Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Fee Kalajengking untuk The Lady

Putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, disebut menerima imbalan 16,5 juta poundsterling dalam transaksi 100 tank Scorpion senilai 160 juta poundsterling buatan Alvis, Inggris. Sejumlah jenderal terseret kasus ini. Siapa pula para srikandi yang memuluskan bisnis militer Tutut?

Siti Hardiyanti Rukmana (Dok. GATRA/Beawiharta)MENJELANG tutup tahun ini, Aqlani Maza ketiban pekerjaan rumah. Dirjen Sarana Pertahanan, Departemen Pertahanan (Dephan), itu mesti sabar memelototi tumpukan dokumen di kantornya, menyusul ramainya berita suap 16,5 juta poundsterling di balik pembelian 100 unit tank Scorpion. Duit gede itu mengalir dari Alvis Vehicle Limited, produsen Scorpion di Inggris, ke Siti Hardiyanti "Tutut" Rukmana. "Sudah kita telusuri, tak ada nama Tutut," kata Aqlani.

Dalam dokumen transaksi pembelian tahun 1994-1996 setebal 6 sentimeter itu hanya muncul nama Rini Soewondho, Presiden Direktur PT Surya Kepanjen, agen lokal Alvis. Berapa fee untuk agen dan komisi buat Tutut juga tidak tercatat. Kenyataan itu menyulitkan Dephan menyisir tuntas kasus ini. Sebab keberadaan Tutut berikut uang pelicin itulah biang keroknya.

Karena itulah, kini dorongan agar kasus Scorpion diusut tuntas mengalir dari mana-mana. Dari gedung dewan, anggota DPR dari Fraksi Amanat Nasional, Djoko Susilo, menggalang tanda tangan hak angket. Ia yakin, syarat minimal 20 tanda tangan bisa terpenuhi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga tengah menginvestigasi kasus ini guna mendapatkan data-data primer.

Kasus Scorpion tersingkap dari gugatan Chan U Seek, pebisnis yang juga Direktur Avimo Singapura, terhadap Alvis. Mantan konsultan Alvis itu menuntut komisi 6 juta poundsterling. Ia mengklaim bahwa bersama Yoessie Salim, rekan bisnisnya di Indonesia, sejak 1980-an sudah merintis bisnis penjualan Scorpion ke Indonesia. Tapi, menurut Alvis, lobi Yoessie memble. Makanya, kata Bruce Borden dari Alvis, sejak 1989 Yoessie dipecat.

Pada sidang Senin pekan lalu, Alvis-Chan sepakat berdamai dan menganggap ini urusan pribadi. Keduanya setuju mengubur sengketa komisi itu dalam-dalam. Guardian, koran berpengaruh di Inggris, mengajukan gugatan ke pengadilan agar diberi akses pada data-data di persidangan. Di Inggris, pemberian komisi dalam kontrak-kontrak besar pernah dianggap sebagai hal biasa. Buktinya, negara itu baru melarang pemberian komisi semacam ini pada 2002. Aturan ini tidak berlaku surut. Jadi, di Inggris pun kasus ini tidak mengandung tindakan kriminal.

Toh, bagi Guardian, kasus Scorpion tidak biasa. "Karena ini merupakan praktek yang buruk, tidak benar, dan korup," kata David Leigh, wartawan Guardian yang menulis berita ini. Kasus Scorpion juga merugikan warga Inggris. Krisis keuangan menimpa Indonesia pada pertengahan 1997. Pembayaran Scorpion mesti dijadwal ulang dan sampai sekarang belum lunas.

Akibatnya, kata Susan Hawley dari lembaga antikorupsi Corner House, Export Credits Guarantee Department (BUMN, semacam Asuransi Ekspor Impor-nya Inggris), menanggung tunggakan 93 juta pound ke Alvis. Jika tak dibuka ke khalayak, pengadilan Chan-Alvis itu bisa dianggap melanggar hak publik untuk mendapatkan informasi. Akhirnya, hakim Park yang menangani kasus Chan-Alvis di pengadilan tinggi di London mengabulkan tuntutan Guardian.

Hasilnya, sejumlah pengakuan penting terkuak. Antara lain, ada memo internal Alvis yang menyebut pembayaran untuk Tutut yang disebut "pajak" atau "insentif" senilai 16,5 juta poundsterling (Rp 291 milyar). Duit itu termasuk jasa Chan. Nama putri sulung mantan Presiden Soeharto itu diberi kode The Lady. Pembayaran ini dilakukan untuk memuluskan penjualan 100 unit tank Scorpion senilai 160 juta poundsterling (Rp 2,8 trilyun).

Alvis mengaku sudah lama mengincar pasar Indonesia dengan mendekati orang-orang berpengaruh. Namun baru pada Februari 1994, Nick Prest dari Alvis bisa bertemu dengan Tutut di London. Saat itu, Tutut mengaku mewakili perusahaan Global Select, dan belakangan Basque. Si Mbak juga dikatakan bertemu dengan dua petinggi Alvis lainnya, Trevor Harrison dan Lionel Steele.

Nick, yang memanggil Tutut dengan sebutan "Madame Tutut", menjelaskan bahwa mantan Menteri Sosial itulah yang mendorong agar terjadi transaksi. "Dialah yang mendorong kami untuk berkonsultasi terkait penjualan itu dengan perusahaan bernama Global Select," tutur Nick. Tutut juga menyodorkan rekan bisnisnya, PT Surya Kepanjen. Akhirnya, pada 4 Mei 1994, Tutut-Alvis meneken perjanjian. Alvis menjanjikan komisi atas penjualan kawanan tank "kalajengking" itu.

Kunjungan kedua kalinya terjadi Juli 1994. Tutut tidak sendiri, tapi bersama Rini Soewondho alias Widhorini S. Sukardono, putri mendiang Brigjen (purnawirawan) Soewondho, yang mewakili PT Surya Kepanjen. Untuk meyakinkan agar militer memakai Scorpion, Tutut mengajak Kassospol (Kepala Staf Sosial dan Politik) dan Kasum (Kepala Staf Umum) ABRI saat itu, Letnan Jenderal (Letjen) Hartono dan Letjen H.B.L. Mantiri, ke markas Alvis di Coventry.

Belakangan, kasus ini juga menyeret nama Jenderal Wismoyo Arismunandar. Menurut dokumen di Dephan, kontrak pertama dari dua tahap pembelian bertanggal 13 Januari 1995 itu memang diteken Wismoyo, KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) saat itu, dengan Geoffrey Charles Abel, Direktur Penjualan Alvis. Pembelian 50 unit Scorpion berbagai jenis dengan sistem kredit ekspor itu nilainya 78,9 pound (Rp 1,35 trilyun dengan kurs Rp 17.000) atau US$ 2,5 juta per unit. Harga ini sudah termasuk biaya pelatihan untuk para awak dan teknisi.

Kontrak kedua, 19 Agustus 1996, diteken oleh Charles Abel dan Jenderal Hartono, KSAD baru yang menggantikan Wismoyo. Nilai kontrak pembelian 50 unit berbagai jenis Scorpion itu --antara lain untuk masing-masing 11 unit Scorpion 90 Danton dan Scorpion 90 Santon serta lima unit Scorpion Commando-- nilainya lebih tinggi: 81 juta poundsterling.

Hartono tidak menampik bahwa dirinya pernah menandatangani kontrak itu. Tapi, kata jenderal kelahiran Pamekasan, Madura, 65 tahun lalu itu, tugas KSAD tanda tangan mewakili Menhankam/Pangab. Soal penyediaan dana, ia sama sekali tidak pernah terlibat. "Soal harga, siapa rekanan, kepala staf tidak tahu-menahu," kata Hartono. Ihwal kehadirannya di Inggris, katanya pula, tidak lebih sebagai orang kavaleri yang mengerti soal Scorpion.

H.B.L. Mantiri mengamini. Ia membantah kecipratan duit suap Alvis. Menurut Mantiri, kedatangannya bersama Hartono hanya untuk mengecek kondisi fisik tank Scorpion. Kehadiran keduanya tidak mustahil menggagalkan transaksi seandainya kondisi fisik Scorpion tidak baik. Kebetulan, kata Hartono pula, tank berbobot 8 ton itu memang cocok untuk kondisi alam Indonesia. Bukan hanya kemampuan tembaknya bagus, daya jelajahnya pun bisa diandalkan.

Akhirnya, proses Scorpion itu pun mulus masuk ke Indonesia, setelah Export Credits Guarantee Department mengeluarkan lisensi ekspor Scorpion, Maret 1995. Enam bulan kemudian, barisan Scorpion itu datang dan bisa bergaya dalam peringatan ulang tahun ABRI ke-50. Pengiriman kloter terakhir berlangsung pada awal 1997.

Menurut Aqlani Maza, dari sisi prosedur kontrak jual-beli, proses pembelian 100 unit tank Scorpion itu tidak bermasalah. "Kami sudah mengkaji dan meneliti, kontrak ini sah adanya," kata Aqlani kepada Alexander Wibisono dari Gatra. Aqlani tidak menampik bahwa harga Scorpion yang per unitnya dihargai US$ 2,5 juta lebih mahal ketimbang Singapura (US$ 1 juta per unit). Ini terjadi, kata Aqlani, karena saat itu hanya ada satu broker yang menawarkan.

Sumber Gatra yang terlibat intensif dalam proses pembelian Scorpion membenarkan kesimpulan Aqlani. Dari sisi prosedur administrasi, tidak ada yang dilanggar. Meskipun harga Scorpion di pasar saat itu hanya US$ 800.000 per unit, penggelembungan hingga US$ 2,5 juta (termasuk biaya pelatihan) tak jadi fokus perdebatan. "Karena kita sudah sama-sama tahu ini punya Mbak Tutut," kata sumber yang tak mau disebut jati dirinya itu.

Menjelang kontrak kedua diteken, sebetulnya ada dua kompetitor, yakni Daewoo (Korea) dan satu perusahaan dari Finlandia. "Korea menawarkan kendaraan sejenis yang lebih bersaing dengan sistem kredit," Nick Prest mengaku. Tanpa keterlibatan "Madame Tutut", kata Nick, Alvis bisa-bisa kehilangan pasar. Tutut diakuinya berperan penting memuluskan kontrak kedua Alvis.

Munculnya dua kompetitor juga diakui sumber Gatra. Tapi, karena proses penjualan melibatkan Tutut, rekomendasi Scorpion dibuat paling bagus. Semua lembaga yang terlibat dalam pembelian --Departemen Keuangan, Dephankam, Mabes ABRI, dan Bappenas-- juga tahu bahwa PT Surya Kepanjen itu milik Mbak Tutut. Rini Soewondho sengaja dipasang untuk mengurusi bisnis senjata. Alokasi dana kredit ekspor pun dibubuhi memo Soeharto. "Saat itu, siapa yang berani mbantah Pak Harto," kata sumber Gatra.

Atas keberhasilannya itu, Alvis tak hanya menyuap Tutut, melainkan juga menjaga jalurnya dengan Rini Soewondho dan Didie Soewondho, adik Rini. Pada 15 Mei lalu, di pengadilan Inggris, Rini bersaksi bahwa "berdasarkan perintah Menteri Pertahanan, setiap pembelian peralatan pertahanan dari perusahaan asing harus melalui agen milik personel militer yang sudah pensiun atau anggota keluarganya". Lantaran itulah, Alvis meneken kesepakatan dengan PT Surya Kepanjen, yang dikelola kakak beradik itu, Rini dan Didie.

Kontrak itu tak lepas dari reputasi PT Surya Kepanjen yang membuat Alvis kesengsem. Rinilah yang memperkenalkan Wakil KSAD Letjen Sahala Rajagukguk ke Alvis, untuk proyek upgrade peralatan tempur ABRI (FV600 Project) pada 1989 dan 1990-an. Kepada Rini dan Didie, Alvis meminta menjaga kedekatannya dengan Sahala. Tapi, kata Rini di pengadilan Inggris itu, sang jenderal juga ingin bagian sendiri dengan menunjuk PT Truba sebagai agen. PT Truba disebut-sebut sebagai perusahaan milik ABRI.

Gatra sudah mencoba menghubungi Rini, namun telepon selulernya selalu mati. Kepada koran Indo Pos, Rini mengakui telah bersaksi di pengadilan Inggris. Soal duit 16,5 juta poundsterling itu, ia tidak tahu-menahu. Itu urusan Tutut-Alvis. Jikapun uang itu ada, menurut Rini, tak bisa disebut sebagai suap karena Tutut berperan sebagai konsultan. "Fee itu wajar," kata Rini.

Bagaimana sikap Mbak Tutut? Sejak Rabu pekan lalu, Gatra sudah mencoba menghubungi Tutut. Sampai tulisan ini naik cetak, dia belum memberi respons. Namun, kata sumber Gatra, oleh seorang kawan dekatnya yang ikut berkumpul Sabtu pekan lalu di rumah Tutut, Jalan Waringin Nomor 14, putri sulung mantan Presiden Soeharto ini sempat ditanya soal berita Guardian. "Saya sudah lupa karena peristiwanya sudah lama sekali," kata Tutut, ditirukan sumber Gatra yang ikut pertemuan itu.

Mbak Tutut, kata kuasa hukumnya, Elsa Syarief, tenang-tenang saja menghadapi isu suap itu. Maklum, kasus ini bertiup kencang di luar negeri. Tutut, menurut Elsa, bukan saja tidak pernah menerima suap, melainkan juga tidak pernah merasa terlibat karena dalam dokumen-dokumen perjanjian namanya bersih. "Kasus ini kan kaitannya dengan Dephan dan Mabes TNI," katanya.

Dephan sendiri bersikap menunggu perkembangan sidang pengadilan di Inggris. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, kasus Scorpion bukan soal suap dan bukan masalah hukum di dalam negeri. Persoalan ini muncul karena ada persaingan antara dua broker di Inggris. Yang dapat diam, yang tidak ribut. "Jika ada implikasi hukumnya ke kita, baru kita tindak lanjuti," kata Juwono. Akankah kasus ini menguap tak berbekas?

Khudori, Bernadetta Febriana, Luqman Hakim Arifin, dan Sujud Dwi Pratisto



Bisnis Kalajengking Bersengat 90 mm

SCORPION termasuk keluarga tank kelas ringan. Bobotnya saat turun bertempur cuma 8,073 ton, termasuk amunisi dan bahan bakarnya. Tidak terlalu ringan sebenarnya, karena masih lebih berat dari gajah jantan Afrika yang 6 ton. Tapi, coba bandingkan dengan tank kelas medium seperti Sherman yang 32 ton, apalagi main battle tank M1 Abrams (72 ton) yang dipakai serdadu Amerika Serikat menggempur Fallujah.

Kalajengking baja ini mampu bergerak lincah. Kecepatan maksimumnya 80,5 kilometer per jam, dengan akselerasi dari 0 ke 50 kilometer per jam dalam 20 detik. Ini membuat kendaraan bermesin Jaguar enam silinder ini menjadi tank paling cepat di darat. Roda bergerigi yang berlapiskan karet keras memungkinkannya melaju di jalan tanpa merusak aspal.

Tak cuma jago di darat, si kalajengking ini hebat juga di air. Ia bisa berenang sebagai tank amfibi dengan kecepatan 4 knot, sekitar 7,4 kilometer per jam. Ini membuat Scorpion cukup berjasa dalam medan Perang Malvinas 1982. Kelincahan itu juga membuat Scorpion lebih mudah menyusup ke kandang lawan. Karenanya, ia tergolong CVR (combat vehicle reconnaissance) alias kendaraan perang pengintai.

Bukan cuma pengintai, ia bisa juga menyengat musuh dengan kanon 90 mm dan senapan mesin 7,62 mm untuk membantu pasukan infanteri yang sedang menekan lawan. Ia pun boleh dioperasikan untuk pengendalian demonstran di kota-kota. Pada kedua sisi badannya terpasang delapan pelontar granat asap. Dengan tiga awak, tank lincah ini juga bisa dioperasikan sebagai ambulans di medan perang.

Scorpion diproduksi oleh pabrik perkakas militer Inggris, Alvis Vickers, sejak 1972. Ia dirancang untuk mengganti kendaraan tempur yang sudah sepuh, Saladin. Alvis bukan perusahaan kemarin sore. Pada 1921, Alvis merancang pesawat terbang yang sanggup menyeberangi Samudra Atlantik tanpa transit. Pada Perang Dunia II, ia juga menjadi pemasok utama mesin pesawat tempur Inggris. Alvis sempat memproduksi mobil, tapi sudah berhenti sejak 40 tahun lalu. Namun kini, sekitar 2.000 mobil antik Alvis masih berkeliaran di Inggris.

Secara bisnis, misi Scorpion termasuk sukses. Si kalanjengking ini, selain dioperasikan oleh Inggris sendiri, juga mencatat sukses besar di pasar ekspor. Hingga 1996, tidak kurang dari 3.500 keluarga Scorpion dihasilkan pabrik Alvis. Selain seri FV101, ada juga varian lain, seperti Scorpion 90, Stricker, Spartan, Stormer, Streaker, Samson, Samarritan, Sultan, Scimitar, dan Sabre.

Masing-masing varian ini berbeda kelengkapannya, seperti Sultan untuk pos komando, Striker dilengkapi pelontar misil, sedangkan Samarritan untuk ambulans. Dari keluarga besar kalajengking itu, yang paling banyak dipakai di Indonesia adalah Scorpion 90. Seri ini dilengkapi kanon kaliber 90 mm dan turret (kubah tempat kanon) CSE 90 buatan perusahaan perkakas militer Belgia, Cockerill Mechanical Industries. Scorpion 90 kini dioperasikan batalyon tank di bawah komando Divisi I Kostrad (Cilodong, Jawa Barat) dan di pusat latihan kavaleri.

Selain Indonesia, pengguna keluarga kalajengking ini, antara lain: Belgia (141 Scimitar, 103 Spartan, 22 Striker), Botswana, Brunei (16 Scorpion), Cile, Honduras (15 Scorpion, 3 Scimitar, 1 Sultan), Iran (40 Scorpion), Irlandia (14 Scorpion), Malaysia (24 Scorpion 90), Selandia Baru (26 Scorpion), Nigeria (100 Scorpion), Oman (37 Scorpion), Filipina (41 Scorpion), Spanyol, Tanzania (40 Scorpion), Thailand (154 Scorpion), Togo (9 Scorpion), Uni Emirat Arab (76 Scorpion), Venezuela (50 Scorpion), dan tentu saja yang paling banyak Inggris (316 Scimitar, 104 Sabre, 530 Spartan, 58 Striker).

Pada 1999, Pemerintah Inggris mulai meremajakan kembali kendaraan-kendaraan tempurnya. Termasuk dalam Life Extension Programme itu, memperkuat Scorpion dengan mengganti mesin bensin Jaguar oleh mesin enam silinder diesel 6.000 cc. Dan sekarang, Alvis hanya menawarkan kalajengking tempur itu dengan mesin diesel.

Dani Hamdani



Spesifikasi Teknis Scorpion

- Berat saat tempur: 8.073 kg
- Panjang: 4,390 meter
- Lebar: 2,260 meter
- Tinggi: 2,102 meter
- Kru: 3 orang
- Persenjataan: senapan mesin 7,62 mm, meriam 76 mm atau 90 mm, granat asap
- Amunisi: 45 gerendel peluru kaliber 76, 360 gerendel peluru kaliber 7,62,16 granat asap
- Mesin: * Bensin: Jaguar J60 4.200 cc 6 silinder (190 tenaga kuda pada 4.750 rpm)
* Diesel: 6.000 cc, 6 silinder (maksimum torsi 618 Nm pada 1.800 putaran per menit)
- Kecepatan maksimum: 80,5 km/jam
- Akselerasi: 0-48,3 km/jam dalam 18,5 detik
- Kapasitas bahan bakar: 423 liter



Kronologi Heboh Kalajengking

- 1989
Lobi Yoessie Salim dinilai gagal. Alvis memecatnya. Yoessie sendiri direkomendasikan Chan U Seek ke Alvis. Sejak itu, Alvis mendekati orang-orang berpengaruh agar Scorpion masuk Indonesia.

- Februari 1994
CEO Alvis Vehicle Limited, Nick Prest, bertemu Tutut di London. Tutut berminat membantu lewat perusahaan Global Select dan Basque. Tutut menyodorkan rekan bisnisnya, Rini Soewondho dari PT Surya Kepanjen.

- 4 Mei 1994
Alvis-Tutut meneken perjanjian. Alvis menjanjikan komisi atas penjualan Scorpion.

- Juli 1994
Tutut-Rini berkunjung ke markas Alvis di Coventry. Kassospol dan Kasum ABRI saat itu, Letjen Hartono dan Letjen H.B.L. Mantiri, juga diajak.

- 13 Januari 1995
Kontrak pertama dari dua tahap pembelian diteken Wismoyo Arismunandar dan Geoffrey Charles Abel dari Alvis. Pembelian 50 unit Scorpion dibiayai dengan sistem kredit ekspor senilai 78,9 juta poundsterling.

- Maret 1995
Export Credits Guarantee Department (ECGD), Inggris, mengeluarkan lisensi ekspor Scorpion dan Stormer buat Alvis.

- September 1995
Sebanyak 26 Scorpion dikirim dan bisa berparade pada Hari ABRI ke-50.

- 19 Agustus 1996
Kontrak kedua diteken Hartono dan Geoffrey Charles Abel untuk pembelian 50 unit Scorpion. Biaya kredit ekspornya senilai 81 juta poundsterling.

- Januari 1997
Pengiriman tank Scorpion terakhir. Pertengahan 1997, Indonesia diterpa krisis. Pembayaran dijadwal ulang, sehingga ECGD membayar 93 juta poundsterling.

- Juli 2001
Chan U Seek menggugat Alvis ke pengadilan Inggris. Chan mengklaim 6 juta poundsterling atas jasanya merintis penjualan Scorpion ke Indonesia.

- 7 Desember 2004
Guardian, koran terkemuka Inggris, melansir pengakuan Alvis yang membayar Tutut 16,5 juta poundsterling atas jasanya memasukkan 100 tank Scorpion. Uang itu termasuk jasa untuk Chan.
ARTIKEL LAIN

Cover GATRA Edisi 06/2005 (GATRA/Astadi Priyanto & Tatan Agus RST.)
 
RUBRIK

Advetorial
Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Esai
Film
Gatrasiana
Hukum
Internasional
Intrik & Meskipun Tetapi
Kesehatan
Kolom
Kriminalitas
Laporan Khusus
Laporan Utama
Medela
Multimedia
Musik
Nasional
Obituari
Pendidikan
Perilaku
Perjalanan
Rona Niaga
Seni Rupa
Serambi
Suplemen
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com