempat ibadah bala tentara Belanda dan penduduk setempat yang memeluk Kristen.

Sedangkan Benteng Amsterdam awalnya hanya sebuah gudang yang didirikan para saudagar Portugis pada 1569. Akhirnya Belanda datang, dan pada 1574 berhasil merebut gudang rempah-rempah itu, kemudian mengubahnya menjadi benteng dengan nama Amsterdam.

Endang Sukendar
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi Khusus Lebaran 2005 (GATRA/Tim Desain)
 
RUBRIK

Advetorial
Apa & Siapa
Arsitektur
Edisi Khusus
Esai
Kolom
Laporan Utama
Mukadimah
Serambi
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com