spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ESAI
spacer
 
Widi Yarmanto
Dukun

ESAI - "Dukun" (GATRA/Enggar Yuwono)DALAM keadaan kepepet atau tak tahu harus ngapain, banyak orang lari ke dukun atau paranormal sebagai terminal akhir. Orang yang diyakini sakti, ngerti sak durunge winarah, itu dipersepsikan mampu mengusir penyakit, mendongkrak karier, dan menjodohkan orang. Atau, paling tidak, untuk uji coba.

Apalagi jika keampuhannya diamini banyak mulut. Pasti dicari orang. Terlebih dukun modern, yang mengombinasikan ''bisikan'' dengan foto aura pasien. Lebih afdol lagi jika segalanya di-gatuk-gatuk-kan lewat hitungan bulan, hari, Pon-Wage yang berunsur matematis.

Begitulah. Omongan dia dianggap bertuah. Logis-tidaknya urusan nanti. Sesuatu yang gaib itu kan sulit dinalarkan. ''Nyatanya ampuh betul. Anak saya, yang tiga tahun lebih tidak bisa bicara, sembuh karena dukun. Subhanallah,'' ujar seorang ibu mengisahkan pengalamannya sembilan tahun lalu.

Anak semata wayangnya yang lincah itu tidak mampu menyebut kata ''mama'' atau ''papa''. Jika berjalan, langkahnya tidak terkontrol. Benda di depannya diterjang. Diduga, di bagian otaknya ada yang tak beres. Banyak dokter dikunjungi, tapi tak membuahkan hasil.

''Cobalah ke dukun,'' saran temannya. Ada 15 dukun didatangi. Nihil. Paranormal terakhir ditemui secara tak sengaja di sebuah acara perhelatan. Dukun yang tak sembarang orang diladeni berkonsultasi itu memanggilnya. ''Anak Ibu kenapa,'' kata si paranormal.

''Bawalah dia ke rumah saya sebelum magrib,'' kata dia. Ingat, sebelum magrib! Tidak bisa ditawar. Mengapa? Sulit dijawab. Yang pasti, bocah usia tiga tahun itu pun dipinjam untuk ''diruwat''. Tidak lama. Lalu anak itu dibekali sebuah batu kecil.

''Insya Allah, sebelum enam bulan, dia lancar berbicara,'' kata si paranormal. Kata-kata itu dianggap penyejuk saja. Sebab, selama ini, belasan dukun juga mengatakan senada. Maka, ketidakpastian itu tidak pernah membebani dia.

Ternyata dugaan dia meleset. Turun dari mobil di depan rumahnya, bocah itu kontan berucap: ''Mama!'' Ibunya kaget. Salah dengarkah? ''Apa, Nak,'' katanya. ''Mama,'' kata bocah itu, sekali lagi. Tanpa terasa, mata ibu ini berlinang. Hatinya nggregel, trenyuh. Kebahagiaan sepenuhnya mewujud setelah anaknya lancar berbicara, tiga bulan kemudian.

Ya, pekan ini, kisah perdukunan kembali mengusik saya. Rekan saya jadi dukun. "Paitanne gula-kopi sak sendok, entuke limang kilo,'' kata Joko, rekan itu. Modalnya gula-kopi satu sendok (untuk kopi segelas) menghasilkan lima kilo. Tiap hari, sekitar 10 orang jadi pasiennya.

Profesi ini berawal beberapa bulan lalu. Adalah Kiai Syarif dari Sragen yang menyarankan: ''Pak Joko, sampeyan bikin saja masjid di depan rumah.'' Joko mengelus dada. Terus terang tidak sanggup. Jangankan mendirikan masjid, makan sehari-hari saja sulit. Pendaringannya sering kosong.

''Pak Joko, hidup itu sudah ada yang mengatur,'' kata kiai itu. Jika dibuat rumit, keruwetan itu mewujud di otak yang akan mengalkulasi macam-macam. Muncullah kekhawatiran, dan berakhir ketidakpastian. ''Sudahlah, jangan khawatir. Saya akan bantu,'' kata kiai itu.

Sejak itu, pendaringan Joko seakan tidak pernah kosong. Entah siapa yang mengisi. Rezekinya pun tidak seret-seret amat. Anehnya pula, beberapa kiai menyarankan hal serupa: ''Kalau belum mampu bikin masjid, ya, buatlah pondok. Paling tidak, bisa untuk salat sampeyan, anak, dan istri.''

Joko pun mantap. Masjid tak lebih dari 100 meter pun terwujud. Profesi wartawan ditanggalkan, karena tabloidnya tak juga terbit. ''Sudah, sampeyan di Solo saja, dua atau tiga tahun,'' kata Kiai Syarif, yang diyakini Joko sebagai orang sakti karena punya sambungan ''HP'' pada Gusti Allah.

Pelawak Yatie Pesek, yang napasnya tinggal satu-dua, mengaku disembuhkan Kiai Syarif. ''Alhamdulillah,'' katanya. Seorang pasien yang di ambang sakratul maut di sebuah rumah sakit di Solo mak jenggelek sembuh setelah diminumi air putih seperti saran Kiai Syarif.

Kiai ini cuma berpesan: ''Nanti, kalau sudah sembuh, bawa dia kemari, akan saya wejang.'' Pasien itu walafiat, hingga membuat dokternya bengong. Ajaib! Namun, sepulang dari rumah sakit, pasien itu pulang ke Blora. Dan, di rumahnya dia ambruk, meninggal seketika. Tak masuk akal, memang.

Perjalanan Joko pun demikian. Tiap malam Selasa Kliwon --hari yang dianggap kurang bagus-- dan malam Ahad Wage, masjidnya dipakai mujahadahan. Menyucikan diri dengan kesungguhan itu dilakukan dalam bahasa Arab dan bahasa Jawa: "Gusti Allah kulo kapok, nyuwun ngapuro. Gusti Allah kulo nyuwun sehat.''

Dalam cucuran air mata, mereka digiring agar berhati pasrah. Manusia tak boleh menganalisis hidupnya. Ikuti saja ke mana air mengalir. Tiada penyesalan, dan hadapi masa depan tanpa rasa takut. ''Hidup itu indah jika sampeyan tahu cara memandang kehidupan,'' kata Joko, menyitir ucapan rekan akrabnya.

Penderitaan adalah ujian menuju pemahaman hidup yang lebih sempurna. Dan, jangan mengukur keberhasilan dari kacamata orang lain, tapi dari dalam diri sendiri. Joko bukan lagi nyamuk pers yang ligat mengaduk-aduk kasus. Ia lebih sering tirakat, salat, dan zikir. ''Obat perut lapar itu kan cuma tirakat dan salat, Mas,'' katanya.

Otak saya kontan menganalisis: ''Inikah Joko yang saya kenal? Dijadikan dukun oleh jamaah, karena doanya ampuh berkat kepasrahan serta berketeguhan hatinya?'' Analisis saya pupus. Dunia perdukunan yang akrab di sekitar kita memang sulit dinalarkan.

Simak saja kiriman SMS seorang mantan menteri yang baru bertemu paranormal, dalam menyikapi musibah lalu lintas dan penerbangan di republik ini yang bertubi-tubi: ''Percaya atau tidak, jika tidak dilakukan ruwatan nasional, paling tidak 1.000 orang mati sia-sia di jalan.''

[Esai, Gatra Nomor 6 beredar Jumat, 17 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Dukun = Paranormal (gpp616@ya..., 23/12/2004 23:35)
Pergi ke dukun (baca: paranormal, fengshui), kata pak Ustad kami adalah haram hukumnya karena ibadah kita tidak akan diterima selama 40 hari. Bagaimana kalau seminggu sekali ke dukun?
Tidak ada seorang pun termasuk setan/jin yg mengetahui masa depan, kapan orang mati, dan berapa orang yg mati... kecuali Allah SWT... Jadi untuk apa ke dukun, bukankah Allah telah membuka jalan seluas2nya kepada manusia untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat? hanya mungkin banyak yg tidak mengerti jalannya alia... <23 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  klenik atau perdukunan (faizah_r@pl..., 22/12/2004 23:58)
Percaya ndak percaya dunia perdukunan banyak di percayai oleh orang2 kita, termasuk para pimpinan.
tapi jangan sampai terjadi kemusyrikan dan merusak akidah. kalau ada manusia yang diberi kelebihan oleh Allah memang ada, dan apa salahnya kelebihan tersebut digunakan untuk membantu sesama
 
 
spacer
  
  dukun, belum kapok juga (hamdinateh@ya..., 21/12/2004 21:01)
Belum kapok juga membahas kesaktian dukun?!!! Sudah banyak yang berdukun untuk membereskan persoalan hidup termasuk para presiden kita. Hasilnya Indonesia makin amburadul. Belum ada dukun yang manjur melawan malaikatul maut ,bila sudah sampai saatnya mahluk pasti mati belum ada yang bisa menghindar termasuk para dukun. Tentang mati itu sendiri belum tentu tidak enak lho. Adapunmengenai sembuh dari penyakit sama saja akalau belum sampai waktunya tidak akan terjadi itup... <148 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 25 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer