Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

PERBANKAN
Hilang Akal di Bank Global

Bank Global menyimpan sejuta perkara. Ada upaya penghilangan data rekening, deposito, dan jurnal laporan oleh karyawan dan direktur bank. Barang busuk apa yang mereka sembunyikan? Bagaimana nasib dana para nasabahnya?

Bank Indonesia [www.bi.go.id]AKHIR pekan lalu menjadi hari sibuk bagi beberapa orang tim pemeriksa Bank Indonesia (BI). Tapi bukan memelototi pembukuan atau dokumen bank, sebagaimana laiknya pemeriksa bank. Melainkan mengintai kegiatan bank dari kejauhan. Hari itu, mereka tengah mengamati aktivitas di gedung berlantai 28 di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Pekerjaan di luar kebiasaan tim pemeriksa bank itu dilakukan lantaran ulah manajemen Bank Global yang menunjukkan gejala bertingkah buruk. Sejak ditetapkan sebagai bank dalam pengawasan khusus, mereka tak pernah memberikan akses data. "Tim pemeriksa BI bahkan tidak diperkenankan masuk ke ruang-ruang kerja," kata Miranda Swaray Gultom, Deputi Gubernur Senior BI. Ibaratnya, bila diminta 10 data, yang disodorkan cuma dua atau tiga. Itu pun belum tentu data yang diminta.

Lantaran sikap menjengkelkan itu, Jumat pekan lalu Miranda memanggil direksi dan komisaris Bank Global. Dalam pertemuan itu, BI mendesak pengurus Bank Global menandatangani pernyataan dan komitmen manajemen untuk bersikap kooperatif. Sekaligus BI mengingatkan kembali tentang kesediaan pengurus menambah modal yang batas waktunya pada Senin lalu.

Bisa dibilang, tak ada "perlawanan" dari direksi Bank Global atas teguran keras dari BI itu. Irawan Salim (presiden direktur) dan direksi Bank Global menyatakan bersedia mengikuti perintah BI. Tapi, setelah pertemuan itu, mereka malah berulah, bak berandalan kehilangan akal. Bukannya menggiatkan upaya menambah modal dan membenahi pembukuan, mereka malah berusaha menghilangkan data.

Niat busuk pengurus bank publik yang saham pengendalinya dimiliki PT Intermed Pharmatama itu terbongkar Senin dini hari lalu (lihat: Tukang Ojek Mengintai Global). BI dan kepolisian berhasil menemukan bukti-bukti upaya pemusnahan, peracikan, perusakan, dan pemindahan dokumen. "Mereka diduga melakukan tindak pidana melanggar Undang-Undang Perbankan," kata Komisaris Jenderal Suyitno Landung, Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian RI.

Keberhasilan mengungkap upaya brutal menggelapkan data Bank Global itu, konon, juga melibatkan Tomy Winata. Miranda dikabarkan sempat menghubungi bos Grup Artha Graha itu, meminta bantuan untuk menyingkirkan preman-preman di Bank Global. Ada pula yang menyebutkan, Irawan Salim bersaudara dengan Tomy.

Ketika kabar itu dikonfirmasikan kepada Miranda, raut wajah pejabat BI yang murah senyum ini berubah, kepalanya ditarik agak menjauhi lawan bicara. "Saya juga preman.... Cerita apa lagi ini?" katanya.

Tomy pun membantah. "Saya tidak pernah dihubungi Ibu Miranda," katanya kepada Gatra. Ia juga menyangkal dekat dengan Irawan Salim. "Kalaupun saya punya hubungan saudara, dan jika benar Irawan melakukan kejahatan seperti itu, ia harus dihukum. Kalau perlu, dihukum mati," Tomy menambahkan.

Untuk ukuran bankir, kelakuan Irawan dan anak buahnya terbilang sudah keterlaluan. "Kasus Bank Global merupakan tamparan bagi dunia perbankan," ujar Sigit Pramono, Direktur Utama Bank BNI, Ketua Himpunan Bank-Bank Negara. Ia menilai tindakan manajemen Bank Global sudah melanggar etika dan tidak bertanggung jawab yang dapat merusak citra bankir.

Gelagat tidak bertanggung jawab itu mulai diendus BI sejak April lalu. Ketika itu, BI meminta Bank Global membuktikan kepemilikan sah atas surat-surat berharga yang dinyatakan dalam laporan keuangannya. "Dari sekitar Rp 800 milyar surat berharga yang dimiliki Bank Global, sekitar setengahnya meragukan," kata Sabar Anton Tarihoran, Direktur Pengawasan Bank II BI.

Dugaan adanya upaya memoles laporan keuangan itu juga diperkuat dengan hasil pengecekan silang ke debitur Global. "BI menemukan ada debitur yang tidak merasa mendapat kredit dari Bank Global," kata Anton. Total kredit yang diduga fiktif itu sekitar Rp 30 milyar.

Dengan kondisi seperti itu, rasio kecukupan modal (CAR) yang disebut 44,84% dalam laporan keuangan Bank Global per September 2004 otomatis juga meragukan. Menurut perhitungan BI, CAR Bank Global sudah minus 39%. Giro wajib minimum Bank Global di rekening BI pun sudah di bawah 1%. Jauh dari syarat 5% dari dana pihak ketiga di bank tersebut. Karena itu, BI membekukan operasi bank yang diperkirakan punya 10.000 nasabah dengan jumlah dana pihak ketiga sekitar Rp 1 trilyun itu.

Upaya menggelapkan data bank itu diduga kuat didalangi oleh Irawan Salim. Pemeriksaan polisi terhadap delapan orang yang tertangkap Senin lalu mengindikasikan peran mantan Vice President Citibank Jakarta, bergelar MBA dari York University, Toronto, Kanada, itu. "Mereka mengaku, dalang pemusnahan dokumen itu adalah Irawan dan Rico," kata Inspektur Jenderal Dadang Garnida, Wakil Kepala Bareskrim.

Menurut sumber Gatra --sebut saja Johny Pasiva-- Rico Santoso, Direktur Operasional Bank Global, adalah adik ipar Irawan Salim. Istri Irawan --kakak Rico-- kebetulan menjabat di PT Uni Securindo Abadi, perusahaan pemilik saham PT Prudence Asset Management. Prudence inilah yang menerbitkan reksa dana Prudence Dana Mantap yang ditawarkan Bank Global ke nasabahnya. "Tampaknya mustahil kalau Prudence tak terlibat langsung dalam kasus ini," kata Johny.

Namun, kepada Gatra, manajemen Prudence memberi penjelasan singkat. "Tidak ada kerja sama apa pun dengan pihak mana pun sebagai agen penjual sampai saat ini," tulisnya lewat faksimili. Disebutkan bahwa Prudence hanya menjual reksa dana Prudence Dana Mantap yang diluncurkan 2 Januari lalu. Dana yang dikelola sebesar Rp 11 milyar.

Keterkaitan dua perusahaan itu masih ditelisik. "Sampai saat ini, hubungan di antara keduanya masih dalam penjajakan pemeriksaan," kata Anton Tarihoran kepada Rahman Mulya dari Gatra. "Namanya dimanfaatkan, digunakan untuk satu kejahatan, kok diem aja?" Abraham Bastari, Kepala Biro Pemeriksaan dan Penyelidikan Bapepam, menimpali.

Hingga Rabu lalu, baru sembilan tersangka yang tertangkap dengan tuduhan perusakan data bank. Seorang di antaranya ditangkap Selasa lalu, dengan barang bukti berupa uang berjumlah sekitar Rp 16,5 milyar. Irawan dan Rico masih buron.

A. Kukuh Karsadi dan Rihad Wiranto



Tukang Ojek Mengintai Global

TRIS Yulianto mungkin tak pernah mengira. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pemeriksa bank, ia harus bekerja rangkap sebagai tukang ojek Minggu lalu, ia menyamar jadi tukang ojek untuk memata-matai aktivitas di Bank Global.

Hasilnya lumayan. Selain mendapat Rp 10.000 atas jasanya mengantar dua penumpang, ia dan koleganya berhasil mengungkap upaya perusakan data oleh manajemen Bank Global. "Saya menghargai inisiatif tim pemeriksa untuk mengungkap kasus ini," kata Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia (BI).

Sejak Bank Global dinyatakan oleng, BI mengerahkan enam pemeriksa. Namun mereka menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari tuan rumah. Meski diberi ruangan, para pemeriksa tak diberi akses data. Gerak-gerik mereka diawasi lewat kamera. Dering telepon pun disetel berbeda dengan dering telepon lain. Lantaran itulah, tim pemeriksa curiga pada manajemen Bank Global.

Diam-diam mereka mengintai setelah jam kantor. Sabtu malam lalu, kantor Bank Global di lantai tiga Menara Global menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Lampu-lampu menyala, padahal kantor libur. Esoknya, dari pagi hingga sore, tak henti mobil keluar-masuk gedung. Curiga ada sesuatu yang tidak beres, tim pemeriksa BI mendatangi Menara Global dan berniat naik ke lantai tiga.

Tapi mereka dihadang. "Maaf, lift mati," kata seorang lelaki berpakaian hitam-hitam yang mengaku petugas pengelola gedung. "Petugas" itu pun melarang tim pemeriksa BI naik ke lantai tiga melalui tangga darurat. Noor Cahyo, Deputi Direktur Pengawasan Bank BI, yang ikut turun ke lapangan pun kena cegah.

Menjelang Senin dini hari, aktivitas di sekitar gedung makin meningkat. Truk mulai berdatangan masuk ke halaman Menara Global. Melihat gelagat buruk itu, anggota Brimob yang bertugas di BI didatangkan. Mabes Polri dikontak.

Sebelum subuh, polisi tiba di lokasi, dan langsung melesat ke lantai tiga. Tapi hanya berkas-berkas berceceran di lantai yang mereka temukan. Salah satunya adalah bilyet deposito senilai Rp 700 juta yang diragukan keasliannya.

Polisi melanjutkan perburuan hingga tingkat 26, lantai terakhir yang dilayani lift. Nihil. Lewat tangga, mereka melanjutkan ke lantai 28. Delapan pegawai Global kepergok di situ. Pukul delapan pagi, mereka digelandang ke Mabes Polri, berikut dua truk penuh berisi dokumen Bank Global.

Rihad Wiranto
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 06/2005 (GATRA/Astadi Priyanto & Tatan Agus RST.)
 
RUBRIK

Advetorial
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Medela
Multimedia
Musik
Nasional
Obituari
Pendidikan
Perilaku
Perjalanan
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Suplemen
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com