spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
AFRIKA
spacer
 
Badai Fatwa Capres Perempuan

Nawal Saadawi (Yahoo! News/REUTERS/Mona Sharaf)USIANYA sudah 73 tahun. Kulit wajahnya sudah keriput. Tapi dari raut wajahnya tampak bahwa dia seorang perempuan tegar dan berani menentang arus. Dialah Nawal Saadawi, yang pada Oktober mendatang akan mencalonkan diri sebagai presiden. Nawal akan bersaing dengan Husni Mubarok, Presiden Mesir yang didukung Partai Nasional Demokrat (NDP) yang menguasai 90% anggota parlemen, yang juga mencalonkan dirinya kembali.

Pencalonan Nawal sebagai presiden itu terang saja membuat publik Mesir kaget. Selama ini, Nawal tak pernah aktif di partai politik mana pun. Dia hanya dikenal sebagai intelektual, dosen, aktivis perempuan, dokter, psikiater, dan novelis. Alhasil, perang fatwa pun terjadi. Di seberang Mesir, dari Doha, Qatar, tokoh panutan umat Islam, Syekh Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi, angkat bicara. Pakar hukum Islam ini menyatakan, dalam kondisi apa pun, seorang perempuan tidak diperbolehkan menjadi presiden bagi negara mana pun. Penulis produktif buku-buku keislaman itu memberi alasan, karena emosi perempuan lebih mendominasi nalarnya.

Selain itu, masih kata Al-Qardhawi, perempuan memiliki keterbatasan secara natural, seperti dalam kehamilan, melahirkan, nifas, dan haid. "Ketika perempuan hamil, melahirkan, dan haid, dia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin," tuturnya. Dia juga memberi dalil, dalam persidangan, kesaksian dua perempuan dinilai satu kesaksian laki-laki. Al-Qardhawi menyitir sebuah ayat, jika tidak ada (dua saksi laki-laki), maka satu (saksi) laki-laki atau dua (saksi) perempuan.

Al-Qardhawi tampaknya lebih nyaman bila perempuan tidak memegang otoritas tunggal, melainkan otoritas kolektif, seperti menjadi anggota legislatif dalam parlemen atau menteri dalam struktur kabinet. Namun Nawal dibentengi fatwa Syekh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyid Tanthawi. "Syariat Islam tidak pernah melarang perempuan untuk menjadi presiden," kata Tanthawi kepada pers ketika ditanya soal pecalonan Nawal Saadawi sebagai presiden.

Tokoh Islam yang dikenal moderat dan toleran itu juga menambahkan, profesi perempuan dalam Islam tergantung kemampuan dan kelayakan. Islam juga tidak pernah menegaskan secara spesifik profesi perempuan. "Saya melihat tidak ada larangan (agama) bagi perempuan untuk menjabat sebagai presiden. Dan hak perempuan telah dijamin sepenuhnya oleh Islam," tutur Syekh Al-Azhar yang juga dikenal sebagai pakar tafsir Al-Quran itu, sembari memberi perumpamaan dua perempuan yang menjadi presiden di Filipina (Arroyo) dan Indonesia (Megawati).

Fatwa tokoh yang menghalalkan bunga bank ini tergolong menarik dan kontroversial. Pasalnya, beberapa bulan lalu, Al-Azhar pernah mengeluarkan vonis untuk membredel salah satu karya Nawal, Suquth al-Imam (Jatuhnya Sang Imam). Nawal Saadawi dan Syekh Al-Azhar juga sering terjebak dalam pertarungan polemik yang panas. Rupanya, dalam kasus kepemimpinan perempuan dalam Islam, pendapat mereka bisa bertemu.

Selain mendapat dukungan fatwa Syekh Al-Azhar, Nawal juga dibeking fatwa Ibrahim Al-Fayoumi, Ketua Lembaga Penelitian Islam (Majma' al-Buhuts al-Islamiyah) Al-Azhar. Padahal, dalam kasus pembredelan karya Nawal, Ibrahim adalah eksekutor pembredelan itu.

Lain lagi dengan mufti agama Islam Mesir, Prof. Dr. Ali Gomah. Tokoh yang biasanya seia sekata dengan Syekh Al-Azhar itu kali ini berseberangan. "Tidak diperbolehkan bagi perempuan siapa pun menjabat sebagai presiden bagi suatu negara yang mengayomi rakyat," kata Gomah. Menurut mufti yang baru setahun menjabat ini --menggantikan mufti lama, Prof. Dr. Nashr Farid Washil-- ketentuan hukum ini berlaku untuk negara Islam atau non-Islam. Dan secara khusus, Ali Gomah menolak pencalonan Nawal sebagai presiden.

Perang fatwa itu ditanggapi dingin oleh Nawal. "Al-Azhar tidak punya sikap, terkadang menyerang, terkadang bersama Nawal," katanya kepada Gatra. Soal pandangan Mufti Mesir, kata Nawal, tidak memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat Mesir. Di koran berbahasa Arab Al-Hayat, 30 Desember lalu, Nawal menulis opini yang berisi pleidoi terhadap pencalonannya sebagai presiden.

Nawal memberi contoh kepemimpinan "si tangan besi" Margaret Thatcher yang mampu menundukkan para pemimpin negara-negara dunia ketiga untuk taat pada kebijakan politik luar negerinya. Termasuk raja dan presiden dari negeri Arab yang semuanya laki-laki. Selain Thatcher, Nawal juga mencontohkan Condoleezza Rice, Hillary Clinton, dan para pemimpin perempuan di Indonesia, Pakistan, Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, dan lain-lain.

Alasan fisiologis bagi perempuan --karena haid-- menurut Nawal, adalah dalil yang tidak logis dan lucu. "Ya Tuhan, apakah haid membatasi kepemimpinan Margaret Thatcher? Apakah haid menghalangi petani perempuan Mesir yang menggarap sawah seperti petani laki-laki dari pagi hingga petang? Apakah haid merintangi atlet olahraga perempuan untuk bersaing merebut emas dalam arena Olimpiade?" demikian Nawal menulis.

Nawal menyadari, pencalonan dirinya akan membentur tembok yang kokoh. "Seperti bunuh diri," katanya kepada pers, sehari setelah pencalonan dirinya. Tujuan pencalonannya, menggerakkan rakyat Mesir untuk melakukan reformasi terhadap multikrisis: politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya. "Saya tidak mau 70 juta rakyat Mesir hanya menjadi penonton dalam pemilihan presiden mendatang," ujarnya memberi alasan. Adakah kehadiran Nawal bisa dijadikan barometer bergairahnya demokrasi di "negeri Spinx" itu?

Mohamad Guntur Romli
[Agama, Gatra Nomor 09 Beredar Jumat, 7 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  gak usah suudzan lah (aang_cairo, 25/01/2005 07:14)
kita gak usah suudzan dulu,yang jelas sebelum dicoba orang gak akan merasakan apapun,kali aja setelah nawaal jadi presiden keadaan mesir jadi lebioh baek,tul ndak???
 
 
spacer
  
  ngaca dong (awantea04@ya..., 14/01/2005 13:27)
Sebetulnya nawal ini mo cari sensasi doang, dipuji Barat, nyeleneh dsb. Coba kalo nggak begitu, tentunya sebelum ngomong dia akan ngaca dulu. Minimalnya liat umurlah. kan, udah tua renta tuh. Selain itu..bla..bla...bla (yang mo diskusi kirim imel ke gue).
 
 
spacer
  
  Sepertinya.. (elfughali@ho..., 10/01/2005 05:29)
Salam
seeprtinya bukan hanya Nawal yang pengen jadi presiden Mesir tahun ini, dala majalah Rosse el Youssef edisi sabtu ini (8/105) disebutkan ada tiga orang. ( Nawal+Sadduin Ibrahim+lupa:).._.mereka juga katanya akan mengumpulkan sejuta tanda tangan rakyat...
anehnya, majalah yang terkena selama ini getol menngau gkan liberalisme justru terjebak sikap konservatif dan fanatik mendukug Husni Mubarak. Bahkan tanpa malu, pemimpin redaksinya Muhammad Abdul Munim menulis.." Kepemimpinan seorang pre... <657 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 16 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer