spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
JAWA
spacer
 
Pasca Tsunami
Ribuan Nelayan Pantura Jabar Enggan Melaut

Indramayu, 27 Desember 2004 19:22
Ribuan nelayan di Pantura Jabar, yakni Kabupaten Indramayu dan Cirebon, kini enggan melaut menyusul bencana gelombang laut Tsunami yang menewaskan ribuan orang pada Minggu (26/12) kemarin.

Sejumlah nelayan di tiga kecamatan di wilayah Kabupaten Indramayu terpaksa tidak melaut menyusul terjadinya gelombang pasang setinggi satu meter di pinggiran pantai Indramayu, sejak dua hari lalu termasuk pada Senin pagi hingga siang.

Selain karena tingginya gelombang, alasan tidak melautnya para nelayan juga disebabkan angin yang terlalu besar serta peristiwa Tsunami yang menimpa di kawasan Aceh dan kawasan Asia lainnya.

Menurut pengakuan sejumlah nelayan asal Kecamatan Juntinyuat, Karangsong dan Kandanghaur, sejak tiga hari yang lalu mereka sangat ketakutan dengan gelombang pasang yang terjadi di wilayah laut Indramayu, apalagi setelah mendengar adanya gelombang Tsunami yang menelan korban ribuan jiwa manusia.

Hampir setengah awak nelayan terpaksa tidak melaut. Kalaupun ada yang nekad melaut, mereka hanya berani sejauh dua hingga tiga mil dari pantai, padahal biasanya mereka melaut lebih dari 10 mil dari pantai.

Sebenarnya hanya dari melaut nelayan bisa mencari penghasilan. Namun, kondisi angin sangat kencang dan besar serta air pasang di pantai sudah meluap termasuk sejumlah sungai besar yang bermuara ke laut juga telah meluap.

"Kami terpaksa diam di rumah sampai situasi gelombang dan angin mereda. Kami juga terpengaruh adanya gelombang Tsunami," papar Marsudi (50) nelayan kawakan asal Desa Majakerta, Kecamatan Juntinyuat.

Dikatakannya, karena air laut pasang dan adanya angin kencang penghasilan para nelayan menurun drastis hingga 60 persen, bahkan sejumlah nelayan yang berani melaut mengeluh karena mereka terpaksa harus kembali ke darat akibat angin kencang dan gelombang pasang.

Para nelayan mengaku heran dengan situasi laut saat ini, sebab kondisi ini tidak biasanya terjadi pada akhir tahun. Pada 2003 lalu, kata dia, tidak ada gejala-gejala naiknya air laut setinggi satu meter hingga dua meter.

Hal serupa juga diungkapkan sejumlah nelayan kapal besar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong dan nelayan yang biasa bersandar di Pelabuhan Dadap Juntinyuat.

Kapal yang biasanya melaut hingga ratusan mil pun, kini tidak berani lebih jauh karena gelombang air laut cukup ganas, sehingga mereka hanya menangkap ikan di perairan dangkal. Begitu pula dengan nelayan di Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon, mereka masih enggan melaut menyusul adanya bencana gelombang dahyat yang menyapu pantai di tujuh negara Asia dan menewaskan ribuan orang hari Minggu kemarin.

"Kami memilih istirahat sambil menunggu situasi di perairan Laut Jawa normal kembali dan angin tidak terlalu kencang, karena khawatir terjadi bencana serupa," kata Zaenal (35) nelayan asal Bondet, Kabupaten Cirebon.

Menurut laporan dari kantor berita Antara, Pelabuhan Nusantara Kejawanan Kota Cirebon, hingga Senin sore tampak puluhan kapal nelayan masih bersandar di pelabuhan ikan terbesar di Cirebon tersebut. Sementara aktifitas pelelangan ikan yang biasanya ramai, sejak hari Minggu kemarin hingga kini tampak agak sepi. [EL, Ant]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 28 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer