spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
FAKTA LANGKA
spacer
 
Metode Bahasa Nabi Khidir

Ahmad Sholeh Sedang Memberi Penjelasan Kepada Santri (GATRA/Arif Sujatmiko)SARANA memperdalam bahasa asing kini tersedia melimpah. Kursus bahasa Inggris, misalnya, sudah menjamur sampai ke pelosok kampung. Dari yang menyewa ruko hingga yang berkantor megah ber-AC dengan lapangan parkir nan luas.

Lembaga pelatihan bahasa yang bonafide seperti itu biasanya juga memasang iklan di media cetak atau televisi. Di situ mereka mempromosikan fasilitas belajar, mulai kelas ber-AC, instruktur asing (native-speaker), video, dan diktat lengkap. Biayanya, ya, tergantung pilihan.

Ongkos kursus di tempat beken tentu mahal. Umumnya, ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu level program. Yang bertempat di ruko dengan kipas angin di tiap kelas bisa lebih murah. Kebanyakan orang perlu beberapa tahun untuk bisa mahir. Sudah begitu, kalau tidak aktif digunakan, Anda bisa kembali gagap.

Kini Anda bisa mencoba cara baru. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurur Riyadhoh, Desa Alas Tengah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Anda cuma perlu datang sekali. "Dijamin dalam tiga bulan bisa menguasai, dan tidak akan pernah lupa," kata KH Ahmad Shaleh, pendiri ponpes.

Pondok yang punya 150-an santri itu memperkenalkan apa yang disebut sebagai ilmu laduni. Menurut kiai yang biasa disapa Gus Shaleh itu, setiap orang sudah menguasai semua bahasa. Hanya, tidak bisa mengucapkannya, lantaran tak dibiasakan sejak kecil. "Ilmu laduni membantu menemukan kembali bahasa itu," kata lelaki 48 tahun itu.

Selama proses "pencarian" ilmu itu, tidak diperlukan alat bantu apa pun. Baik video, kaset bahasa asing, laboratorium bahasa, apalagi native speaker. Sebagai gantinya, para santri bahasa (mereka yang datang hanya untuk menguasai bahasa asing) menjalani ritual. Menurut Gus Shaleh, seorang santri bahasa harus melakukan tiga macam ritual.

Pertama, tahap pembukaan dengan metode ijazah. Yakni pengisian ilmu oleh seorang kiai. Santri duduk bersila menghadap kiai. Kemudian sang kiai merapalkan doa tertentu. Tahap ini cuma butuh waktu lima menit. Setelah selesai, sang kiai memberikan selembar kertas berhuruf Arab. "Ini bacaan salawat saja kok, ditambah beberapa doa," katanya.

Setelah mata batin santri dibuka dengan ijazah, selembar kertas berisi salawat dan doa itu dibaca berulang-ulang selama kurang lebih dua jam. "Ini semua masih dalam prosesi pertama," ujar kiai berusia 48 tahun itu. Setelah itu, santri masuk tahap kedua, yakni penarikan bahasa yang dikehendakinya. Misalnya bahasa Inggris.

Pada tahap ini, santri dipancing oleh salah satu santri sang kiai dengan obrolan bahasa yang dikehendaki santri bahasa. Tujuannya, agar santri bahasa terbiasa mendengarkan bahasa yang diinginkannya. Berulang-ulang, sehingga terekam ke dalam memori dan mata batinnya.

Selama proses itu, pertanyaan kiai memang tidak dijawab. "Tapi mata batinnya bisa memahami," kata Zainullah, salah satu anak buah Gus Shaleh yang membantu proses itu. Setelah beberapa lama berjalan, prosesi masuk ke tahap akhir. Yakni pemisahan dan pencucian bahasa.

Tujuannya, agar santri fokus pada pilihan bahasa yang dikehendaki. Selain itu, santri juga dibuka kemampuan menulisnya. Untuk sampai pada tahap ini, santri diminta mandi. Tentu tak sembarang mandi. Ada doa-doa yang dipanjatkan sang kiai. "Tujuannya, untuk mengunci dan mempercepat proses penguasaan bahasa dengan ilmu laduni," sang kiai menambahkan.

Untuk santriwati tidak harus mandi. Tetapi, jika santri itu tidak keberatan, bisa saja dimandikan. Hanya ditemani kerabatnya. Asal tahu saja, prosesi mandi ini dilakukan di kamar mandi dengan pintu terbuka. Seluruh proses itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelah itu, santri bahasa bisa pulang.

Menurut Gus Shaleh, prinsipnya santri yang sudah melalui prosesi itu sudah menemukan bahasa yang dicari. Hanya, ia tidak otomatis mahir. Untuk mencapai tahap mahir, masih dituntut upaya lain. "Ya, si santri bahasa harus berlatih. Makin giat, ya, makin cepat menguasai," katanya. Sarana berlatih bisa buku, kaset, video, atau bicara dengan orang asing sekalian.

Untuk menyerap ilmu laduni, santri bahasa bisa memilih dua program: istimewa dan biasa. Untuk program pertama, santri dipungut ongkos (biasa disebut mahar), Rp 1 juta. Yang kedua cuma Rp 350.000. Kedua program itu sama-sama meliputi tiga prosesi tadi.

Hanya, ada sedikit berbedaan perlakuan. Sayang, Gus Shaleh enggan berbagi rahasia. "Wah, tidak bisa disebutkan, Mas," katanya. Tapi, kabarnya, pada program istimewa, santri diberi tambahan doa-doanya yang tidak ada pada program biasa. Hasilnya sudah tentu berbeda pula.

Dengan upaya yang sama, santri dengan program istimewa bisa menguasai bahasa asing lebih cepat ketimbang program biasa. Dengan program istimewa, santri bisa menguasai bahasa asing dalam tempo dua pekan. Yang mengambil program biasa bisa sampai tiga bulan.

Dari hari ke hari, peminat program ini terus meningkat. Saat Gatra datang, tiga pekan lalu, hampir 20 orang antre menunggu giliran diberi ilmu laduni. Biasanya, peminat makin ramai pada akhir pekan. "Bisa sampai 30-50 orang per hari," kata Zainullah. Mereka datang dari pelbagai daerah di Jawa. Bahkan dari luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.

Padahal, tidak ada publikasi apa pun tentang belajar bahasa asing dengan metode ilmu laduni itu. Kebanyakan santri bahasa datang setelah mendengar keberhasilan orang lain. Itu pula yang disampaikan dua santri bahasa yang ditemui Gatra di Ponpes Nurur Riyadhoh.

Seperti dituturkan Sarjono. Pemuda kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 29 tahun lalu itu datang jauh-jauh dari Bali. Di Pulau Dewata, ia bekerja di sebuah restoran. "Kebanyakan pelanggan restoran dari mancanegara, Mas. Saya ingin lancar meladeni mereka bicara," katanya. Maka, ia memilih bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman.

Anak bungsu pasangan Sukardjo dan Rukmini itu mengetahui informasi tentang kelebihan Ponpes Nurur Riyadhoh dari teman seprofesinya. Sebelumnya, si teman tak bisa berbahasa Inggris. Namun, setelah datang ke pondok tersebut, sekitar tiga bulan, ia sudah bisa cas-cis-cus.

Semula Sarjono tak yakin bahwa ilmu laduni bisa mengantarkan seseorang cepat menguasai bahasa asing. Tapi, setelah si teman membuktikannya, ia tak bisa membantah. Bahkan tergerak untuk membuktikannya pula. "Apa salahnya jika saya juga mencobanya, Mas," kata Sarjono.

Kisah itu agak mirip dengan pengalaman Andik Setyowibowo, 21 tahun. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), mulai tertarik dengan Ponpes Nurur Riyadhoh setelah mendengar kisah sukses teman sekelasnya. Suatu kali, si teman menyodorkan sertifikat hasil tes TOEFL yang mencapai 500. "Wah, saya kaget. Saya tahu, dia tergolong gagap bahasa Inggris, tapi kok bisa," katanya.

Menurut si teman, ia berguru sehari di Nurur Riyadhoh. "Maka, saya pun menjajalnya," katanya. Tujuannya, untuk menunjang studinya di UGM. Sebab, dalam setiap materi perkuliahannya, referensi yang digunakan mayoritas berbahasa asing (Inggris). "Ya, hitung-hitung trial and error," ujarnya. Selain itu, mungkin dia bisa mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri.

Menurut Gus Shaleh, pengajaran ilmu laduni itu sudah dimulai sebelum Ponpes Nurur Riyadhoh berdiri, pada 1990-an. Awalnya dia hanya ingin membantu seorang temannya yang ingin belajar bahasa Jepang karena berniat jadi TKI. "Kebetulan saya punya ilmu laduni. Ya, saya bantu," katanya. Setelah dibantu, ternyata sukses.

Keberhasilan itu menjadi buah bibir. Mulanya, kemampuan Gus Shaleh hanya bergaung di seputar Probolinggo. Lama-kelamaan menyebar ke luar kota. Gus Shaleh mengaku mendapatkan ilmu laduni itu dari Nabi Khidir AS melalui ritual tirakat (lelaku, bertapa).

Tirakat dimulainya sejak usia tujuh tahun. Yang mengajarinya tirakat tak lain adalah ayahnya, KH Jauhari. Biasanya Gus Shaleh melakukan tirakat di tepi laut sambil mencari ikan. Pada usia sekitar 12 tahun, Gus Shaleh mengaku bertemu dengan Nabi Khidir AS di tepi laut.

Dalam pertemuan itu, menurut Gus Shaleh, wujud Nabi Khidir AS berupa seorang manusia yang mengenakan pakaian seperti rakyat biasa. Ia mengangkat Gus Shaleh sebagai muridnya. "Ada banyak ilmu diberikan. Salah satunya ilmu laduni," katanya.

Koesworo Setiawan, dan Arif Sujatmiko (Surabaya)
[Astakona, Gatra Nomor 21 Beredar Senin 4 April 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 10 April 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdot12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer