spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Arsitek Masjid
Sang Pelopor Masjid Tanpa Kubah

Prof. Achmad Noe'man (GATRA/Anthony)BERBAGAI masjid telah dibangunnya, berjuta umat menikmati kekhusyukan menghadap Ilahi di dalamnya, namun kakek tujuh cucu dan ayah empat anak ini seperti tak kenal pensiun. Di usia 79, kesibukan Prof. Achmad Noe'man masih juga di sekitar masjid. "Tapi sekarang saya lebih senang membuat kaligrafi untuk ornamen masjid," kata kolektor berat piringan hitam musik jazz itu.

Mendesain masjid kini ia serahkan pada Biro Arsitektur Achmad Noe'man (Birano), yang didirikannya hampir setengah abad silam. Birano dipegang oleh anak ketiganya, Fauzan Noe'man, arsitek lulusan Rhode Island School of Design. Noe'man mewariskan kecintaan pada rumah Allah itu kepada empat anaknya, seperti ia terima warisan itu dari ayahnya: H.M. Djamhari, saudagar batik dan tokoh Muhammadiyah Garut, Jawa Barat.

Ia sering diajak Haji Djamhari membangun masjid. "Karena itu, saya bercita-cita menjadi arsitek," ujarnya. Noe'man mengambil jurusan arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (pada 1963 berubah menjadi Institut Teknologi Bandung). Sebelum gelar insinyur ia sandang, pada 1958 Noe'man telah menyumbang keahliannya buat sang ayah. Masjid Muhammadiyah Garut merupakan buah karya Noe'man yang pertama.

Namun karya fenomenal pertamanya adalah Masjid Salman, ITB. Tak lama setelah meraih gelar insinyur, Noe'man menjadi asisten Prof. Van Roemondt, dosen arsitektur Islam di kampusnya. Saat itu, masjid masih jarang di sekitar Jalan Ganesha. Karena itu, untuk salat Jumat, Noe'man biasanya bertandang ke Masjid Cipaganti, atau sekitar 2 kilometer dari tempatnya mengajar. Ketika muncul gagasan membangun masjid di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Noe'man-lah yang kebagian tugas mengarsiteki.

Di situlah Noe'man muda menunjukkan gaya arsitektur nyeleneh. Masjid tanpa kubah dan tanpa tiang penyangga. Padahal, saat itu kubah seolah sebuah keharusan untuk sebuah masjid besar. Rasanya, tanpa kubah tidak sempurnalah bangunan sebuah masjid. Lalu, kenapa tanpa kubah? ''Saya mengambil 'api'-nya Islam,'' kata Noe'man.

Setelah menyimak Al-Quran dan hadis, Noe'man mengaku tidak menemukan ketentuan khusus mengenai kubah dan tiang masjid. Petunjuk yang rinci hanyalah ihwal salat. Dia lalu merujuk sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya, "Salatlah kamu seperti salatku." Dalam salat berjamaah, misalnya, imam harus punya tempat tersendiri di depan. Sementara jamaah berdiri tertib bersaf-saf di belakangnya.

Keteraturan seperti ini tentu memerlukan ruangan yang lapang, lega, tanpa kehadiran "sosok" lain yang bisa menghalangi ketersambungan saf. Karena itulah, ia berijtihad, tiang di dalam masjid sebisa mungkin dihilangkan.

Kubah, lanjutnya, bukan identitas masjid. Struktur atap menggelembung, konstruksi gaya arsitektur Bizantium, ini memang bisa dilihat pada Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki, yang terkenal dengan kubah birunya. Namun Aya Sofia tadinya berfungsi sebagai gereja. Gedung Capitol di Washington, Amerika Serikat, bahkan Kremlin di Moskow, berkubah.

"Gagasan masjid 'tanpa kubah' ini saya ajukan kepada Prof. Van Roemondt," ujarnya. Setelah itu, berbekal gambar, Noe'man bersama Prof. T.M. Soelaiman (guru besar teknik elektro ITB) dan Achmad Sadali (kakak kandung Noe'man, pelukis kaligrafi terpandang, wafat September 1987), menghadap presiden pertama Republik Indonesia.

Presiden Soekarno menyambut positif gagasan para juniornya dari Jalan Ganesha itu. "Bung Karno menyetujui dengan mencantumkan 'acc Soek' pada gambar masjid itu," kata Noe'man. Bung Karno juga yang memberi nama masjid itu Salman. Nama Salman diambil Bung Karno dari sahabat Nabi, Salman Al-Farizi. Salman adalah teknokrat Iran yang menggagas pembuatan saluran (parit) untuk mempertahankan Madinah saat Perang Khandak.

Salman didirikan di lahan bekas kebun tak lebih satu dari hektare, persis di seberang kampus. Mulai dibangun pada 1964. Dan butuh waktu delapan tahun hingga resmi dibuka oleh Rektor ITB Prof. Dr. Doddy Tisna Amidjaja, pada 5 Mei 1972. "Sebetulnya sampai sekarang pun Masjid Salman belum selesai, masih terus dilakukan pembangunan secara bertahap," kata Noe'man. Masjid berukuran 35 x 35 meter ini terbuat dari konstruksi beton, satu lantai. Hanya di bagian belakang ada mezanin (lantai) untuk salat wanita atau pengajian.

Dan seperti direncanakan, tak tampak kubah di sana. Malah atap masjid seperti dua tangan raksasa yang sedang berdoa membuka ke langit. Satu-satunya ciri rumah ibadah kaum muslim itu hanyalah menara yang menjulang tinggi. Masjid Salman, menurut Noe'man, boleh dibilang tanpa ornamen. Sangat polos. ''Saya ingin manfaat sesuai fungsi, harus adil, dan proporsional. Tulisan-tulisan tanpa guna dihindari,'' Noe'man menambahkan.

Mimbarnya pun sangat sederhana, hanya tiang lurus yang tingginya sedada orang dewasa, ditambah meja datar untuk tempat catatan khatib saat khutbah yang terbuat dari kayu jati. Untuk menuju mimbar, ada tiga titian. Namun kesederhanaan itu mengantarkan Noe'man mendapat penghargaan arsitektur bergengsi, Aga Khan Award. Namanya pun tercantum dalam buku The Mosque, yang terbit seiring dengan penganugerahan itu.

Sekitar tahun 1975, Jenderal Muhammad Yusuf, tokoh karismatis dari Sulawesi Selatan, meminta Noe'man membangun Masjid Al-Markazi di Makassar. Al-Markazi juga dibangun tanpa kubah. "Tapi atapnya merupakan 'atap susun', selain untuk menarik perhatian, juga supaya cahaya masuk," kata Noe'man. Masjid yang megah ini dibangun satu lantai, dan ada mezanin di belakang. Mirip Salman. Bedanya, di keempat pojok bangunan masjid terdapat tiang. Pada tiang bagian depan terdapat tangga sebanyak 85 titian. Al-Markazi pun mendapat Aga Khan Award.

Setelah membuat Masjid Salman dan masjid Al-Markazi, Achmad Noe'man sempat dicap sebagai arsitek "anti-kubah". Akhirnya, sekitar tahun 1980-an, Noe'man membuat masjid berkubah, yaitu At-Tin di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. At-Tin dibangun seefisien mungkin. Pembangunan kubah menggunakan teknologi struktur baru, yaitu "space frame", konstruksi yang dibuat dari batang-batang baja, sehingga ringan, kuat, dan gampang dalam pembangunannya. ''Di sini saya memberi kesempatan bagi yang mendambakan kubah,'' ujar Achmad Noe'man. Kebalikan dari Salman, masjid berukuran 60 x 60 meter itu dibuat penuh ornamen.

Mimbarnya terbuat dari kayu berukir, yang dilengkapi tangga dari beton. Bagian atap masjid yang bentuknya dome (kubah) dihiasi kaca patri berwarna. ''Kalau melihat ke langit-langit masjid pada siang hari, sinar matahari masuk, dan terjadilah permainan cahaya yang sangat mengasyikkan," katanya. Pada malam hari, "Sinar lampu yang keluar menyinari kaca patri, sehingga menghasilkan cahaya yang indah,'' Noe'man menambahkan. Memasukkan ornamen kaca patri dalam Masjid At-Tin diilhami oleh surat An-Nur, tentang cahaya. Surat ini dikupas oleh banyak sastrawan karena keindahannya.

Setelah itu, masjid demi masjid lahir dari tangan Noe'man. Tak kurang dari 50 masjid telah dirancangnya. Namun, kalau diperhatikan dengan saksama, menurut Noe'man, tak ada satu masjid pun yang sama. ''Setiap karya selalu berbeda, tidak ada yang diulang," katanya.

Dani Hamdani dan Ida Farida
[Arsitektur, Gatra Edisi Khusus, Beredar Kamis, 27 Oktober 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 07 November 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer