Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

APA & SIAPA

Citra Juara Tak Disangka

Peselam putri nasional Citra Ramaniya membuat kejutan. Dalam HUT ke-59 TNI-AL, Ahad lalu, ia memenangkan lomba renang di laut sepanjang 3.000 meter. Padahal, lawannya para pria, anggota TNI pula. Artikel lain: Ratna Master Reiki, Arti Skorsing bagi Artest, Jam Terbang Gilang, Kado Kafan Ratih.

Citra Juara Tak Disangka

PESELAM putri nasional Citra Ramaniya kembali membuat kejutan. Peraih medali perak cabang selam di PON XVI Palembang itu mencatat waktu tercepat untuk lomba renang. Ini bukan renang biasa karena dilakukan di laut, bukan di kolam renang.

Jaraknya juga lumayan panjang, 3.000 meter. Selain itu, pesaing cewek 22 tahun itu adalah para anggota TNI/Polri yang ikut meramaikan hari ulang tahun ke-59 TNI-AL, Ahad lalu. Tak kurang dari 130-an perenang adu cepat di antara ombak laut. Secara keseluruhan, Citra adalah peserta kedua yang masuk garis akhir. Padahal, sebagian besar lawannya para pria, anggota TNI pula.

Renang jarak jauh itu ditempuh Citra selama sekitar 70 menit, dari Pondok Duyung ke Pantai Marina Fish Water. "Nggak nyangka bisa menang. Aku nggak latihan secara khusus, lho," katanya kepada Dessy Eresina Pinem dari Gatra.

Sebelumnya, Citra sempat menolak ketika ditawari pelatihnya untuk ikut lomba di laut itu. "Eh, tanpa setahu saya, namaku didaftarkan," kata perenang yang pindah ke selam dua tahun lalu itu. Saat itu, mahasiswa teknik informatika Universitas Bina Nusantara ini masih ujian semester. Jadi tidak sempat latihan. "Saya berpikir gimana urusan cepat selesai sajalah," ujar spesialis juara di kejuaraan Jakarta Open sepanjang 2003 itu.

Begitu ia dikabari jadi yang tercepat, Citra sempat tak percaya. Apalagi waktunya sampai lebih dari satu jam. Tidak lelah? "Ada triknya supaya tak cepat capek," katanya, buka rahasia. Caranya, jangan berenang terlalu cepat atau terlalu lambat. Pokoknya, kecepatannya harus stabil. Begitu.

Ratna Master Reiki

KALAU sakit ringan semacam flu, batuk, atau demam, datanglah ke Ratna Listy. Penyanyi ini pandai menyembuhkan penyakit. Ratna jadi dukun? Bukan. Wanita kelahiran Madiun, Jawa Timur, 31 tahun lalu itu menyembuhkan penyakit dengan transfer energi melalui metode reiki.

Selama ini, "pasien" Ratna adalah orang-orang dekatnya, suami dan seorang anaknya. "Anakku dari lahir sampai sekarang nggak pernah ke dokter, kecuali imunisasi," kata sarjana ilmu administrasi lulusan Universitas Brawijaya, Malang, ini. Pemandu acara "Panorama" di Antv itu sudah sekitar setahun belajar reiki.

Awalnya, pemain pendukung sinetron Camelia dan Menjemput Impian itu memang ingin mengurangi obat kimia jika sakit. Sekaligus ingin "meraba" dunia supranatural. Seorang teman lalu menyebut reiki sebagai jawaban atas keingintahuannya itu. Mulailah ia belajar. "Reiki ternyata lebih praktis dan instan," kata ibunda Swara Reiki January itu kepada Alexander Wibisono dari Gatra. Selama enam bulan, bintang iklan pembesar payudara itu sudah bergelar master.

Arti Skorsing bagi Artest

JAKSA di Oakland County mulai menyusun dakwaan untuk kasus keributan para pemain bola basket Indiana Pacer dengan penonton, November lalu. Sebanyak lima pemain Pacer masuk dalam daftar tuntutan David Gorcyca, jaksa setempat. Salah satunya adalah pemain depan Pacer, Ron Artest. Sebelumnya, Artest sudah diskorsing oleh bos Asosiasi Bola Basket Amerika Serikat, NBA, David Stern.

Skorsing itu tidak membuat Ron Artest sepi kesibukan. Pemain depan klub basket NBA Indiana Pacer ini malah bergairah. Pemain berkulit gelap itu tengah menyiapkan sebuah album lagu berirama hip-hop. Peluncuran album itu belum ditetapkan. Tapi salah satu lagunya, berjudul We Party, sekarang sudah bisa diakses lewat situs internet.

Album yang direkam oleh TruWarier Record itu terinspirasi dari kota tempat tinggalnya, Queensbrigde, New York. "Queensbridge memang cuma kampung, tapi warganya bisa menembus batas-batas dunia," kata Artest. Bagi Artest, ini malah kesempatan emas untuk menancapkan citranya di dunia musik. Terbukti, Artest menjalani serangkaian interviu dengan TV lokal dan pelbagai penampilan lainnya untuk mempromosikan album solo itu.

Jam Terbang Gilang

PENAMPILAN pemain drum Gilang Ramadhan identik dengan musik jazz. Maklumlah, ia ikut melambung sejak gabung dengan Krakatau Band, 1986 --sampai keluar beberapa tahun lalu. Ada yang bilang, Krakatau bergenre jazz rock. Nah, warna rock ini pulalah yang membawa lelaki 41 tahun itu cocok nggebug drum bersama salah satu grup rock senior Indonesia, God Bless.

Mulanya, ayah dua anak ini sempat gamang. "Karena mereka senior, jam terbangnya kan lebih tinggi, ya," katanya kepada Rachmat Hidayat dari Gatra. Meski demikian, ini bukan kali pertama ia main bareng dengan band yang berdiri pada 1972 itu. Tahun 1990-an, Gilang sempat menjadi pemain tambahan Gong 2000 --yang juga dimotori personel God Bless.

Akhir tahun ini, Gilang kembali dilamar band yang dimotori Ian Antono dan Ahmad Albar itu. Posisinya menggantikan Teddy Sunjaya. Meski sudah menjadi personel tetap, Gilang tidak meninggalkan grup band Nera yang baru dibentuknya. "Nera khusus untuk show ke luar negeri," katanya tentang band yang lebih banyak membawakan lagu berbahasa Flores itu. Tahun depan, Gilang bersama God Bless akan meluncurkan album baru.

Kado Kafan Ratih

ULANG tahun ke-42 Ratih Sanggarwati berlangsung meriah di Pakubuwono Residence, Kamis pekan lalu. Malam itu, Ratih meluncurkan buku berisi kumpulan puisinya, Bila Ibu Boleh Memilih. Beberapa selebriti ikut hadir, antara lain penyanyi Nugie, bintang sinetron Inneke Koesherawati, penyanyi Reny Djajoesman, dan budayawan Eros Djarot.

Di antara kemeriahan itu, ada satu kado yang betul-betul unik. Seorang kawan memberinya kain mori (kain kafan yang biasa dipakai membungkus mayat). Selain memberi kafan, si pengirim menyelipkan sederet kata: "Alangkah indah bila memikirkan masa depan." Maksudnya, mantan peragawati itu diingatkan bahwa tambah umur berarti makin dekat dengan kematian.

Tapi Ratih Sang --demikian ia biasa disapa-- tidak marah. "Saya bersyukur, masih ada yang mengingatkan," kata None Jakarta 1983 kelahiran Ngawi, Jawa Timur, itu kepada Rachmat Hidayat dari Gatra. Si pengirim ternyata Finaldo, teman saat menjalankan ibadah umrah. "Sebenarnya saya juga sudah punya satu (lembar kain kafan --Red.) di rumah," kata ibu tiga anak itu.

Cover GATRA Edisi 06/2005 (GATRA/Astadi Priyanto & Tatan Agus RST.)
 
RUBRIK

Advetorial
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Medela
Multimedia
Musik
Nasional
Obituari
Pendidikan
Perilaku
Perjalanan
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Suplemen
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com