spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Unicef: Buka Sekolah bagi Anak-anak, Kunci Pemulihan

Jakarta, 15 Januari 2005 11:04
Anak-anak di sejumlah negara yang menjadi korban gempa dan tsunami di Samudera Hindia, pekan ini kembali bersekolah walaupun bencana tersebut menghancurkan atau merusak sekitar 1.000 sekolah dan menewaskan lebih 100.000 orang.

"Tidak ada cara yang lebih baik dalam menolong anak-anak untuk menormalkan kembali mereka dibanding dengan mengembalikan mereka ke bangku sekolah," kata Direktur Eksekutif Unicef, Carol Bellamy, dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan lebih lanjut, lingkungan pendidikan memungkinkan anak-anak tetap menjadi anak-anak, karena memberi suasana yang nyaman untuk melupakan bencana yang mereka lalui.

Menurut Unicef, mengembalikan anak-anak ke sekolah itu sangat penting bagi pemulihannya, meskipun harus diadakan di tenda darurat atau tempat sekadarnya.

Data dari Unicef (badan PBB yang menangani masalah anak-anak) memaparkan, Indonesia sebagai daerah yang mengalami kerusakan terparah dengan angka perkiraaan pemerintah mengenai jumlah fasilitas pendidikan yang rusak parah atau hancur berkisar dari 756 hingga 1.151 sekolah.

Di Sri Lanka, 51 sekolah hancur dan sekitar 100 lainnya rusak, sementara di Maladewa, sebanyak 44 sekolah hancur atau rusak. Dampak tsunami terhadap pendidikan di Thailand tidak terlalu mencolok, jumlah sekolah yang rusak maupun hancur tidak sampai angka 30.

"Dengan dibukanya sekolah di daerah bencana, setiap orang akan merasa adanya harapan, termasuk para orang tua," kata Bellamy lagi.

Penyelenggaraan pendidikan bagi setiap anak merupakan hal penting, tidak hanya dalam keadaan darurat, namun untuk memastikan anak tersebut memiliki kualitas hidup yang lebih baik, demikian Bellamy menegaskan.

Bencana tersebut menimbulkan kemunduran bagi negara-negara yang telah membuat prestasi dengan menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak-anak. Menurut Bellamy, memberikan pendidikan bagi anak di daerah bencana secepatnya akan meminimalisir kemunduran tersebut.

Pekan ini, sejumlah sekolah di India dan Thailand resmi dibuka setelah kevakuman yang diakibatkan tragedi itu, sementara itu Pemerintah Sri Lanka, Maladewa dan Indonesia berupaya membuka kembali sekolah di kawasan yang dilanda bencana, masing-masing pada tanggal 20, 25 dan 26 Januari.

Di Banda Aceh, dua sekolah yang didukung oleh Unicef dibuka pada hari Senin (10/1) dengan siswa sebanyak 408 orang. Staf Unicef di daerah tersebut mengatakan, para orangtua menginginkan agar pendidikan dapat diselenggarakan secepatnya.

"Pembukaan sekolah-sekolah ini merupakan kepastian bagi mereka yang selamat, bahwa mereka dapat memulai hidup masing-masing lagi," kata Bellamy.

Unicef memberikan bantuan berton-ton bantuan pendidikan ke seluruh Aceh, yang meliputi 2.000 set tenda, 2.000 set perlengkapan sekolah (masing-masing peralatan tulis-menulis bagi 50 siswa dan 2.000 set alat permainan dan olahraga masing-masing set untuk 50 anak. Bantuan tersebut akan dibagikan kepada sekitar 100.000 anak sekolah dan 4.000-an guru di daerah yang dilanda gempa dan tsunami itu.

Pelatihan guru Selain itu, Unicef juga membantu pemerintah Indonesia dalam rekrutmen dan pelatihan 2.000 guru baru dan membina pemulihan mental para guru yang selamat dari bencana tersebut. Menurut data yang dilansir pejabat di Aceh, tercatat 1.592 guru dinyatakan meninggal atau hilang.

Di Sri Lanka, sejumlah sekolah dibuka kembali pada Senin lalu (10/1). Di negara tersebut, kerusakan bangunan sekolah mempengaruhi 71.928 siswa dan 2.673 guru, dan sekitar 240 sekolah masih digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Kepada Kementrian Pendidikan Sri Lanka, Unicef menyediakan perlengkapan sekolah, buku-buku pelajaran dan berbagai alat bantu pengajaran sebagai dukungan terhadap upaya mengembalikan anak-anak ke dunia pendidikan pada 20 Januari.

Unicef telah mendistribusikan 500 set peralatan sekolah bagi 40.000 siswa. Sebagai tambahan, Colombo sedang menunggu 3.200 set peralatan sekolah untuk dibagikan secepatnya. Unicef juga telah memperoleh bantuan berupa ratusan relawan untuk membersihkan sekolah-sekolah dari reruntuhan dan puing-puing, sekaligus penyediaan dana bagi pelayanan informasi publik agar masyarakat mengetahui untuk mengikuti sekolah tersebut, siswa-siswi tidak diwajibkan memakai seragam ataupun menunjukkan akta kelahiran.

Bellamy menggarisbawahi, penyelenggaraan kembali kegiatan belajar mengajar tidak berarti seluruh anak akan kembali ke bangku sekolah secepatnya. Di India yang telah membuka sejumlah sekolah di daerah yang terkena bencana, terlihat kehadiran siswa yang cukup rendah, hanya sekitar 30 persen, sementara di Sri Lanka tercatat 50 persen.

"Rendahnya kehadiran siswa di kelas disebabkan banyaknya anak yang meninggal atau terluka akibat tsunami, atau juga sebagian orangtua yang dilanda shock masih merasa tidak siap melepaskan anak mereka," kata Bellamy.

Para orangtua itu, menurut dia, butuh untuk diyakinkan bahwa anaknya tidak hanya mendapat keamanan di sekolah, namun juga bantuan agar mereka dapat tumbuh lebih kuat. Tugas Unicef adalah memfokuskan pada usaha menciptakan lingkungan yang positif agar anak-anak dapat kembali bersekolah.

Di India, pejabat negara maupun pejabat setempatnya sekuat tenaga melakukan koordinasi bantuan kemanusiaan secepatnya, dan Unicef berperan sebagai pendukung, termasuk mendistribusikan perlengkapan sekolah dan peralatan olahraga, membangun kembali perpustakaan, mengorganisir kegiatan dan aktivitas untuk anak-anak serta melatih para guru untuk mengenali tanda-tanda gangguan emosi untuk kemudian memberikan konseling dasar.

Sementara itu di Thailand, sejumlah sekolah dibuka kembali pada tanggal 4 Januari 2005, dimana Unicef menyediakan peralatan masak, perlengkapan sekolah, buku-buku pelajaran, seragam, tempat bermain dan alat-alat olahraga, serta membangun fasilitas sekolah sementara bagi anak-anak di pinggiran pantai yang diterjang tsunami.

Sedangkan di Maladewa, Unicef membantu pemerintah setempat dengan membangun 73 kelas darurat agar para siswa dapat memperoleh pengajaran pada tanggal 25 Januari mendatang, ditambah lebih dari 150 set perlengkapan sekolah, peralatan bermain yang terdiri atas ratusan kotak krayon, lilin, kertas gambar, mainan blok, puzzle, boneka, mobil-mobilan dan bola. Selain itu, Unicef juga memastikan tersedianya fasilitas sanitasi yang cukup memadai.

Bagi seluruh negara yang dilanda tsunami, kata Bellamy melanjutkan, Unicef memastikan sekolah dan pendidikan akan membantu orangtua seperti halnya bagi anak-anak mereka.

"Bila sekolah mampu memenuhi kebutuhan anak-anak - mulai dari makanan, seragam, buku pelajaran dan dorongan psikologis -, maka kita akan semakin mampu meringankan beban keluarga dan memungkinkan mereka untuk fokus dalam membangun kembali kehidupan mereka," kata dia.

Ia menambahkan, sekolah seringkali menjadi inti dari sebuah komunitas sehingga upaya untuk mengembalikan hal tersebut ke tengah masyarakat akan memberikan dampak dalam upaya pemulihan jangka panjang.

"Bagi mereka yang tertimpa musibah ini, halaman sekolah yang ramai dan hiruk pikuk dengan suara anak-anak bermain menjadi obat terbaik," demikian Carol Bellamy. [TMA, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  bukan kuda lumping (sirikkit@ya..., 18/01/2005 22:54)
To : kamcaka
Lo mending kerja baek-baek aja lah di Korea, kirim duit ke sodara di kampung. Ga usah ikutan SARA. Ntar lo diusir dari Korea gara2 SARA baru tau rasa deh lo. Atau lo pulang kampung aja buka pesantren spesialis kuda lumping makan beling karna ga punya pegang WON lagi:-)))
 
 
spacer
  
  hati-hati ditunggangi (kamcaka@ya..., 17/01/2005 07:07)
Bagi masyarakat Aceh kami warga pekerja di Korea telah berusaha dan ikut berbela sungkawa Alhamdulillah sampai tanggal 16 Januari ini sudah terkumpul 110.000 won atau sekitar Rp 800.000 dan akan segera di transper melalui Mushola Changwon kami berharap Aceh segera kembali pulih dan membangungun lagi. Ada kabar bahwa bagi sekitar 300 anak yatim Aceh akan di kristenkan oleh Misionary gereja muslimin dan muslimat juga para sesepuh ulama Aceh harus tanggap dan ada tindakan perlawanan atas rencana pe... <13 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 16 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer