spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Memintal Masa Depan Berkeadaban

Sebuah Pohon Natal di Athena (Yahoo! News/AP Photo/Petros Giannakouris)Pada mulanya adalah kasih sejati
bersemi, mekar berbinar membara
berpijar di relung hati

pada mulanya
adalah persaudaraan tulus
memancar dari nurani putih mulus
mewarnai degup hidup makhluk
seluruh bumi karya sang khalik mulia, anggun, putih dan indah
ada damai, sejahtera
ada keadilan, kebenaran dan sukacita

tatkala gerak langkah manusia
dirasuki nafsu, egoisme dan kuasa dosa
mandat ilahi gagal diwujudkan
cinta sejati, persaudaraan, persekutuan
hancur luluh
perseteruan, kedengkian, keangkuhan, penindasan, keserakahan, keterpecahan
mewarnai sejarah manusia
natal mengalirkan harapan harapan baru
membangun peradaban masa depan

LEPAS dari tingkat keberagaman dan tahap spiritualitas yang dimiliki seseorang, hari raya keagamaan tetap ramai, meriah, dan memanifestasikan kadar religiusitas yang tinggi. Menarik untuk digarisbawahi pandangan Dr. Hamid Awaludin tentang relevansi dan urgensi perayaan Natal dalam konteks Indonesia. Menurut dia, berkumpulnya umat beragama --yang seiman-- pada perayaan Natal membuktikan bahwa kebebasan beragama bagi entitas Kristiani masih terjamin dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Menyambut perayaan Natal, ia juga menandaskan bahwa nilai luhur yang terkandung dalam hari raya keagamaan seperti Natal harus diimplementasikan di lingkup kehidupan praktis. Dengan cara itu, hari raya keagamaan memiliki relevansi dengan kehidupan kekinian dan mampu memberi motivasi dalam meningkatkan kinerja. Pemaknaan perayaan Natal dalam perspektif makro seperti yang diungkap Menteri Hukum dan HAM itu amat mendasar untuk melawan kecenderungan yang sedang terjadi ketika kebebasan beragama di Indonesia telah jatuh sebatas jargon dan slogan.

Pemboman gedung gereja tatkala umat sedang beribadah, penembakan pendeta yang sedang berkhotbah, pengeroyokan terhadap warga jemaat yang sedang melakukan ibadah di gereja yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini bukan saja merupakan pelecehan agama, pelanggaran HAM, melainkan juga penodaan terhadap negara berdasar Pancasila. Kata kunci yang amat substantif dalam perayaan Natal adalah perdamaian. Yesus berfirman: "Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9). Yesus telah meneladankan tindakan perdamaian dalam kehidupan-Nya. Kata-kata-Nya sejuk, berwibawa. Tindakannya akomodatif, inklusif, jauh dari sikap diskriminatif, bahkan respek terhadap setiap manusia tanpa memperhitungkan ikatan primordial mereka.

Dalam perspektif Kristen, kata damai mengacu pada istilah syalom, salam yang maknanya lebih luas dari perdamaian, tetapi juga mencakup kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, kebahagiaan, kasih, kesetiaan, keadilan, dan kebaikan. Alkitab menghubungkan syalom dengan Raja Syalom yang akan datang, yang pemerintahannya didasarkan pada keadilan bangsa dan mencakup berbagai bangsa di dunia. Syalom yang didasarkan pada keadilan bangsa dan mencakup berbagai bangsa di dunia. Syalom yang disebut dalam Alkitab telah digenapi dalam Yesus Kristus, yang kelahirannya dirayakan pada hari Natal.

PGI dan KWI dalam Pesan Natal Bersama 2004 menggarisbawahi pentingnya dikembangkan sikap senasib sepenanggungan dan kerelaan untuk bekerja keras. Menurut pesan itu, umat diajak bekerja keras dan rela berkorban untuk suatu harapan, yaitu Indonesia yang adil dan damai sejahtera. Kegembiraan dan harapan, penderitaan dan kecemasan seluruh bangsa adalah juga kegembiraan dan harapan, penderitaan, dan kecemasan para murid Yesus. Dengan janji-Nya yang senantiasa menyertai umat sampai akhir zaman, perlu dipertahankan nyala harapan di tengah suka-duka perjuangan dan kehidupan.

Seluruh anak bangsa, dalam semangat pertobatan dan solidaritas, diajak untuk menghayati dan memperjuangkan suatu peradaban baru yang menjunjung tinggi etika. Umat diharapkan senantiasa menghormati martabat sesama warga dan menolak cara-cara kekerasan dan diskriminasi, serta pola hidup konsumtif yang mengeksploitasi sesama dan alam lingkungan. Sementara itu, perlu didukung setiap usaha penegakan hukum dan pelestarian lingkungan demi terciptanya masyarakat yang adil sejahtera dan bebas dari KKN.

Ketika dunia menghadirkan pelbagai kekerasan, konflik, pertentangan, bahkan peperangan, Natal harus mengalirkan atmosfer perdamaian. Gereja dan umat Kristen harus mampu menjadi agen perdamaian, duta perdamaian, rekonsiliator. Syalom bisa terwujud jika ada keadilan. Sebab itu, keadilan mesti diwujudkan, hukum harus ditegakkan. Masa depan berkeadaban yang di dalamnya ada damai sejahtera dan keadilan mesti dibangun, dan Natal menjadi sumber inspirasi untuk merealisasikannya.

Weinata Sairin
Pendeta, Sekretaris Umum Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia
[Kolom, Gatra Nomor 07 beredar Jumat, 24 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 25 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer