spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ESAI
spacer
 
Widi Yarmanto
Tradisi

Esai - "Tradisi" (GATRA/Enggar Yuwono)TETANGGA satu kompleks saya meninggal karena terjatuh dari motor saat mengusung sekarung sayuran, dua pekan lalu. Kepalanya membentur trotoar. Ia terluka sedikit, tapi jiwanya tak tertolong. Kala jenazah diusung, keluarganya memecahkan sebuah piring di pintu pagar: prang!

''Itu tradisi. Mungkin agar 'perjalanan' almarhum tak perlu disesali. Tak usah diingat-ingat. Ibarat piring sudah pecah berantakan,'' kata saya mereka-reka. Anggaplah itu benar. Jadi, ikhlaskanlah roh itu menghadap Ilahi. Mati itu pasti!

Itu adat. Sebuah kebiasaan warisan leluhur yang mencakup berbagai nilai budaya, kemasyarakatan, kepercayaan, dan sebagainya. Tradisi adalah sebuah proses yang makin lama jadi semacam kebiasaan, yang diyakini kebenarannya.

Mungkin, persis tradisi melihat bayi lahir. Di sebuah tempat, bayi yang baru lahir tidak boleh ditengok, kecuali oleh orang-orang terhormat dan keluarga yang dianggap baik. Sebab kebaikan itu diharapkan menginspirasi dan terefleksikan pada si bayi.

Refleksi itu tumbuh seperti benih, memberi bunga dan buah, menurut sifat dan karakternya. Orang yang berkepribadian besar menularkan kepribadian besar pula. Sebaliknya, jika kebusukan dan keculasan yang terefleksikan, maka sifat negatif itu pula yang akan tertularkan.

Momentum Lebaran tempo hari juga memunculkan tradisi: bagi-bagi bingkisan! Parsel dilarang, ya, digantikan dengan bunga atau natura lain yang proporsional. Itu sudah mentradisi dan dianggap lumrah, sehingga memunculkan seloroh --kendati bisa diartikan celamitan-- mengarah: ''Jangan lupa parselnya, ya.''

Seorang tukang sayur pun mengadopsi tradisi tersebut. Dia memberikan hadiah Lebaran kepada para pembantu --yang dianggap punya andil membelanjakan uang lauk-pauk majikan-- berupa handuk besar. Bisa berfungsi sebagai kemben habis mandi. ''Saya dapat hadiah, Bu, dari tukang sayur,'' ujar seorang pembantu, kegirangan.

Majikannya ikut senang, walau sedikit curiga: ''Nanti dimahalin.'' Dengan tangkas pembantu itu membela: ''Tidak, kok, Bu. Dia tetap lebih murah.'' Hanya saja, pembantu sebelah mengeluh, ''Handuk hadiah itu diambil Ibu majikan saya.'' Ya, membahagiakan wong cilik saja, kok, susah, ya?

Di pemerintahan SBY-Kalla, ada pula ''tradisi'' yang lestari: korupsi! Maka, jika seorang pejabat ditanya, ''Apa kabarnya? Baik-baik, kan?'', jawabannya tak terpisahkan dari rasa waswas atas target 100 hari pemerintah untuk menyikat koruptor.

''Tradisi'' ini melekat, karena posisinya dulu tak terlepaskan dari pengorbanan. Jangankan untuk eselon atas, tingkat pegawai rendahan pun harus pakai uang upeti. Istilahnya macam-macam. Ada uang administrasi, uang pelicin, uang rokok, atau uang kopi --walau bukan perokok atau tidak penikmat kopi. Ada pula uang diam untuk membungkam mulut.

Pengorbanan itu butuh timbal balik. Maka, jangan heran jika urusan pribadi wajib ditanggung negara. ''Aneh! Masak mantu pun harus dibiayai negara,'' kata seorang pegawai dengan geregetan, walau ia tak bisa berbuat apa-apa. Otak tulalit si pejabat seakan terkarbit jadi ''brilyan'' untuk urusan beginian.

Mungkin, karena ''tradisi'' itu merupakan warisan lama. Bos besar suka main tunjuk barang yang disukai atau membangun istananya bukan dari gaji. Anak buah pun ikut-ikutan menyerap ilmu tersebut. Jangan heran jika istri pejabat juga ketularan. ''Saya punya batu, tolong diiketin, ya,'' katanya.

Harga batu tersebut memang tidak seberapa, tapi logam mulia yang dipakai mengikat yang luar biasa. Kekuatan, keanggunan, dan kewibawaan kalung itu seakan tambah mencorong karena ditaburi intan berlian. Semakin orang berdecak kagum dan memperhatikan kalung itu, makin membuat dia berbinar. Persis kucing atau anjing yang butuh perhatian tuannya.

Biaya untuk mengikat itu duit siapa? Ya, uang negara. Semua bisa diatur. Saat membuat undangan pernikahan anak, misalnya, nama, jabatan, dan alamat tamu tak boleh salah. Bisa memalukan! Bekerjalah secara profesional. Bos tak perlu mengeluarkan uang lelah dan uang diam, karena profesionalisme diartikan pengabdian tiada cela.

Dan, jangan sekali-kali mendramatisir masalah. Juga dilarang merespons orang berpikiran kacau. Yaitu yang menganggap bahwa hidup bahagia itu bisa terwujud tanpa materi. ''Orang harus kaya agar bisa menguasai dunia,'' begitu yang sering diucapkan pemuja duniawi, yang kehidupannya tak bergeser jauh dari seks, minum, dan judi.

Jadi, adakah panggung dunia ini yang makin rumit ataukah otak kita yang tak lagi memedulikan tangis orang lain? Orang bijak mengatakan, ''Orang tanpa kualitas hati akan mementingkan diri sendiri, bahkan secara bodoh.'' Hal senada diucapkan Nabi Isa, ''Di mana hartamu berada, di situ pulalah hatimu.''

Mungkin, mereka menyadari telah memasuki api yang sedang menyala, namun tak menyadari akibatnya. Selama ini, kita memang sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Akibatnya, walau harta sudah segunung, tiada nikmat yang melekat atau hanya sesaat. Ibaratnya, rasa dahaga itu selalu menyergap, meski digelontor air.

Kita tak pernah merasa ''kaya'' dalam arti sesungguhnya. Kita tak bisa menikmati apa pun yang kita miliki, karena kurang mewujud melalui rasa syukur. Atau, kita cenderung membanding-bandingkan dengan milik orang lain, mulai dari kekayaan, jabatan, kesehatan, sampai kecantikan yang tiada habis-habisnya.

Padahal, keceriaan dan kecantikan itu tidak ditentukan oleh kalung bertatahkan berlian, melainkan dari sikap hati. Jika kesadaran itu menghiasi hati, insya Allah, ''tradisi'' main tunjuk bakal terkubur bersama tumbuhnya rasa malu.

[Esai, Gatra Nomor 12 Beredar Jumat, 28 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  memang sudah Tradisi...? (fauzanbantadaud@ya..., 06/02/2005 01:47)
Memang sudah tradisi dari dulunya zaman Orde Baru jangankan pejabat besar pejabat kelurahan aja nyempet-nyempetin bikin acara mumpung belum habis masa jabatan,jadi bikin acara dulu nyunatin anak,ngunduh mantu,siapa tahu periode berikutnya gak terpilih lagi,jadi masih bisa manfaatin fasilitas negara kan gratis,siapa takuttt.....?
 
 
spacer
  
  cepet2 mantu mumpung masih menjabat (siwa20005@ya..., 01/02/2005 04:40)
udah jadi budaya para pejabat yg merasa di tahun berikutnya udah gak punya jabatan penting maka dia cepet bikin acara resepsi buat anak2nya. ya... mumpung belum pensiun...kalau udah pensiun khan makin sedikit orang yg kasih hormat pada mantan pejabat tsb. kalau pas mantu khan banyak lho fasilitas negara yg dipakai...ya..khan... jadi kasaihan dong anaknya yf disuruh kawin krn mengejar masa pensiun dari ortunya yg pejabat
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 01 February 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer