spacer spacer spacer spacer
HUT RI ke-63 spacer Gatra Mobile

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
spacer
spacer
NASIONAL
spacer
 
Obituari Harry Roesly
Jangan Menangis Indonesia

Harry Roesly (GATRA/Sulhan Syafi'i)MALAM hari, 1 September lalu, Harry Roesly menelepon saya. "Mas, saya ingin membuat sesuatu yang agak lain untuk ulang tahun saya kali ini," katanya dengan nada rada malu bercampur geli, karena ia memang selalu risi kalau bicara tentang dirinya. "Saya mau bikin buku. Tebalnya 300 halaman."

Saya langsung teringat pada artikel-artikel, kritik, dan kemudian kolomnya dalam "Asal-Usul" di harian Kompas. Cucu Marah Roesli, pengarang Sitti Nurbaya, itu memang bukan hanya seorang pemusik, melainkan juga seorang penulis yang baik.

"Tapi buku saya itu semua halamannya kosong," sambung Harry kemudian. "Herry Dim akan membuatkan cover dan layout-nya, dan saya minta Mas mau menuliskan kata pengantarnya. Nanti buku itu akan diluncurkan dengan konser yang dilakukan oleh sebuah orkes lengkap. Ketika semua penonton sudah duduk tenang dan siap menikmati, dirigen mengangkat tongkat kecilnya, sekaligus mengakhiri pertunjukan itu."

Saya tertawa mendengar olok-olok yang pasti biayanya akan sangat mahal itu. Harry memang nakal. Ia selalu gatal untuk mengejek segala sesuatu dengan kadangkala sedikit keterlaluan. Tak mengherankan kalau ia sempat hampir berurusan dengan polisi ketika menyanyikan lagu Garuda Pancasila dengan lirik yang dijungkir balik. Namun, di balik kekurangajarannya itu, tak hanya ada ketawa, melainkan juga protes dan keberpihakan kepada hati nurani. Ia seorang teroris mental, sebagaimana tertera di kaus oblong hitam yang dipakai para anggota DKSB yang dipimpinnya, ketika merayakan ulang tahun Harry yang ke-50.

Ide buku kosong yang walau agak klise itu menjadi baru karena ditambahi dengan konser tanpa bunyi. Saya pikir, kalau bisa dibuat lebih edan lagi, buku itu bisa melompat menjadi sebuah peristiwa kesenian yang beringas. Mengingat betapa sudah makin merosotnya estetika belakangan ini karena digempur oleh seni kemas dalam kesemarakan industri budaya.

Malam itu juga, dengan sangat bernafsu, saya menulis kata pengantar yang tak terbendung sehingga mencapai 10 halaman. Saya nobatkan buku perdana Harry itu sebagai sebuah masterpiece. Saya tulis, antara lain:
"Membaca buku ini adalah bertapa. Penulis sudah berhasil memukulkan kepala kita ke dengkul kita sendiri. Buku ini menjadi sebuah perenungan tentang jati diri. Bukan jati diri orang lain. Kita diberondong pertanyaan gencar tentang siapakah kita sebenarnya. Kenapa pada akhirnya kita hanya mengulang-ulang kesalahan. Apakah karena kita senang, atau tak berdaya? Atau kita sedang menunda-nunda sampai waktunya tepat untuk melakukan yang lain? Saya berkali-kali menyimak halaman pertama, takut tersesat lebih jauh di halaman berikutnya. Aneh sekali. Setiap mencoba kembali, saya temukan hal-hal baru yang tak saya pikirkan sebelumnya. Lalu saya jadi percaya bahwa sebuah karya tidak pernah mati. Dia adalah barang hidup yang bergerak, tumbuh dan mungkin sekali berkembang, berubah lalu bertolak belakang dan menentang dirinya sendiri kalau perlu."

Saya usulkan juga kepada Harry, bagus kalau dalam peluncuran buku itu dilangsungkan juga bedah buku. Dua orang pembicara yang pendapatnya bertolak belakang digelar. Perdebatan akan memuncak sampai terjadi perang mulut dan akhirnya tak bisa diatasi lagi, meningkat pada bentrokan fisik. Akhirnya polisi terpaksa turun tangan untuk mengamankan karena percekcokan tentang makna 300 halaman kosong itu sudah meningkat jadi peristiwa kekerasan. Persis seperti yang selalu terjadi pada masyarakat kita saat ini. Harry tertawa ngakak di dalam telepon mendengar saran saya itu.

Di Surabaya, pada 13 Oktober, sebelum pertunjukan dimulai --waktu itu kami sedang tur membawa pementasan drama ZOOM lintas Yogya-Semarang-Surabaya-Singaraja-- saya tanyakan bagaimana kelanjutan buku itu. Harry menjawab bahwa ide yang semula hanya cetusan mau main-main itu terpaksa ditunda karena baik Herry Dim maupun saya sudah menanggapinya dengan serius. Harry mengaku sedang mencari dana untuk mewujudkan peristiwa tersebut secara sungguh-sungguh tahun ini juga.

Pada 6 Desember, tengah hari di ruang ICCU Rumah Sakit Harapan Kita, saya memegang tangan Harry. Ia berbaring di ranjang dengan banyak selang tertusuk ke badannya. Di kedua sisi tempat tidurnya ada peralatan jantung yang setiap sebentar diperiksa oleh suster. Dengan suara lirih namun semangat dan rasa humor tetap tebal serta muka yang tampak mulai segar karena balon berhasil memfungsikan lagi jantung, Harry berkata: "Mas, bukunya sudah selesai. Kita akan segera meluncurkannya."

Saya terpesona. Tapi saya tak membiarkan pikiran saya terbang terlalu jauh. Saya nikmati saja itu sebagai tanda-tanda awal kesembuhannya. Apalagi kemudian ia menambahkan bahwa bukan hanya konser, peluncuran itu juga akan disertai pemutaran film selama tujuh menit. "Tapi film yang tidak ada gambarnya sama sekali," kata Harry. "Juga akan ada pameran lukisan. Tapi di atas kanvas juga tidak ada lukisannya. Kosong saja."

Saya kembali tertegun. Lalu menahan imajinasi saya yang hampir melompat lagi ke depan. "Kalau begitu," jawab saya spontan, "Teater Mandiri juga akan ikut hadir mementaskan sesuatu, tetapi pementasan yang juga tidak ada apa-apanya. Semuanya kosong."

Soal kosong itu sudah saya tulis dalam pengantar buku Harry sebagai kosong yang berisi. Halaman kosongnya justru penuh dengan isi karena imajinasi. Kearifan itu juga konon terucap dalam tradisi Bugis seperti diceritakan oleh seorang teman bahwa: "orang sudah sampai, sebelum dia pergi".

Harry tak menjawab. Ia minta maaf karena ingin tidur. Ia mengaku sangat lelah setelah berbicara itu. Lalu matanya terpejam, dan putranya mengibas-ngibaskan kipas agar ia tidak kepanasan, karena AC kamar rusak dan entah kenapa belum bisa juga diperbaiki. Hampir satu jam saya ikut mengipas-ngipas sambil memijit kaki, tangan, serta memandangi wajahnya, mengawasi napasnya dan juga mencoba merasakan perasaannya saat itu. Sampai kemudian Dr. Rully, kakak dan sekaligus dokter almarhum, datang dan mengatakan, membahayakan kesehatan Harry kalau kita berada di dekatnya, karena yang paling penting saat itu, jangan sampai Harry mengalami infeksi.

Tak tersangka-sangka pada 11 Desember, seperti bukunya, riwayat Harry juga sudah selesai. Semua orang terkejut. Pemberontak yang sebelumnya selalu berhasil melawan pantangan yang dinasihatkan dokter dalam melawan penyakitnya itu ternyata sekali ini mengalami kegagalan. Daripada pulih kembali, namun tak bisa mulus lagi sebagaimana sosoknya dulu yang energetik tak pernah diam itu, dia memilih untuk pergi. Ia meninggal dalam keadan masih gagah dengan kesadaran yang tak pernah hilang. Sampai detik-detik terakhir, ketika harus berangkat menghadap-Nya, ia meminta tolong putranya mengucapkan istigfar.

Kini tinggal musiknya dan sebuah buku yang tak akan pernah selesai kita baca. Doktor musik lulusan "negeri bawah air" yang lulus cum laude ini salah seorang pemula dan pelopor dalam menggabungkan musik/instrumen tradisi dengan musik rock dalam peluluhan yang tidak terasa sebagai tempelan. Ia juga seorang entertainer yang karismatik, tajam, kocak, dengan suara merdu tetapi total yang bisa mencapai nada tinggi sekali.

Sebagai saksi dari lingkungannya, Harry sering muncul beringas. Protesnya blak-blakan. Namun ia juga bisa sayu, puitis, mesra, romantis, dan bahkan sentimentil. Lagunya, Jangan Menangis Indonesia, yang selalu dinyanyikan di mana-mana, setiap diperdengarkan menimbulkan nuansa berbeda-beda. Apalagi ketika rekaman suaranya merambat lantang di atas pemakaman, sementara anak-anak muda berpakaian hitam-hitam mengarak kerandanya ke liang lahat. Tak hanya orangtua, yang muda dan anak-anak juga tak bisa lagi membendung sedih. Tenda yang dipasang untuk pemakaman itu seperti kubu air mata.

"Anak nakal ini tak berhenti-hentinya memberikan kita sebuah pertunjukan. Bahkan hari ini, ketika ia tak bersuara lagi, peristiwa pelepasannya menjadi sebuah pertunjukan," kata murid dan sahabatnya, Didi Petet, mengiringi peristiwa itu.

Kalau pahlawan boleh lahir di masa sesudah kemerdekaan, bukan sebagai pejuang yang secara fisik ikut merenggut kemerdekaan, melainkan sebagai profesional, Harry adalah seorang pahlawan. Profesi yang dijaganya dengan setia itu direbut dengan cara keluar dari ITB Jurusan Mesin, sehingga ibunya sempat sedih dan cemas. Namun tak kurang dari Habibie (kelak menjadi Presiden RI) memberi komentar sebagaimana dikenang oleh Rully, kakak almarhum, ketika memberikan sambutan. "Menurut Pak Habibie, sarjana bisa dicetak dan dibikin setiap tahun, tetapi seniman hanya bisa dilahirkan."

Sebagai pahlawan di dalam profesinya, Harry tidak memerlukan sebuah makam pahlawan. Ia sudah memilih tempatnya yang teduh di dalam hati sanubari keluarganya, saudaranya, teman-temannya, dan para penggemarnya. Ia tidak pergi, tetapi justru pulang. Ia makin terasa ada, ketika sudah tak ada. Ia tidak rebah dan tidur selamanya, tetapi mulai saat ini berdiri dan menyanyi terus di dalam hati kita.

Putu Wijaya
Budayawan
[Obituari, Gatra Nomor 06 beredar Jumat, 17 Desember 2004]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
terkait, $ID); ?>
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  turut berduka cita (emsach@wo..., 18/12/2004 14:29)
turut berduka cita yang sedalam dalamnya atas wafatnya harry roesli, semoga arwahnya diterima disisi tuhan yme, dan diberi kekuatan untuk keluarga , sahabat2 dan pengagum kang harry ... amiiin
saya masih punya rekaman harry berjudul "borobudur" ....... i still love it !!!!!
sampai jumpa harry ......
wass.,
emsach, new york
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 18 December 2004 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdot1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer