spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
EKONOMI
spacer
 
Pariwisata
Akhir Sepi di Selatan Jawa

Pantai Pangandaran (GATRA/Joko P)TAWA tak pernah lepas dari bibir pasangan suami-istri Hauck. Wisatawan asal Jerman ini sangat menikmati malam Tahun Baru 2005. Terompet terus mereka tiup pas pukul 00.00, mengiringi dentuman kembang api. Itulah yang mereka impikan, merayakan Tahun Baru di Pantai Pangandaran. "Ini pengalaman baru kami, merayakan Tahun Baru bersama banyak orang," ujar sang istri. Di Freiburg, Jerman Selatan, asal mereka, pergantian tahun selalu dirayakan hanya dengan pesta kecil bersama keluarga.

Dua minggu sebelum tahun 2004 berakhir, mereka telah berada di kamar hotel di Bulak Laut, Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Tak mengherankan bila saat terjadi tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, keluarga Hauck di Eropa sempat heboh menelepon mereka. "Kami sebenarnya khawatir juga. Tapi tanggung, telanjur di sini," kata Hauck.

Untunglah, semua aman-aman saja. Pesta di pantai pun tetap meriah. Padahal, beberapa hari sebelumnya, beredar kabar bakal terjadi tsunami susulan di kawasan ini. Masyarakat pun diminta menjauhi pantai untuk sementara.

Lantaran kabar itu, pebisnis wisata di kawasan pantai sempat kalang kabut. Apalagi, empat hari menjelang Tahun Baru, pelanggan mulai membatalkan rencana berkunjung. "Enam puluh persen pengunjung membatalkan pesanan," kata Robby Susanto, Asisten Manajer Hotel Malabar, Pangandaran, kepada Joko Pambudi dari Gatra.

Potongan harga hingga 50% pun tak mampu mendongkrak tingkat hunian hotel yang sudah berumur 10 tahun itu. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang malam Tahun Baru, 29 kamar di hotel itu habis dipesan. "Ini pertama kalinya kami merayakan Tahun Baru dengan sangat sedikit pengunjung," kata Robby lagi. Ia mengaku rugi Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Tak cuma Robby yang puyeng. Ade, pengelola jasa persewaan perahu, pun urung menangguk untung akhir tahun ini. Sejak pagi, pemuda 25 tahun itu sudah menyiapkan perahu motor tempelnya untuk mengantar pelancong melaut di sekitar Cagar Alam Pangandaran. Tapi, hingga sore, dia cuma enam kali bolak-balik mengantar tamu. "Biasanya tiap liburan Tahun Baru, sehari bisa 10 kali pergi-balik," ujarnya.

Nelayan dan pedagang ikan juga gigit jari. Lantaran Pantai Pangandaran sepi pengunjung, harga beragam ikan menjelang malam Tahun Baru melorot drastis. Sebut saja harga udang donggol, yang biasanya mencapai Rp 30.000, saat itu cuma dihargai Rp 18.000.

Tak mengherankan jika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ciamis mengklaim banyak kehilangan pemasukan. Pendapatan dari karcis pengunjung hanya terkumpul Rp 67 juta, jauh lebih kecil dari target yang ratusan juta rupiah. Wisatawan yang datang merayakan Tahun Baru tak lebih dari 24.390 orang. Hanya seperempat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Nasib pebisnis wisata pantai di Selat Sunda ini tak jauh beda dengan rekan mereka di Pangandaran. Menurut Ashok Kumar, Ketua Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Kabupaten Serang, Banten, separuh pengunjung membatalkan pesanan kamarnya setelah bencana tsunami menyapu Aceh dan sekitarnya. Padahal, di sepanjang pantai Anyer, terdapat lebih dari 50 hotel melati hingga bintang lima, dengan total kapasitas 2.000 kamar.

Tapi, menurut Ashok, penyebab sepinya pengunjung bukan melulu lantaran isu tsunami yang mengancam pantai selatan Jawa. "Kebanyakan karena solidaritas. Mereka tidak tega merayakan Tahun Baru ketika ada sesamanya yang terkena bencana," kata Ashok. Acara yang sudah disiapkan untuk memeriahkan detik-detik pergantian tahun banyak yang dibatalkan.

Sebenarnya, menurut Ashok, pihaknya sudah berusaha meminimalkan kerugian. Antara lain dengan meyakinkan masyarakat bahwa pantai Anyer aman dikunjungi. "Tapi rupanya calon pengunjung telanjur tak berminat," kata Ashok.

Meski pantai di Jawa sepi peminat, pantai-pantai di Bali masih tetap dipadati pelancong. Hotel-hotel berbintang di pantai Kuta hampir semuanya fully-booked. Dewi Karmawan, Marketing Communication Coordinator Hotel Hard Rock Kuta, mengatakan tidak ada pembatalan kunjungan di hotelnya. "Semua kamar penuh," ujarnya.

Malah, kata Dewi, jumlah pelancong menjelang akhir tahun 2004 lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Akhir tahun 2003, pelanggan di hotel ini hanya mengisi 95% dari 418 kamar yang tersedia. Padahal, tarif rata-rata menginap semalam di Hard Rock sudah naik US$ 12 dibandingkan akhir 2003, menjadi US$ 175++. Lebih dari separuh penginap adalah turis lokal. Sisanya dari Australia, Malaysia, dan Jepang.

Pengaruh isu tsunami tak bergema di situ. "Di sini efek bom Bali lebih berpengaruh. Makanya, kami lebih fokus pada keamanan hotel," kata lulusan sebuah sekolah perhotelan di Swiss ini. Apalagi sempat merebak isu, bom bakal meledak di hotel bintang lima ini.

Di Bali, kekhawatiran pada bom rupanya lebih mendominasi. "Menghadapi malam Tahun Baru, penjagaan keamanan kami tingkatkan," kata Happy Soebianto, Manajer Humas Bali Hilton International, Nusa Dua. Toh, nyatanya, 95% dari 537 kamar yang ada sudah terisi pada malam Tahun Baru. Bahkan tiket gala dinner yang berkapasitas 550 kursi sudah ludes diserbu pelanggan.

Akhir tahun 2005 nanti?

Amalia K. Mala, Ahmad Aripudin (Banten), dan IG Nyoman Wiryadinatha (Denpasar)
[Ekonomi, Gatra Nomor 09 Beredar Jumat, 7 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 29 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer