spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
INTRIK
spacer
 
Kafi Kurnia
Ekstrem

FRIEDRICH Nietzsche, filsuf Jerman yang hidup pada 1844-1900, pernah mengatakan, "Extreme positions are not succeeded by moderate ones, but by contrary extreme positions." Kalimat ini saya jadikan kalimat pembuka dalam seminar road show buku terbaru saya, Anti-Marketing, di hadapan sejumlah pengusaha.

Intinya sederhana, persaingan pemasaran menjadi makin kompetitif dan kreatif. Kita dituntut untuk memilih posisi ekstrem. "Anti-Marketing" juga dilandasi oleh posisi ekstrem tersebut. Kompetisi zaman sekarang tidak bisa lagi berpijak pada hukum rata-rata. Tidak ada sukses yang lumayan atau lumayan sukses. Yang ada hanya sukses sekali atau gagal sama sekali.

Pemasaran tahun 2004 diwarnai oleh trend ekstrem ini. Misalnya saja, segmentasi konsumen pada umumnya terpisah menjadi dua. Yaitu ekstrem "mass class" dan "massclusivity". Ekstrem yang pertama, Anda harus menjual produk dan jasa semurah-murahnya kepada mass class. Atau menjual semahal-mahalnya kepada kelompok massclusivity.

Hadirnya kelompok mass class, misalnya, ditandai dengan trend baru di telekomunikasi dan transportasi. Lihat saja persaingan telepon seluler di Indonesia. Semua produsen berlomba-lomba menciptakan produk supermurah untuk kaum mass class. Di antara 1,6 milyar pemakai telepon seluler di seluruh dunia, dan pertumbuhan mass class tercepat ada pada kelompok konsumen berumur 6-15 tahun.

Di Asia, 30% pemakai telepon seluler adalah remaja di segmen umur ini. Di Eropa lebih gila lagi, pangsa pasarnya mencapai 50%. Di Belanda dan Jepang, hampir 100% remaja berumur 14 tahun memiliki telepon seluler. Mau tidak mau perusahaan provider telepon seluler harus mengambil posisi ekstrem dan merangkul kelompok ini.

Demikian juga di industri transportasi seperti penerbangan. Berbagai perusahaan pernerbangan bertiket murah bermunculan di seantero jagat. Termasuk Indonesia. Naik pesawat sudah mirip naik bus. Semuanya serba spontan.

Diperkirakan, posisi ekstrem ini juga akan dilirik oleh pengusaha hotel, untuk mendukung ledakan trend bepergian mass class itu. Hotel supermurah dengan perlengkapan serba minim diperkirakan bakal menjamur.

Posisi ekstrem kebalikan dari mass class dianut oleh kelompok massclusivity. Segmen ini muncul karena sekelompok konsumen makin terobsesi oleh semuanya yang serba eksklusif, mewah, ultrastatus, dan prestise. Kalau mass class melahirkan hotel irit, maka kelompok ini melahirkan hotel-hotel ultrabutik serba mewah.

Desainer dunia seperti Bulgari dan Giorgio Armani sudah berancang-ancang meluncurkan hotel mewah dengan merek sendiri. Mercedes meluncurkan mobil Maybachs yang eksklusif dan sangat mahal, hanya karena kelompok ini sudah tidak mempan lagi dengan godaan kemewahan Mercedes biasa.

Kartu kredit kelompok ini juga makin ekstrem. Kini muncul kartu hitam yang pangkatnya lebih tinggi dari "platinum". Menurut survei American Express Platinum, 59% pemegang kartunya yang berpenghasilan di atas US$ 100.000 kini asyik mengejar pengalaman yang disebut "experiential luxuries". Yaitu makan enak, berpergian dan pelesir serba mewah.

Trend mengambil posisi ekstrem ini adalah kesimpulan saya untuk pergulatan pemasaran di tahun 2004. Bila Anda ingin sukses di tahun 2005, trend ini perlu Anda perhitungkan. Gagal menghitung, Anda akan binasa.

Kecenderungan itu tampak jelas di industri retail. Posisi ekstrem pertama dipegang oleh kelompok hypermarket yang menjual produknya serba murah. Penjualan mereka tumbuh secara fantastis. Posisi ekstrem kedua dipegang kelompok minimarket. Jumlah mereka sudah menjamur lebih dari 1.600 gerai.

Dan di tengah kelompok pasar swalayan yang makin terjepit persaingan. Kalau saja kelompok ini emoh mengubah posisi, saya yakin umur mereka tidak akan panjang. Selamat Tahun Baru 2005.

peka@indo.net.id
[Intrik, Gatra Nomor 07 beredar Jumat, 24 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Bencana Sosial (prihast@ya..., 29/12/2004 06:47)
Dikotomi ini makin j elas terasa soalnya "Yang Kaya Makin Kaya dan Yang Miskin Makin Miskin". Apa-apa mahal. Sekolah juga mahal.

Universitas, seperti ITB yang dulu bisa menjagi jembatan si miskin menjadi kaya, kini menjadi buffer si kaya saja. Lha wong mahalnya biaya kuliah makin nggak terjangkau?!
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 28 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer