spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
SULAWESI
spacer
 
Kekhawatiran Tsunami
Warga Palu dan Donggala Bertahan di Perbukitan

Palu, 25 Januari 2005 11:38
Menyusul kekhawatiran munculnya gelombang pasang (tsunami) pasca-gempa tektonik 6,2 Skala Richter, Senin kemarin, lebih dari 10 ribu warga Kota Palu dan Kabupaten Donggala mengungsi dan bertahan di wilayah-wilayah perbukitan.

Pantauan Antara, Selasa, menyebutkan lokasi-lokasi ketinggian yang terdapat banyak pengungsi itu, antara lain di desa Paneki (Kabupaten Donggala), Kelurahan Ngatabaru, Kawatuna, Poboya, Lasoani, dan kompleks MTN Jabal Nur di Kecamatan Palu Timur, dan Stadion Gawalise di Palu Barat.

Para pengungsi itu banyak yang memanfaatkan tepian jalan raya dan fasilitas umum (masjid, pesantren, sekolah, dan gedung pramuka) untuk tempat bernaung.

Mereka yang mengungsi di pinggiran jalan, menggunakan tenda-tenda darurat dari terpal dan kain sarung. Banyak pula di antara mereka yang menginap sementara di rumah-rumah penduduk desa setempat.

Aswan (23), pengungsi asal Kelurahan Petobo, Palu Selatan, mengatakan ia bersama keluarganya mengungsi di Pegunungan Ngatabaru beberapa saat setelah gempa kuat mengguncang Senin pukul 04:10 Wita, karena mengkhawatirkan terjadinya tsunami.

Tempat pengungsian Aswan beserta ratusan warga Kota Palu lainnya di dekat Asrama Brimob Polda Sulteng itu sudah berada pada ketinggian 200 meter dari permukaan laut.

Seorang warga asal ke Kelurahan Birobuli (Palu Selatan) yang baru pulang dari pengungsian mengatakan masih terdapat puluhan kepala keluarga penduduk Kota Palu bertahan di puncak gunung Taman Hutan Raya Poboya karena mengkhawatirkan stunami.

Lokasi pengungsian itu sendiri sudah berada pada ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut.

Sementara itu, pengungsi yang bertahan di Bumi Perkemahan Paneki dan Pegunungan Raranggunau (Desa Paneki) umumnya warga yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Dolo dan Sigi-Biromaru, Kabupaten Donggala) yang dekat dengan pusat gempa.

Lain halnya dengan Ny. Ani (52), warga asal Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala.

Ibu empat anak ini mengaku mengungsi bersama seluruh anggota keluarganya ke rumah saudaranya di Kelurahan Kawatuna, Palu Timur, karena rumah permanen miliknya sudah mengalami keretakan besar dan terancam ambruk apabila diguncang gempa susulan kuat.

Tapi, banyak di antara pengungsi itu mengaku masih bertahan di wilayah pegunungan karena beredar isu bahwa beberapa hari ke depan pegunungan yang mengelilingi Danau Lindu akan jebol dan menumpahkan airnya ke seluruh Lembah Palu saat berlangsung gempa susulan kuat, sekalipun sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seorang petugas Satpam di Bandara Mutiara Palu memperkirakan, saat ini masih terdapat lebih 7.000 pengungsi mengamankan diri dalam hutan/pegunungan yang mengelilingi bagian timur dan selatan bandar utara terbesar di ibukota Provinsi Sulteng itu.

Terlalu berlebihan Kepala Stasiun Meteorologi Palu, Drs Suko Prayitno Adhi, mengatakan banyak warga Kota Palu dan Kabupaten Donggala terlalu menanggapi berlebihan dan tidak masuk akal atas pengaruh gempa tektonik berkekuatan 6,2 pada Skala Richter yang mengguncang Lembah Palu pada Senin kemarin (24/1).

"Banyak sekali telepon dari masyarakat yang saya terima dan menanyakan: `Gunung apa yang meletus`, `kapan muncul tsunami dan berapa tingginya`, `kapan gempa susulan lagi dan berapa kekuatannya`, hingga pertanyaan soal tumpahnya air Danau Lindu," tuturnya.

Menurut Prayitno, munculnya pertanyaan-pertanyaan demikian itu dikarenakan minimnya informasi diterima masyarakat luas soal gempa, tsunami, beredarnya isu menyesatkan, serta trauma atas tayangan gempa dan badai tsunami yang melanda Provinsi Nangroe Aceh Darussalam oleh media massa.

"Perlu saya tegaskan bahwa di wilayah Provinsi Sulteng tidak ada gunung berapi apalagi hingga meletus, kecuali Gunung Colo di Pulau Unauna yang terletak di Teluk Tomini," ujarnya.

Mengenai gempa yang terjadi di Lembah Palu pada Senin pagi (24/1) kemudian disertai sejumlah gempa susulan, Prayitno mengatakan merupakan gempa tektonik yang disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi di "Patahan Palukoro".

"Gempa ini berpusat di daratan dan tidak terlalu kuat sehingga tak mungkin memunculkan tsunami," katanya, seraya menambahkan secara teoritis kekuatan gempa susulan tiap saat terus melemah dibanding "mainshock" (gempa utamanya).

Prayitno hanya meminta penduduk yang bermukim di pesisir pantai Teluk Palu, Leher Pulau Sulawesi hingga di wilayah bagian utara Pulau Sulawesi, untuk mewaspadai munculnya tsunami apabila terjadi gempa sangat besar dan berpusat di Selat Makassar (Patahan Palukoro).

"Patahan Palukoro itu termasuk aktif dan dalam sejarah beberapa kali memunculkan gempa tektonik dahsyat, disertai stunami tapi ketinggiannya tak lebih 15 meter," kata dia. [TMA, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 29 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer