Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Silang Sengketa Uang Komisi

Merasa haknya tak dipenuhi, Chan U Seek menggugat Alvis. Hasilnya, keduanya sepakat untuk melupakan. Mengapa?

NAMA Chan U Seek mendadak jadi sorotan pers. Pengusaha Singapura keturunan Cina ini dikaitkan dengan dugaan suap yang melibatkan Alvis Vehicles Limited dan Siti Hardiyanti Rukmana alias "Mbak Tutut". Alvis, pabrik tank yang berpusat di Coventry, Inggris, dituding menyuap Tutut 16,5 juta poundsterling.

Kasus ini kali pertama dilansir koran terbitan Inggris, The Guardian, menyusul perkara gugatan Chan U Seek kepada Alvis di pengadilan Inggris. Dalam dokumen gugatan Chan kepada Alvis Vehicles Limited yang didapatkan Gatra disebutkan, Chan adalah seorang pebisnis yang punyai pengaruh kuat. Ia punya jaringan luas dalam pengadaan alat-alat pertahanan, baik di kawasan Asia Tenggara maupun Timur Jauh.

Selain itu, Chan disebutkan memiliki interes yang tinggi pada bidang aerospace, properti, dan hotel di berbagai negara. Dalam kasusnya dengan Alvis, Mr. Chan --demikian Chan U Seek disebut dalam dokumen itu-- ditegaskan sebagai seorang konsultan dan advisor. Ia bukan selling agent atau salesman!

Chan dinilai sangat memahami kultur dan metode menjalankan bisnis pengadaan alat-alat pertahanan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Inilah salah satu alasan utama mengapa Chan diminta menjadi konsultan dan advisor untuk Alvis.

Hubungan bisnis antara Chan dan Alvis telah lama terjalin. Dimulai sejak 33 tahun lalu (1972), ketika Chan bertemu Peter Levene, Group Managing Director United Scientific Holding (USH) Limited --perusahaan ini selanjutnya membeli Alvis pada Juli 1981.

Waktu itu, menurut Chan, Levene meminta bantuannya untuk mendirikan pabrik manufaktur di Singapura yang bergerak di bidang optik. Namanya, Avimo Singapore Limited. Sebanyak 75% sahamnya dimiliki USH. Dan Chan sendiri menjadi pemegang saham sekaligus Direktur Avimo.

Selanjutnya Chan dan Levene sering bertemu untuk bertukar informasi mencari peluang bisnis. Keduanya menjadi sangat akrab. Pada 12 Juli 1981, Levene mengirim teleks kepada Chan untuk memberi kabar bahwa USH telah (setuju) membeli Alvis. Isinya sebuah harapan. "We look forward to your continued support in our new and enlarged group," tulis Levene kepada Chan waktu itu.

Maka, bergeraklah Chan. Awal November 1981, giliran Chan yang mengirim kabar ke Levene. Ia menyebutkan bahwa Geoerge Keen Lee (GKL) Equipment Pte Ltd, kompetitor Alvis di Indonesia, telah meneken kontrak dengan pihak ABRI untuk menyuplai suku cadang tank Saladin, Saracen, dan Ferret.

Chan mengirim fotokopi kontrak itu kepada Levene. Jawaban Levene: "Now the USH owns Alvis it is logical that you should go for this type of business." Di sini Chan seperti mendapat angin. Selanjutnya Levene kembali mengirim teleks untuk Chan, 11 November 1981.

Levene bilang pernah punya "banyak masalah" dengan praktek bisnis di Indonesia. Lewat teleks itu, Levene meminta informasi berkaitan dengan praktek bisnis di Indonesia. Ia juga minta masukan dari Chan, bagaimana caranya agar tetap bisa berbisnis di Indonesia dan mendapatkan keuntungan.

Chan mulai memosisikan diri sebagai konsultan untuk Alvis guna menjual produknya ke Indonesia, akhir Ferbruari 1983. Pada saat yang sama, terjadi pula --menurut pengakuan Chan-- "kesepahaman implisit" antara dirinya dan Levene. Jika Alvis berhasil menjual produknya ke Indonesia, Chan akan mendapat komisi dari kerja-kerja konsultasi yang telah dilakukannya.

Chan mengaku telah memberi masukan kepada Alvis tentang alat-alat pertahanan yang dibutuhkan Indonesia. Pada Mei 1982, ketika David Grant, Area Sales Manager Alvis, kesulitan mendapat agen lokal yang pas, Chan memperkenalkan David dengan Ignatius Yoessie. Selanjutnya Ignatius merekrut Soekarno sebagai agen lokal kedua.

Kesepakatan remunerasi antara Levene dan Chan akhirnya terjadi, ditandai dengan surat yang diterima Chan dari Levene pada 22 November 1983. Isinya, Chan akan mendapat 4% dari harga FOB (fright on board) jika kontrak antara Alvis dan Pemerintah Indonesia dalam penjualan tank Scorpion dilakukan.

Chan pun makin banyak melakukan tugas konsultasi dan fasilitator untuk Alvis. Ia, misalnya, mengaku telah membiayai dan mengurus kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia ke London, Mei 1984.

Indonesia akhirnya memang memutuskan untuk membeli tank Scorpion. Pembeliannya dilakukan dalam dua kali kontrak, masing-masing 50 tank Scorpion. Total harga FOB-nya, kontrak pertama (1995) 76 juta poundsterling, sedangkan kontrak kedua (1996) mencapai 79 juta poundsterling.

Hanya saja, kontrak itu terjadi kurang lebih 10 tahun setelah kerja-kerja Chan dilakukan --setidaknya jika dirujukkan pada surat gugatannya. Di sinilah, mungkin, persoalannya. Apakah perjanjian antara Levene dan Chan masih berlaku? Apa peran Chan dalam sukses kontrak itu?

Bagi Chan sendiri, tidak ada batas akhir dalam perjanjiannya dengan Levene itu. "No termination of Mr. Chan's appointment as consultant," tulis Chan dalam dokumen gugatannya.

Ia merasa berhak mendapat komisi 4% dari total harga FOB itu. Kalau diuangkan, nilainya mencapai 6 juta poundsterling. Tapi Alvis menolak membayar komisi yang diminta Chang. Silang sengketa uang komisi ini akhirnya bergulir ke pengadilan. Chan memerkarakan Alvis di pengadilan Inggris, Juli 2001.

Anehnya, setelah tiga tahun kasus itu diproses, ending-nya "damai"! Baik Chan U Seek maupun Alvis menyatakan bahwa ini masalah pribadi, dan mereka sepakat untuk melupakannya. Tentu saja ini mengejutkan banyak pihak. Ada apa? Bagaimana penyelesaian kasusnya?

Kepada Gatra, Chan berujar singkat, "Nothing!" Ia mengaku, hingga saat ini belum menerima sepeser pun uang dari Alvis. Ia juga menegaskan bahwa kasusnya dengan Alvis tidak ada hubungannya dengan kasus "suap" yang diterima Tutut.

Luqman Hakim Arifin



Nama Saya Hanya Dicatut

KORESPONDEN The Guardian untuk Asia Tenggara, John Aglionby, memelesetkan nama Chan U Seek menjadi "Can U Seek": bisakah Anda mencari. John memang berhasil mengontak Chan. Tapi yang bersangkutan bungkam tak mau bicara.

Beruntung, ketika wartawan Gatra Luqman Hakim Arifin menghubungi Chan U Seek, ia mau buka mulut. Suara lelaki berusia 80 tahun itu terdengar serak. "I'm very old," kata Chan kepada Gatra via jaringan telepon internasional, Rabu malam lalu. Berikut kutipan wawancara dengan Chan U Seek:

Apakah Anda masih menjadi Direktur Avimo?

Tidak. Avimo sudah ditutup.

Sejak kapan ditutupnya?

Beberapa tahun yang lalu. Saya sudah lupa.

Berkaitan dengan berita tentang kasus suap dalam penjualan tank Scorpion ke Indonesia, apa komentar Anda?

Saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. No comment.

Tapi, nama Anda selalu dikaitkan dengan kasus suap ini?

Saya tidak tahu. Nama saya hanya dicatut. Biarkan saja, saya tidak peduli.

Tapi, kami punya dokumen gugatan Anda kepada Alvis?

Ya. Tapi tidak ada hubungannya dengan Indonesia. Sama sekali tidak ada hubungannya.

Kalau demikian, Anda menilai persoalan di pengadilan Inggris itu sebenarnya hanya masalah Anda dengan Alvis?

Ya... ya.

Apakah Anda sudah menerima uang dari Alvis?

No... no.

Kalau belum menerima uang dari Alvis, apa yang akan Anda lakukan terhadap Alvis?

Nothing!

Apakah Anda pernah berhubungan bisnis dengan Siti Hardiyanti Rukmana, putri mantan Presiden Soeharto?

Tidak... tidak. Saya tidak punya hubungan dengan dia.
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 06/2005 (GATRA/Astadi Priyanto & Tatan Agus RST.)
 
RUBRIK

Advetorial
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Medela
Multimedia
Musik
Nasional
Obituari
Pendidikan
Perilaku
Perjalanan
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Suplemen
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com