spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Terlalu Sederhana, Scorsese

Leonardo Dicaprio; 'The Aviator' (Miramax Films)THE AVIATOR
Pemain: Leonardo DiCaprio, Cate Blanchett, Kate Beckinsale
Sutradara: Martin Scorsese
Produksi: Initial Entertainment Group, 2004

TIDAK ada yang lebih gila dari Howard Hughes pada 1930-an. Ketika membuat film Hell's Angels, ia mendirikan angkatan udara swasta yang punya 87 pesawat dan 137 pilot. Untuk menyelesaikan Hell's, Hughes perlu 26 kamera dan tiga tahun proses pembuatan dengan biaya US$ 3,8 juta. Angka-angka itu merupakan rekor tertinggi pada zamannya.

Tapi rekor yang ditorehkan Hughes saat usianya 25 tahun itu baru catatan awal. Sebab, setelah itu, kecintaan pada dunia penerbangan menempatkannya sebagai pencipta rekor. Pada 1934, pesawat H-1 yang dirancangnya memecahkan rekor kecepatan terbang dengan kecepatan 352 mil per jam (setara dengan 566 kilometer per jam).

Setelah mencetak beberapa rekor penerbangan lain, pada 1940 Hughes memulai sebuah proyek ambisius dan eksperimental. Multijutawan muda itu merancang bangun sebuah "perahu terbang" terbesar yang pernah ada di muka bumi. Pesawat itu ia namakan The Hercules (dikenal juga dengan sebutan "The Spruce Goose"). Materi utama Hercules adalah kayu.

Hughes yang belajar menerbangkan pesawat sejak usia 14 tahun ini selalu mengambil kesempatan pertama sebagai pilot uji-terbang pesawat yang dirancangnya. Pada 1946, Hughes mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Uji coba pesawat pengintai eksperimental XF-11 berakhir tragis di area permukiman Beverly Hills.

Kecelakaan itu memulai sebuah episode baru kehidupan Howard Hughes. Ia mulai dihantui rasa sakit. Sekelumit perjalanan hidup pria kelahiran Houston, Texas, 1905, inilah yang diangkat sutradara kenamaan Martin Scorsese dalam The Aviator.

Jelas tidak mudah memindahkan biografi pria yang sejak usia 17 tahun sudah menjadi yatim-piatu dengan warisan segudang ini ke dalam film. Sebab begitu banyak sensasi, kontroversi, dan gejala kejiwaan yang unik dalam diri Hughes.

Untuk itu, Scorsese memilih jalan aman. Ia menyajikan kehidupan Hughes pada rentang 1920-1940. Dua dekade dalam kehidupan pria yang namanya masuk dalam "Aviation Hall of Fame" ini adalah fase yang penuh pencapaian besar di bidang film, penerbangan, asmara, hingga politik-bisnis.

Karakter Hughes sebagai lelaki muda yang obsesif, perfeksionis, dan glamor dipercayakan pada aktor Leonardo DiCaprio. Kritikus film The Washington Post, Desson Thomson, menyebutkan bahwa Leo tidak berhasil menampilkan Hughes yang sesungguhnya. Yakni seorang pecandu heroin, biseksual, dan pemangsa wanita yang dihantui paranoia terhadap penyakit-penyakit menular.

Wajah Leo yang kekanakan menjadi salah satu kelemahan saat harus memainkan peran dalam plot cerita yang menggunakan pendekatan kronologis. Seperti juga dalam Titanic, Leo terlihat terlalu muda dan modern, bahkan untuk memerankan sosok lelaki muda dalam setting klasik. Dalam The Aviator, kumis dan janggut terasa belum cukup untuk "mendewasakan" atau sekadar menandai perubahan usia Hughes.

Maka, keputusan juri Golden Globe Award 2005 yang menempatkan Leo sebagai peraih penghargaan aktor drama terbaik lewat The Aviator merupakan keberuntungan besar baginya. Jika inkonsistensi Leo dalam menggunakan aksen Texas tidak dianggap sebagai kesalahan besar, atau karena Jamie Foxx, pesaing kuatnya, dianggap gagal memerankan legenda jazz Ray Charles, rasanya penghargaan itu hanya layak diterima Leo sebagai bonus kerja kerasnya bertahun-tahun di dunia film.

Dalam beberapa adegan yang memaparkan hubungan asmara Hughes dengan Katharine Hepburn (Cate Blanchett), Leo tenggelam dibandingkan dengan akting banal dan karikatural Blanchett yang mengesankan. Rasanya, untuk berperan sebagai milyuner muda yang penuh gagasan besar, Leo memang cukup energik, namun jelas tidak cukup karismatis.

Beberapa kritikus film menyebut film Citizen Kane (1941) garapan sutradara brilyan Orson Welles sebagai pembanding pencapaian Scorsese dalam The Aviator. Welles yang baru berusia 25 tahun saat menggarap Kane dianggap jauh lebih berhasil memunculkan figur milyuner Charles Foster Kane dengan bahasa gambar, editing, dan pola pengisahan yang melabrak aturan-aturan baku pembuatan film pada masanya.

Sementara itu, Scorsese yang sudah melahirkan beberapa karya mengesankan, seperti Raging Bulls (1980), The Last Temptation of Christ (1988), Goodfellas (1990), dan Kundun (1997), justru dinilai terlalu taat mengikuti "aturan main" Hollywood dengan menyuguhkan aktor besar dan mahal, kecanggihan komputer grafis, namun lemah dalam aspek pengembangan cerita.

Memang banyak adegan yang memuat ketegangan, juga humor, bisa dinikmati dalam film ini. Semudah kita menemukan suguhan gambar bagus dengan komposisi yang hampir sempurna khas Scorsese. Namun The Aviator rasanya terlalu sederhana dibandingkan dengan karya-karya besar sebelumnya dari sutradara kelahiran New York, 17 November 1942, ini.

Bambang Sulistiyo
[Film, Gatra Nomor 12 Beredar Jumat, 28 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 29 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer