spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ESAI
spacer
 
Widi Yarmanto
Gendut

ESAI - "Gendut" (GATRA/Enggar Yuwono)SEORANG pejabat tinggi tersenyum getir. Ia mengaku bekerja tanpa kenal lelah, mengurangi jam tidur, mengorbankan waktu untuk keluarga, pendapatannya menyusut, tapi masih dikritik kiri-kanan tidak becus. Bahkan, ia difitnah dan dicibirkan bawahan. Tak apa!

Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Sang pejabat menarik napas panjang, lalu berucap, ''Sakitnya bangsa ini memang sudah kelewat parah.'' Banyak yang bermental bunglon, penjilat, dan mau menangnya sendiri demi menggendutkan perut.

Dalam situasi penuh intrik, suap, penggelapan, penggelembungan, dan pengelabuan itu, yang namanya menekan, memeras, dan memangsa sesama seolah jadi kebutuhan. Maka, segenap hidup pun dilembari tipuan. Mungkin ia mengaplikasikan resep seni perang Sun Tzu secara universal: ''Gunakan mata-mata dan pengelabuan dalam setiap usaha.''

Etika pun terbalik-balik. Orang yang gigih mengatasi kekusutan malah dipinggirkan. Ikut bermain api takut dosa, atau jika nasib apes malah masuk bui. Yang paling aman --walau tak terpuji-- yaitu menutup mata, telinga, dan hati terhadap penggerogotan uang negara di depan mata.

Bayangkan, hampir semua ''makhluk'' yang disebut proyek di negeri ini pasti berbau tak sedap. Terlebih yang didanai dolar pinjaman. Bisa di-mark-up hingga 200% lebih. ''Itu kan menyusahkan anak-cucu kita, yang harus mengembalikan pinjaman itu 30 tahun lagi,'' ujar sang pejabat, geregetan.

Jangan jadikan rakyat sebagai sapi perah! Rakyat miskin yang kini mencapai 36,5 juta orang itu bisa tambah sengsara. ''Saya dimusuhi, tapi jalan terus. Yang mau ikut saya jalan ke barat, ya, silakan naik. Kalau mau ke timur juga, ya, turun saja,'' kata sang pejabat mengibaratkan gerbong.

Hati dan tekadnya memberantas korupsi pada pemerintahan SBY-Kalla tak bisa ditawar. ''Dibela maupun tidak dibela, saya jalan terus. Menang dan kalah soal nanti. Indikatornya, kalau saya dipinggirkan, berarti mereka yang kuat,'' katanya.

Keprihatinan terhadap mental bangsa yang sakit juga dirasakan Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa. Bayangkan, ''Rakyat kecil diperas orang kecil,'' katanya. Ia tidak menutup mata, misalnya, para sopir diperas petugas DLLAJR di pinggiran kota. Atau, TKW yang baru tiba di Tanah Air jadi ''bancakan'' petugas di bandara.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu kata pepatah. Kondisi buruk inilah yang dilaporkan seorang tahanan yang baru saja meninggalkan sel di Jakarta. ''Kami dizalimi secara terkoordinir,'' kata dia kepada Menteri Kehakiman Hamid Awaludin, pekan lalu.

Dia memang tidak pernah dimintai duit. Tapi pemerasan di lembaga itu sudah memuakkan. Bayangkan, kamar tahanan dijual Rp 10 juta-Rp 50 juta. HP berseliweran di sel. Belum lagi penyunatan jatah makanan. Bahkan, seorang petugas yang hampir pensiun masih sempat-sempatnya, ''Mengumpulkan harta demi hari tua.''

Menyikat koruptor memang jadi agenda utama duet SBY-Kalla. Maklum, hampir semua departemen tak luput dari sarang koruptor. Bupati, wali kota, gubernur, dan anggota DPRD pun silih berganti menghiasi lembaran koran, karena mereka terindikasi me-mark-up atau menyunat anggaran belanja.

Gebrakan ini membuat banyak orang belingsatan. Khawatir kejeblos ke hotel prodeo. Namun, akibatnya, jatah bulanan buat istri kedua dan ketiga --yang dinikahi secara diam-diam-- pun ikut tersendat. Keributan tak terelakkan, karena perselingkuhannya terbongkar. Mata orang pun terbelalak. Itu belum termasuk episode lanjutan: penggelapan uang negara milyaran!

''Orang yang bandel dan kurang ajar harus dibabat,'' begitu yang disarankan Wu Tzu-hsu kepada rajanya, Fu-ch'ai, di Cina beberapa abad lalu, dalam melenyapkan kebusukan duniawi. Saran itu terdengar ekstrem, karena ada tambahan kalimat, ''Agar tak ada lagi benih-benihnya di tanah.''

Di Inggris pada abad ke-19, juga diterapkan hukuman keras buat para pencoleng. Seseorang bisa dihukum mati hanya karena mencuri barang kelontong seharga lima schilling. Di Cina, pada 213 SM, peraturan yang dicanangkan Perdana Menteri Li Ssu juga menggiriskan.

Li Ssu mengecam cendekiawan yang mengkritik kekaisaran baru yang dibilang tak berumur panjang, karena tidak mau memulihkan hak-hak istimewa warisan para keluarga ningrat. Ucapan si cendekiawan ''mempelajari masa silam untuk mengkritik masa kini'' dianggap telah membingungkan, menghasut rakyat, dan membahayakan kekaisaran.

Maka, untuk mengikis provokasi tersebut, semua buku harus dibakar, kecuali yang ada di perpustakaan istana. Siapa saja yang tidak mengembalikan semua buku dan cacatannya dalam waktu 30 hari ditangkap, wajahnya ditato sebagai penjahat, dan dihukum kerja paksa. Lalu siapa saja yang membaca buku tanpa izin dipenggal kepalanya (Sepak Terjang Bisnis Para Taipan, Sterling Seagrave).

Kaisar setuju aturan itu diterapkan. Maka, untuk mengukuhkan putusan ''brilyan'' itu, Li Ssu mengambil topi si cendekiawan, dan mengencinginya. Dan, cendekiawan pun dihukum mati. Cina telah melakukan shock therapy luar biasa dengan cara memecahkan sebutir telur pakai godam.

Hak-hak asasi manusia dikesampingkan. Kejadian pada tiga abad sebelum Masehi itu menghasilkan pembangunan di Cina yang spektakuler. Ratusan gedung, puluhan ribu kilometer jalan raya, dan beberapa proyek irigasi dibangun para napi yang difungsikan sebagai buruh budak. Hasil kerja rodi itu masih berfungsi hingga kini.

Dan, di sini, para tahanan dan penghuni LP memang tidak ada yang dikerjapaksakan. Tapi orang-orang kecil penghuni hotel prodeo karena ''keterpaksaan'' itu menyumpah serapah karena diperas untuk menggendutkan perut pejabat.

[Esai, Gatra Nomor 11 Beredar Jumat, 21 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Cerita nya ganti dong, sekali-sekali yang enak2 (sriraningsih@ho..., 30/01/2005 06:38)
Pak,

Mohon maaf, saya seneng baca tulisan bapak. Kebanyakan bagus2. Tapi sekarang-sekarang ini saya pengin cerita yang enak-enak ajah. Abis agak bosen membaca cerita-cerita yang agak bikin mumet. Jangan yang nyerempet2 politik, korupsi, sindir sana-sindir sini atau cerita yg sedih2 lainnya. Buat refreshing!
Selamat berkarya.
 
 
spacer
  
  36,5 juta rakyat kita miskin ??? (vivinq@ms..., 29/01/2005 07:04)
Apa benar 36,5 juta rakyat kita miskin??? kalau benar bagaiman kalau mereka yang miskin (tapi jujur) itu di berikan pulau sendiri misalnya salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia dan pejabat yang jujur itu sebagai presiden mereka????
Pasti mereka akan mewujudkan Indonesia Baru yang di idam idamkan oleh setiap rakyat Indonesia sekarang ( bukan termasuk rakyat dan pejabat yang korup) tapi apakah negara baru yang terdiri dari 36,5 juta ini akan mendapatkan pinjaman luar negeri???
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 29 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer