spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ESAI
spacer
 
Widi Yarmanto
Meulaboh

Esai - "Meulaboh" (GATRA/Enggar Yuwono)DUKA cerita Nanggroe Aceh belum berakhir. Air mata masih mengalir. Juga traumatis. Mendengar deru kendaraan, melihat air di kamar mandi, atau tidur sendirian seperti dicekam kengerian. Pasca-tsunami memang masih menyesakkan dada.

Anak tanpa sanak famili, atau keluarga yang menyisakan suami atau istri, juga memilukan. Belum lagi bau mayat dan bangkai hewan membusuk di beberapa sudut kota. Lapar dan penyakit jadi momok. ''Semua itu benar-benar terasa di sini,'' ujar seorang rekan sembari menunjuk dada.

Ini cobaan, hukuman, ataukah justru ''penyelamatan'' agar manusia tak terperosok kemunafikan? Ataukah, karena kita terlalu menyombongkan diri, egois, menuruti hawa nafsu, terbelenggu oleh benda, dan merasa benar sendiri --khususnya jika pistol ada di tangan?

Apa pun tafsirnya, yang pasti banyak orang tersadarkan bahwa kita tak bisa menguasai alam. Gelombang tsunami itu sungguh dahsyat. Kita bagai semut yang terombang-ambing tanpa daya. Namun sebuah hikmah bisa dipetik dari sini: tergugahnya rasa solidaritas!

Simak kisah para orangtua murid di Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka membawa duit sumbangan untuk dibelikan kain kafan. Tapi, setelah dihitung-hitung, jumlah uang itu hanya cukup buat 20 jenazah. Hah! Mereka kaget, dan ada yang terduduk lesu. Sangat tak sebanding dengan puluhan ribu orang yang tewas.

Jadi, uang itu mau diapakan? Disumbangkan dalam bentuk duit? Saat itulah pemilik kios menghampiri: ''Kok, beli kain kafan sebanyak itu untuk apa?'' Buat membantu musibah Aceh. ''Apakah kami boleh menitipkan bantuan?'' tanyanya lagi.

Dalam tempo setengah jam, pedagang kain di Mayestik pun nitip bantuan. Menumpuklah kain kafan plus potongan bahan buat selimut. Luar biasa. Spontanitas itu tercermin pula dari kuli angkut yang membawa kain-kain itu ke mobil, tapi menolak diberi tip. Malah ada yang titip salam untuk warga Aceh, ''Semoga Allah mengangkat penderitaan mereka.''

''Aku merinding,'' tulis Hanni, yang mengisahkan ketulusan hati tersebut. Aceh, negeri yang acap dibalut luka, kembali tercabik. Ya, ketika derita itu makin dalam melukai sukma, hangatnya cinta pun makin terasa. Kita juga makin menghargai apa itu kebahagiaan.

Pewarta foto Tatan Agus RST, yang baru kembali dari Meulaboh --kota yang diluluhlantakkan tsunami-- juga merasakan duka mendalam. Wilayah itu terisolasi. Tapi ia bertekad mengabadikan tragedi itu. Ini momen langka.

Tatan ke Meulaboh lewat Pidie. Mobil cuma sampai di Beureunun, Gempang, Pidie. Kamis dini hari, sekitar pukul 04.00, disewalah tiga buah motor. Satu motor untuk memboncengkan Tatan, dua yang lain membawa bensin 30 liter, satu ransel nasi berlauk mi dan ikan asin, serta air putih. Dua motor itu juga berfungsi sebagai penolong, jika ada motor kejeblos.

Pagi yang dingin, Tatan memeluk punggung pengojek. Raungan motor membelah turun-naik bukit di jalan bekas pertambangan Bre-X yang dirimbuni semak-semak. ''Motor saya sampai terjungkal lima kali,'' kata Tatan. Syukur tak ada yang luka.

Jalan itu sepi. Di atas boncengan, Tatan berzikir sembari memejamkan mata: ''Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan La illaha illallah.'' Ia berdoa agar selamat. Di tengah jalan, Tatan bertemu belasan korban tsunami yang tanpa bekal, lusuh, basah, dan lesu.

''Saya sudah lima hari tidak makan, Pak,'' kata Abdurrahman, sekitar 40 tahun. Istri dan ketiga anaknya hilang tersapu gelombang. Dia selamat karena saat itu sedang bekerja di dusun tetangga. Begitu gelombang menggulung, ia berlari ke rumahnya. Namun rumah itu sudah lenyap tersapu bah.

''Saya cuma mememukan mayat bergelimpangan,'' katanya. Berkali-kali kakinya terantuk mayat. Ia terpaksa melangkahi banyak jenazah, walau setahunya dilarang oleh agama. Yang terpikir saat itu: ''Saya hanya ingin selamat.''

Perut Abdurrahman dan belasan orang lain selama lima hari cuma diisi air pegunungan. Maka, begitu Tatan membuka ranselnya, mata Abdurrahman berkaca-kaca. ''Terima kasih, saya berdoa agar Bapak selamat sampai Meulaboh,'' ujar pria jangkung itu.

Pada kesempatan lain, Tatan juga bertemu beberapa pengungsi wanita-pria, serta anak-anak dalam gendongan. Tiga buah apel bekal makannya di Meulaboh diberikan pada bocah usia 4-6 tahun itu. ''Saya trenyuh. Ingat anak di rumah,'' ujar Tatan.

Tanpa terasa, sembari memandangi anak-anak itu menggigit apel, air mata Tatan menetes. Hatinya terpukul. Tapi, di satu sisi, ia bersyukur bisa mengulurkan tangan semampunya. ''Batin saya plong,'' katanya. Kalau saja saat itu, ''Saya cuma memikirkan perut sendiri yang takut kelaparan, pasti hati saya menyesal. Dan, makanan itu belum tentu saya makan.''

Syukurlah, mujahadah (perjuangan batin) itu dimenangkannya. Ia puas bisa berbagi biskuit dan cokelat pada wajah-wajah putus asa, yang kemudian berubah cerah. Apalagi, bensinnya juga ditularkan --walau cuma beberapa botol Aqua-- pada beberapa motor dan sebuah mobil pengangkut korban tsunami.

Perjalanan sekitar 100 kilometer --diukur dari peta-- itu ditempuh dalam waktu sembilan jam. Di Meulaboh yang porak-poranda, Tatan disambut aparat Brimob yang mengamankan kota itu. ''Kamu wartawan pertama yang sampai di sini,'' kata seorang anggota Brimob sembari memeluk Tatan.

Pria bertubuh kecil yang hitam kecokelatan karena sering dipanggang terik matahari ini tak urung terharu. Tugas jurnalistik di Meulaboh selama sehari semalam tanpa secuil makanan itu tak membuat Tatan lapar. Padahal, sehari-hari, telat makan siang saja, ''Kepala saya langsung teng... naik,'' katanya.

Kenapa di Meulaboh bisa? ''Karena saya sudah dikenyangkan oleh 'makanan' batin, Mas,'' tutur Tatan, puas.

[Esai, Gatra Nomor 09 Beredar Jumat, 7 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 16 January 2005 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer