spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
HUKUM & KRIMINALITAS
spacer
 
Nyanyian Anyar untuk Jack

Cover GATRA Edisi 10/2005 (GATRA/Tim Desain)LANGKAHNYA lunglai kala keluar dari ruang penyidikan. Dari kelopak matanya yang sembap tampak wanita itu baru saja menangis. Wajahnya kusut. Setiba di ruang duduk Bagian Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras), diempaskannya tubuh mungil setinggi 155 sentimeter itu ke atas dua bangku yang dirapatkan. "Saya stes," katanya sambil terisak. Seorang pemuda klimis berusia 30-an tahun, salah satu anggota tim kuasa hukumnya dari Ail Amir & Associates Law Firm, menenangkan dengan memegang lengannya.

Mestinya, perempuan bernama Novia Herdiana atau akrab disapa Tinul itu bisa sedikit lega. Hari itu, Selasa kemarin, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya melepaskan Tinul dari kerangkeng. "Mungkin nanti pukul sembilan (malam)," ujarnya, bertutur ihwal jadwal pembebasannya. Barangkali, karena belum sepenuhnya terbebas dari kasus yang membelitnya, Tinul masih tertekan.

Tinul, 40 tahun, memang sedang terserempet perkara berat. Dialah perempuan yang kedapatan bersama tersangka Adiguna Sutowo ketika terjadi peristiwa berdarah yang menewaskan Yohanes B. Haerudy Natong alias Rudy di Bar Fluid Club, Hotel Hilton Jakarta, pada malam pergantian tahun lalu. Semula, teman dekat Adiguna itu mengaku sudah beranjak ke kamarnya, kamar 1564, sekitar pukul 03.15, atau sebelum aksi pembunuhan berlangsung.

Namun polisi menemukan fakta, Tinul ternyata masih meneken bill minuman yang dipesannya seharga Rp 150.000 pada pukul 04.47. Sekitar pukul itu pula hidup Rudy dihabisi. Akibat kesaksian palsu ini, Tinul kontan jadi tersangka dan masuk sel tahanan dengan ancaman hukuman tujuh tahun kurungan.

Belakangan, setelah menginap semalam dan dicecar pertanyaan, Tinul akhirnya tak bisa mengelak. Ia bersaksi bahwa saat pembunuhan masih berada di tempat kejadian perkara. Bahkan, menurut Komisaris Besar Tjiptono, Kepala Divisi Humas Polda Metro Jaya, mengutip kesaksian terakhir Tinul, saksi melihat Adiguna melakukan penembakan terhadap korban. Pengakuan itu, kata Tjiptono, klop dengan proses rekonstruksi.

Sebagai "hadiah" atas keterangan terakhirnya, Tinul boleh menghirup udara bebas. Ia tidak lagi menangis meraung-ruang seperti anak kecil. Malah, sebelum meninggalkan ruang tahanan, Tinul sempat makan dan minum di ruang Jatanras yang berukuran sekitar 3 x 5 meter. Perempuan berambut sebahu ini pun menyempatkan diri bersolek. Dikeluarkannya cermin dan lipstik dari tasnya yang berkelir hitam. Lantas gincu itu dipoleskan pada bibirnya yang tipis. Beres berdandan, sambil menunggu berita acara pemeriksaan rampung, Tinul sempat menikmati sebatang rokok light.

Masih ada "persenan" bagi Tinul, yakni pengawalan khusus. "Agar saksi tak merasa terancam dalam memberikan keterangan," kata Tjiptono. Maklumlah, perempuan berperawakan mungil ini menjadi "harta" berharga bagi polisi. Sebagai salah satu saksi kunci, keterangannya bisa membuat nasib Adiguna menjadi "putih" atau "hitam". Sangat boleh jadi, ada pihak-pihak yang ingin membungkam "nyanyian"-nya. Dan tentunya, polisi tak mau hal ini terjadi.

Maka, sejak Tinul keluar dari sel tahanan, beberapa polisi berpakaian preman tampak selalu berada tak jauh darinya. Menurut pengakuan seorang tetangganya di bilangan Jalan Menteng Raya, tepatnya seputar Patung Tani, Jakarta Pusat, ketika malam pembebasan itu, empat orang polisi sempat bertanya-tanya seputar rumah Tinul. Mereka sempat salah dan nyelonong ke rumah lain, sebelum akhirnya menemukan alamat yang dicari. Sejak itu, polisi secara bergiliran nongkrong di dekat rumah bercat krem itu.

Begitu juga ketika Gatra bertandang ke rumah Tinul, Rabu malam kemarin, dua "petugas" berpakaian preman tak henti mengawasi. Ada informasi, malam itu Tinul akan pergi berobat ke dokter. Sayang, perempuan yang menurut para tetangganya jarang berbaur dengan warga sekitar itu gagal ditemui. "Tinul tak bisa diganggu," kata Benny, kakak ipar Tinul, yang ditimpali Tante Tipah --demikian ibu Tinul biasa disapa tetangganya, "Hubungi saja pengacaranya!"

Upaya menongkrongi hingga Tinul keluar rumah pun sia-sia. Ketika asyik menunggu, seorang tetangga Tinul berbisik, "Dia (Tinul) sudah keluar lewat pintu belakang, barusan." Benar saja, di belakang rumah ada pintu yang langsung menuju lorong ke arah Jalan Wahid Hasyim. Hilanglah sudah kesempatan mengorek keterangan langsung dari Tinul.

Siapa sih sosok perempuan yang namanya tiba-tiba sohor itu? Semula beredar gosip, Tinul adalah salah satu cem-ceman Adiguna. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Bukankah lajang berparas hitam manis itu berada di samping Adiguna pada malam yang spesial, malam Tahun Baru? Namun spekulasi ini langsung dibantah para pengacaranya. "Tidak benar itu. Tinul tak lain sahabat dekat Vika, istri Adiguna," kata Ari Yusuf Amir, SH, seorang pengacara Tinul. Malah ada yang bilang, Tinul dan Vika masih ada pertalian saudara.

Cerita Tinul kepada penyidik menguatkan adanya hubungan dekat itu. Ketika insiden terjadi, misalnya, Tinul mengaku tak hanya datang ke Fluid Club sekitar pukul 04.00 bersama Adiguna. Melainkan juga disertai Vika serta pasangan suami-istri, Tom dan Maya, yang juga teman dekat Adiguna. Hanya saja, tiga nama terakhir ini tak lama di Fluid Club.

Mengutip kesaksian Tinul, Komisaris Besar Polisi Eddy S. Tambunan, Pelaksana Harian Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, mengatakan bahwa Vika dan dua temannya langsung menuju suite room 1564. Di dalam kamar ini masih ada lima ruangan lagi yang disekat-sekat. Ada juga sumber Gatra yang mengatakan, sebetulnya hanya Vika yang ke kamar 1564. Sedangkan Tom dan Maya menuju kamar lain di lantai 12.

Nah, di Fluid Club tinggallah Tinul dan Adiguna. Tinul duduk di salah satu kursi bar, menghadap Adiguna yang duduk di atas meja bar. Adegan ini cocok dengan proses rekonstruksi yang berlangsung Senin kemarin. Saat itu, Tinul memesan Vodka Tonic dan Martini Lychee. Kepada kasir, Rudy, Tinul minta agar tagihan minuman disatukan ke dalam bill kamar 1564.

Tapi permintaan itu tak bisa dipenuhi oleh Rudy. Akhirnya, Tinul membayarnya dengan kartu kredit HSBC. "Bayar minuman di-charge ke bill kamar kok tidak bisa, ya Jack," ujar Tinul. Jack adalah sapaan manis Tinul kepada Adiguna. Belum juga Adiguna bereaksi atas keluhan itu, Tinul melanjutkan ucapannya, "Tapi gua udah bayar semua."

Rupanya penolakan Rudy itu menjadi soal besar bagi Adiguna. Masih menurut Eddy, berdasarkan pengakuan Tinul, tiba-tiba Jack mencabut pistol dari balik bajunya. Lantas membalikkan badan dan kepalanya setengah putaran ke arah kiri, sambil mengarahkan moncong pistol ke kepala Rudy. Sejurus kemudian, setelah dua tarikan tanpa bunyi, pada picuan ketiga terdengarlah bunyi "doorr...!". Sesaat kepala Rudy terentak ke belakang, sebelum tubuhnya roboh berlumuran darah.

Masih cerita versi polisi, seisi Fluid Club panik, termasuk Adiguna sendiri. Ia lantas turun dari meja bar, lalu lari memutar untuk menuju korban yang tergeletak di sisi dalam bar. Nah, pada saat lari itulah pistol diserahkan kepada seorang pemuda yang belakangan diketahui inisialnya Wewen. Pistol ini sempat raib enam hari, sebelum akhirnya Wewen menyerahkannya ke polisi pada Jumat dua pekan lalu.

Setelah korban dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Bedungan Hilir, Adiguna dan Tinul bergegas menemui Vika di kamar 1564. Menurut sumber Gatra, setibanya di kamar, kedua perempuan itu histeris. Lalu mengabarkan telah terjadi kecelakaan di bawah kepada dua temannya, Tom dan Maya.

Ketika Tom (orang bule) turun ke bar untuk mengetahui lebih jauh tentang "kecelakaan" yang dimaksud, masih menurut sumber itu, ia mendapat jawaban dari orang-orang yang ditemuinya, "Just little accident." Tom percaya saja karena sama sekali tak terlihat telah terjadi peristiwa berdarah. Lantai bar tampak bersih.

Kembali ke sosok Tinul. Berdasarkan informasi yang dihimpun Gatra, perempuan yang dikenal supel ini bekerja sebagai asisten sales manager di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Walau bergaul dekat dengan orang gedean semacam Adiguna, sebetulnya Tinul berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Rumahnya sederhana. Posisinya diapit oleh sebuah studio dan gang kecil. Sedangkan bagian depan rumahnya menghadap ke tanah kosong.

Mengintip ke dalam rumah dari pagar besi bercat cokelat, terlihat cat putih dinding rumahnya sudah kusam. Halamannya tidak terlalu luas. Teras rumahnya langsung menyambung dengan garasi. Di tempat ini biasa terparkir sedan Toyota Soluna warna krem, mobil Tinul, dan Daihatsu Xenia kelir merah milik kakak iparnya, Benny.

Tinul adalah anak ketiga dari empat anak pasangan almarhum B. Harijarto dan Ny. Tipah. Menurut beberapa tetangganya, semasa hidup, ayah Tinul berprofesi sebagai wartawan. Kakak pertama Tinul, Erpi, menikah dengan Benny dan dikarunia tiga anak. Sedangkan kakak keduanya laki-laki, Danet, meninggal pada usia 15 tahun karena kecelakaan. Sedangkan si bungsu, adik Tinul, Yobi, tak tinggal seatap lagi. "Sesudah menikah, dia pindah rumah," ujar pemilik warung di depan rumah Tinul yang enggan disebut namanya. Sehingga di rumah itu kini tinggal Tinul, ibunya, Erpi, dan Benny serta tiga putranya.

Di lingkungan seputar rumah, Tinul sebenarnya dikenal ramah. "Orangnya hitam manis. Kecil, tapi cakep," kata pemilik warung yang jadi langganan Tinul membeli rokok kesukaannya. Namun sayang, Tinul jarang keluyuran di seputar rumah. "Paling, kalau ngeliat, ia sedang naik atau turun mobil," katanya.

Setelah peristiwa di Hotel Hilton yang menyeret namanya, Tinul makin jarang menampakkan sosoknya. Apalagi setelah sempat meringkuk semalam di kantor polisi. Walau ia kini kembali bebas, yang sering tampak di seputar rumahnya justru polisi yang sedang berjaga-jaga.

Tampaknya Tinul bakal makin "tenggelam" dalam persembunyiannya. Sebab nasibnya belum aman betul. Memang sempat ada anggapan bahwa pembebasan Tinul ini otomatis menggugurkan statusnya sebagai tersangka. "Surat pelepasan tersangka dan berita acara pelepasannya sudah dikeluarkan," kata Djufri Taufik, seorang anggota tim pembela Tinul.

Namun tidak demikian di mata polisi. Menurut Inspektur Jenderal Polisi Firman Gani, Kapolda Metro Jaya, kesaksian versi ralat tidak serta-merta menghapuskan status Tinul sebagai tersangka pemberi keterangan palsu. Ia tidak lagi disel karena "nyanyian" anyarnya membantu kelancaran penyelidikan polisi. Setidaknya menjadi saksi kunci, yang keterangannya berharga sehingga perlu dilindungi.

Hidayat Gunadi, Taufik Alwie, Heni Kurniasih, Deni Muliya Barus, dan Alexander Wibisono
[Laporan Utama, Gatra No 10 Beredar Jumat, 14 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  misleading (sastiastari@ya..., 15/01/2005 03:28)
Gambar covernya kurang tepat, ngikut2 serial james bond, masak pembunuh penjaga bar disamaain james bond, tokoh super cerdik pembela kejayaan negaranya?
 
 
spacer
  
  hehehehehhehehe (singkayo@ho..., 14/01/2005 17:03)
hehehe inget pepatah ksatria jaman dahulu kala berani berbuat berani bertanggung jawab, elo yg ngomporin, elo yg kena getah hehehehe, jangan kaya adiguna yg kolokan ama jendral firman gani ,..aku kan ndak nembaak oooomm, cuman salah pijiiiit aja oooom jadi bebasiiin akuu ya ooooom , ato kalo mau di penjara penjara nya di hotel hilton kamar attaaaasss aja oooooommmm hheheheheheh biar mampuuus elo semua hiduuup org miskinnn, matilah orang kaya belaguuu
 
 
spacer
  
  JAGALAH HATI KITA JUGA (bungdamai, 14/01/2005 16:50)
Keadilan yang sekian lama tertekan oleh kekokohan otoriterisme dinegri ini, kiniseolah meledak menjadi sesuatu kekuatan besa untuk mengubah keadaan, bahkan jika bisa ini memutar balikan keadaan.
Deras kuat dan kadang liar tak terkendali Bagai banjir bandang akibat bobolnya bendungan kekuasaan diktator

Tapi.....Keadilan yang juga harus tetap di jaga kemurniannya sekalipun oleh orang yang dalulu tak pernah menerimanya.
enuntut keadilan harus dipenuhi pula oleh perasaan ... <449 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Semoga Dewi Keadilan benar-benar buta (asayuti@ho..., 14/01/2005 14:37)
Kasus ini harus diselesaikan secara hukum yang seadil-adilnya. Buktikan bahwa mata sang Dewi Hukum benar-benar buta sehingga mampu menjatuhkan putusan yang adil tanpa memandang siapa yang menjadi tertuduh. Hukum republik ini sudah terlalu lama menghamba pada uang dan kekuasaan, mudah2an kali ini sang Dewi Hukum menunjukkan keadilannya.
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 16 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer