spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
WISATA & HIBURAN
spacer
 
Prodeo Artis Peduli

Sutiyoso; Saat Konser Kemanusiaan Peduli Aceh-Sumut" (GATRA/Ivan N. Patmadiwiria)SEBUAH pemandangan langka terlihat di pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Ahad lalu. Lebih dari 300 artis tumplek di situ. Berbagai panitia helat (event organizer), dedengkot bisnis pertunjukan musik, dan puluhan kru dari 11 stasiun televisi tumpah ruah, melebur untuk satu acara: "Konser Kemanusiaan Peduli Aceh-Sumut".

Selama 12 jam hari itu, dimulai pukul 12 siang, mereka bekerja keras mengorganisasi perhelatan, yang didukung tata suara berkekuatan 200.000 watt dan tata cahaya 1 megawatt. Semangat semua orang yang ditemui Gatra hari itu adalah persaudaraan dan keinginan berpartisipasi membantu korban bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara.

Mereka tidak dibayar sepeser pun. Artis papan atas, dengan nilai honor untuk sekali pertunjukan mencapai puluhan juta rupiah, hari itu beramal. Mereka juga tidak mengajukan permintaan macam-macam kepada panitia pelaksana.

Semua bintang tamu tanpa terkecuali harus manut kepada panitia. Biasanya, musisi selalu bawel dengan sound yang bakal keluar. Untuk yang satu ini, tidak ada satu musisi pun yang diperkenankan membawa amplifier. "Mereka cuma boleh bawa alat musik masing-masing," kata Dhani "Pete" Widjanarko, salah satu penggagas acara.

Bahkan, check sound dilakukan langsung di atas panggung. Maklum, dengan banyaknya artis yang datang, pembatasan waktu harus dilakukan (tiap artis mendapat jatah 10 menit). Apa pun peralatan yang tersedia, semuanya dipakai tanpa banyak keluhan. "Kita di sini niatnya kan bukan untuk show, melainkan amal. Jadi, segala kekurangan itu bisa kita maklumi," ujar Andra, gitaris Dewa.

Para artis pun kembali mafhum ketika jadwal manggung mereka tidak sesuai dengan urutan yang disusun panitia. "Nyantai aja, bos. Nanti kasih tahu aja kalau kami mau main," kata Edwin, gitaris Cokelat, ketika diberitahu bahwa jadwal mereka molor dari semestinya.

Kekosongan akibat menunggu giliran itu dimanfaatkan para artis untuk bersilaturahmi dengan sejawat mereka, atau menyaksikan rekan seprofesi yang sedang beraksi. Ada pula yang sibuk diwawancarai wartawan. Walhasil, suasana di belakang panggung seperti pasar malam yang dihadiri artis-artis Ibu Kota.

Begitu cairnya suasana hingga personel satu band bisa tidak mengetahui keberadaan teman-temannya. "Rindra di situ, Yoyok lagi duduk dekat Thomas (basis Gigi), kalau Piyu nggak tahu ada di mana," kata Fadli, vokalis Padi, ketika ditanya seorang teman mengenai keberadaan rekan-rekan Padi yang lain sambil menunjuk ke arah yang dimaksud tersebut.

Para artis ini pun sebenarnya terkagum-kagum dengan banyaknya sejawat mereka yang hadir. "Setahu gue, ini pertama kalinya dalam sejarah ada artis sebanyak ini," ungkap Edwin Cokelat, sembari geleng-geleng kepala. Mungkin leher Edwin bakal lebih sakit karena menggeleng kalau tahu acara itu disiapkan dalam waktu tujuh hari saja.

Betul. Sejak panitia terbentuk, mereka langsung tancap gas bekerja. Namun, karena dikerjakan keroyokan oleh orang-orang yang sudah malang melintang di urusan konser, acara itu bisa berlangsung dengan baik. Kekurangan memang terlihat di sana-sini. Seperti sudah ditebak sebelumnya, dari sisi pertunjukan, kualitas sound yang keluar tidak bisa dinikmati layaknya konser biasanya.

Sejumlah artis mengeluhkan monitor tidak sampai ke telinga mereka. Walhasil, mereka banyak mengandalkan feeling dan kebiasaan. Untungnya, kelemahan itu bisa ditutupi dengan permainan tata cahaya dan semprotan air mancur di depan panggung.

Ada dua sosok penting di balik konser amal tersebut. Yaitu Dani "Pete" Wijanarko dan Remy Soetansyah. Pete adalah Ketua Asosiasi Manajemen Artis Indonesia. Remy, di sisi lain, adalah wartawan senior, yang sudah 25 tahun malang melintang di dunia hiburan dan musik.

Banyaknya artis yang datang ke pertunjukan ini adalah bukti kuatnya relasi dan lobi kedua orang itu. Modal keduanya dalam mengajak para pendukung acara hari itu hanya percakapan via telepon. Para pemrakarsa acara itu pun makin beruntung ketika Mata Elang setuju menyediakan panggung dan tata lampu.

Uniknya, tidak ada satu pun merek produk yang resmi nongol sebagai atribut sponsor. Sekali nama Samsung, produsen ponsel nomor wahid asal Korea Selatan, diucapkan pembawa acara. Namun ini pun untuk mengumumkan bahwa perusahaan itu ikut memberi donasi. Bantuan Samsung hari itu menggenapi jumlah dana yang terkumpul menjadi Rp 5 milyar.

Sumbangan dipastikan bakal bertambah lagi. Para artis sudah menyiapkan agenda mereka berikutnya. "Kami sedang membuat lagu yang akan dinyanyikan bersama musisi lain," kata Ahmad Dhani, pentolan Dewa. Perusahaan rekaman Sony Music Indonesia juga sedang menyiapkan sebuah album kompilasi khusus.

Sayangnya, panitia sepertinya melupakan woro-woro secara internasional. Tidak seperti rencana pertunjukan amal serupa yang digelar di berbagai negara di luar negeri, yang jauh-jauh hari sudah muncul di situs-situs berita internasional. Padahal, mungkin saja "Konser Kemanusiaan Peduli Aceh-Sumut" ini memiliki gemebyar lebih dahsyat dari acara mereka. Selain itu, publikasi macam itu juga penting untuk memperlihatkan pada khalayak internasional bahwa kita juga peduli dengan bangsa sendiri.

Banyaknya artis yang naik panggung sebenarnya juga tidak perlu. Apalagi sebagian besar dari mereka paling banyak membawakan dua lagu (kecuali Iwan Fals dan Slank yang mendapat keleluasaan membawakan lebih). Memang penonton hanya dibebani Rp 10.000 untuk melihat pertunjukan itu. Namun bukan berarti mereka tak layak mendapat sajian lebih menggigit, bukan?

Secara selektif, panitia mestinya menetapkan band atau solois mana saja yang naik panggung. Kepada mereka diberikan jatah tampil 30 menit, misalnya, seperti saat "Live Aid" digelar pada 1985. Mereka yang tak terpilih tampil harus menunjukkan sikap legowo, dan masih mau datang ke venue (toh, mereka masih bisa meninggalkan memorabilia di dinding kontainer belakang panggung sebagai bukti kepedulian).

Dengan pola macam itu, teriakan "Turun! Turun!" penonton, dan lemparan botol air mineral berisi air seni ke arah panggung, ketika beberapa solois tampil bisa dihindari. Lebih jauh, kesan seperti mendengar jukebox atau menyaksikan acara "Non Stop Hits" di MTV bisa dihindari.

Pertanyaan berikutnya, apakah jumlah artis sebanyak itu bisa kembali dihadirkan untuk konser kemanusiaan berikutnya? Seperti diingatkan Syaharani, penyanyi jazz bersuara alto, hari itu, "Kita harus berpikir ke depan. Korban bencana tak hanya butuh makanan. Mereka juga butuh rumah, fasilitas kesehatan, dan pendidikan untuk melanjutkan hidup."

Adrie Subono, Chairman Java Musikindo, yang di kepanitiaan didaulat menjadi penasihat, mengamini ucapan itu. "Acara macam ini bisa dibuat lagi," katanya. Namun, buat yang kedua ini, perencanaannya harus matang, dengan waktu persiapan lebih panjang. "Kalau perlu, mengundang banyak artis dari mancanegara dalam format pertunjukan seperti sekarang," ujarnya.

Carry Nadeak, Eric Samantha, dan Elmy Diah Larasati
[Hiburan, Gatra Nomor 10 Beredar Jumat, 14 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Gunakah kita menyumbang ???? (nadine_ymt@ya..., 16/01/2005 01:42)
pada hari ke 2 bencana saya disini bersama dengan orang jepang mengadakan acara meminta amal dan uangnya diberikan kepada anak aceh yang pulang beberapa hari kemudian. dan pada hari ini saya melihat di metro tv, kesenjangnan dan ketidakmerataan pembagian membuat saya bersedih. inikah keadilan, manakah bhineka tunggal ika? saya semakin sadar, bahwa orang orang aceh, dan orang indonesia pada umumnya terlanjur bodoh, mereka tidak bijak jadi manusia, selalu ada rasa curiga dan kecuriganan itu selalu... <197 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 16 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer